NovelToon NovelToon
GAJAH MADA Sang Penakluk Dunia

GAJAH MADA Sang Penakluk Dunia

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Perperangan / Balas Dendam
Popularitas:873
Nilai: 5
Nama Author: Argo Sujendro

GAJAH MADA – Perjalanan Sang Penakluk Dunia
Darah jelata, didikan sang penguasa, takdir sang penakluk samudra.
Selamat dari pembantaian faksi hitam Mahapati berkat mukjizat perisai emas gaib, bayi kasta rendah bernama Mada diasuh secara rahasia oleh Rama Sidacerma—nama samaran Patih Nambi, Mahapatih Pertama Majapahit yang memalsukan kematiannya.
Di bawah didikan brutal sang mantan perdana menteri, Mada tumbuh menjadi kesatria berotot baja. Ia terlahir dengan takdir tertinggi: sepasang mata sakral Niti Sastra yang mampu memprediksi masa depan, dan Khodam Senopati Zirah Emas —entitas raksasa pelindung serupa dewa perang.
Demi menuntaskan dendam dan membersihkan Majapahit dari pengkhianat, ia merantau ke Trowulan sebagai Gajah Mada. Merangkak dari prajurit kasta terbawah, ia bangkit memimpin Pasukan Bhayangkara hingga mengumandangkan Sumpah Palapa yang menyatukan Nusantara.
Namun, di puncak kejayaannya, sebuah konspirasi mistis luar logika telah menantinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Argo Sujendro, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 18. Gelar Supit Urang

Keberhasilan mutlak dalam simulasi taktis lambung pada siang hari sebelumnya ternyata tidak membuat langkah kaki Mada di barak pelatihan Barat menjadi lebih tenang. Sebaliknya, desas-desus mengenai ketajaman siasat kelompok nomor nol empat puluh tujuh mulai menyebar di antara barak-barak hunian lainnya. Fajar kali ini kembali pecah dengan suara talu bumbung bambu yang lebih mendesak, mengumpulkan dua ratus calon Tamtama di tengah pelataran yang masih diselimuti kabut tebal binasa.

Udara pagi terasa sangat menggigit kulit, namun para bintara instruktur tidak memberikan toleransi sedetik pun. Mereka berdiri berjejer dengan memegang cambuk kulit di pinggang, memantau kedisiplinan barisan banjar yang kini mulai terbentuk lebih rapi. Mada mengambil posisinya di barisan paling belakang, membiarkan tubuh jangkungnya sedikit membungkuk dengan pandangan mata yang tertuju pada tanah liat basah, tetap menggunakan topeng keluguan setebal mungkin.

Di atas panggung kehormatan, Senopati Kudamerta telah berdiri tegak dengan jubah merah besarnya yang berkibar ditiup angin pegunungan. Tatapan mata elang jenderal sepuh itu langsung mengunci ke arah banjar kelompok barak nomor empat, tempat Mada dan Ragajaya berdiri berdekatan. Di samping Kudamerta, beberapa perwira menengah telah menyiapkan sebuah peta simulasi besar yang digambar di atas selembar kain kain mori putih raksasa yang dibentangkan di atas tanah lapangan.

"Hari ini adalah ujian puncak bagi silsilah taktik kelompok kalian!" teriak bintara kepala, suaranya yang melengking parau memecah keheningan kabut fajar. "Kalian tidak lagi bertarung melawan lima orang instruktur yang berdiri diam menunggu serangan! Hari ini, dua puluh kelompok akan digabungkan menjadi dua kubu besar yang saling berhadapan dalam Simulasi Perang Besar Palagan Barat! Tugas kalian adalah merebut panji agung di tengah lapangan yang dijaga oleh pasukan gabungan instruktur senior yang bertindak sebagai musuh utama!"

Mendengar penjelasan tersebut, suasana di lapangan mendadak menjadi sangat riuh oleh bisikan cemas. Ragajaya melirik ke arah Mada dengan sudut mata yang penuh selidik, sementara Lembu Sora tampak mengusap keringat dingin di tengkuknya meskipun udara pagi sangat dingin.

