Namaku Kimira Janetha Usia 32 tahun. aku seorang Aktris sekaligus seorang ibu. dari Seorang putri yang bernama Quensha Almahira yang biasa kami panggil Queen..
selama lima tahun aku percaya pada satu hal. yaitu Tentang kesetiaan. setia pada Keenan Jeremi. Suamiku. pernikahan yang ku bangun dari nol ternyata kesetiaan itu hanya milikku sendiri.
malam itu harusnya jadi malam kepulangan yang indah bagiku. aku pulang lebih cepat dari lokasi syuting sambil membawa kue ulang tahun pernikahan kami yang ke-5 tahun. namun yang ku temukan bukan pelukan atau senyuman. dua tubuh telanjang bulat diatas ranjangku. ya mereka adalah Keenan Jeremi suamiku, dan Clara Adellia Sahabatku.
seketika darahku langsung mendidih. tanpa pikir panjang aku langsung jambak rambut panjang Clara. hingga dia terjungkal.
plak
plak
plak
"Dasar pelacur murahan! beraninya Kamu mengotori ranjangku! " teriaku murka, marah.
pisau lancip dari sakuku langsung melayang. dan menggores pipi Clara.
Cring
Zzzzzrrkkk
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AmeeraKa94, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19 Senyum Yang Menggigit
"Apa? Laki lo nikah lagi...?!" pekik Inka. Alas bedak di tangannya langsung kelepas dan jatuh ke meja rias.
Netha cuma ngangguk pelan. Matanya nanar natap pantulan dirinya di cermin. Wajahnya cantik, tapi sendu.
"Dasar laki-laki brengsek," Inka ngomel terus. Emosinya meledak. "Udah punya istri cantik, pinter cari duit sendiri, anak lucu, masih aja kurang. Maunya apa coba laki modelan kayak gitu? Kayaknya emang sekali-sekali lo harus kasih dia pelajaran deh, Tha. Biar nggak ngelunjak jadi suami!"
Inka nggak terima sahabatnya dipermainin Keenan kayak gitu.
"Tha... lo denger kan ucapan gue barusan?" tanya Inka gemas. Kesel karena Netha diem aja dari tadi.
"Ya aku denger," jawab Netha pelan.
Inka micingin mata. Heran liat wajah sendu sahabatnya di balik cermin. "Terus langkah selanjutnya lo gimana? Apa lo bakal diem dan pura-pura nggak tau kebejatan suami lo? Apa lo mau datengin suami lo buat ngelabrak dia sama tuh jalang?"
Senyum tipis muncul di bibir seksi Netha. Tapi senyumnya... penuh arti.
"Lihat aja nanti apa yang bakal terjadi," kata Netha santai. "Karena aku bakal kasih kejutan spesial buat manusia-manusia pengkhianat kayak mereka."
---
Malam itu juga.
Netha denger suara mobil masuk garasi. Deru mesinnya familiar. Itu mobil Keenan.
Jantungnya deg degan. Tapi ia paksa tenang. Ini bagian dari misi. Misi yang udah ia rancang bareng Omma Rita beberapa hari lalu. Bikin Keenan nyesel karena udah ngelukain dia sedalam ini.
Ceklek.
Pintu kebuka.
"Netha... aku---"
"Assalamualaikum dulu, Mas," potong Netha. Ia langsung genggam tangan kanan Keenan dan cium. Senyum manisnya dipasang. Padahal dalam hati pengen nangis, pengen jerit.
"Wa... waalaikumsalam," jawab Keenan. Gugup banget. Salah tingkah.
"Sini aku bawain tas kamu, Mas," kata Netha. "Pasti capek banget kan habis dinas luar kota beberapa hari ini."
Skakmaaaaat
Kalimat sindiran. Tapi diucapin pake senyum terbaik.
"I... iya..." Keenan makin gugup. Sikap Netha yang biasa aja malah bikin dia makin ngerasa bersalah.
