NovelToon NovelToon
Destiny

Destiny

Status: sedang berlangsung
Genre:Berondong
Popularitas:446
Nilai: 5
Nama Author: Typ

Niat hati ingin mengabulkan permintaan adiknya yang sedang sakit, Larasati malah terjebak dengan berondong yang banyak digilai kaum perempuan. Gadis yang biasa dipanggil Laras itu dengan keras menolak kehadiran Aditya, tapi bukan Aditya namanya jika menyerah begitu saja. Bagaimana keseruan kisah mereka? langsung baca aja guyss

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Typ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

18. dua keluarga berbeda

Malam hari di kediaman Aditama terasa lebih hidup. Pasangan yang selalu sibuk dengan pekerjaan kini berkumpul di meja makan bersama putra semata wayang mereka, Aditya.

Setelah sekian lama tidak bertemu, Aditya sukses membuat keduanya pulang. Aditama masih diam, menikmati makan malam dengan pikiran yang tidak menentu. Sedangkan Melani tak henti-hentinya menatap sang putra yang tidak berhenti tersenyum. Seri bahagia tidak pernah padam sejak kepulangannya dari rumah Laras. Melani baru kali ini melihat putranya penuh cinta.

"Ceritakan pada mamih seperti apa Laras itu?" tanya Melani penasaran. Daging steak di piringnya mulai terabaikan, fokus pada Mash potato yang menjadi kesukaan wanita elegan itu.

Setelah sekian purnama menjadi penonton aksi putrinya yang gemar bergonta-ganti pasangan, rupanya tambatan hati yang sesungguhnya sudah ditemukan.

Aditya menggeleng, sejujurnya dirinya tidak begitu mengenal Laras. "Aku tidak tau, dia cuek dan tidak tertarik pada apapun." Hanya ada kejujuran. Ini kali pertama Aditya mengungkapkan perasaannya. Aditya tidak malu sama sekali.

Aditama menaikkan sebelah alis mendengar pernyataan itu. Ternyata putarnya lebih aneh daripada dirinya.

"Termasuk kamu?" tanya Melani.

Aditya mengangguk.

"Terus kenapa kamu bisa senekat itu Aditya?" Mendadak Mash potato tidak juga menarik, Melani kenyang karena terlalu penasaran dengan kisah putranya. Wanita itu juga melirik suaminya, tidak ada isyarat apapun, hanya ingin tahu respon suaminya.

"Justru itu alasannya mih. Aditya tidak tahu, tapi satu-satunya kelebihan Laras, dia bisa membuatku tertarik tanpa harus melakukan apapun." Aditya memakan irisan daging terakhir dengan semangat, piringnya bersih bahkan asisten rumah tangga mereka tidak perlu mencucinya.

Melani merasa putranya sudah gila. "Kamu mungkin enggak benar-benar cinta sama dia." Melani bukannya tidak senang, wanita itu tidak ingin ada penyesalan dikemudian hari. Biar bagaimanapun dalam sebuah hubungan yang serius, pihak perempuan yang selalu menjadi korban jika pada akhirnya harus berpisah.

Aditya tidak suka mendengarkan pernyataan itu, "Urusan hati siapa yang tau?" Aditya pergi ke kamarnya. Aditya memang tidak mengerti makna cinta yang sesungguhnya, tapi perasaan selalu ingin bersama mungkin sudah lebih dari cukup. Pikiran yang selalu berpusat pada seseorang mungkin bisa menjadi alasan itu selalu bersama.

Melani menatap Aditama. "Aku khawatir dengannya, Aditya terlalu memaksakan kehendaknya. Walau bagaimanapun perasaan itu pasti hanya sesaat."

"Sudahlah sayang, turuti saja keinginan anak itu. Apapun yang terjadi kedepannya kita hanya bisa mendukung." Aditama tidak ingin ambil pusing, pikirannya sudah terlalu lelah untuk pekerjaan. Dan sekarang, jika itu kemauan Aditya selama tidak berakibat fatal akan selalu dirinya dukung.

"Papah terlalu mempermudah hidup Aditya, dia akan menjadi arogan dikemudian hari." Melani menggeser kursi dengan kasar. Sebal karena suaminya tidak bisa bertindak tegas pada Aditya.

"Anak dan ayah yang selalu membuatku pusing. Menyebalkan!" Melani menyampaikan keluh kesahnya dalam hati, percuma ngobrol dengan manusia yang pemikirannya sama.

"Itu satu-satunya cara agar dia mau meneruskan usaha kita, mengertilah sayang." Aditama menggapai tangan istrinya, tapi belum sempat terwujud, Melani menggeser tangan tidak sudi.

Wanita itu menghela napas. "Aku lelah," ucapnya sebelum pergi meninggalkan suaminya seorang diri.