Melalui pembagian komando resmi dari perwira menengah, kelompok barak nomor empat dimasukkan ke dalam kubu sayap kanan bawah, sebuah posisi yang sangat tidak menguntungkan karena mereka harus memulai pergerakan dari arah lembah bukit tiruan yang dipenuhi oleh semak belukar berduri dan jebakan parit dalam. Sementara itu, kelompok taruna bangsawan yang dipimpin oleh Raden Daniswara mendapatkan posisi di kubu tengah yang memiliki jalur tanah datar dan bersih, memudahkan mereka untuk melakukan tusukan serangan langsung ke arah pusat pertahanan musuh.

Gong!

Suara ketukan gong besar berdentang tiga kali berturut-turut, menandai dimulainya perang simulasi skala besar tersebut.

Begitu suara gong meredam, kekacauan langsung terjadi di jalur tengah. Raden Daniswara yang masih menyimpan dendam kesumat akibat kekalahannya kemarin segera memerintahkan seluruh pasukannya untuk menerjang lurus ke depan dengan sangat agresif. Pendaran hawa murni api merah jingga miliknya menyala terang, memimpin barisan pemuda bangsawan yang ingin segera mengakhiri pertempuran demi mendapatkan pujian dari Senopati Kudamerta.

Namun, para instruktur senior di pusat lapangan bukanlah prajurit mentah. Mereka telah mengantisipasi tusukan lurus tersebut dengan sangat matang. Begitu pasukan Daniswara mendekat, para instruktur segera membentuk formasi dinding perisai besi berlapis tiga, bergerak mundur perlahan untuk memancing seluruh pasukan taruna bangsawan masuk lebih dalam ke dalam jebakan pengepungan tengah.

Hanya dalam waktu tiga puluh hitungan napas, kubu tengah dan sayap kiri pasukan taruna baru mendadak terkepung rapat dari tiga arah. Jeritan panik dan suara benturan tombak kayu yang patah mulai memenuhi udara lapangan tengah, menandakan bahwa barisan pertahanan mereka telah hancur berantakan akibat kesombongan taktis Daniswara.

Di sayap kanan bawah, kelompok barak nomor empat yang dipimpin oleh Ragajaya juga mulai panik melihat kehancuran kubu tengah. Mereka terhenti di balik barisan semak berduri, terancam ikut tergulung oleh gerakan melingkar dari pasukan instruktur senior yang mulai bergerak maju untuk membersihkan sisa-sisa pasukan baru.

"Kita harus mundur!" teriak Lembu Sora dengan wajah yang pucat pasi melihat puluhan rekan angkatan mereka mulai digotong keluar lapangan karena memar parah. "Jika kita maju sekarang, kita hanya akan mengantre untuk dipukul jatuh oleh dinding perisai raksasa itu!"

"Tidak ada jalan mundur di dalam ujian Kudamerta!" balas Ragajaya sambil mencengkeram tombak kayunya dengan tangan bergetar, mencoba menyalakan kembali hawa murni airnya yang belum pulih sepenuhnya. "Jika kita menyerah sekarang, nama barak kita akan dicoret malam ini juga!"

Mada yang berada di posisi paling belakang perlahan melangkah maju, menyelinap di antara Jaka Wulung dan Wiranata dengan gerakan yang dibuat seolah-olah ia terdorong oleh kepanikan massa. Ia merendahkan tubuh jangkungnya, mendekatkan wajahnya ke arah Ragajaya dan Wiranata yang sedang berdebat kusir di balik semak berduri.

"Tuan Ragajaya, Tuan Wiranata, tolong dengarkan kata-kata saya," bisik Mada dengan suara yang sangat rendah namun memiliki ketukan intonasi yang begitu padat dan menenangkan batin. "Pasukan instruktur di depan kita memang terlihat sangat kokoh, namun karena mereka terlalu fokus melakukan gerakan menjepit kubu tengah Daniswara, formasi mereka saat ini sedang memanjang membentuk garis lurus yang tipis di bagian lambung dalam. Ini adalah momen yang paling sempurna untuk menerapkan strategi Gelar Supit Urang secara utuh dalam skala perang besar!"

Ragajaya dan Wiranata mendadak menoleh ke arah Mada dengan mata terbelalak, seolah lupa dengan jalannya pertempuran di depan mereka. Nama gelar Supit Urang yang diucapkan oleh pemuda jangkung ini terdengar sangat sakral di telinga mereka, sebuah warisan ajaran agung yang dahulu menjadi legenda militer Majapahit masa awal.

