NovelToon NovelToon
Aku Masuk Ke Tubuh Villainess Yang Akan Dieksekusi

Aku Masuk Ke Tubuh Villainess Yang Akan Dieksekusi

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Mengubah Takdir / Epik Petualangan / Menjadi NPC
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Enzelynn

Aku hanya tidur setelah membaca novel, lalu bangun sebagai villainess yang dijadwalkan mati tiga hari lagi. Tunanganku membenciku, gadis suci itu mencurigakan, pelayanku terlalu dramatis, dan duke utara menawarkan kontrak seolah sedang memesan teh. Baiklah. Kalau aku harus hidup sebagai penjahat, setidaknya aku akan menjadi penjahat yang sulit dibunuh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Enzelynn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Cara Menjadi Villainess yang Tidak Mudah Dibunuh

Setelah Lord Blackwell ditemukan tidak sadarkan diri dengan tulisan berdarah di dinding tahanannya, istana menjadi kacau.

Bukan kacau biasa seperti bangsawan kehilangan kipas mahal atau pelayan salah menyajikan teh sebelum gula. Ini kacau dalam arti para penjaga berlarian di lorong, para pendeta berbisik seolah mereka baru melihat setan memakai sepatu kerajaan, dan setiap orang yang melewatiku langsung menatapku seperti aku mungkin akan meledak dalam tiga detik.

Mira menyebutnya “hari biasa bagi Nona”.

Aku menyebutnya “alasan baru untuk migrain”.

Blackwell belum mati, tetapi kondisinya kritis. Tabib istana mengatakan ia terkena racun pelumpuh yang membuat tubuhnya kaku, napasnya dangkal, dan lidahnya tidak bisa bergerak selama beberapa hari. Sangat praktis. Siapa pun pelakunya benar-benar mengerti cara menghentikan saksi tanpa menciptakan mayat yang terlalu merepotkan.

Mayat membuat penyelidikan menjadi serius.

Saksi hidup yang tidak bisa bicara membuat semua orang panik dengan lebih elegan.

Aku duduk di ruang pengawasan yang untuk sementara menjadi kamar, kantor, penjara sopan, dan tempat Mira menumpuk segala benda yang menurutnya bisa menyelamatkan hidupku. Di sudut ruangan ada kotak obat. Di bawah meja ada pisau mentega. Di balik bantal ada botol kecil berisi ramuan anti-racun yang baunya seperti jahe busuk dan kegagalan hidup.

“Nona harus minum sedikit setiap pagi,” kata Mira.

“Aku lebih memilih diracun.”

“Nona!”

“Aku bercanda.”

“Humor Nona makin hari makin tidak sehat.”

“Itu karena hidupku makin hari makin aktif mencoba membunuhku.”

Mira tidak bisa membantah.

Pagi itu, Cassian datang ke ruang pengawasanku membawa tiga benda: buku catatan, peta istana, dan papan kayu kecil.

Ia masuk tanpa terlihat terburu-buru, seperti biasa. Jubah gelapnya rapi, sarung tangannya bersih, dan wajahnya tenang seolah semalam tidak ada saksi penting yang hampir dibungkam tepat di bawah hidung istana. Aku mulai curiga Duke North tidak punya saraf panik. Mungkin sejak kecil ia menukarnya dengan kemampuan menatap orang sampai mereka merasa bersalah.

Aku menatap papan kayu itu. “Apa itu?”

“Papan strategi.”

Mira langsung mendekat dengan mata berbinar. “Seperti permainan perang?”

“Lebih buruk,” kata Cassian. “Permainan bangsawan.”

Aku langsung duduk lebih tegak. “Saya tidak suka bunyinya.”

“Tidak ada orang waras yang menyukainya.”

“Kalimat itu tidak membuat saya lebih tenang.”

“Memang bukan tujuannya.”

Cassian meletakkan papan itu di meja. Di atasnya sudah tertulis beberapa nama dan simbol dengan tinta hitam. Ada Seraphina, Lucien, Blackwell, Marquess Arvella, para pendeta, faksi selatan, beberapa nama bangsawan yang belum kukenal, dan tentu saja simbol gagak dengan mahkota patah.

Di bagian tengah, ada namaku.

