Di Desa Windu Sari yang tenang, hiduplah Bobon, bocah polos yang selalu lapar dan membantu Nenek Mira menjual tahu. Tanpa sadar, ia memiliki kekuatan aneh yang kadang muncul tiba-tiba.
Nenek Mira menyimpan rahasia besar tentang asal-usulnya. Ketika peristiwa tak terduga terjadi, sosok asing mulai mengintai desa. Siapa sebenarnya Bobon, dan apa yang tersembunyi dalam dirinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon GEELANG, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24: Bobon Marah Untuk Pertama Kalinya
Matahari terbit dengan sinar keemasan yang menyinari seluruh Kerajaan Kencana. Bobon berdiri di balkon kamarnya, merasakan kekuatan baru yang mengalir di setiap pembuluh darahnya. Tujuh segel telah terbuka sempurna. Tubuhnya masih sama, gemuk dan pendek, tapi ada aura yang berbeda memancar darinya. Aura yang tenang namun dahsyat.
Sarapan pagi berlangsung dengan suasana yang berbeda. Semua orang di istana merasakan perubahan pada Bobon. Nenek Mira menatap cucunya dengan bangga. Pangeran Bima tersenyum penuh harap. Putri Laras tidak bisa berhenti menatap Bobon dengan kagum.
"Kau terlihat berbeda, Bobon," kata Putri Laras. "Ada sesuatu yang berubah."
"Aku sudah membuka semua segelku, Putri. Kekuatanku telah pulih sepenuhnya."
"Lalu apa rencanamu sekarang?"
"Sebelum menghadapi Kaisar Kegelapan, ada satu hal yang harus aku lakukan. Aku harus meminta maaf pada seseorang."
Semua orang terdiam. Mereka tidak mengerti siapa yang dimaksud Bobon. Tapi Bobon tidak menjelaskan. Dia hanya berdiri dan berjalan keluar ruang makan.
Wulan mengikutinya. "Kau mau ke mana, Bobon?"
"Aku mau ke desa, Wulan. Desa tempat aku dibesarkan."
"Desa Windu Sari? Tapi desa itu sudah hancur."
"Aku tahu. Tapi ada seseorang di sana yang harus aku temui. Seseorang yang aku sakiti tanpa sengaja."
Wulan tidak bertanya lebih lanjut. Dia hanya mengikuti Bobon ke luar istana. Mereka berjalan melewati hutan dan bukit, melewati sungai dan lembah. Perjalanan yang sama yang pernah Bobon lalui saat pertama kali meninggalkan desanya.
Setelah beberapa jam, mereka tiba di Desa Windu Sari. Desa itu sudah hancur. Rumah-rumah tinggal puing-puing. Tanah pertanian gersang dan kering. Tidak ada tanda-tanda kehidupan.
Bobon berjalan di antara reruntuhan. Matanya mencari sesuatu. Lalu dia berhenti di depan sebuah rumah yang hampir rata dengan tanah. Rumah Nenek Mira.
"Di sini," kata Bobon pelan. "Di sinilah aku dibesarkan."
Wulan berdiri di sampingnya. "Apa yang kau cari?"
"Aku mencari seseorang. Seorang anak laki-laki bernama Tono. Dia adalah temanku. Aku berjanji akan kembali padanya. Tapi aku tidak pernah kembali."
Bobon berjalan ke reruntuhan rumah Tono. Di sana, dia melihat seorang anak laki-laki kurus sedang duduk di atas batu. Anak itu memandanginya dengan mata kosong.
"Tono?" panggil Bobon.
Anak itu menatapnya. Matanya berbinar. "Bobon? Kau... kau kembali?"
"Aku kembali, Ton. Aku menepati janjiku."
Tono berlari dan memeluk Bobon. Tangisnya pecah. "Aku kira kau tidak akan kembali. Aku kira kau melupakanku."
"Aku tidak pernah melupakanmu, Ton. Aku hanya... aku terlalu sibuk. Tapi aku selalu mengingatmu."
Tono menangis di pelukan Bobon. Tubuhnya yang kurus bergetar. "Aku kira semua orang meninggalkanku. Ibu dan ayahku mati. Saudara-saudaraku pergi. Aku sendirian."
Bobon memeluk Tono erat. "Kau tidak sendirian, Ton. Aku di sini. Dan aku tidak akan pergi lagi."
Wulan menangis melihat pertemuan itu. Dia merasakan kehangatan di hatinya. Bobon benar-benar berubah. Dari pendekar sombong menjadi seseorang yang peduli pada orang lain.
"Ton, aku akan membawamu ke Kerajaan Kencana," kata Bobon. "Kau akan tinggal di istana. Kau akan mendapatkan pendidikan dan kehidupan yang lebih baik."
"Benarkah, Bobon?"
"Benar. Aku berjanji."
Tono tersenyum. Untuk pertama kalinya dalam beberapa bulan, dia tersenyum.
Mereka berjalan kembali ke Kerajaan Kencana. Sepanjang perjalanan, Tono bercerita tentang kehidupannya setelah desa hancur. Tentang bagaimana dia bertahan hidup sendirian. Tentang bagaimana dia tidak pernah kehilangan harapan.
"Kenapa kau tidak pernah kehilangan harapan, Ton?" tanya Bobon.
"Karena aku tahu kau akan kembali, Bobon. Aku selalu percaya padamu."
Bobon merasakan dadanya hangat. Kata-kata Tono sangat berarti baginya.
Saat mereka tiba di istana, Nenek Mira menyambut Tono dengan pelukan hangat. "Anak ini... dia adalah temanmu, Bobon?"
"Iya, Nek. Tolong rawat dia."
"Nenek akan merawatnya seperti merawatmu dulu."
Tono tersenyum. Dia merasa diterima. Untuk pertama kalinya, dia merasa punya keluarga lagi.
Malam harinya, Bobon duduk di kamarnya bersama Wulan. Dia merenungkan semua yang terjadi hari ini. Pertemuan dengan Tono mengingatkannya pada sesuatu yang penting.
"Wulan, aku menyadari sesuatu," kata Bobon.
"Apa?"
"Aku tidak hanya bertarung untuk menyelamatkan dunia. Aku bertarung untuk orang-orang seperti Tono. Orang-orang yang kehilangan segalanya. Orang-orang yang butuh harapan."
Wulan tersenyum. "Itulah yang membuatmu berbeda, Bobon. Kau bertarung dengan hati."
"Aku juga bertarung untukmu, Wulan. Untuk semua orang yang aku cintai."
Mereka berpelukan. Di luar jendela, bintang-bintang berkelap-kelip. Besok adalah hari yang akan menentukan segalanya. Besok, Bobon akan menghadapi Kaisar Kegelapan.
Tapi untuk malam ini, Bobon menikmati kebahagiaan sederhana. Kebahagiaan bersama orang-orang yang dicintainya. Kebahagiaan yang dia perjuangkan.
Dan di dalam hatinya, ada tekad yang lebih kuat dari sebelumnya. Dia akan melindungi semua orang yang dicintainya. Dia akan mengalahkan Kaisar Kegelapan. Dan dia akan membawa kedamaian ke seluruh benua.
Apapun yang terjadi.
---