Seorang pemuda bernama Wang Fei yang dianggap lemah dan tertindas berusaha mendobrak batasan dan ingin menentukan nasibnya sendiri dengan menjadi lebih kuat.
"Jika langit tidak adil dan ingin membatasi takdirku, maka aku bersumpah akan meruntuhkan langit itu.”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jin kazama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18. Memulihkan Xue Jian.
Bab 18. Memulihkan Xue Jian.
"Baiklah, Ayah juga tidak akan menutupinya darimu. Dari kabar terakhir yang aku dengar, lelang kali ini akan menghadirkan satu botol berisi setetes esensi dari binatang buas kuno berusia seribu tahun, yaitu Kirin. Rencananya aku ingin mendapatkan esensi darah itu dan memberikannya kepada Wang Fei sebagai balasan atas anugerah menyelamatkanmu."
Seketika wajah Shi Meilan dipenuhi keterkejutan.
"T-Tapi, Ayah? Dengan persaingan yang begitu ketat, bukankah nanti harganya akan sangat mahal?" tanyanya ragu-ragu.
Shi Bai Xuan hanya terkekeh.
"Mahal? Lalu kenapa jika itu mahal? Semahal apa pun benda itu, mana mungkin bisa dibandingkan dengan keselamatan putri tercintaku ini?" ucapnya.
Tangannya yang kasar kembali mengusap dengan lembut kepala sang anak.
Sejak ibunya meninggal dunia, putrinya itu sudah banyak menderita. Dia adalah satu-satunya harta yang paling berharga baginya. Dia adalah kebahagiaannya, dan dialah dunianya.
Mendengar jawaban ayahnya yang begitu tegas dan juga belaian lembut di atas kepalanya, seketika mata Shi Meilan berkaca-kaca. Di saat yang sama, hatinya juga terasa sangat hangat dan dipenuhi rasa haru.
Dia langsung berlari dan memeluk ayahnya dengan erat.
"Terima kasih, Ayah! Terima kasih!" ucapnya di sela isak tangis yang tertahan.
"Dasar gadis bodoh. Untuk apa kau mengatakan hal-hal semacam ini pada ayahmu sendiri? Sudahlah, kembalilah ke kamarmu untuk beristirahat. Dan jangan lupa beritahu si Wang Fei itu mengenai undangan makan malam, juga jangan sampai datang terlambat pada acara lelang nanti."
Shi Bai Xuan kembali mengusap kepala anaknya dengan lembut. Dia tidak menyangka waktu begitu cepat berlalu hingga bayi kecilnya yang dulu sangat cengeng dan suka minta digendong di atas bahunya sekarang sudah tumbuh besar dan cantik.
Mengusap air mata, Shi Meilan pun melepaskan pelukan dari sang ayah.
"Baik, Ayah. Tenang saja, aku pasti akan memberitahukan kabar tersebut kepada Saudara Wang Fei," ucapnya dengan suara yang tidak lagi sedih.
Justru dia terlihat bersemangat dan ada binar keceriaan yang bersinar di matanya yang jernih.
Jika saat ini Keluarga Shi sedang sibuk membicarakan bagaimana cara menyambut Wang Fei dengan baik, ketegangan justru muncul dari wilayah Gunung Utara. Lebih tepatnya wilayah kediaman Keluarga Tong.
Kediaman Keluarga Tong.
Kamar Tong Yulong.
Seorang pemuda sedang duduk bersandar santai di atas ranjangnya. Di sekitarnya ada sekitar lima wanita cantik yang bergelayut manja dengan tatapan penuh godaan kepadanya.
Ada yang memeluk dan menciumnya, ada yang menyuapi buah anggur, bahkan yang paling tidak terduga adalah ada salah satu dari mereka yang sedang berjongkok di antara kedua kakinya dengan mulut terbuka sambil menggerakkan kepala naik turun seolah sedang melakukan sesuatu dengan sangat bersemangat.
Tong Yulong yang diperlakukan seperti itu sama sekali tidak menahan diri. Dia mengerang nikmat dengan mata terpejam seolah sangat menikmati.
Pemuda itu tidak lain adalah Tong Yulong, tuan muda ketiga dari Keluarga Tong yang paling dimanja.
"Aah... enak sekali! Aah... benar begitu! Teruskan, teruskan! Ah... kamu sangat berbakat sekali, ya!" racaunya dengan suara tertahan.
Di tengah-tengah ia menikmati kesenangan, tiba-tiba ruang di sekitarnya sedikit bergetar.
Di balik bayangan, asap hitam mengepul di udara.
Tidak lama kemudian muncullah sosok pria berjubah hitam dengan aura yang sangat dalam dan terkesan misterius.
Melihat pemandangan di depan matanya, ekspresinya tetap datar tanpa emosi. Dia sudah terbiasa karena ini bukan pertama kalinya dia melihat adegan semacam ini di tempat tuan mudanya.
Tong Yulong yang melihatnya hanya tersenyum. Namun ketika dia hendak menanyakan sesuatu, sosok berjubah hitam di depannya sudah lebih dulu bersuara dengan suara yang serak, suram, dan memberikan kesan dingin yang mencekam.
Bahkan para wanita yang berada di sekeliling Tong Yulong segera beringsut ke samping dengan wajah ketakutan. Begitu juga wanita yang tadinya sedang berjongkok.