"Bagaimana caranya, Mada?" tanya Wiranata dengan cepat, mengabaikan status keluguan Mada karena ia menyadari ketepatan analisis situasi yang dibisikkan oleh anak desa ini.

Mada menggunakan pangkal tombak kayunya untuk menunjuk ke arah dua titik bukit tiruan di sisi kiri dan kanan formasi musuh. (Kudamerta sedang mengawasiku dari atas sana. Aku harus menyampaikan strategi ini melalui mulut Wiranata dan Ragajaya agar mereka yang terlihat memimpin pergerakan di lapangan.)

"Jaka Wulung dan kelompok barak desa bawah harus bergerak melebar ke arah bukit tiruan sebelah kiri, bertindak sebagai taring jepitan pertama," ucap Mada dengan cepat, memberikan komando rahasia yang sangat terstruktur. "Sementara Anda, Tuan Ragajaya, bersama sisa pasukan sayap kanan harus melesat mendaki bukit tiruan sebelah kanan sebagai taring jepitan kedua. Saya dan beberapa pemuda kurus lainnya akan tetap berada di jalur bawah, berpura-pura menjadi pasukan logistik yang lamban untuk memancing perhatian pusat komando instruktur agar mereka tetap melangkah maju ke depan. Begitu isyarat suara tombak diketuk tiga kali, kedua taring harus langsung menusuk masuk secara bersamaan dari arah ketinggian bukit untuk memotong jalur komunikasi belakang mereka!"

Ragajaya menatap Mada selama satu hitungan napas penuh, merasakan ada kekuatan kewibawaan yang sangat besar yang memancar dari sepasang mata polos pemuda jangkung ini. Tanpa membuang waktu lagi, Ragajaya segera berbalik dan meneriakkan perintah baru kepada seluruh sisa prajurit baru di sayap kanan bawah.

"Dengarkan semua! Pecah barisan menjadi dua kelompok besar sekarang juga!" teriak Ragajaya, suaranya kembali membakar semangat para pemuda yang hampir putus asa. "Jaka Wulung, bawa pasukan kiri mendaki bukit tiruan seberang! Wiranata, ikut aku ke jalur kanan! Kita akan menjepit mereka dari arah ketinggian!"

Siasat agung Supit Urang warisan kuno Patih Nambi yang telah dimodifikasi oleh Mada segera bergerak di lapangan dengan tingkat presisi yang luar biasa. Dua taring jepitan baru dari barak nomor empat melesat mendaki bukit tiruan di bawah naungan kabut pagi yang mulai menipis, memanfaatkan semak belukar sebagai pelindung alami dari pandangan musuh.

Sementara itu, Mada berjalan di jalur bawah bersama tiga pemuda desa yang bertubuh kurus. Mereka melangkah dengan gerakan yang dibuat sangat kacau, menyeret perisai bambu mereka di atas tanah liat dan berteriak-teriak ketakutan seolah-olah sedang kebingungan mencari arah pelarian. Melihat adanya kelompok kecil yang terlihat sangat lemah di jalur bawah, pusat komando instruktur senior yang menjaga panji agung langsung terpancing.

"Lihat itu! Ada sisa tikus tanah yang tersesat di bawah bukit!" teriak salah seorang perwira instruktur senior. "Maju dua langkah ke depan! Bersihkan mereka dari lapangan agar simulasi ini bisa segera kita selesaikan!"

Sesuai dengan prediksi matematis mata sakral Niti Sastra milik Mada, majunya lima instruktur pusat tersebut membuat jarak di antara garis pertahanan tengah dan lambung samping mereka mendadak terpisah sejauh dua depa, menciptakan sebuah celah kosong yang sangat fatal bagi keutuhan formasi.

Tepat pada momen yang paling krusial tersebut, Mada menghentakkan pangkal tombak kayunya ke atas seonggok batu hitam di dekat kakinya sebanyak tiga kali berturut-turut, menciptakan suara ketukan plak, plak, plak yang cukup nyaring bergaung di sepanjang lembah bukit.

Itu adalah isyarat kematian bagi formasi musuh.

