Jiang Yuan—18 tahun, hidup terasing di Desa Daun Hijau. Ketika desanya dihancurkan oleh kelompok misterius dari Aula Jiwa, ia terpaksa melarikan diri demi menyelamatkan nyawanya.
Di ambang kematian, Jiang Yuan diselamatkan oleh Wang Ning, seorang tetua kuat dari Sekte Bulan Kabut. Melihat bakat dalam dirinya, Wang Ning menjadikan Jiang Yuan sebagai murid dan membawanya memasuki dunia kultivasi.
Kini, Jiang Yuan harus bertahan di dunia yang kejam dan penuh bahaya, menempuh jalan menuju puncak kekuatan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chizella, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35: Bersama Yue Lianhua
Di dalam sebuah kamar sederhana namun nyaman, Jiang Yuan terbaring dengan tenang di atas ranjang yang empuk. Sinar matahari sore masuk melalui celah-celah tirai, menciptakan pola-pola cahaya keemasan yang menari di lantai kayu.
Udara di kamar itu terasa hangat dan nyaman, dipenuhi oleh aroma teh dan bunga-bunga segar yang diletakkan di sudut ruangan.
Wajah Jiang Yuan tampak damai dalam tidurnya, napasnya teratur dan tenang. Tubuhnya yang terluka kini telah dibalut dengan perban bersih, luka-lukanya perlahan pulih di bawah perawatan para tabib sekte.
Akhirnya, kelopak matanya bergerak. Perlahan, matanya terbuka, dunia masih buram, namun sedikit demi sedikit, penglihatannya mulai membaik. Langit-langit kayu di atasnya menjadi jelas, diikuti oleh dinding-dinding kamar yang dihiasi lukisan sederhana.
"Di mana ini..." gumamnya dengan suara serak, tenggorokannya terasa kering.
Ia menegakkan tubuhnya dengan susah payah, tangannya menahan berat badannya di atas ranjang.
Kepalanya sedikit pusing, namun ia berusaha mengumpulkan kesadarannya. Pandangannya menyapu ruangan, mencari tahu di mana ia berada.
"Kau sudah bangun?"
Suara lembut itu berasal dari Yue Lianhua yang duduk dengan anggun di dekat jendela, menikmati teh hangat di tangannya.
Kursinya ditempatkan cukup dekat dengan ranjang Jiang Yuan, memungkinkannya untuk mengawasi pemuda itu dengan saksama.
Wanita itu mengenakan jubah putih tipis yang longgar, rambut hitamnya terurai indah di bahu. Sinar matahari sore menerangi wajahnya yang cantik, menciptakan bayangan lembut di sekitar tulang pipinya yang tinggi.
"Kak Lianhua..." Jiang Yuan mengusap-usap matanya perlahan, mencoba mengingat apa yang terjadi. "Apa yang terjadi... aku tidak ingat banyak."
Yue Lianhua meletakkan cangkir tehnya dengan hati-hati di atas meja kecil di sampingnya. Ia menatap Jiang Yuan dengan ekspresi setengah iba setengah geli.
"Kau tidak ingat? Seminggu yang lalu, kau dan Ling Xi bertarung habis-habisan di arena utama. Kalian sama-sama terluka parah, sampai-sampai para tetua harus menghentikan pertarungan karena takut kalian berdua mati."
Ia menghela napas pelan, menggelengkan kepalanya.
"Akhirnya, pemenang ditentukan berdasarkan tingkat luka masing-masing. Dan kau berhasil menang karena melukai Ling Xi lebih parah dari luka yang kau terima."
Jiang Yuan hanya menatapnya dengan tenang, mencerna informasi itu perlahan.
"Ternyata begitu..." gumamnya, matanya sedikit melebar karena baru menyadari sesuatu. "Tunggu?! Apa? Seminggu?"
Yue Lianhua hanya mengangkat kedua bahunya dengan santai. Gerakan itu membuat jubah putihnya sedikit bergeser, memperlihatkan lekuk bahunya yang mulus.
"Yeah. Kau tidur selama itu. Salahmu sendiri karena bertarung berlebihan. Kau bahkan hampir mati kehabisan darah, kata para tabib."
Jiang Yuan menghela napas panjang, menundukkan kepalanya. Seminggu, itu waktu yang lama. Namun setidaknya ia berhasil menang.
"Sudahlah," ucapnya akhirnya, mengangkat kepalanya kembali. "Setidaknya berhasil menang. Itu yang terpenting."
Pandangannya beralih pada Yue Lianhua, mengamati wanita itu dengan lebih saksama.
Yue Lianhua meniup-niup tehnya yang masih panas, embusan napasnya yang lembut menciptakan riak-riak kecil di permukaan cairan.
Setiap kali ia bergerak, puncak kembarnya yang besar sedikit bergoyang di balik jubah tipisnya, menciptakan pemandangan yang sulit diabaikan.
Jiang Yuan mengalihkan pandangannya dengan cepat.
"Tapi, kenapa Kak Lianhua ada di sini?" tanyanya akhirnya, mencoba mengalihkan perhatian.
Yue Lianhua menatapnya sekilas, lalu kembali ke tehnya.
"Aku diminta untuk menjagamu. Wanita Suci masih ada urusan lain, jadi ia tidak bisa datang sendiri. Chu Chu masih dalam pemulihan, dan Ruan Mei sedang berlatih. Jadi hanya aku yang tersedia."
Jiang Yuan mengangguk, memahami situasinya.
"Lalu," lanjut Yue Lianhua, suaranya menjadi lebih serius, "saat kau sudah pulih nanti, temuilah Wanita Suci. Dia punya hal penting untuk dibicarakan."
Alis Jiang Yuan sedikit terangkat, rasa ingin tahunya terpicu.
