NovelToon NovelToon
Jalan Dao Pendekar Mata Duitan

Jalan Dao Pendekar Mata Duitan

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Genius / Fantasi / Epik Petualangan
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: momon Joy

Di Benua Tianyu, kekuatan adalah segalanya.

Para kultivator menghabiskan seluruh hidup mereka untuk bermeditasi, berburu harta surgawi, dan mengejar puncak Dao.

Keluarga-keluarga besar berlomba melahirkan jenius.
Sekte-sekte kuat mencari murid berbakat.

Namun di tengah dunia yang memuja kekuatan itu, lahirlah seorang anak yang cukup aneh.

Namanya Feng Bai hu
Anak bungsu dari empat bersaudara keluarga Fang, keluarga kalangan menengah ,
Ketiga kakaknya dikenal sebagai jenius yang rajin berkultivasi dan menjadi kebanggaan keluarga.

Sedangkan Feng Bai hu terkenal karena satu hal:

Malas.
Ia sering kabur dari sesi latihan.
Tidur saat kelas kultivasi.
Menghilang ketika guru mengajarkan teknik baru.
Bahkan pelayan keluarga lebih sering melihatnya di pasar daripada di ruang latihan.

Namun yang membuat semua orang kesal adalah kenyataan bahwa meskipun malas, kultivasinya selalu mampu menyamai bahkan melampaui para jenius seusianya.
ayo ,, ikuti keseuan ceritanya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon momon Joy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25 Para Penyintas

Fajar menyingsing perlahan.

Sinar matahari yang biasanya menghangatkan Kota Qinghe kini hanya menerangi lautan asap hitam yang masih membubung di kejauhan.

Tidak terdengar lagi suara pedagang membuka toko.

Tidak ada teriakan anak-anak yang berlarian di jalan.

Yang tersisa hanyalah api, reruntuhan, dan bau darah yang terbawa angin.

Puluhan li di selatan kota, ribuan penyintas berkumpul di sebuah dataran luas. Tenda-tenda darurat didirikan seadanya oleh para murid Sekte Awan Langit. Di setiap sudut terdengar rintihan korban luka.

Para alkemis sibuk membagikan pil penyembuh.

Murid-murid sekte mengangkut air dan makanan kepada para pengungsi.

Meski demikian, suasana tetap dipenuhi kesedihan.

Banyak keluarga yang duduk saling berpelukan.

Sebagian menangis.

Sebagian lagi hanya menatap kosong ke arah Kota Qinghe yang kini tinggal bayangan.

Di bawah sebuah pohon besar...

Bai Hu duduk sendirian.

Menatap kosong ke arah kota Qinghe,,

Seolah berharap Kakaknya Ling Yue akan datang dari arah sana,,.

"Adik..."

Suara Feng Tian Yu terdengar pelan.

Bai Hu mengangkat kepala.

Kakak sulungnya berdiri di depannya dengan wajah letih. Jubah yang dikenakannya penuh sobekan, sementara lengannya masih dibalut kain putih yang mulai memerah oleh darah.

Tian Yu duduk di samping Bai Hu.

Tidak ada yang berbicara selama beberapa saat.

Keduanya sama-sama memandang ke arah Kota Qinghe.

Akhirnya Bai Hu memecah keheningan.

"Kakak..."

"Ya?"

Menurut Kakak... apakah Ayah masih hidup?"

Pertanyaan itu membuat Tian Yu menarik napas panjang.

Ia memandang langit beberapa saat sebelum menjawab.

"Aku tidak tahu."Suara Tian Yu terdengar tenang, tetapi matanya memerah.

"Jika aku berkata Ayah pasti hidup, itu kemungkinan hanya harapanku ,Kalau aku berkata Ayah sudah gugur, aku juga tidak memiliki buktinya."

Ia menoleh kepada Bai Hu.

"Karena itu ,selama kita belum melihat jasad Ayah, aku akan tetap percaya bahwa Ayah masih hidup."

