Di balik gaun megah bertabur mawar merah dan dansa yang begitu mesra, tersimpan sebuah rahasia yang mematikan.
Melanie mengira ia telah menemukan cinta sejatinya pada diri Glen, seorang pria menawan yang memperlakukannya bak seorang ratu tanpa cela, seperti mawar merah yang indah tanpa duri (Thornless Red Rose). Namun, Melanie tidak pernah tahu bahwa di balik tatapan penuh kehangatan itu, Glen sedang merajut jaring balas dendam yang kejam terhadap keluarganya.
Ketika kebenaran perlahan mulai terkuak, Melanie harus menghadapi kenyataan pahit: apakah cinta Glen kepadanya murni nyata, ataukah ia hanya sekadar bidak dalam permainan balas dendam yang dirancang untuk menghancurkan hidupnya?
Sebuah kisah tentang cinta yang tumbuh di atas bara dendam, di mana batas antara ketulusan dan pengkhianatan menjadi begitu tipis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sarifah31, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Langkah Asing di Lembaran Baru
Kesunyian malam kembali memeluk erat rumah besar keluarga Glen yang mewah namun kosong. Di dalam kamarnya yang temaram, satu-satunya sumber cahaya hanya berasal dari pendaran layar laptop di atas meja belajar. Glen duduk membungkuk, dengan jaket denim yang kini tersampir di sandaran kursi, menyisakan dirinya yang hanya mengenakan kaus hitam polos.
Jemarinya bergerak konstan di atas trackpad, membuka satu per satu situs lowongan pekerjaan yang bertebaran di internet. Setelah pertemuannya yang hancur berantakan dengan Melanie di Tamansari, ada bagian dari ego Glen yang mendadak patah. Ia menolak untuk terus-menerus hidup di bawah bayang-bayang uang masa lalu yang kian menipis, atau sekadar berpangku tangan melihat ayahnya yang kian menua dalam diam. Ia ingin mandiri. Ia ingin membuktikan bahwa tanpa takhta keluarganya yang direnggut dua belas tahun lalu, ia bisa berdiri di atas kakinya sendiri.
Namun, realitas dunia kerja ternyata jauh lebih kejam daripada menyusun naskah sandiwara sastra di kampus.
Glen menghela napas panjang, menyugar rambutnya yang berantakan dengan perasaan frustrasi yang kian memuncak. Setiap kali ia membuka kolom persyaratan kerja, mulai dari posisi penulis konten, staf administrasi, hingga penyunting naskah, kalimat pertama yang selalu terpampang nyata adalah: Berpengalaman minimal 1-2 tahun.
"Pengalaman..." gumam Glen lirih, suaranya terdengar begitu parau di dalam keheningan kamar.
Sebagai seorang mahasiswa yang menghabiskan seluruh waktunya di dalam perpustakaan, mengurung diri dengan buku-buku tebal, dan merajut plot balas dendam di dalam kepalanya, Glen sama sekali tidak tahu apa-apa tentang seluk-beluk dunia kerja nyata. Ia belum pernah magang, tidak memiliki jaringan korporat, dan portofolionya hanya berisi draf-draf cerita fiksi yang penuh dengan metafora gelap. Di hadapan lembar dokumen CV yang masih kosong, pangeran sastra yang terkenal angkuh di Universitas Airrawan itu kini tampak begitu kebingungan dan tidak berdaya.
Pintu kamarnya tiba-tiba diketuk pelan tiga kali. Sosok Bik Sisi melangkah masuk dengan hati-hati, membawa secangkir teh hangat dan meletakkannya di sudut meja, tepat di samping laptop Glen yang masih menyala.
"Belum tidur, Den? Ini sudah lewat tengah malam," ujar Bik Sisi lembut, matanya melirik sekilas ke arah layar laptop yang menampilkan deretan bagan lowongan pekerjaan.
Glen bersandar pada kursi kayunya, memijat pangkal hidungnya yang terasa pening. "Belum, Bik. Glen sedang mencari sesuatu... mencari pekerjaan."
Bik Sisi tertegun sejenak, lalu menyunggingkan senyum hangat yang sarat akan rasa haru. "Gusti... Den Glen mau bekerja? Tapi kuliah Aden kan belum selesai, liburannya juga masih panjang."
"Justru karena liburannya panjang, Bik. Glen tidak bisa terus-menerus diam di rumah ini tanpa melakukan apa-apa," jawab Glen, suaranya melembut namun menyiratkan keteguhan yang mutlak. "Tapi ternyata tidak mudah. Semuanya meminta pengalaman kerja, sedangkan Glen... Glen tidak tahu harus mulai dari mana. Glen tidak punya pengalaman sama sekali."
Bik Sisi menepuk bahu tegap Glen dengan lembut, mencoba menyalurkan kekuatan. "Den Glen itu anak yang pintar. Kalau menulis cerita saja Aden bisa membuat orang ikut menangis dan marah, pasti ada jalan di luar sana yang menghargai kepintaran Aden. Jangan berkecil hati dhewé, Den. Semua orang besar juga mulainya dari tidak tahu apa-apa."
Setelah Bik Sisi pamit keluar, Glen kembali menatap layar laptopnya. Kata-kata Bik Sisi sedikit meredakan gemuruh di dadanya, namun tidak serta-merta menghapus fakta bahwa ia sedang tersesat di lembaran baru yang asing ini. Di satu sisi, ia ingin membuang seluruh ketergantungannya pada masa lalu; namun di sisi lain, bayangan wajah pasrah Melanie yang menangis di bawah rintik hujan Tamansari malam itu tiba-tiba kembali melintas di benaknya, mengusik fokusnya dan mempertegas kenyataan bahwa di dunia nyata yang sedang ia perjuangkan ini, hatinya sendiri pun sudah tidak lagi berada di bawah kendalinya.
terlalu mengaitkan kisah fiksinya...