Rosa Evalina, hanya seorang anak pelayan yang menggantikan Ibunya menjadi pelayan di rumah keluarga Hartanto. Lalu, tiba-tiba anak dari majikannya meminta dia untuk menggantikannya dalam sebuah perjodohan. Tidak bisa menolak, akhirnya dia terjebak dalam permainan sandiwàra ini.
"Seharusnya aku tidak pernah jatuh cinta padamu, karena nyatanya kamu tetap tidak akan di takdirkan untukku"
Sementara Albyan Danuel, seorang pria tampan yang sudah matang. Memiliki pribadi yang hangat, lembut dan sopan. Dia yang tidak pernah mengenal cinta, akhirnya menemukan perempuan yang membuatnya nyaman. Namun, apa yang akan terjadi ketika dia tahu jika perempuan itu hanyalah seseorang yang bersandiwara?
Bisakah mereka bersama dalam kisah yang berliku, tentang cinta yang dimulai dari sandiwara?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nita.P, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perkenalan Dari Awal Lagi?
Dan saat berada di dalam mobil, Byan terus mencercanya dengan semua pertanyaan atas kejadian tadi yang menimpanya. Eva hanya menjawab jika dia tidak papa, hanya sedikit lecet saja di bagian siku dan lututnya.
"Kenapa bisa? Apa kau sedang menyeberang dan tidak lihat kanan kiri dulu?"
Eva menoleh sekilas pada Byan yang masih mengemudi. "Tidak, aku sedang berdiri di pinggir jalan, tiba-tiba saja motor itu melaju kencang ke arahku, beruntungnya aku sempat menghindar jadi hanya terserempet saja. Kalau aku tidak menghindar, mungkin akan tertabrak"
Byan menghentikan mobilnya di depan rumah Eva. Menoleh pada wanitanya dan menatapnya penuh curiga. "Sepertinya itu memang sengaja. Sial, siapa yang berani melakukan itu"
Eva terdiam, sebenarnya dia sempat berpikir yang sama. Karena posisi dia berada adalah di pinggir jalan, dan motor itu seolah sengaja melaju ke arahnya. Tapi, Eva juga bingung jika memang ada yang sengaja melakukan itu, rasanya tidak mungkin karena Eva tidak merasa ada musuh.
"Sepertinya bukan deh Sayang, mungkin saja pengendara motor itu terlalu buru-buru sampai hampir menabrak aku"
Byan membuka sabuk pengaman di tubuhnya. Dia turun dari mobil dan membukakan pintu untuk Eva. Melihat siku gadis itu yang terluka, membuatnya kesal.
"Kalau saja sampai aku tahu jika yang melakukan itu sengaja, maka tidak akan aku biarkan orang itu hidup tenang!"
Eva merangkul lengan kekasihnya, mendongak dan menatap Byan dengan lekat. "Aku yakin itu hanya tidak sengaja saja. Kamu mau masuk dulu?"
"Tidak perlu, hari ini aku ada acara bersama Papa dan Mama"
Eva mengangguk, dia menatap mobil Byan yang melaju meninggalkannya di depan rumah. Mendengarnya ada acara bersama orang tuanya, membuat Eva bertanya-tanya apakah Byan sudah memberitahu orang tuanya tentang dia?
"Mungkin dia masih harus mempersiapkan waktu untuk itu" gumamnya pelan.
*
Acara ini sebenarnya hanya untuk memperlihatkan kemewahan dari setiap orang yang hadir. Tersenyum, menyapa, namun terkadang hati membenci karena iri. Sebuah keluarga yang harus terlihat harmonis, bahagia di depan media dan semua orang.
Rasanya sudah lelah saat Byan harus terus tersenyum, begitu ramah, sopan dan membuat semua orang terpesona padanya. Namun dalam hati sudah merasa lelah untuk terus berusaha menjadi anak yang bisa di banggakan orang tua.
"Tuan Danuel, kenapa putra bungsu anda ini belum juga menggantikan anda di Perusahaan disini?"
Sebuah pertanyaan yang paling malas Byan dengar. Mereka yang bertanya, bahkan tidak akan pernah tahu alasan sebenarnya Byan tidak menjadi penerus Perusahaan itu sampai sekarang. Semua memang pilihannya, untuk saat ini Byan masih membutuhkan waktu untuk itu.
"Masih perlu belajar, saya dulu seusia Byan juga masih banyak belajar dan belum berani jika harus memimpin sebuah Perusahaan. Semuanya harus di siapkan dengan matang"
"Ya, itu bagus memang. Meski melihat Bara sudah bisa memimpin Perusahaan orang tuanya ya"
"Ah, itu bukan masalah. Byan masih perlu waktu"
Jawaban Ayahnya memang selalu seperti itu, memang dia tidak pernah menjelaskan apapun. Hanya mengatakan hal yang sama ketika seseorang bertanya seperti itu.