"Hal penting? Tentang apa?"
Yue Lianhua menggelengkan kepalanya. "Pokoknya itu sangat penting. Kau akan tahu nanti ketika kau bertemu dengannya. Aku tidak bisa memberitahumu lebih banyak."
Jiang Yuan hendak bertanya lebih lanjut, namun Yue Lianhua melanjutkan sebelum ia sempat membuka mulut.
"Dan juga... Suku Iblis sudah mulai bergerak akhir-akhir ini. Jadi tak lama lagi, aku juga akan pergi untuk bertempur."
Jiang Yuan menegakkan tubuhnya lebih tinggi. "Suku Iblis? Seharusnya mereka sudah mulai jarang bergerak. Tapi kenapa tiba-tiba saja?"
Yue Lianhua menatapnya dengan tatapan serius. Matanya yang cokelat muda berkilauan dengan kekhawatiran yang tersembunyi.
"Kabarnya Kaisar Iblis yang sekarang jauh lebih kuat dari pendahulunya. Aku tidak pernah melihatnya secara langsung, tapi para senior yang bertarung melawan Suku Iblis ada yang pernah melihatnya dari kejauhan. Katanya..." Ia berhenti sejenak, seolah memilih kata-katanya dengan hati-hati. "Kaisar Iblis ini adalah seorang wanita."
Jiang Yuan mulai penasaran. Ia menurunkan kakinya ke samping ranjang dan menyingkirkan selimut yang menutupi tubuhnya.
Saat ini ia hanya mengenakan celana panjang, tubuh bagian atasnya tanpa pakaian, hanya memperlihatkan tubuh biasa tanpa otot yang menonjol, namun cukup proporsional dan tanpa bekas luka yang berarti.
"Lalu bagaimana ciri-cirinya?" tanyanya, matanya penuh rasa ingin tahu.
Yue Lianhua mengubah posisi kakinya, menyilangkan kaki jenjangnya dengan gerakan anggun. Gerakan itu membuat roknya tersingkap sedikit lebih tinggi, memperlihatkan pahanya yang putih mulus berkilau di bawah sinar matahari sore.
"Rambutnya putih, seperti salju," ucapnya, suaranya rendah dan misterius. "Matanya merah, seperti darah. Wajahnya cantik tapi berbahaya, salah satu senior yang melihatnya mengatakan bahwa kecantikannya adalah senjata paling mematikan. Ia memiliki sepasang sayap berwarna merah di punggungnya, seperti api yang membeku. Dan Dou Qi miliknya tidak biasa, benar-benar mewakili kekuatan seorang Kaisar. Api neraka yang bisa membakar jiwa."
Jiang Yuan meletakkan tangannya di dagu, merenungkan informasi itu.
"Tapi itu hanya kudengar, tidak pernah benar-benar melihat sendiri. Jadi aku tidak tahu apakah itu benar atau tidak," lanjut Yue Lianhua.
Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan nada yang lebih serius.
"Terlebih lagi, manusia masih memiliki harapan terbesar saat ini. Yaitu... Kaisar Agung."
Jiang Yuan mengerutkan kening. "Tapi Kaisar Agung sudah tidak pernah menampakkan diri sejak 20 tahun lalu. Jika demikian, bukankah manusia dalam bahaya besar saat Suku Iblis menyerang? Tanpa pemimpin yang kuat, bagaimana kita bisa melawan mereka?"
Yue Lianhua hanya tersenyum mendengar pertanyaan itu. Senyuman yang penuh misteri, seolah ia mengetahui sesuatu yang tidak bisa ia katakan.
Kemudian, dengan gerakan yang anggun, ia berdiri dari kursinya. Kakinya yang jenjang melangkah mendekati Jiang Yuan dengan langkah pelan, pinggulnya bergoyang lembut ke kiri dan kanan di bawah jubah putihnya.
Di hadapan Jiang Yuan, ia berhenti. Satu kakinya terangkat, lalu berpijak di tepi ranjang di samping paha Jiang Yuan.
Gerakan itu membuat roknya tersingkap lebih tinggi, memperlihatkan kulit pahanya yang putih mulus hingga ke bagian atas. Wajahnya mendekat, hingga jarak di antara mereka hanya beberapa sentimeter.
Jiang Yuan bisa mencium aroma bunga yang lembut dari tubuh Yue Lianhua, dan merasakan kehangatan napasnya di pipinya.
"Kau baru saja bangun," bisiknya, suaranya lembut namun penuh makna. "Jangan banyak berpikir. Istirahatlah dulu."
Jiang Yuan hanya mengangguk, tidak berani bergerak terlalu banyak. Yue Lianhua tersenyum puas, lalu perlahan mundur dan kembali ke kursinya, seolah tidak terjadi apa-apa.
Di dalam kamar yang sunyi, hanya suara angin sore yang berdesir di luar jendela.
Tanpa mereka sadari, dari balik pintu di luar, seseorang mengintip dengan saksama. Seorang wanita berpakaian hitam, dengan mata tajam dan gerakan yang sangat hati-hati. Di tangannya, ia memegang sebuah buku kecil dan pena.
Dengan gerakan cepat dan terlatih, ia mencatat sesuatu di buku itu.
"Ini harus dilaporkan pada Nona," gumamnya dengan suara nyaris tak terdengar, matanya masih menatap ke dalam celah pintu.
Kemudian, seperti bayangan yang menghilang, ia melesat pergi dari tempat itu tanpa meninggalkan jejak. Tubuhnya bergerak dengan kecepatan yang sulit diikuti, menghilang di antara lorong-lorong gelap Paviliun Bulan.
Di dalam kamar, Jiang Yuan dan Yue Lianhua tidak menyadari bahwa mereka telah diawasi.
...---...
...[ Ilustrasi: Yue Lianhua ]...