Danu merasa hidupnya benar-benar di kutuk oleh Lila gadis kecil yang dulu dia rawat, empat kali sudah dia gagal memiliki pasangan hidup hingga dia di juluki Perjaka Tua di kampus di mana dia mengajar.
"Siang Pak Dosen" Suara itu benar-benar Danu hafal, siapa lagi kalau bukan Lila si Pengutuk kecil.
"Ada apa?"
"Pak saya ada masalah, mohon bantuan"
"Bantuan apa? apa ada materi yang sulit di fahami?" Danu mencoba bersikap professional.
"Ada pak"
"Materi apa?"
"Materi tentang bagaimana cara menjadi istri Pak Danu Pramana"
'Uhuk uhuk'
Danu sampai tersedak mendengar Lila kembali berulah.
"Lila ....."
Lila langsung berlari keluar setelah menaruh buku tugasnya di meja kerja Danu.
Akankah Lila berhasil mendapatkan cinta sang Dosen? yuk kepoin cerita serunya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ibah Ibah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
18
Pak tua itu menunggu Lila keluar dengan tak sabar, dia menggosok-gosok telapak tangannya berharap berharap gadis muda yang ada di dalam kamar mandi segera keluar.
Di dalam sana, Lila merasa lega karena akhirnya bisa mengeluarkan air di dalam kandung kemihnya. Setelah membersihkan diri, Lila berniat keluar, namun baru juga ingin membuka pintu, Lila melihat bapak-bapak tadi telanjang bulat, Lila segera menutup pintu kamar mandi lagi. Dia begitu ketakutan, sepertinya dia sudah masuk di kamar hotel yang salah.
Lila tidak membawa ponsel, dia tidak tahu harus bagaimana sekarang. Dia takut bapak tua di depan membuka kamar mandi dengan paksa. Sepertinya dia punya niat jahat padanya, Kalau tidak untuk apa dia telanjang di depan sana.
Lila meringkuk di pojok kamar mandi,meremas bajunya dengan begitu erat, Tubuhnya gemetar, lututnya terasa melemah dan sekujur tubuhnya seperti membeku. Lila bahkan tak sanggup lagi berdiri. Dia berharap Danu segera menyadari kalau dia tidak ada di kamar dan segera mencarinya. Hanya itu satu-satunya harapan Lila.
"Mas Danu tolong!" Lirihnya sambil ketakutan. Lila menyesal sudah menjahili Danu tadi, harusnya dia tidak iseng, jadi Danu tidak akan ngambek dan mengurung diri di kamar mandi, sekarang lihatlah, dia yang terkurung di kamar mandi orang lain. Sepertinya dia langsung kena karma secara instan.
'Tok Tok Tok'
Suara gedoran pintu membuat Lila makin ketakutan, keringat dingin keluar dari tubuhnya, rasanya jantungnya ingin copot, kulitnya mulai pucat pasi.gedoran itu semakin lama semakin kuat, ritmenya juga semakin sering, membuat Lila semakin takut, dia sampai mencengkram tangannya hingga terluka.
"Mas Danu, Lila takut. Tolong Lila" Lila menangis ketakutan, dia sangat berharap Danu datang. Ketukan semakin kuat, kini terdengar seperti dobrakan, Lila makin memojokkan tubuhnya, bersembunyi di sana sambil memejamkan matanya dengan begitu erat.
'Brak'
Suara pintu kamar mandi terbuka, Lila makin memejamkan matanya, dia takut membuka mata.
Apalagi saat sebuah tangan menyentuh bahunya. Lila berteriak dan langsung pingsan di tempat.
"Lila!" Teriak Danu.
Danu segera menggendong tubuh Lila keluar dari kamar mandi itu, Jantungnya bergemuruh, nafasnya tercekat seakan dia ingin berhenti bernafas melihat keadaan Lila. Untung saja Danu tadi langsung meminta cek cctv di hotel ini, jadi dia bisa tahu di mana Lila. Awalnya Danu kira Lila jalan-jalan di sekitar hotel, tapi ternyata anak itu ke kamar sebelah untuk menumpang kamar mandi. Danu sempat kesal juga dengan Lila, bisa-bisanya anak ini numpang di tempat seperti ini. Tidak tahukah dia kalau ini tempat asing yang begitu berbahaya? Untung saja dia tepat waktu saat menemukannya.
Danu membawa kembali Lila ke kamar, saat melewati lelaki tua yang ingin mengganggu Lila, Danu kembali menendangnya. Untung saja Lila belum di apa-apakan, kalau sampai Lila di sentuh, Danu tidak akan memaafkan lelaki itu.
Danu segera menaruh tubuh Lila di ranjang, memberi dia selimut tebal, Danu mencoba membangunkan Lila dengan minyak, tangan Lila yang begitu dingin Danu gandeng begitu erat.
"Bangun Lil, jangan buat mas takut"
Danu terus mengusap-usap tangan Lila, dia bahkan menaruh tangan itu di pipinya, sesekali Danu menciumnya dalam. Berharap rasa hangat itu bisa menjalar ke tubuh Lila.
