NovelToon NovelToon
Back To Us, Zehar & Alesha

Back To Us, Zehar & Alesha

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyelamat / Mengubah Takdir / Romantis
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Rani Ramadhani

Tujuh tahun lalu, kerasnya hidup memaksa sepasang kekasih berpisah jalan. Kini, mereka kembali dipertemukan di puncak kesuksesan. Alesha seorang Direktur wanita yang tangguh, dan Zehar telah menjadi perwira polisi yang mapan.
Kesempatan kedua pun diambil. Namun tepat saat hubungan mereka kembali bertaut, sebuah utang budi dari masa lalu datang menagih.
Alesha dihadapkan pada dua pilihan, antara harus berbakti pada perjodohan orang tua, atau mempertahankan cinta sejatinya.
Saat pangkat dan jabatan sudah di tangan, mampukah mereka memenangkan takdir yang dulu sempat gagal?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Insiden di Lampu Merah

Waktu telah menunjukkan pukul empat sore, saat ini arus pulang kerja di Ibu Kota mulai mencapai puncaknya. Jalan raya utama yang melintasi kawasan bisnis terasa sesak oleh deretan kendaraan yang bergerak lambat, bagaikan aliran sungai yang tersumbat.

Di antara keramaian itu, sebuah mobil sedan berwarna hitam mengilap melaju dengan kecepatan wajar, menjaga jarak aman dari kendaraan di depannya. Di balik kemudi, duduk Alesha Camellia yang seharian telah menghabiskan tenaga dan pikiran di balik meja direkturnya.

Matanya yang tadinya terfokus pada jalan raya kini sesekali melirik ke jendela samping, mengamati pemandangan kota yang mulai diselimuti cahaya keemasan matahari terbenam.

Dalam hatinya, ia berharap bisa segera sampai di rumah, untuk melepaskan lelah sebelum kembali memikirkan berbagai urusan yang menanti keesokan harinya. Namun, harapan itu terhenti seketika saat kendaraan itu harus berhenti rapat di belakang barisan panjang di sebuah persimpangan besar yang dikendalikan lampu lalu lintas.

“Masih lama lagi ya, Bu,” ujar Dinda yang duduk di kursi penumpang sambil melirik jam tangan.

“Mungkin ada perbaikan jalan sedikit di depan.”

Alesha hanya mengangguk pelan, lalu memejamkan mata sebentar untuk menenangkan pikiran. Ia tidak menyadari bahwa dari arah kanan, sebuah mobil van berwarna abu‑abu yang tampak tergesa‑gesa mencoba menyelip di antara celah kendaraan yang sempit, tidak sabar menunggu giliran. Pengemudinya tampak terburu‑buru, kurang cermat mengatur jarak, hingga terdengar suara gesekan logam yang cukup keras disertai benturan ringan namun jelas terasa.

Bruk!

Tubuh Alesha terguncang ke depan, lalu kembali tertahan oleh sabuk pengaman. Matanya seketika terbuka lebar, kaget dan waspada. Dinda segera menoleh ke belakang, wajahnya berubah cemas.

“Bu! Mobil kita terserempet!” serunya.

Alesha mengerutkan kening, segera membuka pintu dan turun ke jalan raya. Suasana di sekitarnya menjadi riuh karena beberapa pengendara lain melambatkan kendaraan untuk melihat apa yang terjadi.

Ia langsung melangkah ke sisi kanan mobilnya, dan benar saja, di sana terlihat goresan panjang berwarna putih menyilang di bagian bodi, serta penyok kecil di sudut belakang. Di sampingnya, pengemudi van itu juga turun dengan wajah pucat dan gugup.

“Maaf, Bu! Saya tidak sengaja, jalannya terlalu sempit…” ujar pemuda itu terbata‑bata, tangannya berkeringat dingin.

“Tidak sengaja bukan berarti tidak ada tanggung jawab,” jawab Alesha dengan nada tenang namun tegas, meski dalam hatinya mulai timbul rasa kesal karena jadwal istirahat yang sudah terganggu.

“Anda harus lebih berhati‑hati di jalan raya yang padat seperti ini.”

