Selama sembilan tahun, Jena percaya bahwa cintanya dengan Jovian Ardhana akan berakhir di pelaminan.
Saat Jovian masih merintis mimpi, Jena selalu ada di sisinya. Menemani, mendukung, dan mencintainya tanpa pernah melihat harta ataupun status.
Hingga akhirnya Jovian menjelma menjadi CEO muda pewaris keluarga Ardhana yang sukses dan dikagumi banyak orang.
Namun semuanya berubah sejak hadirnya Michelle Ayu Suroso. Gadis cantik, kaya raya, dan berasal dari keluarga terpandang.
Perlahan, lelaki yang dulu begitu romantis itu mulai berubah.
Jena mencoba bertahan. Sampai suatu malam, Jovian mengundangnya menghadiri makan malam keluarga di rumah mewah Ardhana.
Jena datang dengan penuh harapan.
Namun di hadapan para kolega bisnis dan keluarga besar, ayah Jovian justru mengumumkan sesuatu yang menghancurkan dunia Jena dalam sekejap mata.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ama Apr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4. Mulai Kehilangan
Jena berdiri di depan cermin apartemennya sambil merapikan blouse krem yang ia kenakan. Wajahnya tampak sedikit pucat karena semalam tidur larut menunggu kabar dari Jovian. Meskipun kekasihnya itu sudah menyuruhnya tidur, tapi mata Jena tidak bisa tertutup. Ia tetap menunggu Jovian mengirim pesan, mengabarkan bahwa lelaki itu sudah pulang.
Pesan itu ada, tapi di luar dugaan Jena. Jovian mengiriminya pesan jam satu dini hari.
"Aku baru selesai meeting."
Hanya itu. Tidak ada basa-basi seperti biasanya.
Sesungguhnya Jena ingin bertanya, kenapa meetingnya sampai selarut itu? Padahal hanya membahas konsep campaign. Tapi ia takut dianggap terlalu posesif.
Ponselnya tiba-tiba berbunyi. Nama Jovian muncul di layar. Senyum kecil langsung muncul di wajah Jena meski hatinya masih terasa berat. "Halo, Mas."
"Aku di bawah."
Jena langsung berkedip. "Hah?"
"Cepetan turun." Sambungan terputus.
Jena buru-buru mengambil tas lalu berlari kecil menuju lift apartemen. Begitu sampai di lobby, matanya langsung menemukan mobil hitam milik Jovian terparkir di depan.
Pagi itu hujan turun tipis. Dan Jovian berdiri di samping mobil sambil memegang payung.
Dada Jena langsung menghangat. Lelaki itu masih datang menjemputnya. Masih melakukan hal-hal kecil yang dulu membuatnya jatuh cinta. Seketika semua pikiran buruk di benak Jena menghilang. Rasa percayanya tumbuh lagi.
Begitu Jena mendekat, Jovian langsung membuka pintu mobil untuknya.
"Mas ngapain pagi-pagi ke sini?"
"Jemput pacarku."
"Padahal tunggu saja di kantor. Nggak usah jemput aku."
"Aku kangen kamu, Jena."
Kalimat sederhana itu sukses membuat kecemasan di hati Jena benar-benar mencair.
Begitu masuk mobil, aroma parfum khas Jovian langsung memenuhi inderanya. Hangat, menenangkan dan menyejukan hati.
"Mas udah sarapan?"
"Udah, kamu?" Jovian bertanya balik sambil memutar setir mobilnya.
"Udah, Mas. Tadi aku makan nasi goreng."
Jovian mengangguk.
"Mas semalem nyampe rumah jam berapa?"
"Jam-" Belum sempat Jovian menjawab, ponselnya yang berada di holder di sisi kiri berbunyi. Nama Michelle muncul di layar. Dan sesuatu di dada Jena langsung turun lagi. Jovian melirik layar itu sekilas. Lalu segera mengangkatnya serta mengaktifkan loudspeaker. "Halo." Suara lelaki itu langsung berubah lebih ringan.
"Kamu lagi di mana?" Suara Michelle terdengar lembut.
"Aku lagi di jalan."
Jena menatap keluar jendela. Berusaha terlihat biasa saja. Namun telinganya tetap mendengar.
"Meeting jam sebelas jadi kan, Jo?"
"Jadi dong."
"Oke. Udah baca email dari aku?"