Mata Bai Hu mulai berkaca-kaca.

"Kalau begitu suatu hari nanti kita akan mencarinya?"

Tian Yu mengangguk tanpa ragu.

"Kita akan mencarinya."

Jawaban itu membuat hati Bai Hu sedikit lebih tenang.

Masih ada secercah harapan.

Namun saat memikirkan Kakak perempuannya,,Ling Yue, dadanya kembali terasa sesak.

"Kakak Ling Yue...tidak akan datang, ya?"

Kali ini Tian Yu tidak mampu menjawab.

Ia hanya menatap arah kota Qinghe cukup lama.

Bayangan adiknya kembali muncul dalam ingatannya.

Ling Yue yang selalu tersenyum.

Ling Yue yang selalu menjadi penengah saat Bai Hu dan Yun He bertengkar.

Ling Yue yang diam-diam menyimpan makanan untuk Bai Hu ketika adiknya dihukum karena membuat ulah.

Semua kenangan itu kini hanya tinggal kenangan.

Tian Yu mengepalkan tangannya.

"Kalau saja...Aku lebih kuat ,Aku pasti bisa membawa Ayah dan Ling Yue keluar."

Bai Hu menundukkan kepala.

"Aku juga berpikir seperti itu."

"Aku terlalu lemah."

"Aku hanya bisa melihat Kakak terluka."

"Aku hanya bisa melihat Ayah bertarung."

"Aku bahkan tidak mampu menyelamatkan diriku sendiri."

Suara Bai Hu semakin pelan.

"Aku membenci diriku."

Mendengar kalimat itu, Tian Yu langsung memegang bahu adiknya.

"Bai Hu."

Tatapannya lurus ke mata adiknya.

"Dengarkan Kakak baik-baik."

"Kau baru berusia tujuh tahun."

"Tidak ada seorang pun yang mengharapkanmu melawan Binatang Iblis Tingkat Tiga kau sama sekali tidak gagal"

Bai Hu menggeleng kuat.

"Tapi Kakak Ling Yue..."

"Itu pilihannya." potong Tian Yu dengan cepat

"Tidak."

Air mata Bai Hu kembali mengalir.

"Kalau aku lebih kuat ,Kakak tidak perlu memilih."

Tian Yu terdiam.

Ia mengusap kepala Bai Hu perlahan.

"Kalau begitu ,jadilah kuat."

"Bukan karena balas dendam ,ataupun kebencian."

"Tetapi agar suatu hari nanti..kau tidak lagi kehilangan orang yang kau cintai."

Bai Hu menggenggam erat.

Ia mengangguk pelan.

"Aku akan berkultivasi dengan sungguh-sungguh."

"Tidak peduli seberapa sulit jalannya."

"Aku akan menjadi lebih kuat."

"Dan aku akan menemukan Ayah."

Angin pagi kembali bertiup.

Membawa abu dari arah Kota Qinghe.

Di kejauhan, lonceng Sekte Awan Langit kembali berbunyi.

Seorang murid sekte berlari menuju perkemahan Keluarga Feng.

"Keluarga Feng!"

"Tetua kami mengundang kalian."

"Ada hal penting yang harus disampaikan kepada seluruh penyintas Kota Qinghe."

Tian Yu berdiri.

Ia mengulurkan tangan kepada Bai Hu.

"Ayo."

Bai Hu menatap tangan kakaknya sejenak.

Lalu menggenggamnya.

Keduanya berjalan menuju pusat perkemahan.

Di tengah perkemahan, sebuah lapangan terbuka telah dipenuhi ribuan penyintas.

Mereka berdiri berkelompok sesuai keluarga masing-masing.

Sebagian tubuh mereka masih dibalut perban.

Sebagian lainnya duduk lemas karena kelelahan.

Tatapan mereka kosong.

Tidak sedikit yang sesekali menoleh ke arah utara, tempat Kota Qinghe berdiri selama ratusan tahun.

Kini...