Di rumah Harto, Laras kembali mengurung diri dikamar. Korden yang dibiarkan terbuka serta lampu yang tidak dinyalakan padahal hari semakin larut. Kamarnya remang, hanya ada sorot cahaya dari luar yang masuk lewat jendela. Laras tidak menangis, gadis itu tidur setelah kepergian keluarga Aditya. Pikirannya kacau dan hanya tidur satu-satunya cara untuk memulihkan segalanya. Mengembalikan energi tubuhnya yang terkuras habis.

Di ruang keluarga, Harto dan Sari saling diam, sedangkan Rara fokus pada kartun di televisi. Terus berfokus sampai dirinya menyadari kedua orangtuanya sedang tidak baik-baik saja karena terlalu diam. Gadis itu mengecilkan volume televisi kemudian menatap orang tuanya bergantian. Harto sedang bersandar dengan tangan melipat, sedangkan Sari duduk di samping suaminya itu sambil memeluk bantal.

"Apa kamu tahu sesuatu, Ra?" tanya Sari karena merasa di awasi. Tubuhnya menyesuaikan, mengambil duduk lebih tegap.

Harto menoleh, ikut penasaran dengan jawaban Rara. Tapi hanya gelengan yang di dapat.

"Awal pertemuan kakakmu dan Aditya kan pas kamu minta tanda tangan itu, kan?" Sari kembali mengingat peristiwa lama. Menerawang saat Rara merengek sampai demam.

"Aku enggak tau, tapi Aditya pernah ngirim pesan. Aku yakin sih, Aditya benar-benar serius dengan Kak Laras." Rara tidak berani menjelaskan semuanya atau orang tuanya akan marah.

Lagi pula, di sini yang menjadi masalah karena sikap Aditya terlalu bar-bar. Rara tidak tahu, kalau tahu akan seperti ini jadinya, gadis kecil itu tidak akan menjerumuskan kakaknya demi kepentingannya sendiri. "Yah, mungkin memang Aditya jodohnya Kak Laras. Tapi emang sih, caranya itu terlalu nekad."

Rara berusaha meyakinkan Harto, seakan memberi obat penenang agar tidak terlalu berpikir keras.

Harto masih diam, seperti mendengarkan namun ternyata tidak. Pikirannya masih penasaran bagaimana bisa foto itu tercipta. Mungkinkah editan atau AI? Atau Aditya memaksa Laras, lebih parahnya lagi menculik anak gadisnya. Dan terjadilah jebakan itu. Harto kembali mengingat wajah Aditya yang penuh percaya diri meminta pertanggungjawaban, anak itu bahkan tidak tahu malu memperlihatkan foto sensitif itu. Tidak takut menghadapi dirinya. Kekuasaan dibelakangnya membuat Aditya tidak takut apapun.

"Sudah malam Ra, belajar dulu sana. Jangan tidur terlalu larut." Sari mengusap kepala Rara, gadis itu mengangguk patuh.

Sejujurnya Rara merasa bersalah, tapi gadis itu tidak berani mengaku. Ayah dan ibunya pasti akan kecewa berat. Rara akhirnya membulatkan tekat akan menjadi yang terbaik dan tidak lagi merengek sebagai bentuk permintaan maaf yang tidak akan pernah dirinya ungkapkan.

"Aku ke kamar Laras dulu yah... " Sari pamit, wanita itu ingin melihat kondisi anaknya.

Sedangkan Harto mematikan televisi sebelum pergi ke kamar.

Sari membawakan Laras wedang jahe. Langkah kakinya terhenti sejenak begitu pintu terbuka, dirinya tidak bisa melihat jelas sebab kondisi kamar Laras remang-remang. Tangannya meraba tembok untuk menekan saklar, seketika lampu menyala.

Pandangannya langsung tertuju pada Laras yang tengah menelungkup. Selimut masih tertata rapi, semua berada di tempatnya masing-masing. Seakan kamar itu tidak pernah tersentuh. Terasa kosong padahal ada Laras di dalamnya.

Sari meletakan secangkir wedang jahe, kemudian menarik korden. Wanita itu duduk miring di tepi ranjang, menatap Laras yang masih tenang ditempatnya, tidak terganggu sama sekali.

Tangan Sari menjulur, menepuk-nepuk pelan punggung Laras. "Nakk."

Tidak ada pergerakan, bahkan setelah menunggu beberapa saat masih sama. Sari bangkit, tidak lagi berkata apapun. Wanita itu membiarkan Laras mengisi tenaganya. Sari memilih meninggalkan kamar Laras setelah mematikan lagi lampu utama dan menyalakan lampu tidur.

1
TSQ
Up nya 3 bab perhari kak
typ: hamba tidak sanggup ya mulia 😭
Terlalu berat untuk manusia pemalas seperti hamba.
total 1 replies
TSQ
Up
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!