Mereka duduk di sebuah sofa yang di siapkan, acara tahunan untuk setiap pengusaha di Negeri ini, adalah ajang untuk memerkan setiap kekayaan dan kemampuan dalam berbisnis. Namun kebanyakan selalu ada keluarga yang berpura-pura harmonis seperti ini.
"Danuel, kau berada disini ternyata. Aku mencarimu sejak tadi"
Tuan Hartanto datang menyapa ke tempat mereka. Laila juga ikut disana, sejenak Laila melirik Byan dengan takut-takut. Sejak pernah melihat bagaimana amarah Byan, maka dia jadi lebih takut pada pria ini.
"Duduklah, aku juga baru datang" ucap Tuan Danuel,
Mereka duduk bersama, saling mengobrol sambil minum santai. Ibu Sonya dan Ibu Lisma juga saling membahas tentang arisan dan hal lain yang mereka ikuti bersama sebagai wanita sosialita. Sementara dua anak disini, hanya duduk diam. Merasa canggung, Laila yang juga tidak menyangka jika Ayahnya akan menyapa orang tua Byan setelah apa yang terjadi. Dan melihat Byan yang diam dengan wajah datar.
"Laila, Albyan ayolah kalian saling berkenalan lagi. Kita mulai dari perkenalan kalian dulu dari awal" ucap Ibu Sonya.
Byan menatap Ibunya, seperti ada yang aneh dari ucapannya. Perkenalan dari awal? Apa maksudnya? Apa mereka tetap ingin ada perkenalan lagi diantara aku dan wanita ini yang sudah jelas semuanya berakhir sebelum dimulai.
"Laila, jangan hanya diam saja. Cepat ajak Byan berkenalan" ucap Ibu Lisma juga, seperti sengaja menekan anaknya untuk melakukan itu.
Laila menoleh pada Ibunya, tatapan tajam dari Ibunya membuat dia tidak berani membantah juga. Akhirnya Laila mengulurkan tanganya ke arah Byan. Meski ini terasa aneh, mereka sudah saling mengenal meski dengan cara yang salah. Tapi sekarang harus kembali saling memperkenalkan diri.
"Hai, aku Laila"
Tuk.. Ketukan jari yang cukup nyaring di meja mereka yang dilakukan oleh Ayahnya. Byan tahu itu adalah pertanda sebuah penekanan untuknya agar bisa mengimbangi Laila yang mengerti keinginan orang tuanya.
"Byan" Dengan malas dia menerima uluran tangan Laila sekilas, mengucapkan namanya sambil memalingkan wajahnya.
"Nah gitu, awal perkenalan memang harus baik, agar hubungan juga terjalin dengan baik" ucap Tuan Hartanto.
Laila menatap Ayahnya dengan penuh tanya dan kebingungan. Tapi sang Ayah tidak menghiraukan tatapannya, bukan tidak menyadarinya, tapi sengaja mengabaikannya. Dia malah kembali mengobrol dengan Tuan Danuel. Membahas beberapa proyek dan bisnis mereka.
Mengambil segelas minuman di atas meja, Byan menenggaknya dengan sekali tegukan. Berada di acara ini cukup membuatnya kesal dan tidak ingin berlama-lama.
"Maaf, saya permisi keluar sebentar. Mencari angin segar" ucap Byan, tersenyum dan mengangguk sopan pada orang tua disana dan segera pergi.
"Kenapa diam saja, Laila. Cepat kejar Byan sana, ajak dia bicara" ucap Ibu Sonya dengan lembut.
Laila cukup gelagapan, merasa orang tuanya dan orang tua Byan benar-benar sangat kompak hari ini. Tidak mungkin membantah, apalagi saat melihat tatapan tajam Ibunya. Membuat Laila hanya mengangguk dan segera berdiri dari duduknya.
"Baiklah, aku menyusul Byan keluar ya"
"Ya, pergilah" ucap Tuan Danuel, tersenyum ramah pada Laila.
Laila akhirnya pergi keluar dari Gedung tempat acara ini. Menghembuskan napas beberapa kali. "Kenapa aku merasa mereka sengaja ingin menjodohkan aku lagi dengan Byan ya?"
Melihat sikap orang tuanya memang sangat aneh, membuat Laila tidak cukup mengerti dengan mereka semua. Dari kejauhan dia melihat Byan duduk di bangku taman, di tangannya ada ponsel. Seperti sedang melakukan panggilan video dengan seseorang. Laila melangkah pelan menghampirinya.
"Haha, kamu lucu sekali Sayang. Jangan pakai itu, jelek"
Laila terdiam, tepat di belakang bangku yang Byan duduki. Pertama kalinya mendengar suara tawa renyah dari seorang Albyan.
Sayang? Apa itu Eva yang sedang dia hubungi?
Bersambung
minta maaf gak segampang itu, istri saudaranya di jadikan pembantu dan menjadi alat untuk mengancam saudaranya sendiri hanya untuk menguasai harta warisan 😡
tetap semangat 🤗