Yang terlihat hanyalah asap hitam.

Beberapa murid Sekte Awan Langit berjalan di antara para penyintas sambil membagikan air dan makanan.

Mereka tidak membedakan bangsawan maupun rakyat biasa.

Semua diperlakukan sama.

Di bagian depan lapangan berdiri lima orang tetua berjubah putih.

Aura mereka jauh lebih kuat dibanding kultivator mana pun yang pernah ditemui Bai Hu.

Meskipun mereka tidak melepaskan tekanan sedikit pun, semua orang dapat merasakan betapa besar perbedaan kekuatan di antara mereka.

Bai Hu memandang mereka dengan saksama.

Dalam hatinya muncul sebuah pertanyaan.

"Seberapa kuat mereka?"

Kalau kultivator sekuat Luo Zhentian dan Tetua Agung Feng Jianhong saja tidak mampu mempertahankan Kota Qinghe...

Lalu...

Seberapa kuat orang-orang yang berdiri di depan sana?

 

Seorang tetua tua melangkah maju.

Rambut dan janggutnya telah memutih seluruhnya.

Tatapannya menyapu ribuan penyintas.

Wajahnya dipenuhi rasa bersalah.

"Aku adalah Tetua Agung Xu Canghai dari Sekte Awan Langit."

Suaranya tenang.

Namun mampu terdengar hingga ke barisan paling belakang.

"Hari ini.. Aku akan menjelaskan beberapa Hal."

Xu Canghai melanjutkan.

"Sebelum berangkat menuju Kota Qinghe, kami telah menerima permintaan bantuan dari Tuan Kota Luo Zhentian."

"Kami segera mengirim pasukan,.

Beliau mengepalkan tangan.

"Tetapi Dalam perjalanan menuju sini, kami dihadang kawanan Binatang Iblis berkekuatan tinggi."

"Kami harus bertarung selama berjam-jam agar dapat menerobos."

Tatapan Xu Canghai perlahan menunduk.

"dan Saat kami tiba ,,Kota Qinghe telah jatuh."

Mereka semua mengerti,, sama sekali tidak menyalahkan Sakte ,,

Kalau sekte benar-benar sengaja membiarkan Kota Qinghe musnah, mereka tidak mungkin repot-repot datang menyelamatkan para penyintas.

Namun...Rasa kehilangan tetap tidak bisa dihapus.

 

Seorang pria paruh baya tiba-tiba maju dari kerumunan.

Matanya merah.

Di sampingnya berdiri seorang anak perempuan yang terus menangis.

"Tetua!"

Suara pria itu bergetar.

"Istriku masih berada di dalam kota."

"Bisakah Sekte menyelamatkannya?"

Xu Canghai memandang pria tersebut.

Ia menghela napas pelan.

"Maaf."

"Kami telah mengirim beberapa tetua untuk mencari penyintas."

"Namun...Wilayah Kota Qinghe kini telah dikuasai sepenuhnya oleh Binatang Iblis."

"Kalau memaksa masuk lebih jauh korban akan semakin banyak."

Pria itu langsung terduduk lemas.

Tangisan anak kecil di sampingnya semakin keras.

Suasana perkemahan menjadi semakin berat.

Beberapa keluarga mulai menangis lagi.

Ada yang kehilangan anak.

Ada yang kehilangan orang tua.

Ada pula yang bahkan belum mengetahui siapa saja anggota keluarganya yang masih hidup.

 

Tidak jauh dari sana...

Tetua Guo Rong duduk bersandar di sebuah batu besar.

Wajahnya tampak jauh lebih tua dibanding beberapa hari lalu.

Liang Chen menghampirinya sambil membawa semangkuk bubur hangat.

"Guru."

"Silakan makan sedikit."

Tetua Guo menggeleng pelan.

"Aula Alkimia..."

"...sudah tidak ada."

Liang Chen ikut menundukkan kepala.

Gudang tanaman spiritual.

Tungku alkimia.

