NovelToon NovelToon
Pengantin 1,2 Triliun.

Pengantin 1,2 Triliun.

Status: sedang berlangsung
Genre:Roman-Angst Mafia / Romansa / Nikahmuda
Popularitas:702
Nilai: 5
Nama Author: Rinnaya

Apa yang terjadi saat seorang putri kaya yang jahat akhirnya jatuh miskin? Adakah yang akan menolongnya dari jeratan? Dialah Prisha.
Di titik paling kelam saat ia hampir menyerah pada hidup, sebuah uluran tangan asing datang menawarkan pelampung darurat. Sebuah kesepakatan rahasia bernilai triliunan rupiah disodorkan ke hadapannya.
​Demi bertahan hidup dan merebut kembali apa yang menjadi haknya, Prisha terpaksa melangkah masuk ke dalam sangkar emas milik keluarga Tanubrata. Ia harus berhadapan dengan Saka Tanubrata, pria yang memegang kunci keselamatan sekaligus kehancurannya.
​Ini adalah kisah tentang harga diri yang dipertaruhkan, rahasia di balik kemewahan, dan sebuah takdir bersyarat. Mampukah Prisha bertahan di dunia barunya, atau justru ia akan hancur dalam permainan yang ia mulai sendiri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rinnaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

7. Putri jahat kenak karma.

Sinar matahari pagi yang cukup terik menembus masuk ke dalam kamar ketika Bora menarik tali gorden dengan satu gerakan mantap. Prisha melenguh pelan, meraba-raba area bokongnya yang langsung berdenyut nyeri begitu ia mencoba mengubah posisi tidur.

"Selamat pagi, Nona. Ayo bersiap untuk sarapan," sapa Bora dengan wajah lempeng dan suara datarnya yang khas.

Prisha memejamkan mata sejenak, menahan rasa linu di tubuhnya sebelum bertanya, "Kak Saka sudah sarapan?"

"Tuan Muda melarikan diri, Nona. Beliau memilih membawa kotak sarapannya ke kantor pagi-pagi sekali," sahut Bora sembari merapikan pakaian yang akan dikenakan Prisha hari ini.

Prisha berdecih kesal, menyandarkan punggungnya di kepala ranjang. "Melarikan diri? Memangnya aku ini hantu penunggu rumah?"

Bora menoleh, menatap Prisha dengan binar kekaguman yang samar. "Nona adalah orang pertama yang berhasil membuat Tuan Muda ketakutan hingga mengungsi seperti itu. Hebat sekali. Gadis-gadis sebelumnya bahkan tidak pernah dianggap ada, apalagi sampai membuat beliau tidak tenang di rumah sendiri."

Prok ... Prok ... Prok.

Prisha mendengus. Ia sama sekali tidak merasa itu sebagai sebuah pujian atau prestasi yang terpuji. Menyadari waktu terus berjalan, ia mengabaikan celotehan Bora dan melangkah dengan sedikit tertatih menuju kamar mandi.

Baru satu menit Prisha berendam di dalam bathtub yang dipenuhi busa, pintu kamar mandi terbuka pelan. Bora masuk tanpa permisi, membawa kain lembut lalu berlutut di sisi bak mandi untuk membantu membasuh punggung Prisha. "Apa hari ini Nona akan menemui Tuan Muda lagi di kantor untuk mengantarkan makan siang?" tanya Bora penuh dedikasi.

Prisha memejamkan mata, menikmati kehangatan air yang meredakan ketegangan ototnya. "Tidak. Pantatku masih sangat sakit akibat kejadian semalam. Hari ini aku harus masuk kampus. Sudah berapa hari aku melewatkan kelas sejak ... kejadian itu."

"Baiklah, kalau begitu saya akan bersiap-siap untuk—"

"Kau tidak perlu ikut ke kampus, Bora," sela Prisha cepat, membuka matanya dan menatap pelayan mudanya itu. "Akan terasa sangat aneh dan mengundang kecurigaan jika seorang putri dari keluarga Kaelen yang baru saja dinyatakan bangkrut total, masih berkeliaran di area kampus dengan membawa seorang pelayan pribadi di belakangnya."

