NovelToon NovelToon
Nyonya, Tuan Tidak Mau Bercerai!

Nyonya, Tuan Tidak Mau Bercerai!

Status: sedang berlangsung
Genre:Pengantin Pengganti Konglomerat / Diam-Diam Cinta / Perjodohan
Popularitas:8.6k
Nilai: 5
Nama Author: Zhao_Xena

Hezlin terjebak dalam pernikahan bisnis dengan Garra Xaverius Kingston, menggantikan Felicia—wanita yang meninggalkannya demi karier. Selama empat tahun, Hezlin perlahan jatuh cinta, meski tahu dirinya hanya pengganti.
Saat Felicia kembali, Hezlin memilih pergi. Ia meminta cerai, yakin Garra akan kembali pada cinta lamanya. Namun keputusan itu justru mengguncang Garra, yang baru menyadari bahwa kehilangan Hezlin lebih menyakitkan dari yang ia kira.
Di antara masa lalu dan perasaan yang tak terucap, keduanya dihadapkan pada satu pilihan: berpisah… atau memperjuangkan cinta yang terlambat disadari.

"Aku ingin kita bercerai," -Hezlin Rayla Iyzebelle.

"Apa yang selama ini tidak cukup membuatmu tetap berada di sisiku?" -Garra Xaverius Kingston.

"Nyonya, Tuan tidak mau berceri!" -Ervan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zhao_Xena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 22 ~ Menjemput Istriku

Hezlin terpaku di tempat, napasnya tertahan sejenak mendengar kalimat itu. Ia menatap tajam ke arah Ervan, seolah tak percaya apa yang baru saja didengarnya.

"Kamu gila?" desisnya pelan namun bergetar. "Surat perceraian itu sudah aku berikan. Tidak ada satu hal pun yang bisa menghalanginya."

Ervan tak bergeming sedikit pun, tatapannya tetap tenang namun penuh kepastian.

"Tuan sudah memastikan semuanya, Nyonya. Selama Tuan sendiri belum mengucapkan kata setuju, pernikahan ini tetap sah dan tidak bisa diputuskan."

Hezlin mengepalkan tangannya erat hingga kuku menancap ke telapak tangan. Ia sadar berdebat dengan Ervan sama saja berbicara dengan tembok pria itu hanya menjalankan tugas tanpa punya kehendak sendiri. Akhirnya ia mendengus kasar, lalu berbalik menuju mobil yang sudah terbuka pintunya.

"Keterlaluan!" umpannya geram. "Kalau begitu, bawa aku ke kantor Kingston sekarang!"

Ervan tampak ragu sejenak, lalu menahan langkahnya.

"Maaf Nyonya, saya tidak bisa. Tuan Garra sedang ada pertemuan sangat penting pagi ini, beliau melarang siapa pun mengganggunya," tolak Ervan sopan namun tegas.

Hezlin menatapnya tajam, tak mau menerima penolakan.

"Urusan ini jauh lebih penting daripada rapat apa pun yang sedang dia lakukan. Atau kau mau aku berjalan sendiri ke sana?!" ancam Hezlin.

Ervan menggeleng pelan, tak sedikit pun bergeming. "Saya tetap tidak bisa menuruti permintaan Nyonya. Tuan sudah berpesan dengan sangat jelas, saya tidak boleh melanggar perintah beliau."

Hezlin mengepalkan tangannya erat, menatap tajam ke arah pria itu. "Baik. Kalau begitu aku akan hubungi dia sendiri."

Ia langsung merogoh ponsel dari tasnya, lalu menekan nomor Garra tanpa ragu. Ervan hanya diam di tempat, tak berniat menghalangi lagi.

Belum lama berdering, sambungan pun terhubung.

["Ada apa?"] suara Garra terdengar singkat dan tegas dari seberang.

"Kita harus bicara sekarang," ucap Hezlin segera.

["Aku sedang ada rapat sangat penting,"] jawab Garra dingin. ["Kalau kau ingin bicara, tunggu sampai aku pulang ke rumah. Aku akan menemuimu setelah selesai."]

Tut- Sambungan pun terputus sepihak.

Hezlin menatap layar ponsel yang kini gelap, napasnya tertahan karena tak percaya Garra berani memutus sambungan begitu saja. Tangannya mengepal erat hingga buku jarinya memutih.

"Dasar pria keras kepala..." gerutunya pelan. Hezlin mencemaskan ponselnya kuat-kuat, wajahnya memerah menahan amarah yang membuncah. Rasanya ingin sekali ia menghancurkan benda itu, namun ia sadar itu takkan mengubah apa pun.

Hezlin sadar sepenuhnya tak punya pilihan lain. Berontak pun percuma. Ervan takkan pernah membiarkannya pergi sendiri. Akhirnya ia menghela napas berat, menahan segala kekesalan yang menumpuk di dada.

"Aku mau berangkat ke kantor Xabiru!" ucapnya tegas, tak lagi menawar.

"Baik, Nyonya."