Dilingkari merah.

Aku menunjuknya. “Kenapa nama saya di tengah dan dilingkari seperti target panahan?”

“Karena Anda memang target.”

“Terima kasih atas motivasi pagi ini.”

“Lebih baik mengetahui posisi Anda daripada berpura-pura aman.”

“Itu benar, tapi Anda bisa mengatakannya dengan nada yang sedikit lebih lembut.”

Cassian menatapku datar. “Lady Evangeline, beberapa pihak di istana ingin Anda mati, beberapa ingin memakai Anda sebagai kambing hitam, dan beberapa mungkin belum memutuskan mana yang lebih menguntungkan.”

Aku terdiam.

“Mungkin tadi sudah cukup lembut,” kataku akhirnya.

Mira mengeluarkan pita merah muda dari sakunya dan menempelkannya di atas namaku.

Cassian menatapnya. “Apa yang Anda lakukan?”

“Supaya targetnya lebih manis, Yang Mulia Duke.”

Hening.

Cassian diam cukup lama sampai aku berpikir ia mungkin akan memerintahkan Mira keluar dari ruangan. Namun pada akhirnya, ia hanya mengembuskan napas pelan dan membiarkannya.

Aku tertawa kecil. Untuk pertama kalinya sejak bangun di tubuh Evangeline, suasana investigasi terasa sedikit tidak mengerikan.

Sedikit saja.

Masih ada kemungkinan aku dibunuh, difitnah, diracun, atau dijadikan dekorasi tragis dalam sejarah kerajaan.

Tapi setidaknya namaku sekarang punya pita merah muda.

Cassian menunjuk papan. “Kita perlu menyusun aturan bertahan hidup.”

“Aturan?”

“Ya. Cara menjadi villainess yang tidak mudah dibunuh.”

Aku memandangnya. “Judulnya terlalu spesifik.”

“Sesuai kebutuhan Anda.”

Mira langsung mengambil pena. “Hamba akan mencatat! Bab pertama: jangan mati.”

“Itu bukan aturan, itu tujuan,” kataku.

“Tapi tujuan yang penting, Nona.”

“Benar juga.”

Cassian mulai menulis di buku catatan dengan tulisan yang rapi dan tegas.

Aturan pertama: Jangan pernah makan atau minum sebelum Mira memeriksa.

Mira terkejut. “Hamba?!”

Aku juga terkejut. “Duke North, itu bukan aturan, itu pengorbanan pelayan.”

Cassian menatap kami datar. “Maksud saya bukan mencicipi dengan mulut. Gunakan alat uji racun.”

Mira memegang dada. “Hamba hampir merasa menjadi pahlawan tragis.”

Aku mengangguk. “Kau akan terlihat buruk sebagai patung peringatan.”

“Nona!”

“Patungmu pasti membawa nampan dan menangis.”

“Hamba tidak ingin diabadikan dalam keadaan bekerja!”

Cassian mengabaikan kami dan menulis lagi.

Aturan kedua: Jangan menemui siapa pun sendirian, terutama orang yang tersenyum terlalu manis.

Aku langsung memikirkan Seraphina.

Senyumnya. Suaranya. Cara ia menatapku seolah aku adalah noda tinta yang mengganggu halaman sempurna hidupnya.

Mira mengangkat tangan. “Apakah ini termasuk penjual kue?”

“Jika penjual kue berada di istana dan menyebut Anda sebagai sahabat, ya,” kata Cassian.

Mira mencatat dengan sangat serius.

“Aturan tambahan,” gumamnya. “Curigai kue yang terlalu ramah.”

“Aku tidak yakin itu maksud Duke North.”

“Tapi masuk akal, Nona. Banyak tragedi dimulai dari makanan manis.”

Aku tidak bisa membantah. Dalam dunia bangsawan, racun memang tampaknya lebih sering disajikan dengan piring perak daripada botol tengkorak.

Cassian melanjutkan.

Aturan ketiga: Jika seseorang pingsan, jangan berdiri paling dekat.

Aku menunjuk aturan itu. “Ini sangat penting.”

“Berdasarkan pengalaman Anda.”

“Pengalaman saya menyedihkan.”

“Dan berguna.”