Bora terdiam sejenak, menimbang logika di balik ucapan Prisha, lalu membungkuk patuh. "Saya mengerti, Nona."

Usai menyelesaikan sarapan paginya yang sunyi, Prisha berangkat ke kampus dengan menggunakan salah satu mobil sedan hitam milik kediaman Tanubrata. Guna menghindari desas-desus yang tidak diinginkan, Prisha meminta sang sopir untuk menurunkannya di dekat gerbang luar, agak jauh dari lobi utama fakultasnya.

Namun tetap saja, menyembunyikan identitas seorang Prisha Kaelen di lingkungan universitas adalah hal yang mustahil. Begitu kakinya melangkah memasuki koridor utama kampus, atmosfer di sekitarnya mendadak berubah. Puluhan pasang mata seketika tertuju padanya. Kasus kebangkrutan masif dan kematian mendadak ayahnya telah menjadi konsumsi publik selama satu minggu terakhir.

Bisik-bisik miring dan gosip miring langsung berdengung di sepanjang koridor, sengaja diucapkan dengan volume yang cukup keras agar terdengar oleh telinganya.

"Lihat tuh, si Putri Mahkota Kaelen akhirnya menampakkan diri. Lihat saja, apa setelah ini dia masih bisa bertingkah angkuh di depan kita?" cibir seorang mahasiswi yang tengah berkumpul di dekat mading.

"Tidak mungkin," sahut temannya dengan nada meremehkan. "Dia sudah tidak punya uang sepeser pun untuk menutup mulut orang-orang lagi. Hartanya kan habis disita."

"Tapi kenapa cara jalannya masih sok angkuh begitu, ya? Benar-benar tidak tahu diri."

Dalam hati Prisha menjawab, 'Pantatku sakit sial! Bukan angkuh.'

"Cih, percuma saja sok berkuasa seperti dulu. Sekarang sudah tidak ada lagi yang takut padanya."

Prisha terus berjalan dengan pandangan lurus ke depan. Dagunya tetap terangkat tegak, dan sepasang matanya menatap dingin setiap orang yang berbisik. Urat malunya mungkin sudah putus di depan Saka Tanubrata, tetapi di hadapan orang-orang ini, harga diri Prisha Kaelen tidak akan pernah membiarkan dirinya terlihat mengemis belas kasihan.

"Prisha!"

Sebuah suara familier memecah ketegangan. Dari arah ujung koridor, seorang gadis berlari terengah-engah menghampirinya. Dia adalah Ayu, satu-satunya teman sekelas yang langsung menggenggam kedua tangan Prisha dengan raut wajah penuh kecemasan.

"Akhirnya kau masuk kelas juga! Aku khawatir banget, banget denganmu, Prisha. Kau tahu itu? Aku mencoba menghubungimu tapi tidak bisa. Kau ... kau tidak apa-apa, kan?" tanya Ayu bertubi-tubi dengan mata berkaca-kaca.

Melihat ketulusan di wajah Ayu, benteng pertahanan dingin di wajah Prisha sedikit melunak. Ia tersenyum terharu, merasa bersyukur karena di titik terendah hidupnya, setidaknya tuhan masih menyisakan satu orang teman sejati untuknya. "Iya, Ayu. Aku tidak apa-apa. Terima kasih ya."

"Sekarang ... kau tinggal di mana? Rumahmu kan ..." Ayu menggantung kalimatnya, takut menyinggung perasaan Prisha.

"Aku tinggal di rumah kerabat untuk sementara waktu," bohong Prisha demi keamanan. Ia tidak mungkin mengatakan kalau dirinya sedang menumpang di rumah konglomerat Tanubrata untuk menjadi penggoda bayaran.

Ayu menghela napas lega, namun sejurus kemudian wajahnya tampak bersalah. "Maaf ya, Prisha ... aku tidak bisa menawarkanmu untuk menampungmu di rumahku. Kau sendiri tahu kan kalau orang tuaku sering sekali bertengkar hebat."

"Iya, aku tahu dan aku sangat mengerti. Tidak apa-apa, Ayu. Sungguh," ucap Prisha menenangkan temannya.

Namun, kedamaian itu hanya bertahan sampai mereka berdua melangkah masuk ke dalam ruang kelas. Begitu pintu terbuka, pandangan Prisha seketika menggelap.