Dari arah puncak bukit tiruan kiri dan kanan, Ragajaya dan Jaka Wulung langsung memimpin pasukan mereka untuk meluncur turun dengan kecepatan penuh sambil meledakkan teriakan perang yang membahana. Serangan mendadak dari arah ketinggian lambung tersebut langsung menghantam titik buta di belakang perisai para instruktur senior yang sama sekali tidak menduga akan menerima jepitan taktis serumit itu dari sekumpulan prajurit baru yang sedang terkepung.

Brak! Prak! Duk!

Kekacauan mutlak langsung berpindah kubu. Formasi rapat dinding perisai para instruktur senior hancur berantakan dalam hitungan lima belas kali tarikan napas. Tubuh-tubuh raksasa para prajurit lama itu bertumbangan di atas tanah liat setelah menerima hantaman tombak kayu dari arah samping dan belakang yang beruntun. Ragajaya berhasil merebut panji agung di tengah lapangan dengan satu lompatan lincah, mengibarkannya tinggi-tinggi di udara di bawah siraman sinar matahari pagi yang akhirnya berhasil menembus kabut fajar.

Kemenangan mutlak berhasil diraih oleh kubu barak nomor empat dengan status kelulusan sempurna, sebuah pencapaian yang belum pernah terjadi dalam sejarah simulasi palagan pembentukan Tamtama di kompleks Barat.

Namun, di tengah keriuhan sorak-sorai kemenangan rekan-rekannya, Mada tetap konsisten dengan sandiwara raganya. Ia segera menjatuhkan dirinya duduk telungkup di atas tanah liat, memegangi lutut kanannya sambil meringis kesakitan palsu dan mengatur napasnya agar terdengar sangat terengah-engah dengan hebat seolah-olah ia baru saja lolos dari maut karena faktor keberuntungan kelompok.

Jauh di atas panggung kehormatan sutra kuning, Senopati Kudamerta berdiri terpaku dengan mata elang yang melebar tajam menatap ke arah Mada. Jenderal sepuh itu meremas sandaran kursi jatinya dengan sangat keras hingga kayu kuno tersebut mengeluarkan suara derit yang patah. Kecurigaan yang selama dua hari ini mengusik batinnya kini telah berubah menjadi sebuah keyakinan yang sangat mengerikan.

"Gelar Supit Urang versi agung..." bisik Senopati Kudamerta dengan suara yang sangat pelan, hampir tenggelam oleh gemuruh tepuk tangan penonton di tepi lapangan. (Cara taring itu menusuk, penempatan umpan di jalur bawah, dan ketepatan waktu ketukan isyarat batu tadi... itu bukan sebuah kebetulan dari taktik anak desa yang meniru serigala hutan. Pemuda bernama Mada itu... dia pasti memiliki seorang guru besar yang menguasai seluruh rahasia militer terdalam milik mendiang Patih Nambi di balik punggung jangkungnya!)

Kudamerta memanggil bintara pengawal kepercayaannya dengan lambaian tangan yang sangat mendesak. "Bintara! Awasi setiap jengkal pergerakan prajurit nomor nol empat puluh tujuh itu mulai detik ini! Jangan biarkan mata-mata dari jaringan luar mana pun mendekatinya, dan siapkan dokumen perkamen rahasia untuk memindahkannya dari barak Tamtama ini secepat mungkin setelah ujian akhir pekan selesai!"

Mada yang masih duduk di atas tanah liat mengesat debu di wajah polosnya menggunakan punggung tangan, menyembunyikan seulas senyuman tipis yang sangat dingin di sudut bibirnya. (Benih konflik dengan Mahapati telah resmi ditanam di dalam benak Kudamerta, dan papan catur Majapahit ini kini mulai bergerak mengikuti ketukan langkah kakiku dari Hutan Tarik.)

1
nina hariah
semangat terus updatenya author
nina hariah
next author
nina hariah
cerita nya seru dan menarik
nina hariah
semangat terus updatenya author
Protocetus
jika berkenan mampir ya ke novelku Remontada
nina hariah
semangat terus updatenya author
nina hariah
next author
EunHwa
kak mampir donk kak ke kara saya🙏
nina hariah
next author
nina hariah: semangat terus updatenya
total 1 replies
nina hariah
semangat terus updatenya 👍
Argo Sujendro: sudah diupdate, tinggal menunggu disetujui, semoga menikmati ya kak
total 1 replies
nina hariah
next author
Argo Sujendro: oke gasss
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!