“Menghibur sekali mengetahui penderitaan saya bisa menjadi bahan pendidikan.”

“Aturan yang ditulis dari tragedi biasanya paling efektif.”

Mira mengangguk sambil menulis. “Jika ada orang pingsan, Nona harus langsung mundur tiga langkah, menunjuk saksi, dan berteriak: Saya tidak menyentuhnya.”

Aku menatapnya. “Kenapa kau terdengar sudah berlatih?”

“Karena hamba peduli pada keselamatan hukum Nona.”

Cassian, entah bagaimana, tampak menyetujui usulan itu.

Aturan keempat: Jangan menandatangani kontrak tanpa membaca.

Aku melirik Cassian. “Anda menulis itu setelah membuat saya menandatangani kontrak sihir?”

“Saya mendukung pendidikan berkelanjutan.”

“Saya ingin melempar bantal.”

“Itu tidak akan membatalkan kontrak.”

“Tidak, tapi mungkin membuat saya merasa lebih baik.”

Mira langsung mengambil bantal kecil dan menyerahkannya kepadaku.

Cassian memandangnya.

Mira membeku. “Untuk... dekorasi.”

Aku meletakkan bantal itu kembali dengan susah payah. Memang menggoda. Sangat menggoda.

Aturan kelima ditulis dengan tinta sedikit lebih gelap.

Jangan mempercayai siapa pun yang terlalu ingin menyelamatkan reputasi Anda.

Aku membaca kalimat itu dua kali.

“Itu terdengar seperti jebakan.”

“Itu memang jebakan yang sering dipakai di istana,” kata Cassian. “Mereka tidak perlu membunuh Anda jika bisa mengatur agar Anda berterima kasih kepada orang yang sedang memasang tali di leher Anda.”

Aku terdiam.

Di novel aslinya, Evangeline jatuh bukan hanya karena kejahatannya, tetapi karena ia selalu memilih orang yang salah untuk dipercaya. Ia percaya pada senyum Lucien sampai terlambat. Ia percaya pada status keluarganya sampai keluarganya membiarkannya jatuh. Ia percaya bahwa kekuasaan bisa melindunginya, padahal kekuasaan hanya melindungi orang yang masih berguna.

Dan sekarang aku memakai tubuhnya.

Tubuh yang sudah terlanjur dibenci banyak orang.

Tubuh yang terlalu mudah dijadikan penjahat.

Tiba-tiba, seorang pelayan datang membawa undangan bersegel emas. Mira menerimanya dengan ekspresi curiga seperti seseorang yang baru menerima bom berbentuk kertas.

“Nona, dari istana.”

“Semua hal dari istana belakangan ini membuatku ingin pura-pura buta huruf.”

Aku membuka undangan itu.

Kertasnya tebal, wanginya mahal, dan tulisannya terlalu indah untuk sesuatu yang hampir pasti berbahaya.

Jamuan Pemulihan Kehormatan Kerajaan akan diselenggarakan dua malam lagi. Seluruh bangsawan utama diwajibkan hadir.

Di bagian bawah ada catatan tambahan.

Lady Evangeline Arvella diharapkan hadir sebagai bentuk pemulihan keadaan setelah penundaan sidang.

Aku tertawa kosong. “Pemulihan keadaan? Mereka membuatku hampir dieksekusi, lalu mengundangku makan malam.”

Mira menatap kertas itu. “Mungkin ini permintaan maaf versi bangsawan.”

“Kalau begitu aku lebih suka permintaan maaf versi rakyat biasa. Roti gratis, misalnya.”

“Roti gratis terdengar lebih tulus.”

“Betul.”

Cassian mengambil undangan itu dan membacanya dengan cepat. Wajahnya tidak berubah, tetapi suasana di sekelilingnya menjadi lebih tajam.

“Jamuan ini jebakan.”

“Tidak ada yang terkejut.”

“Tapi kita harus datang.”

Aku menatapnya. “Tentu. Karena dalam hidup saya sekarang, semua jebakan harus dihadiri dengan gaun bagus.”

Cassian menunjuk papan. “Jamuan memberi kesempatan mengamati faksi. Orang yang merasa rencananya terganggu akan bereaksi.”

