"Kapan kamu nikah? Temen temen kamu bahkan udah ada yang punya dua anak. Ibu udah pengen gendong cucu."
Kata kata itu terdengar sederhana tapi selalu terngiang di otak Aurel. Dia hanya ingin mencari yang terbaik untuk hidupnya, karena baginya seorang suami adalah partner seumur hidupnya.
Seperti kisahnya lima tahun yang lalu, yang sudah terlalu yakin dengan pilihan hatinya. Tapi nyatanya hanya pengkhianatan yang ia dapat. Pria itu lebih memilih wanita yang lebih seksi dan bisa dibanggakan untuk di bawa.
Aurel hanya masih mencari, apa itu salah? Tapi bagaimana jika pemujanya sekarang adalah CEO kaya raya yang umurnya jauh lebih muda darinya? Apa itu akan menjadi cinta sejatinya? Atau hanya angin lalu yang akan lewat begitu saja?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lindra Ifana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
7. Sate Yang Belum Selesai
Aurel baru selesai mandi. Malam ini dia memilih kaos polos putih dipadukan dengan jeans belel kesayangannya. Rambut panjangnya ia biarkan bebas tergerai.
Sejenak Aurel berdiri di kaca, malam ini adalah malam pertama setelah sekian tahun berpisah dari Wisnu. Bukan tak mau membuka hati seperti yang Adrian katakan, tapi waktunya habis untuk bekerja. Karena tujuan utama hidupnya adalah membahagiakan ibunya.
Ponselnya bergetar, nama 'ibuku' muncul di layar. Sebuah panggilan video. Bertubi pertanyaan langsung terlontar ketika ia mengangkat panggilan itu.
"Ibu lihat status WA Dita. Katanya kamu mau ke Blok M malam ini? Sama siapa?" tanya Sarwina tanpa basa-basi.
Aurel duduk di tepi kasur, menata ekspresinya senetral mungkin. "Iya Bu. Mau ketemu teman sebentar."
"Teman? Teman kerja? Sekantor sama kamu?" Ibu mengernyit.
"Bukan. Teman... kenalan," jawab Aurel hati-hati. Ia tidak mau bohong, tapi juga belum siap bilang ketemu pria ingusan yang mengaku tergila gila padanya.
Ibu menghela napas panjang. Jeda itu malah terasa lebih menakutkan. "Rel Ibu tanya baik-baik ya. Kamu sama Mas Bayu gimana kelanjutannya?"
Aurel terdiam. Ia menggulung ujung kaosnya. "Masih... ngobrol, Bu."
"Ngobrol doang?" Suara Ibu meninggi sedikit, lalu dilembutkan lagi. "Bukan apa apa Rel, tapi lbu ngomong ini karena sayang sama kamu. Ibu udah tua. Nggak ada Ayah lagi. Ibu cuma mau mastiin masa depan kamu aman dan bahagia."
Ibu mencondongkan wajah ke kamera. "PNS itu pekerjaan menjanjikan. Gajinya tetap tiap tanggal 1, ada tunjangan, ada pensiun. Mas Bayu orangnya sopan, nggak neko-neko. lbu yakin dia bisa menafkahi kamu dengan baik."
"lya Bu, Aurel paham sekali dengan maksud Ibu."
Ingin sekali Aurel menjawab pedas semua kata kata ibunya. Dia juga ingin bahagia...dia juga tak ingin sendiri di umurnya yang sudah nyaris kepala tiga ini.
"Aku juga sayang lbu. Tapi biarkan semua berjalan secara semestinya. Hati nggak bisa dipaksa Bu," jawab Aurel pelan. "Aku nggak mau nikah cuma karena... aman."
"Aman itu penting," Ibu memotong. "Cinta bisa habis, tapi tagihan listrik tiap bulan tetap datang. Kalau ada Bayu yang sudah mapan, kenapa ditolak?"
