Budi, seorang karyawan kantor biasa yang gaji bulanannya selalu numpang lewat karena harus melunasi utang warisan orang tuanya, tiba-tiba mendapatkan sebuah sistem aneh bernama 'System Lempar Dadu Monopoly'.
Sistem ini menampilkan papan permainan hologram mirip Monopoli lengkap dengan avatar chibi dirinya di atasnya, di mana setiap lemparan dadu bisa memberikannya reward uang dan item ajaib, atau hukuman memalukan yang harus ia jalani di dunia nyata.
Kini, hidup Budi berubah drastis menjadi sebuah pertaruhan harian di mana setiap petak yang ia injak perlahan-lahan mengangkatnya dari kemiskinan, asalkan ia bisa bertahan dari "kejutan" konyol yang disiapkan oleh sistem tersebut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ex, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33
Budi tidak menjawab dan hanya menatap preman itu dengan tatapan kosong yang mematikan.
Budi membuka ritsleting tas selempangnya dan mengeluarkan tumpukan uang pecahan seratus ribu rupiah.
Bruk.
Budi melempar tumpukan uang itu ke lantai tepat di depan ujung sepatu Bos Toni.
"Itu tujuh belas juta rupiah, sisa utang pokok bapakku yang terakhir."
Suara Budi tidak tinggi, tidak membentak, namun memiliki resonansi wibawa yang membuat lutut siapa pun terasa lemas.
"Ambil uang itu sekarang juga dan anggap urusan kita selesai selamanya."
Bos Toni menelan ludahnya dengan susah payah merasakan keringat dingin membasahi punggungnya.
Insting bertahan hidupnya sebagai mantan preman jalanan menjerit keras menyuruhnya untuk tunduk pada pemuda di depannya ini.
Pikirannya entah kenapa terus membisikkan bahwa Budi adalah sosok monster yang bisa melenyapkannya dalam sekejap jika dia melawan.
"Tapi utang itu sudah naik jadi lima puluh juta."
Bos Toni mencoba melawan efek intimidasi itu dengan sisa sisa keberanian gengsinya.
Budi melangkah maju satu langkah ke arah Bos Toni.
Langkah itu terlihat biasa saja namun di mata Bos Toni itu seperti langkah sang malaikat maut.
"Aku bilang ambil uang itu, dan jangan pernah menampakkan wajah busuk kalian lagi di depanku."
Setiap suku kata yang keluar dari mulut Budi terasa seperti palu yang menghantam dada Bos Toni.
Efek Lencana Aura Bos Besar benar benar bekerja seratus persen memanipulasi insting rasa takut lawannya.
Bos Toni akhirnya menundukkan kepalanya tidak sanggup lagi membalas tatapan mengerikan Budi.
Tangannya yang bergetar memberikan isyarat pada Bang Jali.
"Jali, pungut uang itu dan masukkan ke dalam tas."
Bang Jali dengan tergesa gesa berjongkok dan memunguti ikatan uang tujuh belas juta itu dari atas tanah berdebu.
Dia memasukkan uang itu ke dalam tas pinggangnya tanpa berani mengangkat wajahnya sama sekali.
"Urusan kita impas Budi, kami tidak akan pernah menagih utang bapakmu lagi."
Bos Toni mengucapkan kalimat itu dengan nada suara yang sangat kalah dan tunduk.
"Tuliskan surat tanda lunas di kertas ini dan tanda tangani sekarang juga."
Budi menyodorkan selembar kertas kosong dan sebuah bolpoin ke hadapan Bos Toni.
Bos Toni menerimanya dengan tangan gemetar dan langsung menuliskan pernyataan lunas yang ditandatanganinya.
Dia menyerahkan kertas itu kembali kepada Budi dengan sangat sopan.
"Kami permisi pergi dulu Budi."
Bos Toni dan kedua anak buahnya langsung berbalik dan berjalan cepat meninggalkan area kosan.
Langkah mereka terlihat setengah berlari seolah olah sedang dikejar oleh hantu siang bolong.
Budi terus berdiri di depan pintu kamarnya menatap kepergian mereka hingga benar benar hilang dari pandangan.
Begitu rombongan rentenir itu tidak terlihat lagi, Budi mencabut lencana singa emas itu dari kerah kemejanya.
Wusss.
Aura tekanan mafia itu langsung lenyap seketika.
Tubuh Budi mendadak terasa sangat lemas kehabisan tenaga dan dia langsung terduduk di lantai teras kamarnya.
Hah hah hah.
Napas Budi memburu hebat saat adrenalinnya menurun drastis.
Namun di tengah napasnya yang tersengal, Budi menatap surat tanda lunas di tangannya dan mulai tertawa.
"Hahaha, aku berhasil."
"Aku benar benar bebas dari lintah darat itu selamanya."
Malam itu Budi merayakan kebebasan mutlaknya dengan makan mi instan dua bungkus di dalam kamarnya.
Dia tidak peduli makanannya sederhana, yang penting hatinya sekarang sangat kaya raya dan merdeka.
Waktu menunjukkan pukul delapan malam tepat dan suara sistem kembali menyapa.
Ting.
Layar hologram biru membentang menampilkan papan Monopoli yang seolah ikut merayakan kemenangan Budi.
Kotak dialog harian muncul membawa perintah rutin.
Pengguna mendapatkan satu kali lemparan dadu gratis hari ini.
Silakan sentuh dadu virtual untuk menentukan takdir selanjutnya.
Budi menyentuh dadu putih itu dengan perasaan yang luar biasa ringan.
"Sistem, aku tidak butuh apa apa malam ini karena kau sudah memberikanku segalanya."
"Putar saja dadu ini ke mana pun kau mau."
Klak klak klak.
Budi melempar dadu itu dan membiarkannya berguling di atas papan.
Dadu berhenti di angka lima dan tiga.
"Delapan langkah untuk menutup hari yang panjang ini."
Avatar Budi melompat lincah menyusuri jalan papan permainan.
Satu, dua, tiga, empat, lima, enam, tujuh, delapan.
Karakter itu mendarat di sebuah petak berwarna hijau cerah yang belum pernah Budi miliki.
Gambar di petak itu adalah deretan pintu kamar yang identik.
Tulisan di bawahnya berbunyi Petak Properti Rumah Kos Sepuluh Pintu.
Sebuah kotak notifikasi emas langsung muncul menutupi layar.
Selamat, pengguna menginjak Petak Properti baru.
Sistem telah mengakuisisi lima persen kepemilikan saham dari Rumah Kos Sepuluh Pintu yang terletak di belakang minimarket.
Pengguna berhak menerima keuntungan pasif dari setiap pembayaran sewa kamar kos secara bulanan.
Budi tersenyum sangat lebar membaca nama lokasi properti barunya itu.
"Rumah kos di belakang minimarket."
"Bukankah itu adalah rumah kos tempat Mbak Maya tinggal."
Budi tertawa pelan menyadari betapa lucu dan kebetulannya dunia sistem ini bekerja.
Kini dia secara tidak langsung menjadi salah satu pemilik dari tempat tinggal perempuan yang disukainya.
Hari ini benar benar menjadi hari yang tidak akan pernah dilupakan oleh Budi seumur hidupnya.
Dia mematikan layar sistem dan tertidur dengan sangat pulas tanpa ada satu pun beban yang tersisa di benaknya.