Aku mengangguk pelan. “Dan orang yang memasang jebakan mungkin akan mencoba langkah berikutnya.”

“Benar.”

“Jadi saya harus menjadi umpan.”

“Umpan yang sadar bahwa dirinya umpan jauh lebih sulit ditelan.”

“Kalimat itu tidak membuat saya merasa lebih baik.”

“Tapi akurat.”

Aku menghela napas. “Saya mulai membenci akurasi Anda.”

Mira mengangkat tangan. “Pertanyaan: apakah hamba boleh membawa helm?”

“Tidak,” kata Cassian dan aku bersamaan.

“Pisau kecil?”

“Tidak.”

“Sendok penggali?”

“Mira.”

“Baik, hamba bawa doa saja.”

Aku menatapnya.

Ia menambahkan pelan, “Dan mungkin satu jarum rambut.”

Cassian pura-pura tidak mendengar. Aku memilih melakukan hal yang sama.

Sore harinya, Cassian membawaku ke perpustakaan istana untuk memeriksa dokumen lama tentang faksi gagak. Perpustakaan istana sangat besar, sunyi, dan penuh rak tinggi yang membuatku curiga semua kerajaan membangun perpustakaan bukan untuk ilmu pengetahuan, melainkan agar bangsawan bisa terlihat kecil di hadapan rahasia mereka sendiri.

Lucien bergabung sebentar.

Ia datang dengan langkah hati-hati, tampak canggung seperti pria yang baru menyadari tunangannya tidak sejahat yang ia kira, tetapi tidak tahu harus bersikap apa selain terlihat menyesal dengan cara yang terlambat.

“Evangeline,” katanya. “Tentang jamuan nanti... aku akan memastikan keamananmu.”

Aku menatapnya. “Seperti saat pesta sebelumnya?”

Dia tersentak.

Aku tahu itu kejam. Tapi aku belum siap menjadi terlalu baik pada pria yang nyaris membiarkan aku mati. Penyesalan Lucien mungkin nyata, tetapi luka yang ditinggalkan oleh kebodohannya juga nyata. Dan di istana ini, memaafkan terlalu cepat bisa sama fatalnya dengan minum teh dari tangan musuh.

Lucien menunduk. “Aku pantas mendapatkan itu.”

Mira berbisik, “Wah, Putra Mahkota mulai bisa menerima sindiran. Perkembangan karakter.”

Aku hampir tertawa.

Lucien mendengar. Wajahnya berubah sedikit, tetapi ia tidak marah. Itu mungkin memang perkembangan karakter.

Cassian, yang sedang membaca dokumen di meja panjang, tiba-tiba berhenti.

“Saya menemukan sesuatu.”

Kami semua mendekat.

Di halaman buku sejarah lama, ada catatan tentang organisasi rahasia yang muncul dua puluh tahun lalu. Namanya Ordo Mahkota Patah. Simbolnya gagak membawa mahkota rusak. Mereka diduga terlibat dalam percobaan menggulingkan ratu terdahulu, tetapi kasus itu ditutup setelah beberapa bangsawan meninggal secara misterius.

Aku membaca baris demi baris, dan semakin jauh aku membaca, semakin dingin ujung jariku.

Kasus ditutup.

Saksi menghilang.

Dokumen disegel.

Beberapa nama dicoret dengan tinta hitam.

Lalu di daftar nama yang dicurigai, ada satu nama yang membuatku sulit bernapas.

Rosaline Arvella.

Ibuku.

Mira menutup mulut. “Nyonya Rosaline...”

Lucien menatapku dengan serius. “Ibumu terlibat?”

Aku memegang tepi meja. “Atau dijebak. Seperti aku.”

Cassian memandangku. “Itu mungkin.”

Aku melihat nama ibuku lama sekali. Semakin banyak potongan muncul, semakin jelas bahwa kematianku bukan sekadar skandal cinta murahan seperti dalam novel. Ada sesuatu yang jauh lebih tua, lebih dalam, dan lebih berbahaya.

Evangeline bukan hanya villainess yang jatuh karena cemburu.

Ia mungkin anak dari perempuan yang tahu terlalu banyak.

Dan mungkin itulah sebabnya seseorang ingin memastikan aku mati sebelum mengingat atau menemukan apa pun.