Meja dan kursi miliknya yang biasa berada di barisan tengah kini telah dipenuhi oleh coretan-coretan makian menggunakan spidol permanen hitam. Tidak hanya itu, di atas mejanya juga berserakan berbagai macam sampah plastik, sisa makanan, hingga air kotor yang sengaja ditumpahkan di atas buku catatannya.

"Siapa yang melakukan semua ini?!" kecam Prisha, suaranya meninggi penuh penekanan, menggema di dalam kelas yang mendadak hening.

"Aku. Kenapa? Mau marah?" Sebuah suara sinis menyahut dari arah belakang.

Prisha menoleh dan mendapati sesosok gadis tengah berdiri dengan kedua tangan bersedekap di dada, menatapnya dengan pandangan penuh kemenangan.

"Yu-Yunha ...?" cicit Ayu yang berdiri di samping Prisha dengan wajah pucat.

Yunha melirik Ayu dengan tatapan jijik. "Jangan menyebut namaku. Menjijikkan sekali mendengar namaku keluar dari mulut orang sepertimu."

Prisha mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Amarahnya sudah berada di ubun-ubun. Selama ini, Yunha adalah orang yang selalu menempel padanya, memuji-mujinya setiap hari, dan mengaku sebagai sahabat paling setia saat keluarga Kaelen masih berada di puncak kejayaan.

Prisha sempat berpikir bahwa dari sekian banyak orang, Yunha tidak akan mungkin mengkhianatinya karena kedekatan mereka selama ini. Namun kenyataannya, asumsi itu salah besar.

Yunha melangkah maju, menatap penampilan Prisha yang mengenakan gaun elegan baru dari ujung kepala hingga ujung kaki. "Tadi pagi aku tidak sengaja melihatmu turun dari mobil sedan mewah di depan gerbang. Lucu sekali, ya? Rumah sudah disita, ayah sudah mati, tapi masih bisa naik mobil mewah dan pakai baju bermerek. Jangan-jangan ... sekarang kau sudah beralih profesi jadi simpanan om-om kaya demi membayar utang?"

Plak!!!

Satu tamparan keras yang luar biasa bertenaga mendarat telat di pipi mulus Yunha, menimbulkan suara dentuman yang sangat nyaring di dalam kelas. Kekuatan tamparan itu bahkan membuat tubuh Yunha sedikit terhuyung ke samping.

"Dasar anjing penjilat!" desis Prisha tajam, menatap Yunha dengan pandangan yang sanggup membunuh seketika. "Setelah aku bangkrut, kau langsung berbalik menggigit kakiku, ya?! Kau pikir karena keluargaku hancur, aku akan diam saja saat kau injak-injak?"

Suasana kelas mencekam. Yunha memegangi pipinya yang kini memerah padam dan mulai membengkak. Setetes air mata syok lolos dari sudut matanya. Bagaimanapun juga, julukan Prisha sebagai 'Putri Jahat' yang berdarah dingin dan kejam selama masa pendidikan mereka masih membekas kuat di mental Yunha. Ia tidak menyangka Prisha masih memiliki keberanian dan kekuatan sebesar ini untuk melawannya.

"Li-lihat saja nanti, Prisha! Aku tidak akan melepaskanmu! Aku akan membalas semua perbuatanmu hari ini!" ancam Yunha dengan suara bergetar menahan malu dan amarah.

"Memangnya kau berani?" tantang Prisha, melangkah maju satu langkah yang langsung membuat Yunha mundur ketakutan.

"Lihat saja nanti, Prisha!" Akhirnya, karena tidak tahan menjadi pusat perhatian dan menahan rasa sakit di pipinya, Yunha berbalik dan berlari keluar dari ruang kelas sambil menangis histeris.

Ayu mendekati Prisha dengan sisa rasa syoknya. "Aku benar-benar tidak mengira Yunha akan melakukan hal serendah ini ... Aku kira dia adalah sahabat terbaik kita selama ini."

Prisha menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan gemuruh di dadanya, lalu membersihkan sampah di atas kursinya dengan kasar. "Semua orang bisa berubah saat melihatmu jatuh, Ayu. Atau ... mungkin itu memang wajah aslinya yang selama ini tersembunyi di balik topeng manisnya."