Ervan segera berjalan membukakan pintu mobil untuknya.

Hezlin masuk ke dalam mobil dan duduk bersandar kaku di kursi belakang. Ia memalingkan wajah ke jendela, tak berniat bicara satu kata pun sepanjang perjalanan. Ervan pun menutup pintu dengan pelan, lalu segera duduk di kemudi dan melajukan kendaraan menuju gedung kantor Xabiru.

Sesampainya di depan lobi, Ervan kembali membukakan pintu untuknya.

"Saya akan menjemput anda kembali sore nanti, Nyonya," ucapnya sopan namun tegas.

Hezlin mendengus pelan, melangkah masuk tanpa menoleh ke belakang. Ia tahu, bayangan Garra takkan lepas darinya, ke mana pun ia pergi.

Sampai didalam, baru saja Hezlin menekan tombol lift, pintu terbuka dan ia hendak melangkah masuk, ketika sosok yang sudah dikenalnya berdiri di sana.

"Tuan Kael..." Ia tertegun sejenak, ternyata Boss-nya sudah ada di dalam.

"Masuklah, Hezlin," ucap Kael tenang, menyisakan ruang untuknya.

Pintu lift tertutup rapat, menyisakan hanya mereka berdua di ruangan sempit itu. Hezlin menatap lurus ke depan, namun rasa canggung dan bersalah membuatnya tak tenang. Saat ia menoleh pelan ke arah atasannya, matanya seketika membelalak—ia baru menyadari pipi kanan Kael memar jelas, dan ada bekas luka lecet di sudut bibirnya, sisa pukulan Garra di pesta malam itu.

"Kael... aku ingin minta maaf. Soal sikap Garra semalam..."

Kael menoleh sedikit, terdiam sesaat. Entah mengapa hatinya jadi begitu sesak mendengar Hezlin meminta maaf padanya untuk pria itu.

Namun meski demikian, Kael tetap tidak bisa menaruh rasa marah di hatinya. Ia paham betul, apa yang dilakukan Garra semata-mata karena ingin melindungi Hezlin. Sayangnya, yang ia lindungi saat ini justru wanita yang hubungannya dengannya hampir berakhir sepenuhnya.

"Tidak masalah, Hezlin. Lagipula ini bukan salahmu," ucapnya tenang. "Tapi... Garra tidak menyakitimu, bukan?"

Hezlin menggeleng pelan. "Tidak..."

Kael tersenyum lega mendengarnya. Setidaknya Hezlin baik-baik saja.

Hening sejenak. Lalu Kael kembali bersuara.

"Hezlin..." panggilnya pelan. "Apa hari ini kamu bisa pulang bersamaku?"

Hezlin terdiam sejenak, lalu perlahan menggeleng saat ucapan Ervan kembali terngiang di telinganya.

"Tidak bisa... aku ada janji lain."

Kael menatapnya dengan raut wajah sedikit kecewa, namun segera ia tepis. "Baiklah kalau begitu," jawab Kael lembut tanpa memaksakan.

Belum sempat Kael bertanya lebih lanjut, suara lonceng lift berbunyi pelan. Pintu geser terbuka lebar di lantai tujuan.

"Saya duluan, Tuan," pamit Hezlin pelan, lalu melangkah keluar lebih dulu menuju ruang kerjanya.

Kael hanya berdiri diam di dalam lift, menatap punggung wanita itu hingga pintu kembali tertutup. Senyum tipis di wajahnya perlahan memudar, berganti tatapan yang jauh dan penuh pertimbangan.

••

••

Sore itu, Felicia baru saja menyelesaikan beberapa sesi pemotretan untuk materi promosi terbaru. Saat ia berjalan menuju ruang ganti, bisik-bisik pelan terdengar dari arah sudut ruangan. Semua orang di kantor rupanya sudah mendengar kejadian di pesta kemarin, kabar itu kini menjadi berita paling panas yang dibicarakan di mana-mana.

"Bayangkan saja... jika istri Tuan Garra pergi bersama pemilik perusahaan saingan, bahkan kini bekerja langsung di bawah naungannya..." ucap salah satu staf dengan nada berbisik.

Ia lalu menoleh ke arah wanita yang berdiri di sampingnya. "Menurutmu bagaimana, Felicia? Bukankah kamu juga ada di pesta itu kemarin?"

Felicia menyeringai tipis, melirik sekilas ke arah mereka, sebelum menjawab dengan suara yang cukup tegas. "Itu baru permulaan saja. Siapa yang tahu apa sebenarnya hubungan mereka berdua..."

Salah satu rekan kerjanya langsung menutup mulutnya dengan tangan, wajahnya pucat ketakutan.

"Astaga Felicia! Kamu jangan sembarangan bicara begitu... jika Tuan Garra dengar, kita semua bisa mati!"

Felicia justru tertawa kecil tanpa rasa takut, lalu mencondongkan tubuhnya sedikit.

"Aku tidak berbicara sembarangan. Tapi... kalian harus tahu... sebenarnya Tuan Garra dan istrinya sebentar lagi akan bercerai."