Aurel menutup mata sebentar. Di satu sisi ada Ibu yang ketakutan anaknya hidup susah. Di sisi lain ada dirinya sendiri yang lelah jadi "anak yang selalu menurut".
"Aku janji pikirin, Bu," kata Aurel akhirnya. Jawaban aman. "Sekarang lbu istirahat ya. Aku mau siap-siap dulu."
Ibu masih ingin bicara, tapi Aurel buru-buru menutup video call sebelum air matanya jatuh. Ia menatap pantulan dirinya di kaca. Dan satu kata tanpa sadar lolos dari bibirnya.
"Maaf Bu..."
Setelah selesai Aurel membawa mobilnya menuju arah blok M, jalanan yang ramai membuatnya sedikit terlambat. Jam setengah delapan ia baru bisa menemukan tempat untuk parkir mobilnya. Dia segera pergi ke lokasi warung sate yang tadi di sharelok oleh Adrian.
Aroma sate ayam dan bumbu kacang bercampur asap arang menyebar ke seluruh sudut food court. Aurel datang tepat waktu. Adrian sudah duduk di meja pojok, kaos hitam polos dan jaket denim. Di depannya sudah terhidang tiga puluh tusuk sate ayam, dua porsi nasi dan es teh manis.
"Kamu tahu aku suka es teh manis juga?" tanya Aurel saat duduk.
Adrian menyodorkan tusuk sate pertama. "Barista Senopati. Dia bilang kamu kalau lagi stres sukanya yang manis manis."
Aurel tertawa kecil, tawa pertama kali malam itu. "Kamu stalker ya?"
"Kamu lupa? Aku pengusaha. Bukan stalker, aku menyebutnya sebagai riset pasar," jawab Adrian.
"Ohhh aku hampir lupa, maaf bapak pengusaha," sahut Aurel kembali tertawa, begitupun Adrian.
Suasana canggung seminggu lalu perlahan cair. Mereka ngobrol ringan: tentang bug aplikasi Kata Raya, tentang klien Jepang Aurel yang suka revisi 7 kali, tentang Ibu Adrian yang masih ngirimin bekal tiap Adrian lembur. Untuk 30 menit, Aurel lupa soal Mas PNS, lupa soal headline tetangga yang selalu bertanya 'kapan menikah'.
Obrolan mereka terhenti ketika ponselnya bergetar. Nama "Ibuku" muncul lagi.
Aurel mengangkat panggilan itu dan berbisik pelan. "Halo, Bu?"
Adrian mengaduk es tehnya, dengan sesekali melirik wanita didepannya. Dia tahu jika kencan pertamanya ini tak akan semulus yang ia bayangkan.
"Ibu di sini lagi sama Mas Bayu," suara Ibu dari seberang sana. "Nak Bayu baru dapat undangan kondangan temen kantornya di Bekasi besok. Dia nanya kamu mau ikut nggak? Lumayan kenalan sama temen-temen kantornya. Masa depan kan harus dipikirin dari sekarang."
Aurel menutup mata. Ia melirik Adrian yang masih sibuk makan sate, wajah pria itu datar.
"Besok aku ada lembur, Bu," jawab Aurel hati hati. "Presentasi ke klien dari Jepang."
"Ah, lembur bisa ditunda Rel. Ini kesempatan bagus agar kalian bisa lebih dekat. Nak Bayu jemput kamu jam sembilan pagi ya?"
"Bu...."
Sarwina menutup panggilan telponnya. Taktik lama Ibu yang selalu berhasil.
Aurel meletakkan ponselnya. Nafsu makannya hilang. "Maaf, aku harus....."
"Kondangan sama Mas Bayu besok jam 9," potong Adrian datar. Ia menusuk sate lebih keras. "Aku denger. Tadi juga denger kamu bilang ke Ibu: 'ketemu teman'."
"Kita memang berteman."
"Bukan, aku ngajak kamu kesini buat kencan. Apa perlu aku berdiri sekarang dan umumin kalau aku lagi ngejar kamu?"