Tubuh mereka gemetar karena pria berjubah yang ada di depan mereka setiap kali datang selalu memberikan perasaan yang sangat tidak nyaman. Atau sederhananya, sosok tersebut selalu mengeluarkan aura kematian yang menyesakkan dan bisa membuat jantung siapa pun berdebar-debar.
"Tuan Muda Tong. Tiga gadis yang sebelumnya ikut dengan Anda ke Hutan Kabut telah kembali ke sekte dalam kondisi baik-baik saja."
Mendengar itu, seketika wajah Tong Yulong berubah drastis. Ada kepanikan yang terlihat dari sorot matanya, namun yang lebih besar adalah amarah, kebencian, dan niat membunuh yang langsung menguar dari dalam tubuhnya.
"Apa?! Kamu bilang Shi Meilan, Xia Qing-Qing, dan juga Mu Lingyue masih hidup? Tidak mungkin! Sebelum aku kabur meninggalkan ketiganya, aku sudah memastikan bahwa area itu sangat sepi dan tidak ada seorang pun di sana! Paman Lie, cepat selidiki sebenarnya apa yang terjadi?!" serunya dengan cepat.
"Hamba sudah menyelidikinya, Tuan Muda. Dari jejak aura yang tertinggal di sana, sepertinya mereka telah dibantu oleh seseorang yang cukup kuat. Sayangnya, hamba hanya bisa mengenali auranya. Untuk orangnya, perlu penyelidikan lebih lanjut agar dapat mengetahuinya secara menyeluruh," ucapnya.
Ya, pria berjubah hitam itu tidak lain adalah Tong Lie Hui. Sebenarnya dia adalah orang luar. Dia juga merupakan seorang kultivator bebas yang dahulu pernah diselamatkan oleh Tong Wuji saat bertarung melawan musuh.
Demi membalas budi, akhirnya dia mengucapkan kesetiaannya sampai mati kepada Keluarga Tong. Dan singkat cerita, kini dia diberi marga Tong dan menjadi penjaga bayangan bagi Tong Yulong.
"Harus diselidiki. Cepat cari tahu dengan siapa mereka semua berinteraksi akhir-akhir ini. Dan juga... jika menemukan seseorang dengan aura yang familiar seperti yang Paman katakan, segera laporkan kepadaku. Aku ingin melihat bajingan mana yang berani menggagalkan rencana tuan muda ini!" ucapnya dengan dingin.
"Baik, Tuan Muda."
Setelah mengatakan itu, sosoknya segera lenyap menjadi kabut hitam yang kemudian menghilang begitu saja seolah tak pernah ada.
Tanpa disadari oleh Wang Fei, akibat dari menyelamatkan Shi Meilan, Xia Qing-Qing, dan juga Mu Lingyue, dia telah menyinggung perasaan Tong Yulong yang angkuh dan sombong.
Apakah Wang Fei mampu bertahan? Atau... dia justru akan tenggelam dan redup di bawah badai konflik yang tengah menghampirinya?
◦◦
Malam hari.
Gubuk sederhana Wang Fei.
Setelah berkultivasi dan menstabilkan ranahnya yang sudah kokoh di puncak Pengumpulan Qi Level 2, Wang Fei pun membuka mata.
"Ranahku sudah stabil, tapi untuk menjadi lebih kuat, ranah saja masih belum cukup. Untuk meningkatkan kekuatan, maka aku juga harus memperkuat Xue Jian," gumamnya pelan.
Dari interaksi keduanya, ternyata Xue Jian bukanlah pedang patah sesederhana itu. Dulu ketika dirinya masih utuh dan belum menjadi seperti sekarang, dia merupakan senjata artefak tipe pertumbuhan yang semakin banyak digunakan untuk membunuh dan menyerap darah, maka akan menjadi semakin kuat.
Dan lagi... dari interaksi keduanya, jika dia bisa dipulihkan ke bentuk utuh, maka Xue Jian bisa membuat resonansi jiwa yang lebih kuat dengan Wang Fei yang nantinya bisa menjadi jiwa kedua baginya.
Atau lebih sederhana, dua jiwa dalam satu tubuh dengan kepribadian yang berbanding terbalik. Jika Wang Fei masih dipenuhi emosi dan belas kasih, maka Xue Jian adalah sosok dingin, gelap, kelam, dan penuh aura kematian. Dari semua itu yang paling penting adalah mereka akan bisa berkomunikasi dengan normal layaknya berbicara satu sama lain, bukan hanya memahami ungkapan yang disampaikan melalui jiwa.
Ketika mendengarnya, Wang Fei menjadi sangat bersemangat.
"Sepertinya memulihkan kondisimu ke bentuk utuh adalah situasi yang paling mendesak saat ini."
Kemudian dia melambaikan tangan, dan sebilah pedang panjang berwarna hitam pun segera keluar dari cincin ruangnya.
"WUSH!"
Seketika aura yang begitu kuat langsung menyebar ke segala arah. Tekanannya bahkan mampu membuat suhu di sekitarnya turun drastis.
"Memang layak disebut sebagai Senjata Artefak Bintang 5. Kekuatannya sungguh luar biasa," ucap Wang Fei dengan kagum.
utk itu saya uplaus satu vote