Ruang penyimpanan pil.

Puluhan tahun kerja keras mereka...

Lenyap dalam satu hari.

Tetua Guo memandang Bai Hu yang berdiri bersama keluarganya.

Anak itu jauh lebih pendiam dibanding biasanya.

Ia tidak lagi menghitung keuntungan.

Tidak lagi bertanya tentang hadiah.

Tetua Guo menghela napas.

"Mungkin..setelah hari ini Bai Hu dapat benar-benar telah tumbuh."

 

Xu Canghai kembali berbicara.

"Mulai hari ini...Wilayah di sekitar Pegunungan Seribu Bintang dinyatakan sebagai wilayah terlarang."

"Tidak seorang pun diizinkan kembali tanpa izin sekte."

"Bagi para penyintas..Sekte Awan Langit akan menyediakan tempat tinggal sementara."

"Setelah keadaan stabil...Kalian bebas menentukan jalan hidup masing-masing."

Mendengar itu, kerumunan mulai berbisik.

"Apakah kita akan menjadi pengungsi?"

"Ke mana kita harus pergi?"

Pertanyaan demi pertanyaan mulai terdengar.

Xu Canghai mengangkat tangan.

"Kami memahami kegelisahan kalian."

"Namun keselamatan harus menjadi yang utama."

"Tidak ada lagi yang boleh kembali ke Kota Qinghe."

Kalimat terakhir itu membuat Bai Hu mengepalkan tangan.

Ia tahu...Rumahnya benar-benar telah hilang.

 

Pertemuan berakhir menjelang siang.

Kerumunan perlahan bubar.

Tian Yu mengajak keluarganya kembali ke tenda.

Mei Lin mulai membagikan makanan yang diberikan sekte.

Namun...

Tidak ada seorang pun yang benar-benar berselera makan.

Bai Hu hanya memandang mangkuk bubur di depannya.

Ia teringat sesuatu.

Dulu...Ling Yue selalu meniup bubur panasnya sebelum menyuruhnya makan.

Kalau Bai Hu menolak sayuran...

Ling Yue diam-diam memindahkannya ke mangkuknya sendiri agar ibu mereka tidak marah.

Kenangan-kenangan kecil itu kini muncul satu per satu.

Air mata kembali jatuh ke dalam mangkuk buburnya.

Tian Yu melihat adiknya.

Ia tidak berkata apa-apa.

Ia hanya menggeser sepotong daging kering miliknya ke mangkuk Bai Hu.

"Dulu... Kakak Ling Yue selalu melakukan itu."

Bai Hu mengangkat kepala.

Tian Yu tersenyum tipis.

"Kalau kau tidak makan..Nanti dia pasti memarahimu."

Bai Hu menatap potongan daging itu cukup lama.

Kemudian ia mengangguk pelan.

"Terima kasih, Kak."

Bai Hu memaksa dirinya mengambil beberapa suap makanan.

Bukan karena ia lapar.

Tetapi karena ia tahu...

Kalau ia menyerah sekarang...

Semua pengorbanan ayah dan kakaknya akan menjadi sia-sia.

Di kejauhan...

Xu Canghai memperhatikan Bai Hu dari balik kerumunan.

Tatapannya kemudian beralih kepada Tetua Guo Rong.

"Itukah anak yang kau ceritakan?"

Tetua Guo mengangguk perlahan.

"Ya."

"Namanya Feng Bai Hu ,Anak itu memiliki bakat luar biasa dalam alkimia ,Tetapi sekarang..."

Tatapan Tetua Guo dipenuhi rasa prihatin.

"...ia kehilangan terlalu banyak dalam satu hari."

Xu Canghai memandang Bai Hu beberapa saat sebelum berkata pelan.

"Mungkin..dari kehilangan itulah akan lahir seorang kultivator sejati."

Matahari mulai condong ke barat.

Suasana perkemahan sedikit lebih tenang dibanding pagi tadi.

