NovelToon NovelToon
DIBUANG SAAT MISKIN, KINI AKU JADI OBSESI PARA KONGLOMERAT

DIBUANG SAAT MISKIN, KINI AKU JADI OBSESI PARA KONGLOMERAT

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas dendam dan Kelahiran Kembali / Bullying dan Balas Dendam / Dark Romance / Wanita perkasa
Popularitas:471
Nilai: 5
Nama Author: Towang Risawang

Lima tahun lalu, Indri Izanami dibuang saat hidupnya berada di titik terendah. Dikhianati, dihina, dan ditinggalkan oleh orang-orang yang pernah ia cintai, ia menghilang tanpa jejak dari Jakarta.

Kini, ia kembali.

Bukan sebagai wanita lemah yang dulu diinjak-injak,tapi sebagai sosok misterius yang memesona, berkuasa, dan berbahaya. Kehadirannya mengguncang para konglomerat yang pernah menghancurkannya.

Ardika, mantan kekasih yang dulu membuangnya, kini terobsesi untuk memilikinya kembali.

Surya Rabinson, cinta pertama yang menjadi sumber luka terdalamnya, mendadak terjebak dalam hasrat dan penyesalan yang membara.

Dan ketika Hisoka Adicambra, sang kaisar bisnis yang paling ditakuti di Jakarta, menunjukkan ketertarikan padanya, permainan balas dendam berubah menjadi perang kekuasaan yang mematikan.

Namun di balik senyum dinginnya, Indri menyimpan satu tujuan:

Membuat mereka semua berlutut di hadapannya.

Karena kali ini, yang menjadi mangsa bukan lagi dirinya.

Melainkan mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Towang Risawang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rahasia Keluarga Izanami

"Indri! Keluar! Kau tidak bisa lari dari kami!" Sebuah suara serak menggelegar dari luar, disusul tawa dingin yang membuat bulu kuduk Indri meremang. Ren. Dia mengirim anak buahnya.

Indri bergerak cepat, tanpa suara, menuju ruang aman yang telah ia siapkan di balik lemari pakaian besar. Setiap langkahnya terasa sangat berat, seolah udara di sekitarnya mengental. Pikiran tentang orang tuanya yang dihancurkan oleh sindikat itu berkelebat, memicu adrenalin yang kini membanjiri dirinya. Tidak lagi. Aku tidak akan lagi menjadi korban. Ia berhasil masuk dan mengunci pintu ruang aman, gemetar, namun dengan tekad membara.

Dari balik pintu yang kokoh, ia mendengar suara langkah kaki berat di apartemennya. Suara barang-barang diacak-acak, pecahan kaca yang diinjak, dan makian keras yang menandakan mereka tidak menemukan apa yang mereka cari. Mereka menggeledah setiap sudut, setiap laci, setiap lemari. Indri bersembunyi di balik tumpukan selimut, pisau kecil yang selalu ia bawa kini berada di genggaman eratnya. Dingin dan kokoh, senjata sederhana ini adalah satu-satunya pertahanan fisiknya.

"Dia pasti ada di sini! Cari sampai dapat!" Perintah itu terdengar jelas.

Indri memejamkan mata, memaksakan dirinya untuk tenang. Ia mencoba mengingat setiap detail tata letak apartemennya, setiap potensi celah, setiap jalan keluar. Ia harus melumpuhkan mereka, lalu melarikan diri. Bukan bersembunyi, tapi menyerang balik.

Suara dobrakan keras lainnya. Pintu ruang aman berderit, kemudian retak. Cahaya senter menembus celah, menyapu wajah Indri yang tegang. Sesosok pria bertubuh besar, dengan topeng ski menutupi wajahnya, berhasil mendobrak masuk. Di belakangnya, ada dua pria lain yang siap menerjang.

"Gotcha, bitch!" pria bertopeng itu menyeringai.

Indri tidak menunggu. Dengan kecepatan yang mengejutkan, ia menerjang maju. Pisau di tangannya bergerak dalam satu gerakan fluid, menusuk paha pria bertopeng itu. Sebuah jeritan keras memenuhi ruangan sempit itu. Pria itu ambruk, darah mulai merembes dari celana panjangnya.

Dua pria lainnya terkejut, namun mereka segera menerjang Indri. Indri berguling, menghindari tinju salah satu pria yang meleset tipis di samping kepalanya. Ia merasakan sensasi terbakar di bahunya—salah satu pria itu berhasil menggoresnya dengan sesuatu yang tajam, mungkin pecahan kaca.

Sial.

Indri tak memedulikan rasa sakit itu. Lari. Ia menendang lutut pria terdekat, lalu dengan sigap melesat keluar dari ruang aman, menuruni tangga darurat yang gelap. Suara langkah kaki mengejarnya, disertai sumpah serapah.

Ia berlari menuruni puluhan anak tangga, napasnya terengah-engah, luka di bahunya terasa perih, namun adrenalin membuatnya terus bergerak. Pintu darurat di lantai dasar terbuka lebar di hadapannya. Ia menerobos keluar, merasakan udara malam Jakarta yang dingin menerpa wajahnya.

Taksi yang ia parkirkan tidak jauh dari gedung itu masih di sana. Sebuah keberuntungan yang nyaris mustahil. Dengan cepat, Indri membuka pintu, masuk ke kursi kemudi, dan menyalakan mesin. Ban mobil berdecit, melesat meninggalkan apartemen yang kini penuh kekacauan.