Percakapan mereka mulai menarik perhatian lebih banyak orang. Kerumunan kecil terbentuk di pinggir jalan, membuat arus lalu lintas semakin melambat dan menimbulkan suara klakson yang tidak sabar dari kendaraan yang menunggu di belakang. Suasana yang tadinya tertib perlahan mulai menjadi kacau dan menimbulkan ketegangan.

Tepat saat itu, terdengar suara sirine yang mendekat, diikuti bunyi mesin kendaraan yang melaju pelan menuju sumber keributan.

Sebuah mobil patroli berwarna biru khas kepolisian berhasil menembus celah sempit di antara kendaraan yang berhenti, lalu berhenti tepat di pinggir persimpangan.

Pintu pengemudi terbuka, dan sesosok pria berseragam lengkap turun dengan langkah yang mantap dan tegas.

Pria tu adalah Zehar Pradipta.

Ia berdiri tegak, lencana pangkat AKP di pundaknya tampak jelas terkena cahaya matahari sore. Wajahnya tenang, namun sorot matanya tajam, segera menilai situasi yang terjadi hanya dengan pandangan sekilas. Di belakangnya, Briptu Bagas juga turun, bersiap membantu mengatur keadaan.

“Semua tenang, jangan berkerumun!” seru Zehar dengan suara lantang namun tetap terkontrol, mampu terdengar jelas di tengah keributan.

“Kami akan mengurusnya. Silakan kendaraan lain melanjutkan perjalanan jika tidak terlibat.”

Perintah itu langsung didengar. Beberapa orang yang hanya melihat‑lihat mulai mundur dan kembali ke kendaraan masing‑masing, memberi ruang.

Zehar melangkah mendekati kedua pihak yang terlibat, memeriksa kondisi kendaraan sekilas, lalu menatap wajah pengemudi van abu-abu itu terlebih dahulu.

“Apa yang terjadi?” tanyanya singkat namun tegas.

“Saya menyerempet mobil ini, Pak. Saya terburu‑buru dan kurang hati‑hati,” jawab pemuda itu dengan kepala tertunduk.

Zehar mengangguk, lalu memutar badannya perlahan untuk menghadap ke arah pengemudi mobil sedan yang menjadi korban.

Ia bersiap menyampaikan pertanyaan selanjutnya untuk mendapatkan keterangan lengkap. Namun, saat pandangan matanya bertemu dengan sepasang mata yang sedang menatap balik ke arahnya, seluruh kalimat yang hendak keluar dari mulutnya seketika terhenti di tenggorokan.

Waktu seolah melambat, bahkan terasa berhenti sejenak.

Di hadapannya berdiri seorang wanita dengan penampilan anggun namun tegas, mengenakan setelan jas kerja yang rapi, rambutnya terurai indah ke belakang.

Wajahnya masih sama seperti yang tersimpan dalam ingatannya, hanya saja kini tampak lebih matang, lebih percaya diri, dengan tatapan yang lebih dalam dan penuh beban kehidupan. Garis halus di sudut matanya dan sikap berdiri yang kokoh menunjukkan bahwa tujuh tahun telah berlalu, membawa banyak perubahan pada diri wanita itu.

Alesha juga membeku di tempat.

Saat pandangannya jatuh pada sosok petugas kepolisian yang kini berdiri hanya beberapa langkah di depannya, jantungnya seolah berhenti berdetak sesaat, lalu berpacu jauh lebih kencang dari biasanya.

Napasnya terasa tersendat, dan dunia di sekelilingnya seolah menghilang, seolah suara klakson telah menghilang, keramaian menjadi kesunyian, rasa kesal akibat insiden itu menjadi lenyap seketika.

Yang ada di hadapannya kini hanyalah sosok pria yang selama ini ia yakini sudah tak akan pernah ditemuinya lagi, sosok yang pergi tujuh tahun silam tanpa kabar yang jelas, meninggalkan banyak tanya dan luka yang sempat ia kubur dalam‑dalam.

Mereka saling menatap, tanpa kata‑kata, tanpa suara, namun ribuan kenangan dan perasaan yang tertimbun selama tujuh tahun itu seolah meluap keluar hanya lewat tatapan mata itu saja.

