Bagi Arvin, Karin bukan sekadar tante dari sahabatnya. Karin adalah tempatnya pulang, tawa yang selalu ia cari, dan masa depan yang ingin ia tuju. Di saat kedekatan mereka mulai mencairkan dinding perbedaan usia, sebuah kencan tak sengaja justru membawa kembali bayang-bayang masa lalu Karin yang belum usai.
Ketika masa lalu menuntut tempatnya kembali, akankah Karin bertahan pada zona nyamannya, atau berani melangkah demi rasa yang lebih dari sekadar tante?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agatha soul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Boleh lebih dari ini, Tante?
"Iya, iya, Tan. Nanti semester depan gue belajarnya sama Tante aja," ujar Arvin akhirnya mengalah, suaranya melembut demi meredakan kegemasan wanita di depannya.
Arvin memundurkan tubuhnya, bersandar santai pada sofa. "Emang Tante dulu waktu kuliah ambil jurusan apa?"
Karin merapikan lembaran kertas ujian di tangannya sambil tersenyum. "Sastra Indonesia."
Arvin menaikkan sebelah alisnya, sedikit heran. "Kenapa gak jadi guru aja sekalian? Guru Bahasa Indonesia kan banyak dicari."
Karin terkekeh sambil menggelengkan kepala. "Gak minat jadi guru, Vin. Tante dulu kuliah emang cuma mau memperdalam bahasa aja, soalnya dari dulu udah suka nulis. Setidaknya dengan kuliah itu, kosakata Tante nambah banyak dan jadi tahu penggunaan Bahasa Indonesia yang baik dan benar."
Arvin mengangguk-angguk paham, matanya terus mengikuti gerak-gerik Karin. "Terus sekarang kita mau ngapain, Tante?"
"Tante mau lanjut nulis dulu sebentar, soalnya bab yang sekarang belum beres," jawab Karin. Dia beranjak berdiri, berjalan ke arah meja kerjanya untuk mengambil laptop, lalu kembali duduk di sofa ruang tengah tepat di samping Arvin.
Karin membuka layar laptopnya. Sebelum jemarinya mulai menari di atas papan ketik, dia menoleh ke arah Arvin yang sedang memperhatikannya.
"Vin, Tante mau tanya dong buat referensi tulisan," kata Karin, nadanya berubah serius layaknya penulis yang sedang melakukan riset. "Karakter cowok di cerita Tante ini kan tipikal yang cuek dan dingin. Nah, kalau cowok kayak gitu lagi suka sama cewek, gimana sih cara dia nunjukinnya?"
Arvin terdiam beberapa saat, menatap layar laptop Karin sebelum akhirnya membuang pandangan sekilas. "Cowok cuek kalau suka sama orang, gak bakal banyak omong, Tan. Dia lebih main ke tindakan. Dia bakal selalu mastiin cewek itu aman dan nyaman lewat hal-hal kecil yang tak terduga," jawab Arvin pelan.
Karin mengangguk-angguk puas mendengar jawaban realistis itu, lalu mulai fokus mengetikkan baris demi baris kalimat ke dalam naskahnya.
Karena Karin terlalu fokus pada layar laptop dan tenggelam dalam dunia tulisannya, dia hampir tidak menyadari pergerakan di sampingnya. Arvin perlahan mengikis jarak di antara mereka. Arvin mencondongkan tubuhnya, lalu dengan gerakan lembut menyandarkan kepalanya ke bahu Karin, menempelkan dagunya di sana sembari ikut memperhatikan barisan kata yang diketik Karin.
Karin sempat melirik, namun dia diam saja dan membiarkannya, mengira Arvin hanya sedang kelelahan setelah seharian di sekolah.
Merasa tidak ada penolakan dari Karin, keberanian Arvin perlahan naik. Kedua tangan bergerak menyusul, melingkar pelan di sekeliling pinggang Karin, membawa wanita itu ke dalam dekapan hangat dari belakang.
Karin tersadar dari fokusnya, jemarinya berhenti mengetik. "Ngapain peluk-peluk?" tegur Karin tanpa menoleh, mencoba terdengar tegas walau jantungnya berdesir.
"Peluk Tante sendiri masa gak boleh?" jawab Arvin lirih, suaranya terdengar berat dan tenang di dekat telinga Karin.
Mendengar alasan yang sama seperti di pantai kemarin, Karin membiarkan pelukan itu bertahan dan memilih melanjutkan ketikannya yang sempat tertunda. Suasana hening sore itu hanya diisi oleh suara ketukan kibor laptop yang konstan.
Namun, kenyamanan itu mendadak berubah menjadi ketegangan yang pekat. Lama-kelamaan, salah satu tangan Arvin yang melingkar di perut Karin perlahan bergerak naik. Dengan gerakan yang teramat pelan dan hati-hati, salah satu telapak tangan besar Arvin menangkup dari balik bajunya.
Saking fokusnya menyusun kalimat di bab tersebut, Karin tidak menyadari pergerakan tangan itu. Baru ketika telapak tangan Arvin mulai mengusap dengan usapan lembut, kesadaran Karin langsung tersentak.