Aurel menekan bahu Adrian yang nyaris berdiri.
"Duduk! Jangan aneh aneh," sengit Aurel.
"Selalu begitu." Adrian akhirnya menatapnya. Sorot matanya kecewa, bukan marah. "Kamu selalu menjaga perasaan orang lain tanpa berpikir tentang kamu sendiri."
"Dia bukan orang lain, dia ibuku. Satu satunya yang aku punya. Aku anak tunggal Adrian. Ayahku udah nggak ada sejak SMP. Aku nggak bisa nyakitin Ibu," sahut Aurel. Air matanya nyaris jatuh.
"Aku nggak nyuruh kamu nyakitin Ibu," Adrian berdiri, meletakkan uang di meja. "Sekali saja, jujur dengan hatimu."
Pria itu pergi ke toilet tanpa menunggu jawaban.
***
Kencan pertamanya memang tidak berjalan mulus, tapi itu tak membuatnya mundur selangkah pun. Adrian semakin kagum dengan sosok Aurel yang ternyata tak sekuat yang ia lihat.
Adrian menyetir pulang dengan jendela terbuka. Dia butuh lebih banyak udara agar bisa bernafas dengan lega. Ajakan kencan Bayu membuat pikirannya tidak tenang.
Baru beberapa menit meninggalkan blok M, tiba tiba dua motor menyalip dan menghadang mobilnya. Kakinya langsung mengajak rem, dengan tenang ia keluar. Ada tiga pria yang menghadangnya, ia kenal salah satunya...Wisnu!
Sepertinya ia harus menghadapi ketiga orang itu sendirian, karena tadi sebelum berangkat oa melarang siapapun mengikutinya. Orang orang yang di atur Dion untuk menjaganya.
"Wah, nyewa mobil buat pergi ke kencan pertama. Banyak duit juga elo," ejek Wisnu melihat Mini Cooper yang ia yakin harganya lumayan fantastis untuk pegawai biasa seperti Adrian.
"Bukan urusan elo."
Adrian tetap tenang sat dua preman mengepung, salah satunya memutar rantai besi untuk menakuti. "Bos kami bilang, ajarin elo sopan santun."
"Sopan santun?" desis Adrian dengan senyum miring. Sesuatu yang sedikit gila tiba tiba melintas di otaknya.
Adrian bisa menghindar. Bisa melawan. Tapi malam ini ia tidak menangkis pukulan pertama yang mendarat di pipinya.
Bugghhh!
Ia sengaja membiarkan pukulan kedua menghantam perutnya. Bibirnya pecah dan mata kanannya membiru. Sepertinya tangan kanannya juga terkilir.
"Berhenti!" bentak Wisnu. "Cukup."
Wisnu dan dia preman itu pergi ketika beberapa orang datang ingin menolong. Mereka tak mau ditangkap dan berurusan dengan polisi.
Adrian terbatuk, berlutut di aspal. Ada senyum kecil di sudut bibirnya yang pecah. Dengan jempol berlumuran darah, ia buka WhatsApp, mengirimkan chat pada Dita.
`Dit, besok bilang ke Aurel... aku sakit. Kalau dia mau nengok... alamatnya Jalan Cipaku No. 17.`
Pria itu menyapu darah di ujung bibirnya menggunakan ujung jarinya, dan satu foto 'berdarah' itu ia kirim lagi ke Dita.
Konyol....tapi inilah cinta.
Di seberang Jakarta, Aurel baru saja mematikan video call dengan Ibu. Notifikasi pesan dari Dita masuk. `Rel, Adrian kecelakaan. Darahnya banyak banget sumpah. Rumahnya di Cipaku No. 17. Elo mau jenguk nggak?`
Aurel terpaku, apakah sekarang ia harus memilih lagi? Menengok Adrian yang sakit, atau pergi dengan Bayu sesuai permintaan ibunya.