Tangisan masih terdengar di beberapa sudut, tetapi sebagian besar penyintas mulai menerima kenyataan.

Para murid Sekte Awan Langit terus berkeliling membagikan makanan, obat-obatan, dan selimut.

Di sisi lain perkemahan, puluhan kultivator terluka masih dirawat.

Tetua Guo Rong bersama para alkemis yang selamat tidak berhenti bekerja sejak fajar.

Masih banyak nyawa yang bisa diselamatkan.

 

Di dalam tenda Keluarga Feng.

Mei Lin sedang mengganti perban di lengan Yun He.

Luka bekas serangan Beruang Kulit Baja masih membengkak.

Meski sudah meminum pil penyembuh, tulangnya membutuhkan waktu untuk pulih.

Yun He menahan napas ketika ibunya mengikat perban baru.

"Ibu, Aku tidak sakit."

Mei Lin menatap putra keduanya.

"Kau masih mencoba menenangkan Ibu?"

Yun He tersenyum tipis.

"Kalau aku mengeluh, Ibu pasti semakin khawatir."

Mei Lin menghela napas.

Ia mengusap kepala putranya perlahan.

"Kalian semua tumbuh terlalu cepat."

Tatapannya kemudian beralih kepada Tian Yu.

Putra sulungnya duduk di sudut tenda sambil mencoba memperbaiki pedang yang retak.

Sejak siang...

Ia hampir tidak berbicara.

Bilah pedang yang selama ini menemaninya kini dipenuhi retakan kecil.

Tian Yu mengusap retakan itu dengan ibu jarinya.

"Ayah yang menghadiahkan pedang ini..."

gumamnya pelan.

Tidak jauh dari sana...

Bai Hu terlihat diam termenung.

Sesekali ia memandang pintu tenda.

Seolah masih berharap seseorang akan membuka tirai tenda sambil tersenyum.

Lalu berkata,

"Bai Hu, Kakak pulang."

Namun...

Harapan itu tidak pernah datang.

 

Ketika Tirai tenda terbuka.

Justru Tetua Guo Rong yang masuk bersama Liang Chen bukan Kakanya Ling Yue,, namun Bai Hu tidak menunjukan rasa kecewanya,,

Ia dan seluruh anggota Keluarga Feng segera berdiri memberi hormat.

Tetua Guo mengangkat tangan.

"Duduk saja."

Tertua Guo memandang Mei Lin.

"Bagaimana keadaan luka Yun He?"

"Jauh lebih baik berkat pil yang Tetua berikan."

Jawab Mei Lin

Tetua Guo mengangguk pelan.

Kemudian pandangannya berhenti pada Bai Hu.

Anak itu tampak jauh lebih kurus dibanding beberapa hari lalu.

"Bai Hu."

"Ya, Tetua." jawab Bai Hu

"Mengapa kau tidak datang membantu di tenda pengobatan hari ini?" tanya Tetua Guo

Biasanya kalau mendengar ada pekerjaan di Aula Alkimia, Bai Hu akan datang paling awal.

Namun hari ini...

Ia tidak terlihat sama sekali.

Bai Hu menundukkan kepala.

"Aku...Aku belum siap."

Tetua Guo tidak marah.

Beliau justru duduk di depan Bai Hu.

"Apa yang kau Alami kemarin, Memang tidak mudah dilupakan ,tetapi kalau kau terus tenggelam dalam kesedihan..Orang-orang yang telah melindungimu akan benar-benar kehilangan arti pengorbanannya."

Bai Hu mengepalkan tangan.

"Aku tahu ,tapi setiap kali menutup mata..aku selalu melihat Kakak Ling Yue."

Ruangan kembali sunyi.

Tetua Guo memahami perasaan anak itu.

Bukan hanya Bai Hu.

Semua penyintas mengalami luka yang sama.

Hanya saja...

Masing-masing menyembunyikannya dengan cara yang berbeda.

 

Tetua Guo mengeluarkan sebuah kantong kain kecil.