Deg!
"Arvin!" pekik Karin tertahan. Dia langsung menghentikan ketikannya dan menolehkan kepalanya ke samping, menatap langsung ke arah Arvin.
Karena posisi dagu Arvin yang masih bersandar di bahunya, jarak wajah mereka seketika menjadi teramat dekat, hanya menyisakan jarak beberapa senti saja hingga ujung hidung mereka bersentuhan. Karin menelan ludahnya berat, dadanya bergemuruh hebat karena pasokan oksigen di sekitarnya mendadak terasa menipis. Wajahnya memerah padam.
Sementara itu, Arvin tetap menatap Karin dengan mata sayunya yang dalam dan tenang. "Apa, Tante?" tanyanya tanpa dosa, seolah-olah tangannya tidak melakukan apa-apa.
Karin yang tidak tahan dengan tatapan itu segera mengalihkan pandangannya kembali ke layar laptop, mencoba mengatur napasnya yang mulai memburu. "Kamu... kamu gini juga ke tante kamu yang lain?" tanya Karin dengan suara yang sedikit bergetar, mencoba mencairkan kecanggungan.
"Enggak. Cuma ke Tante Karin doang," jawab Arvin berbisik tepat di samping ceruk leher Karin. Detik berikutnya, jemari meremas pelan dalam genggamannya itu.
"Arvin!" Karin kembali memekik kecil, tubuhnya sedikit menegang menerima sensasi aneh yang mendadak menyengat tubuhnya.
"Apa?" sahut Arvin pelan, tetap mempertahankan posisinya tanpa berniat melepaskannya.
Padahal, jika Karin mau, dia bisa saja menepis tangan Arvin atau bergeser menjauh untuk menghentikan tindakan remaja di sampingnya itu. Namun, entah karena ego dewasanya yang diam-diam menikmati kedekatan intim ini, Karin justru tetap diam di tempatnya. Dia membiarkan laptopnya menyala begitu saja, membiarkan Arvin terus memainkan dan menikmati di tengah keheningan sore yang semakin larut.
Karin menatap nanar layar laptopnya yang masih menampilkan kursor berkedip. Tulisan novelnya macet total, sama sekali tidak bisa dilanjutkan karena fokusnya telah terenggut sepenuhnya oleh kehangatan Arvin.
Akal sehat Karin terus berteriak bahwa ini salah. Arvin adalah sahabat keponakannya, seorang remaja yang umurnya terpaut jauh di bawahnya. Namun, sisi lain dari kedewasaan Karin justru melumpuhkan semua peringatan itu.
Bertahun-tahun melewati malam sendirian membuat tubuh Karin merespons sentuhan ringan Arvin dengan cara yang tak terduga. Alih-alih merasa marah, sentuhan itu justru terasa seperti oase yang memuaskan kesepian yang selama ini Karin kubur dalam-dalam di bawah kedok wanita karier yang mandiri.
Sentuhan hangat itu membuat bulu kuduk Karin meremang, sekaligus memicu debaran jantung yang begitu candu. Karin memejamkan matanya rapat-rapat, menggigit bibir bawahnya demi menahan lenguhan yang hampir saja lolos dari tenggorokannya.
"Tante..." bisik Arvin rendah, napas hangatnya berembus di ceruk leher Karin saat tangannya terus bergerak lambat, menikmati kelembutan yang selama ini hanya bisa dia bayangkan. "Boleh lebih dari ini?"
Pertanyaan yang diucapkan dengan nada serak dan penuh permohonan itu seketika memukul kesadaran Karin. Dia tersentak kecil, menyadari bahwa jika dia membiarkan Arvin melangkah lebih jauh, batas di antara mereka akan hancur lebur dan tidak akan pernah bisa kembali seperti semula.
Dengan sisa-sisa tenaga dan akal sehat yang berhasil dia kumpulkan, Karin akhirnya memegang pergelangan tangan Arvin. Dia menahannya agar berhenti bergerak.
"Udah, Vin... cukup," ucap Karin dengan suara yang amat pelan dan napas yang masih sedikit tidak teratur. Dia perlahan memutar tubuhnya, menatap Arvin yang matanya kini terlihat menggelap oleh gairah remaja yang tertahan.
Karin merapikan sedikit kerah bajunya yang agak turun, mencoba meredakan rona merah padam di wajahnya. "Nanti... nanti kalau ada yang lihat gimana?" alasan Karin, mencoba membawa kembali situasi rasional di antara mereka.
Arvin menghela napas berat, tampak kecewa namun dia tahu dia tidak bisa memaksakan kehendak. Dia perlahan menarik tangannya, lalu menyandarkan kembali punggungnya ke sofa sembari menatap langit-langit langit rumah Karin untuk menenangkan gejolak di dalam dadanya.
Meskipun sentuhan itu telah berakhir, suasana di ruang tengah itu tetap terasa sangat pekat dan canggung.