Netha gandeng lengan Keenan. "Yuk masuk, Mas. Hari ini aku udah siapin masakan enak-enak kesukaan kamu lho."
"Kamu tau dari mana kalau hari ini aku pulang?" tanya Keenan hati-hati. Ia penasaran. Padahal dia belum sempet ngasih kabar.
"Feeling aja," jawab Netha cepat. Singkat. Jelas.
Glek.
Keenan nelan ludah kasar. Jawaban Netha bikin dia makin panik.
Netha natap wajah Keenan yang pucat dan tegang. Tangannya naik, nangkap kedua pipi Keenan. "Hei... kenapa wajah kamu pucat gitu, Mas? Ada yang salah sama ucapan aku? Atau jangan-jangan... kamu sakit ya? Aduh gimana ini?"
"E... enggak. Aku baik-baik aja," jawab Keenan sekenanya. Ia bener-bener nggak bisa nutupin gugupnya.
"Beneran baik-baik aja? Tapi muka kamu pucat banget lho, Mas?" tanya Netha. Tatapannya sendu.
"Iya beneran. Ya udah kalau gitu aku ke kamar dulu ya. Gerah banget, badan lengket semua. Mau mandi."
"Ya udah kamu mandi dulu gih. Aku tadi juga udah siapin air hangat buat kamu, Mas. Kalau gitu aku tunggu di ruang makan ya," kata Netha.
Keenan mengangguk dan canggung.
Begitu masuk kamar mandi...
"Argggghh sial," umpat Keenan di bawah guyuran shower. "Kenapa aku jadi gugup di depan Netha? Seharusnya aku tenang biar dia nggak curiga."
"Arghh dasar bodoh," gumamnya lagi. "Pokoknya aku harus bersikap normal. Jangan sampai kebongkar sebelum aku siap ngasih tau Netha kalau aku udah nikah sama Clara di belakang dia."
Ia ngerasa bersalah. Banget. Apalagi kalau kebayang reaksi Netha nanti.
Nggak lama, Keenan keluar. Turun ke ruang makan. Di meja, udah ada banyak makanan. Lengkap. Ada kopi. Ada susu hangat. Favorit dia.
Netha senyum manis. Tuang air putih ke gelas. Lalu natap Keenan yang jalan ke arahnya.
Keenan senyum kikuk. Seret kursi. Duduk.
Dengan cekatan, Netha sendokin dua centong nasi + lauk favorit Keenan.
"Mau aku suapin?" tanya Netha. Senyumnya masih nempel.
Keenan kaget. "Tumben nawarin mau nyuapin segala?"
"Ya apa salahnya?" Netha balik nanya. "Sesekali manjain suami sendiri. Emangnya ada yang marah kalau aku mau nyuapin 'suami aku' sendiri, hmm?"
Glek.
Wajah Keenan langsung mencelos. Gugup dan pucat lagi. Ia nelan ludah kasar Tenggorokannya tercekat.
"Mas...?" panggil Netha.
Keenan bengong. Nggak nyaut.
"Mas...?"
"Hah? Apa?" Keenan tersadar. Netha baru aja nepuk lengannya pelan.
"Kok bengong? Lagi mikirin apa, sih, Mas?"
"E... enggak kok. Nggak mikirin apa-apa," jawab Keenan sekenanya. Ia paksa normal biar nggak dicurigain.
"Ada sesuatu yang ganggu pikiran kamu, Mas?" tanya Netha. Tatapannya nyelidik.
"Enggak kok. Nggak ada."
"Beneran?"
"Iya."
"Oh... ya udah. Sini piringnya. Aku suapin kamu makan ya," Netha langsung ambil alih piring Keenan yang udah lengkap isinya.
"Ayo... aaaa..." Netha nyodorin sesuap nasi + lauk ke mulut Keenan.
Sengaja. Ia mau Keenan inget masa-masa awal nikah dulu. Masa mereka masih bucin.