Mata semua orang di situ serentak membelalak tak percaya. "Apa?!"

Felicia mengangkat bahu santai seolah hal itu bukan rahasia besar. "Hm... sudah selesai bukan? Kalau begitu aku mau pulang dulu."

Ia berjalan santai meninggalkan kerumunan. Dia sangat yakin, setelah ini semua orang akan menduga jika mereka bercerai karena Hezlin lah yang telah mengkhianati Garra. Dan dengan itu, reputasi Hezlin akan semakin hancur.

Felicia berjalan menuju ruang kerja pribadi Garra di lantai atas. Hatinya berdenyut cemas setiap kali teringat kejadian semalam, betapa Garra tanpa ragu membela dan melindungi Hezlin, seolah tak ada orang lain yang lebih penting di matanya.

Pikiran itu membuatnya muak sekaligus takut. Ia tidak rela, jika sampai hati Garra berbalik kembali pada wanita itu. Garra hanya miliknya seorang, tidak boleh ada yang merebutnya. Sedangkan Hezlin? Bagi Felicia, wanita itu hanyalah pengganti semata, yang sudah seharusnya disingkirkan dan menghilang dari kehidupan mereka berdua.

Ia mengepalkan tangannya erat di sisi tubuh, tekadnya makin mengeras. Apa pun yang terjadi, ia takkan membiarkan Hezlin memenangkan hati Garra kembali.

Baru saja ia mengangkat tangan hendak mengetuk, tangannya menggantung beku di udara, belum sempat menyentuh permukaan pintu, suara percakapan dari dalam terdengar jelas.

Garra menandatangani laporan terakhir di atas mejanya, menutup berkas itu perlahan, lalu menoleh ke sekretarisnya.

"Masih ada urusan lain?"

"Masih ada beberapa jadwal pertemuan dan rapat lanjutan, Tuan," jawab Clarissa.

"Kalau begitu, tunda semua urusan itu," potong Garra tegas tanpa ragu. "Alihkan ke hari lain atau serahkan pada wakil direksi."

Clarissa tertegun sejenak. "Tapi Tuan... Anda mau pergi ke mana?"

Garra berdiri, merapikan jasnya sekilas, lalu menjawab dengan suara yang penuh kepastian.

"Menjemput istriku."

Tangan Felicia yang menggantung di udara seketika mengepal erat hingga kuku menancap ke telapak tangan. Wajahnya memucat, lalu perlahan berubah merah padam menahan amarah yang meledak di dadanya.

❤️

1
Zhao_Xena
bagi yang sudah membaca, author minta maaf ada revisi sedikit didalamnya yakk... tidak banyak tapi cukup mempengaruhi ceritanya.. terimakasih 💋
Siti Amalia
ceritanya bagus banget thor, jgn digantung ceritanya ya ...plisss
Siti Amalia
Novel nya bagusss banget thor ..jgn digantung ceritanya. plisss
Zhao_Xena: terimakasih banyak, selalu author usahakan sampai selesai ya... 🥰
total 1 replies
Emi Sudiarni
krang suka dgn sikat nya hezlin, kok cpat ambil kesimpulan klw garra mau kmbalidgn felicia
Alya Bau
up lagi kak, ceritanya seru😍
Zhao_Xena: di tunggu ya kak../Smile/
total 1 replies
Siti M Akil
lanjut thor
Zhao_Xena: Siap kak 🫡
total 1 replies
You `ka
lanjut 💪
Zhao_Xena: siap!🫡
total 1 replies
You `ka
semoga saja hamil, biar Felicia nggak ada kesempatan ganggu lagi
You `ka
🤣🤣🤣 kode itu.. butuh yang anget-anget
You `ka
jih! dasar ulat bulu. ada aja akalnya si Felicia.
You `ka
mendingan mundur deh, Felicia.. hati Garra udah bukan buat kamu 🤣🤣
N. Siti 12mplb_ukk
lnjut thor💪
Zhao_Xena: siap🫡
total 1 replies
🥀
laki kayak garra ni perlu dibuang kelaut
Zhao_Xena: buang aja kak.... biar dimakan paus 🤣🤣🤣
total 1 replies
You `ka
Kalau memang Hezlin beneran hamil, lebih baik tidak bercerai, dan Garra harus memperbaiki diri, jangan terus bersama Felicia..😤😤
Zhao_Xena: Garra harus belajar menjadi lebih romantis dan tidak kaku mungkin ya kak?🤣🤣
total 1 replies
You `ka
Garra mulai posesif...😝😝😝
Brown choco
Lemah banget cewe nya
You `ka
sampai muak Garra... sampai gumooh...🤣🤣🤣. jangan² Hezlin hamil itu..
You `ka
wahh.. seru ini.../Joyful/
You `ka
mampus! kena mental kan dengan jawaban Hezlin?🤣🤣
You `ka
wahh.. kael, jangan terlalu berharap dulu pada Hezlin.. takutnya nanti patah hati..🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!