Danu bahkan mengelus pipi Lila, memeluknya pelan, sambil terus memanggil namanya.
Lila mulai membuka mata, samar-samar di lihatnya Danu yang tengah berusaha membangunkan dirinya.
"Mas...." Gumam Lila begitu pelan.
"Lila, akhirnya kamu bangun juga, kamu baik-baik saja kan? Ada yang sakit? Mau mas bawa ke rumah sakit?" Pertanyaan itu datang bertubi-tubi, membuat Lila tersenyum, dia lega Danu menemukannya.
"Lila sakit mas"
"Di mana? Tunjukkan ke mas Danu, Mas akan berusaha menyembuhkan nya"
Lila mengangkat tangannya dan menunjuk bibirnya dengan jari telunjuk. Danu mengerutkan dahinya, dia tidak mengerti maksud Lila.
"Pijit di sini mas, tapi pakai bibir mas Danu"
Seketika Danu langsung melepaskan genggaman tangannya. Dalam keadaan seperti ini pun Lila bisa-bisanya menggodanya.
"Jangan bercanda lagi Lila"
"Lila tidak bercanda, memang di sini sakit, Lihat!"
Lila membuka sedikit bibir nya, ada luka memar berwarna kemerah-merahan di sana karena dia terlalu keras menggigit bibirnya tadi.
Danu langsung sigap mengecek bibir Lila, tubuhnya yang mendekat membuat Danu tak sadar kalau Lila makin jedag jedug dan ingin sekali mencium nya. Apalagi wajahnya kini begitu dekat dengan wajah Danu.
"Mas ambil obat dulu"
Danu ingin bangkit, namun Lila tidak mengizinkan, dia takut sendirian.
"Temani Lila aja mas, Lila nggak mau sendirian"
"Lain kali jangan sembarangan numpang toilet, kamu tahu kan ini di hotel? Untung saja ma nemuin kamu di waktu yang tepat"
"Iya maafin Lila, tadi Lila benar-benar kebelet, tapi Mas Danu tidak keluar-keluar"
Danu hanya diam, dia tadi sengaja tidak keluar, dia menunggu Lila tertidur agar anak ini tidak melakukan hal aneh-aneh yang bisa membuat dia khilaf.
"Ya sudah sekarang istirahat"
"Mas juga istirahat" Ucap Lila sambil menunjuk ruang kosong di sebelah ranjangnya. Danu mana mungkin tidur di sana.
"Mas tidur di lantai saja"
"Jangan! Lila nggak akan ganggu Mas Danu, Lila akan langsung tidur, lagi pula Lila juga lagi datang bulan kan?"
Benar juga sih, tapi..
Tetap saja ada rasa hawatir di hatinya, dia lelaki dewasa normal, meski Lila sedang ada tamu bulanan, tapi tidur bersama gadis remaja dalam satu ranjang tentu itu bukan hal baik.
"Mas di lantai saja, biar kamu bisa istirahat dengan nyaman"
Lila langsung bangun, dia menggelar selimut di lantai bawah, sambil menurunkan semua bantal.
"Kamu mau apa Lila?"
"Kalau mas tidur di lantai, Lila juga tidur di lantai!"
Astaga! anak ini benar-benar susah di atur. Karena tidak mau Lila tidur di bawah, Danu memutuskan untuk tidur di ranjang.
"Baiklah, mas di atas"
Lila langsung tersenyum, dia kembali mengambil bantal dan selimutnya. Dengan sedikit tahu, Danu mulai naik ke ranjang. Dia merebahkan tubuhnya sedikit jauh dari Lila. Dia benar-benar tidak ingin ada khilaf untuk yang kesekian kalinya.
Seumur-umur ini pertama kalinya Danu tidur dengan seorang gadis.
"Ini bukan yang pertama mas, Kita dulu juga pernah tidur berdua begini"
Danu langsung menoleh, bagaimana bisa Lila tahu apa yang sedang dia pikirkan. Tapi benar kata Lila, dulu mereka pernah tidur satu ranjang seperti ini, tapi waktu itu Lila masih kecil, payu daranya belum sebesar itu. Eh?
kenapa Danu jadi ingat gunung kembar itu? Astaga! Otaknya mulai tak stabil.
"Dulu ada ular masuk di kamar Lila, mas Danu yang usir, Karena Lila takut, mas akhirnya tidur di samping Lila, mas ingat kan?"
Lila mencoba mengingatkan Danu masa lalu indah mereka.
"Iya mas ingat"
Lila memiringkan tubuhnya menghadap Danu, Danu hanya melirik saja, dia tetap mempertahankan posisinya.
"Mas Danu waktu itu peluk Lila, elus-elus rambut Lila. Mas mau tidak melakukan itu lagi?"
Mata Danu langsung membulat sempurna, dia menatap horor ke arah Lila. Kan mulai kan tingkah absurd nya.
'Duh Gustiiiii Danu tidak kuat!'