Ada rasa keterkejutan yang mendalam, ada rasa ragu, ada rasa rindu yang terpendam, namun juga ada jarak yang terasa begitu jelas di antara mereka, seolah masa lalu yang terputus itu telah membangun tembok tinggi di antara keduanya.

Zehar merasa dadanya berdebar kencang, namun ia berusaha menahan diri agar tidak terlihat goyah di depan umum. Sebagai petugas yang sedang bertugas, ia harus tetap menjaga wibawa, meski hatinya tengah bergemuruh hebat.

Alesha pun berjuang mengendalikan gejolak perasaannya, mencoba mengembalikan ketenangan yang selama ini ia bangun, namun tatapan mata Zehar membuatnya sulit berpikir jernih.

Di belakangnya, Dinda melihat perubahan sikap Alesha yang tiba‑tiba diam membisu, lalu menatap bingung ke arah petugas itu, merasa ada yang tidak biasa namun tidak berani bertanya.

Begitu pula Bagas yang melihat rekan kerjanya yang biasanya sigap dan cepat bertindak, kini hanya diam terpaku menatap wanita di hadapannya, membuatnya bingung dan ingin bertanya namun masih bisa menahan diri.

Detik itu, baik Zehar maupun Alesha tetap tidak mengucapkan satu kata pun yang menyebutkan masa lalu. Mereka hanya terus saling menatap, mata yang menjadi jendela hati itu menyampaikan lebih banyak hal daripada ucapan apa pun.

Di tengah riuhnya kota yang terus bergerak dan waktu yang terus berjalan, di persimpangan jalan yang penuh kendaraan ini, dua orang yang pernah terhubung erat itu akhirnya bertemu kembali bertemu setelah tujuh tahun terpisah, tanpa rencana, tanpa persiapan, dan tepat di tengah situasi yang tak terduga.

Tatapan itu terus berlanjut, seolah ingin membaca perubahan apa saja yang telah terjadi pada diri masing‑masing selama masa perpisahan yang panjang itu, sebelum akhirnya kesadaran akan lingkungan sekitar perlahan kembali menyentuh pikiran mereka.

Namun untuk saat ini, di detik‑detik pertama pertemuan itu, hanya diisi oleh detak jantung yang tak teratur dan perasaan yang tiba‑tiba bangkit dari tidur panjangnya.

1
Siti Sarfiah
lancar kan urusannya kalau mengalah dari egois lanjutkan lagi cinta yg terputus dan perbaiki kembali
Siti Sarfiah
maju pakpol , buang jauh" egomu bisa nyesal kalau d ambil orang
Siti Sarfiah
itulah sama" egois🤭💪
Siti Sarfiah
pakpol yg buang" waktu , bilang saja ingin mengenang masa lalu😄👍
Siti Sarfiah
cinta lama bersemi kembali😍👍💪
Siti Sarfiah
dengan bertugasnya AKP zehar d daerah yg d tuju akan aman selalu👍💪
Siti Sarfiah
mantap ibu Dirut yg jenius👍
Elisabeth Ratna Susanti
semoga pak Zehar beneran tulus ya
Rosella
udh, 🙏
kalah saing kmu erhan
Rosella
baguss
Rosella
Zaskia sadar krna di bayarin tuh utang, coba kalau ga d bayarin, apa masih Nerima Zehar 😏
Rosella
sepakat din🙏
Rosella
keren juga Dinda 😍.
real sahabat ini mah😍
Elisabeth Ratna Susanti
harus tetap tegak berdiri 👍🥰
Rosella
aku paling suka karakter Zehar. apa yang dia ucapkan pasti positif. keren thor.
kalau bisa up banyak y. plis 🙏
Rani: tengkyu.

siapp,😍
demi readers rela up banyak kok😍
total 1 replies
Rosella
sudah pasti terpecah belah lah. gila aja anak sendiri di jadikan bahan untuk balas Budi.😏
Rani: sabar😭
total 1 replies
Rosella
ibu aja yg nikah sama erhan noh. kehormatan apaan, ngorbanin anak
Rani: sabar😭
total 1 replies
Rosella
egois bnget si ibu
Rani: sabar😭
total 1 replies
Rosella
idih
Rosella
emosian lngsung pas baca bab ini
Rani: sabar😭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!