"Baru aja aku baca." Jovian menjawabnya sambil tersenyum kecil.
Jena menggenggam tasnya pelan. "Michelle lagi. Michelle lagi," ucapnya tanpa suara. Beberapa hari terakhir, perempuan itu seperti selalu ada di sekitar hidup Jovian.
"Oke, sampai jumpa nanti." Panggilan berakhir. Mobil kembali hening.
Jovian melirik Jena. "Kamu kenapa?"
"Nggak kenapa-kenapa."
"Tapi itu kamu cemberut."
Jena memaksakan senyum kecil. "Enggak kok."
Jovian menghela napas pelan lalu menggenggam tangan perempuan itu sebentar. "Jangan mikir aneh-aneh." Kalimat itu terdengar menenangkan.
Namun anehnya, Jena justru semakin merasa takut. "Kenapa aku merasa ada yang disembunyikan oleh Jovian?" bisiknya dalam hati.
Sesampainya di kantor, suasana langsung sibuk. Jena kembali tenggelam dalam pekerjaan. Ia mencoba fokus menyusun laporan dan jadwal meeting agar pikirannya tidak terus dipenuhi Michelle. Namun ternyata itu sulit. Sangat sulit. Karena bahkan sebelum jam sepuluh pagi, perempuan itu sudah datang lagi ke kantor.
"Hai, Jena." Michelle berjalan mendekat dengan senyum elegan seperti biasa. Hari ini penampilannya lebih santai namun tetap mahal. Dress hitam selutut dipadukan heels nude membuat aura anggunnya semakin kuat.
"Selamat pagi, Bu Michelle," jawab Jena sopan.
"Jovian di dalam?"
Jena kembali menangkap hal itu. Nama itu. Cara Michelle menyebutnya tanpa jarak. "Ada."
Michelle tersenyum. "Thanks." Dan seperti sudah sangat terbiasa, perempuan itu langsung masuk ke ruang CEO tanpa menunggu dipersilakan lebih lama.
Jena menunduk kembali pada laptopnya. Namun jari-jarinya terasa lebih berat dari sebelumnya. "Fokus, Jen. Fokus."
Sekitar satu jam kemudian, pintu ruang CEO terbuka. Michelle keluar sambil tertawa kecil. "Aku serius, Jovian. Kamu terlalu perfeksionis."
Jovian ikut tersenyum tipis sambil berdiri dekat pintu. "Kalau nggak perfeksionis, perusahaanku nggak akan bisa sampai sebesar ini."
"Pede banget."
"Tapi itu kenyataan, Miss Michelle."
Michelle menggeleng geli. Tatapan mereka terlihat begitu nyaman dan begitu natural.
Dan Jena merasa dirinya seperti orang ketiga yang hadir di antara mereka. Mata gadis itu memanas, dadanya terasa sesak. Namun Jovian seolah tak memedulikan keberadaannya.
"Eh iya," ujar Michelle tiba-tiba. "Malam ini jadi kan?"
Jovian mengangguk. "Jadi, nanti aku nyusul."
"Okay." Michelle lalu melirik Jena sekilas sebelum tersenyum tipis dan pergi.
Pintu lift tertutup.
Keheningan yang aneh langsung menyergap. Jena berusaha fokus pada laptopnya, tapi pikirannya sudah terlampau kacau.
Percakapan antara Jovian dan Michelle terus berkelebatan di kepalanya.
Tak lama kemudian langkah kaki lelaki itu mendekat. "Jena."
"Ya?" Jena buru-buru mengangkat wajah.
"Aku ada dinner meeting malam ini sama Michelle."
Dada Jena makin terasa sesak. "Oh, begitu ya."
Jovian mengangguk. "Jadi aku nggak bisa ke apart ya, malam ini."
Jena mencoba tersenyum. "Nggak papa, Mas."
Tatapan Jovian sedikit menyipit. "Kamu marah?"
"Nggak." Jena menggeleng cepat.
"Bohong."
Jena kembali menatap layar laptop beberapa detik sebelum akhirnya bicara pelan. "Aku cuma ..."
Jovian menarik kursi dan duduk di samping meja Jena. Tatapan lelaki itu melembut. "Kamu kenapa?"
Jena menggigit bibir pelan. "Haruskah aku bicara? Atau justru akan terdengar kekanak-kanakan?" Lagi-lagi ia membatin, sampai akhirnya memberanikan diri berkata pelan. "Kita akhir-akhir ini jarang menghabiskan waktu bersama, Mas."