Ia meletakkannya di depan Bai Hu.

"Apa ini?"

Bai Hu mengangkat kepala.

Tetua Guo tersenyum tipis.

"Di luar sana masih banyak korban yang membutuhkan obat."

"Liang Chen dan murid lainnya tidak cukup."

"Aku membutuhkan bantuanmu."

Bai Hu memandang kantong itu.

Di dalamnya terdapat beberapa botol pil sederhana.

Pil-pil itulah yang mungkin dapat menyelamatkan nyawa seseorang.

Tetua Guo kembali berkata,

"Kau tidak perlu bertarung."

"Kau hanya perlu membantu mereka yang masih hidup."

"Kalau kau belum mampu mengubah dunia..."

"...mulailah dengan menyelamatkan satu orang."

Kalimat itu membuat Bai Hu terdiam cukup lama.

Perlahan Ia mengulurkan tangan , mengambil kantong tersebut.

"Aku akan membantu."

Tetua Guo mengangguk puas.

"Itulah Bai Hu yang kukenal."

 

Menjelang senja.

Bai Hu mengikuti Liang Chen menuju tenda pengobatan.

Sepanjang perjalanan...

Ia melihat begitu banyak korban.

Seorang kultivator kehilangan sebelah kaki.

Seorang anak perempuan terus memanggil ayahnya yang tidak pernah kembali.

Seorang ibu memeluk bayinya yang tertidur karena kelelahan.

Pemandangan itu membuat langkah Bai Hu semakin berat.

Liang Chen tiba-tiba menghentikan langkahnya.

"Bai Hu."

"Ya?" Bai Hu menoleh

"Apa kau masih ingat saat pertama kali datang ke Aula Alkimia?"

Bai Hu mengangguk.

"Waktu itu aku hanya ingin mendapat hadiah batu roh."

Liang Chen tersenyum kecil.

"Aku masih ingat kau terus bertanya apakah membantu Aula Alkimia akan dibayar."

Bai Hu ikut tersenyum tipis.

"Itu memang penting."

Liang Chen tertawa pelan.

"Ya ,Lalu sekarang?"

Bai Hu memandang botol pil di tangannya.

Beberapa saat kemudian ia menjawab,

"Sekarang....aku ingin orang lain tidak merasakan kehilangan seperti yang kurasakan."

Liang Chen memandang Bai Hu cukup lama.

Kemudian ia mengangguk.

"Guru benar, kau memang sudah berubah."

Bai Hu tidak menjawab.

Ia hanya menggenggam kantong pil itu lebih erat.

Ia masih menyukai batu roh.

Ia masih ingin menjadi orang kaya.

Namun kini ia juga mengerti satu hal.

Batu roh dapat membeli pil.

Pil dapat menyelamatkan nyawa.

Tetapi tanpa kekuatan...

Seseorang bahkan tidak memiliki kesempatan untuk menggunakan pil itu.

Saat matahari tenggelam di balik pegunungan, Bai Hu berdiri di depan tenda pengobatan sambil memandang langit yang memerah.

Di dalam hatinya, sebuah tekad mulai terbentuk.

Suatu hari nanti...

Ia akan menjadi seorang kultivator yang kuat.

Seorang alkemis yang hebat.

Dan seorang pedagang yang mampu mengumpulkan kekayaan sebanyak mungkin.

Bukan hanya demi dirinya sendiri.

Tetapi agar ia tidak pernah lagi kehilangan orang yang dicintainya.

Bersambung.

1
REY ASMODEUS
atau jadi tetua agung? 🤣🤣🤣🤣
omes
kocak novel yang sangat mengocakan 🤣🤣🤣
makasih sudah buat novel fantasi timur komedi gw harap lanjut
Gege
coba MC belajar alkemis kan bisa tuh Thor.. jadi kuat jadi hebat bisa kayah rayah dan engga mati muda...🤣
Joy: bisa juga itu,, terimakasi untuk masukanya kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!