Dari kaca spion, Indri melihat dua pria bersenjata keluar dari gedung, mencoba mengejarnya. Namun, ia sudah jauh. Ia lolos. Untuk saat ini.

Ia melaju dengan kecepatan tinggi, menembus jalanan Jakarta yang sepi di larut malam. Lampu jalan yang remang-remang menyoroti bayangan-bayangan yang menari di pinggir jalan, membuat Indri merasa diawasi. Setiap mobil yang melaju di belakangnya terasa seperti ancaman. Mereka akan melacakku. Ren tidak akan menyerah.

Pikirannya berpacu. Ia tidak bisa kembali ke apartemennya yang sekarang sudah bukan tempat aman. Ia tidak bisa kembali ke Kalinda, yang entah memiliki agenda apa, dan mungkin juga sudah diawasi. Ia butuh tempat yang benar-benar tersembunyi, tempat yang tidak akan pernah terpikirkan oleh siapa pun.

Rumah masa kecilnya.

Tempat yang penuh kenangan pahit, namun juga satu-satunya tempat yang terasa seperti rumah. Sebuah tempat yang ia yakini tidak akan pernah disentuh oleh bayang-bayang masa lalunya. Atau setidaknya, itulah yang ia harap.

Perjalanan terasa sangat panjang. Kabut tipis mulai turun saat ia memasuki area perumahan lama di pinggiran kota. Rumah-rumah di sana terlihat usang, dengan taman yang tak terawat. Lampu jalan banyak yang mati, menambah kesan suram. Mobil Indri melambat saat ia mendekati rumahnya.

Rumah itu tampak kosong dan terbengkalai, persis seperti yang ia ingat. Catnya mengelupas, jendelanya kusam, dan rumput liat tumbuh di mana-mana. Sebuah rumah yang menanggung terlalu banyak kesedihan. Indri memarkir mobilnya jauh di gang belakang, berusaha tidak menarik perhatian. Ia turun, merasakan nyeri di bahunya yang terluka.

Ia membuka pintu belakang yang usang dengan kunci lama, menginjakkan kaki ke dalam kegelapan. Aroma debu dan kenangan langsung menyergapnya. Ayah. Ibu. Air mata Indri menggenang, namun ia menahannya. Ini bukan saatnya untuk emosi. Ini saatnya untuk bertahan.

Ia menyalakan senter dari ponselnya, mengarahkan cahayanya ke setiap sudut ruangan. Debu tebal menyelimuti perabot yang ditinggalkan, menciptakan suasana melankolis. Indri berjalan menuju kamar tidurnya yang dulu, tempat di mana ia menghabiskan sebagian besar masa kecilnya.

Lantai kayu berderit di bawah langkahnya. Ia ingat, ada sebuah tempat rahasia di bawah papan lantai, tempat ayahnya menyembunyikan kotak kecil berisi barang-barang berharga mereka. Ia berlutut, mencari papan lantai yang sedikit longgar. Setelah beberapa kali mencoba, ia menemukannya.

Dengan susah payah, Indri mengangkat papan itu. Di bawahnya, tersembunyi sebuah kotak kayu kecil yang sudah usang, terbuat dari kayu jati. Ia mengeluarkannya, jantungnya berdebar. Isinya adalah beberapa surat lama, foto-foto keluarga, dan sebuah buku harian ibunya yang sudah menguning. Namun, di antara semua itu, terselip sesuatu yang lain.

Sebuah kunci.

Bukan kunci brankas Hisoka yang ia buang. Ini adalah kunci yang berbeda. Berwarna perak, dengan ukiran spiral yang rumit di bagian pegangannya. Kunci itu terasa berat di tangannya, memancarkan aura yang aneh.

Indri meneliti kunci itu di bawah cahaya senter ponselnya. Ukiran spiral itu tampak familiar. Ayahku. Ia ingat pernah melihat ukiran serupa di jam tangan saku peninggalan ayahnya. Apa ini? Kunci apa ini? Brankas apa yang masih disembunyikan ayahnya?

Sebuah sensasi dingin merayap di dadanya. Kunci ini terasa lebih berbahaya daripada apa pun yang pernah ia temukan sebelumnya. Mungkin ini bukan hanya tentang dendam, Indri. Mungkin ini tentang kebenaran yang jauh lebih besar.

Indri menggenggam erat kunci itu, merasakan dinginnya logam menusuk telapak tangannya. Ukiran spiral rumit di gagangnya tampak familier, mengingatkannya pada jam saku peninggalan sang ayah. Kunci apa ini? Brankas apa yang masih ayah sembunyikan? Pertanyaan itu berputar di benaknya, mengabaikan nyeri di bahu yang terasa berdenyut. Gelapnya rumah masa kecil ini tidak lagi menakutkan, melainkan terasa seperti menyimpan janji, sebuah rahasia yang menunggu untuk diungkap.

Ia mengarahkan senter ponselnya pada kunci itu, lalu pada kotak kayu di pangkuannya. Di dalamnya, selain surat-surat lama dan foto-foto usang, ada sebuah buku harian ibunya yang sudah menguning dan sebuah kotak kecil tersembunyi dengan ukiran yang sama persis dengan kunci di tangannya. Pasti ini untuk kotak ini. Dengan hati-hati, Indri memasukkan kunci itu. Bunyi klik lembut terdengar, dan kotak itu terbuka.

1
Towang Risawang
Selamat datang para pembaca yang budiman.

Silakan berkomentar untuk memberikan masukan demi meningkatnya mutu karya saya di masa yang akan datang.

Terima kasih.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!