"Kita tiap hari ketemu."
"Di kantor." Jena menatap wajah Jovian.
"Ya."
Jena terdiam. Nada suara Jovian terdengar dingin. Bukan nada suara yang biasanya diberikan Jovian.
"Aku kangen makan malam sama kamu, Mas," gumam Jena jujur.
Ekspresi Jovian sedikit berubah. Seolah baru sadar ada yang salah. Lelaki itu mengusap lembut pipi Jena. "Maaf." Suaranya melunak lagi. "Akhir-akhir ini kamu tahu sendiri, kerjaan aku lagi padat banget."
Jena menatap mata lelaki itu dalam diam. "Maaf, Mas. Kalau aku banyak menuntut. Yang soal makan malam tadi nggak usah Mas pikirin."
Kening Jovian langsung berkerut. "Kamu ngomong apa sih?"
"Aku minta maaf." Jena akhirnya menunduk. "Aku cuma ... takut kamu dan Michelle terlalu dekat." Akhirnya ucapan itu terlontar juga.
"Jangan mikir yang aneh-aneh." Jovian mendekat lalu mengecup singkat kening Jena. "Kamu itu rumah aku. Calon istriku. Hubunganku dan Michelle tidak lebih dari rekan kerja. Kamu harus percaya sama aku, Jena."
Kalimat itu langsung membuat mata Jena menghangat. "Iya, Mas. Maaf kalau aku terlalu overthinking. Aku hanya tak-"
"Sttt!" Jovian menaruh telunjuknya di permukaan bibir Jena. "Stop bicara yang enggak-enggak. Di hatiku, cuma ada kamu." Lalu ia memeluk Jena dan mengecup ubun-ubun kekasihnya itu.
***
Jam menunjukkan pukul sembilan malam. Jena duduk sendirian di sofa apartemennya sambil memegang ponsel. Tak ada kabar dari Jovian. Padahal biasanya, sesibuk apa pun lelaki itu, pasti akan mengirim pesan. "Begini nih nasib hidup orang sebatang kara dan nggak punya teman dekat. Giliran Jovian lagi sibuk banget, nggak ada satu pun orang yang bisa kuajak curhat. Hmm ..." Jena mengembuskan napas panjang. "Jadi kangen rumah. Udah lama banget aku nggak pulang ke sana. Udah lama juga nggak ziarah ke makam Bunda dan Ayah." Untuk sejenak, ia tertegun. Mengingat kenangan saat orang tuanya masih ada.
Tiba-tiba layar ponselnya menyala. Sebuah notifikasi muncul. Bukan pesan dari Jovian. Melainkan notifikasi pemberitahuan dari instagram. Jena iseng mengklik pemberitahuan itu, dan ternyata unggahan story Instagram Michelle.
Jantung Jena langsung berdetak tidak nyaman. Tangannya perlahan membuka story itu. Seketika dadanya terasa kosong. Video singkat itu memperlihatkan meja makan restoran mewah dengan cahaya remang-remang. Ada wine, makanan mahal dan di seberang meja, terlihat tangan laki-laki yang sangat familiar bagi Jena. "Itu kan Jam tangan Jovian?" bisiknya.
Lalu suara Michelle terdengar pelan dalam video. "Dinner after exhausting meeting." Disusul tawa kecil perempuan itu dan wajah Jovian yang juga tengah tertawa.
Jena membeku. Matanya terus menatap layar. Dadanya mulai terasa sakit. Karena selama sembilan tahun bersama, Jovian tidak pernah suka mengunggah kebersamaan mereka. Katanya privasi lebih penting. Namun sekarang, ia membiarkan perempuan lain menunjukkan keberadaannya dengan begitu jelas.
Air mata pertama jatuh tanpa suara. Sebuah pertanyaan menakutkan muncul di hati Jena. "Aku mulai kehilanganmu, ya, Mas?"
ayo Jenaaa segera menjauh agar harga dirimu tdak di injak dgn Kompensasi dari keluarga ardhana
menjauh lah jena ...jangan lg menerima apapun dr kelg itu..walaupun di beri konspensasi atas 9bth bersama jo..
menjauhlah dan hiduplah dg mandiri..
raihlah suksesmu tanpa mereka
semangat jena💪💪💪