Jam perkuliahan dimulai, dan Prisha mencoba memfokuskan seluruh pikirannya pada materi yang disampaikan oleh dosen di depan kelas. Namun, hari itu tampaknya ditakdirkan menjadi hari yang sangat buruk bagi Prisha.

Saat jam istirahat tiba dan Prisha sedang berjalan melintasi lapangan olahraga menuju kantin, sebuah bola basket tiba-tiba melayang dengan kecepatan tinggi dari arah samping secara tidak terduga.

Bugh!

Bola itu menghantam telak bagian hidung dan wajah Prisha. Benturan yang keras itu membuat tubuhnya terhuyung ke belakang. Rasa sakit yang luar biasa menjalar di wajahnya, dan dalam hitungan detik, darah segar berwujud cairan kental mulai mengalir deras dari lubang hidungnya.

Prisha mimisan parah di tengah lapangan, sementara gadis-gadis yang melempar bola hanya tertawa cekikikan dari kejauhan seolah-olah itu adalah ketidaksengajaan. Prisha terpaksa pergi ke toilet untuk menyumbat hidungnya dengan tisu ditemani Ayu.

Kesialan tidak berhenti di situ. Beberapa jam kemudian, saat Prisha sedang berjalan sendirian di koridor luar lantai satu yang berada tepat di bawah area balkon lantai dua, sebuah pot bunga keramik berukuran sedang tiba-tiba jatuh meluncur dari atas.

Prang!!!

Pot itu hancur berkeping-keping tepat dua jengkal di depan kaki Prisha. Tanah dan pecahan keramiknya berhamburan mengotori sepatunya. Untung saja refleks Prisha cepat untuk berhenti melangkah, jika tidak, pot itu dipastikan akan memecahkan kepalanya. Prisha mendongak ke atas balkon lantai dua, namun area itu sudah kosong melompong tanpa ada tanda-tanda pelaku.

Puncaknya terjadi saat waktu pulang kampus tiba. Prisha yang sudah merasa sangat lelah secara fisik dan mental berjalan menyusuri tangga utama gedung fakultas untuk menuju ke gerbang depan. Di tengah-tengah anak tangga, kakinya tiba-tiba menginjak area yang sangat licin. Seseorang telah dengan sengaja menuangkan minyak goreng bening di salah satu anak tangga teratas.

"Aaaakh!"

Prisha kehilangan keseimbangan sepenuhnya. Tubuhnya berguling jatuh melewati belasan urutan anak tangga yang keras dan tajam hingga mendarat di lantai dasar koridor. Rasa sakit yang luar biasa dahsyat seketika mendera kaki kirinya. Prisha memekik kesakitan sebelum akhirnya pandangannya kabur akibat rasa nyeri yang tak tertahankan.

Sore harinya, Prisha mendapati dirinya sudah berbaring di atas bangsal putih sebuah rumah sakit swasta kota dengan kaki kiri yang sudah dibalut gips tebal secara rapi. Dokter menyatakan bahwa tulang keringnya mengalami patah akibat benturan keras saat terjatuh dari tangga.

Di samping ranjangnya, Bora berdiri tegak dengan gurat kecemasan yang kini tercermin jelas di wajah polosnya, dengan setia mengganti kompres hangat di dahi Prisha.

Sementara itu, Prisha yang terbaring lemas dengan napas yang memburu menahan sisa rasa sakit, mencengkeram sprei kasur rumah sakit dengan sisa tenaganya. Sepasang matanya menyalang merah penuh dendam. Bibirnya tiada henti menyumpah serapahi siapapun yang hari ini telah bermain-main dengan nyawanya.

"Brengsek ... lihat saja, aku akan membalas kalian semua sampai habis," desis Prisha dengan suara serak yang sarat akan kebencian mendalam.

Bora yang sedang merapikan selimut Prisha hanya bisa menghela napas pelan, mengamati raut penuh dendam dari majikannya.

Bersambung....

1
Amal Syafiqah
aa novel nya bagus, cepat update nya ye. aku tunggu
Rinnaya: Ok. Up setiap hari, tapi hari ini sibuk jadi besok malam ya.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!