“Kenapa nama ibuku tidak pernah dibersihkan?” tanyaku pelan.

Lucien tidak menjawab.

Cassian menutup buku itu dengan hati-hati. “Karena orang yang bisa membersihkannya mungkin sudah mati, dibungkam, atau memilih diam untuk bertahan hidup.”

Aku menelan ludah.

“Kalau begitu,” kataku, “kita harus mencari orang yang masih hidup.”

“Dan berharap ia belum berpihak pada musuh,” kata Cassian.

Mira menghela napas berat. “Hamba rindu masalah sederhana.”

“Seperti apa?”

“Seperti Nona marah karena warna gaun tidak cocok.”

“Aku pernah seperti itu?”

Mira menatapku lama. “Nona ingin jawaban jujur atau jawaban yang membuat Nona tidak melempar buku?”

“Lupakan.”

Malam itu, saat kembali ke kamar, aku menemukan kotak kecil di atas meja.

Tidak ada yang tahu siapa yang mengantar. Pengawal di depan pintu bersumpah tidak melihat siapa pun masuk. Jendela terkunci. Pelayan yang bertugas memucat seperti baru diminta menikahi hantu.

Mira hampir melempar kotak itu ke perapian, tapi aku menahannya.

“Nona, benda tak dikenal dari orang tak dikenal biasanya berbahaya.”

“Benar.”

“Lalu kenapa Nona membukanya?”

“Karena aku rupanya punya hubungan tidak sehat dengan bahaya.”

Cassian, yang berdiri di dekat pintu, berkata, “Biar saya.”

Ia membuka kotak itu dengan pisau kecil. Tidak ada ledakan. Tidak ada asap racun. Tidak ada tangan iblis keluar dari dalam. Hanya sepasang sarung tangan hitam yang indah, dihiasi bordir gagak kecil dengan benang perak.

Di bawahnya ada kartu.

Pakailah ini di jamuan, Lady Evangeline. Agar semua orang tahu di pihak mana ibumu dulu berdiri.

Aku menutup kotak itu pelan.

Mira gemetar. “Nona... kita tidak datang ke jamuan itu, kan?”

Aku menatap sarung tangan hitam itu.

Lalu tersenyum.

“Datang.”

Mira terlihat seperti rohnya ingin meninggalkan tubuh. “Nona.”

Cassian mengangkat alis.

Aku menambahkan, “Tapi aku tidak akan memakai hadiah dari orang yang bahkan tidak punya sopan santun menuliskan nama.”

Mira langsung lega.

“Syukurlah. Hamba sudah membayangkan Nona masuk jamuan memakai sarung tangan pembawa bencana.”

“Aku memang akan membawa bencana,” kataku. “Tapi dengan sarung tangan pilihanku sendiri.”

Cassian menatapku lebih lama dari biasanya.

Aku berjalan ke cermin. Wajah Evangeline menatap balik: cantik, tajam, pucat karena kurang tidur, tetapi kali ini tidak ketakutan. Rambut merah gelapnya jatuh di bahu. Matanya tidak lagi terlihat seperti milik gadis yang menunggu hukuman.

Aku bukan Evangeline asli.

Tapi aku juga bukan lagi pembaca yang bisa menutup buku saat ceritanya terlalu menyakitkan.

“Kalau mereka ingin membuatku terlihat seperti penjahat,” kataku, “maka aku akan datang sebagai penjahat paling elegan yang pernah mereka lihat.”

Cassian tersenyum tipis.

“Baru sekarang Anda terdengar seperti villainess.”

Aku menoleh. “Sulit dibunuh, ingat?”

“Sulit dibunuh,” ulangnya.

Dan anehnya, saat ia mengatakan itu, aku merasa sedikit lebih aman.

Bukan karena istana menjadi lebih ramah.

Bukan karena musuh berhenti bergerak.

Tetapi karena untuk pertama kalinya, aku tidak hanya berlari dari takdir Evangeline.

Aku mulai menulis ulang caranya bertahan hidup.

1
E H Mukti
Lady evangeline 👌👌👌
Carina Yuda: hi kak, makasih udah mampir
total 1 replies
E H Mukti
😍😍😍👌
Carina Yuda: selamat membaca :)
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!