Keenan ragu. Tapi akhirnya buka mulut. Terima suapan itu.
Kunyahan demi kunyahan. Enak. Nikmat. Beda. Karena disuapin langsung sama tangan istri. Candu. Sampai akhirnya piring kosong.
Netha senyum. "Mau nambah lagi?"
Keenan geleng. "Cukup. Aku udah kenyang."
"Ya udah kalau gitu aku ke belakang dulu ya. Mau cuci tangan," kata Netha. Keenan angguk.
Netha berdiri. Jalan ke wastafel. Cuci tangan + piring.
Keenan natap punggung Netha. Senyum tipis muncul. "Nggak nyangka suapan dari tangannya masih enak kayak dulu," gumamnya. Ia geleng pelan. Kangen masa lalu.
---
Grep.
Netha kaget. Tangan kekar Keenan udah melingkar di pinggangnya dari belakang.
"Mas..." desis Netha. Nahan geli.
Keenan ngendus-ngendus leher Netha. "Aku kangen... yank. Boleh ya..." bisiknya serak di telinga Netha.
Dalam hati Netha ngumpat. Pengen marah. Pengen nendang. Tapi demi misi. Ia tahan semua kesel dan kecewa.
Pas Netha mau nolak halus, HP Keenan di nakas bergetar.
Drrtt... drrtt...
Layarnya nyala. Nama kontak: 'C' doang. Nelfon.
Keenan nggak sadar. Udah dikuasain nafsu.
Pelan-pelan, Netha raih HP itu. Tahan napas. Geser tombol hijau.
"Ahhh... Mas..." Netha sengaja merintih. Kayak desahan.
Keenan makin nafsu. Makin erat peluknya. Makin brutal cium leher Netha.
"Boleh ya... kangen nih," lirih Keenan.
"Ishhh... ahhh... Mas... ssshhh..." Netha ikut ngedesah. Pura-pura. Padahal tahan banget. Kalau bukan buat misi, udah dari tadi ia nendang Keenan jauh-jauh.
"Uohh... ahh... sayang... kenapa tubuh kamu harum banget malam ini, hmm," desah Keenan. Tangannya mulai merambat.
Netha ngumpat dalam hati. Berharap ada keajaiban yang hentikan Keenan.
Tuttt... tuttt... tuttt...
Sambungan telepon putus sepihak.
Netha lega. Senyum puas. Pasti tuh 'C' panas di seberang sana.
"Sshh... ahh... sayang, boleh ya... Aku buka. Udah nggak tahan nih," seru Keenan. Tangannya narik celana pendek Netha.
Netha langsung nahan tangan Keenan. "Tunggu, Mas."
"Kenapa?"
"Bentar ya... tiba-tiba perut aku mules," alibi Netha. Ia bangkit. Turun dari kasur. Langkah lebar ke kamar mandi.
Brakk.
"Argggghh... brengsek," umpat Keenan. Kakinya nendang-nendang selimut. Kesel. Nafsu nggak keturutan.
Di dalam kamar mandi, Netha napas ngos-ngosan. Sandar di pintu. Air matanya jatuh.
"Ya Allah... kuatkan aku..." bisiknya. Tangannya gemetar.
---
Jam 11 malam. Keenan udah tidur. Pura-pura capek. Padahal mikirin tadi.
Netha keluar kamar. Duduk di sofa ruang tamu. Sendiri.
HP-nya bunyi. Chat dari Inka.
Inka: Gila sih lo, Tha. Tega banget mainin perasaan dia. Gue salut.
Netha: Mau gimana lagi, Ka. Kalau nggak gitu, dia nggak bakal ngerasain sakitnya.
Inka: Tapi lo kuat nggak? Takutnya lo malah kebawa perasaan lagi.
Netha: Aku kuat. Demi Queen. Demi harga diri aku.
Netha narik napas. Bener. Ini demi Queen. Demi dirinya.
Tiba-tiba ada chat masuk lagi. Dari nomor tak dikenal.
088103648XXX: Sayang... tadi kamu sengaja ya? Matiiin telepon aku pas lagi asik? Keen... aku kangen. Balik ke sini dong.
Netha ngeblok lagi. Udah ketiga kalinya.
"Clara..." gumam Netha. "Tunggu aja. Pesta kamu baru mulai."
---
Keesokan paginya.
Netha bangun lebih awal. Bikin sarapan. Kopi hitam buat Keenan. Roti bakar.
Keenan turun. Liat meja makan. Kaget.
"Ini... buat aku semua?" tanya Keenan.
Netha senyum. "Iya, Mas. Duduk."
Keenan duduk. Makan pelan. Tapi pikirannya kemana-mana.
"Mas," panggil Netha.
"Hmm?"
"Kamu bahagia nggak?" tanya Netha datar.
Keenan kaget. Sendoknya berhenti. "Eh... bahagia kenapa?"
"Bahagia punya aku," jawab Netha. Tatapannya lurus ke mata Keenan.
Keenan diem. Nggak bisa jawab.
Netha senyum lagi. Tapi senyumnya dingin. "Nggak usah dijawab, Mas. Aku udah tau jawabannya."
Keenan makin nggak tenang. "Tha... kamu kenapa?"
"Nggak kenapa-kenapa," kata Netha. "Aku cuma... mau mastiin aja. Kamu masih inget nggak sama janji kamu waktu nikah sama aku?"
Keenan nunduk. "Tha..."
"Udah, Mas. Makan aja," potong Netha. "Nanti dingin."
Keenan makan lagi. Tapi rasanya hambar. Semua makanan kesukaannya tiba-tiba nggak enak.
---
Siang hari. Netha ada jadwal syuting iklan. Inka nemenin.
Di sela istirahat, Inka nyodorin kopi. "Gimana? Berhasil bikin dia panik?"
Netha seruput kopi. "Berhasil. Dia udah gugup dari kemarin. Apalagi tadi malam."
"Terus rencananya apa lagi?" tanya Inka penasaran.
Netha senyum. "Biar dia makin nyaman. Makin ngerasa aman. Terus... pas dia udah lengah, baru aku hantam."
Inka ketawa. "Sadis. Tapi gue suka."
Netha diem. Matanya ke depan. "Aku nggak sadis, Ka. Aku cuma... capek jadi korban."
Inka genggam tangan Netha. "Lo nggak sendiri, Tha. Gue di sini."
Netha angguk. "Makasih, Ka."
---
Malamnya, pulang syuting.
Netha masuk rumah. Keenan udah di sofa. Lagi main HP. Gugup lagi pas liat Netha.
"Udah pulang, Mas?" sapa Netha ceria.
"Iya... kamu capek?" tanya Keenan.
"Capek, tapi worth it," jawab Netha. "Mandi dulu ah."
Keenan diem. Liatin Netha jalan ke kamar. Baju tidurnya tipis. Rambutnya basah. Wangi.
Keenan nelan ludah. Tapi langsung inget HP-nya tadi malam. Takut ada apa-apa lagi.
Netha sengaja. Ia mainin Keenan dari segi batin. Bikin Keenan nyesek sendiri. Bikin Keenan ngerasa bersalah tiap kali liat dia.
Di kamar, Netha buka HP. Ada chat lagi dari Clara.
088103648XXX: Keen, kamu di mana? Kok nggak angkat telepon aku? Aku takut kehilangan kamu.
Netha screenshot. Simpan.
"Buat bukti nanti," bisiknya.
Ia rebahan. Mikir.
Misi ini nggak gampang. Hatinya masih sakit. Tapi ia harus kuat. Harus bikin Keenan dan Clara ngerasain apa yang dia rasain.
Dan ia baru mulai.
To be continued...