Kesialan dapat menimbulkan keajaiban??
Benarkah itu??
Kisah seorang gadis berusia 18 thn bernama Gaby Debbara Fernando, gadis yang diusir oleh ayahnya karena kesalahan yang entah apa itu. Kecelakaan yang membuatnya harus masuk rumah sakit, justru malah menimbulkan keajaiban dalam kehidupannya. Bagaimana tidak??
Kecelakaan yang dialaminya mungkin merupakan kecelakaan yang paling beruntung, sebab ia dapat bertemu dengan Ardiaz Sunjaya.
Ya...Pengusaha muda yang sukses bernama Ardiaz Sunjaya, siapa yang tidak mengenalnya. Ardiaz pria tertampan sedunia ini jatuh cinta pada seorang gadis biasa??
Begitu banyak gadis cantik dari kalangan atas, namun ia hanya jatuh cinta pada Gaby.
Penasaran dengan perjuangannya??
Langsung baca aja yak...
Jangan lupa like, vote, rate ya...
Kalo ada saran dan masukan silahkan ajukan di kolom komentar...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eka Sugairti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 18
Bel tanda pulang berbunyi, Gaby membereskan peralatan belajarnya dan beranjak dari kelasnya.
Ia tiba dihalaman sekolah berniat menunggu kedatangan Rony yang biasanya menjemputnya. Namun tiba-tiba Shany menyenggol lengan Gaby dan kembali berdebat.
"Oh maaf... aku sengaja," ucap Shany dengan tertawa puas.
Gaby hanya mengangkat alisnya dan mengabaikan Shany. Tak cukup puas dengan hanya menyenggol lengan Gaby, Shany kembali beraksi dengan mendorong punggung Gaby saat Gaby hendak pergi.
Tubuh Gaby terhuyung kedepan dan jatuh mencium tanah. Gaby menoleh kearah Shany dan Qilla yang sedang menertawakannya. Kemudian Gaby membalas perbuatan Shany dengan menjambak rambutnya.
"Kau berani mendorongku, kau juga harus berani mendapat perlawanan dariku!!" Tegas Gaby yang marah.
"Aaahh... lepaskan rambutku!!" Teriak Shany yang menahan sakit. Sementara Qilla mencoba melepaskan tangan Gaby yang menjambak Shany.
Gaby melirik tajam Qilla yang sedang berusaha menyelamatkan Shany.
"Kau juga ingin mati!!" Tegas Gaby sambil melotot tajam.
Melihat tatapan tajam Gaby, Qilla melangkah mundur dan sedikit menjauh.
"Aaah... lepaskan bodoh!!" Shany menarik rambutnya hingga beberapa helai rambutnya berhasil didapatkan Gaby.
"Kau benar-benar kurang ajar, tidak tahu malu, kau ini wanita murahan!!" Shany berteriak menghina Gaby.
"Cih, kau lebih murahan Shany. Ku dengar dulu kau merebut suami dari gubernur?" Ucap Gaby tersenyum sinis.
"Apa!? Itu tidak benar. Aku tidak pernah melakukannya!!" Bantah Shany dengan nada keras.
"Jika memang tidak, jangan pernah ganggu aku lagi. Apa kau tidak jera selama ini?" Gaby membuang rambut Shany.
"Aku tidak akan pernah berhenti sebelum kau kembali menderita!!" Jawab Shany. Qilla tercengang mendengar perkataan Shany.
"Kau tidak akan pernah bisa membuatku kembali menderita. Aku bukan gadis lemah yang bisa kau sakiti. Gaby yang dulu telah pergi, kini tujuanku hanya untuk membalas dendam!!" Tegas Gaby dengan mantap.
"Tentu saja aku bisa. Mau kau yang dulu atau yang sekarang aku akan tetap membuatmu menderitaaa!!" Teriak Shany.
Setelah ia berucap seperti itu, Shany kembali menyerang Gaby ia berniat mendorong Gaby namun seseorang menutupi tubuh Gaby dengan tubuhnya.
Serangan Shany berhasil ditahan oleh Ardiaz, Shany mengangkat kepalanya dan menatap mata Ardiaz yang sedang menatap tajam dirinya. Mimik wajah Ardiaz yang menyeramkan siap menerkam siapa saja.
Ardiaz meraih lengan Shany dan menggenggamnya erat.
"Kau masih berani menyakiti gadisku rupanya," ucap Ardiaz dengan senyum dinginnya.
"Oh tidak, tuan Ardiaz marah besar. Bisa-bisa Shany dibunuhnya," ucap salah seorang siswi yang melihatnya.
Qilla menatap sedih temannya, ia ingin sekali menolong namun Qilla tak punya keberanian.
"Ma-maaf tuan... sa-saya mohon lepaskan tangan saya..." pinta Shany terbata-bata menahan sakit ditangannya.
Gaby menatap Shany dengan iba, ia kesal dengannya namun melihat ia merintih kesakitan hatinya seakan ikut terluka.
"Haiisshh... bagaimana pun dia hanya ingin bahagia," batin Gaby menghela nafas.
"Tuan sudahlah," lerai Gaby sambil memegang tangan Ardiaz yang memegang lengan Shany.
Ardiaz menatap Gaby yang memohon padanya, ia menghela nafas dan membanting lengan Shany dengan keras.
"Jangan ganggu gadisku lagi, atau kau tidak akan selamat!!" Ancam Ardiaz sambil berbalik pergi.
Gaby melihat kearah Shany yang sedang memegang tangannya. Ia menghela nafas dan pergi mengikuti langkah Ardiaz. Qilla menghampiri Shany, ia berniat membantu Shany namun Shany menolaknya dan memarahi Qilla.
"Jangan menyentuhku, kau barusan tidak menolongku!!" Tegas Shany kepada Qilla.
"Maafkan aku Shany, aku tak bermaksud untuk tidak membantumu. Kau tau sendiri kan tuan Ardiaz sangat kejam," jawab Qilla memohon maaf.
Shany memilih untuk tidak mempedulikan Qilla dan pergi meninggalkan Qilla sendiri.
"Kenapa? Padahal dia sendiri yang membuat keributan," ucap Qilla pelan dan pergi dari kampus itu.
Sementara didalam mobil Ardiaz...
Ardiaz duduk dengan perasaan kesal dan marah, ia tak rela apabila Gaby disakiti orang lain. Justru Gaby sendiri malah mencegahnya untuk membalas orang tersebut.
Gaby masuk kedalam mobil Ardiaz, Gaby tahu Ardiaz sedang marah padanya dan juga Shany. Gaby tak berani berbicara, selang beberapa saat setelah keheningan Ardiaz membuka percakapan.
"Kenapa kau membiarkan dia tetap hidup?" Tanya Ardiaz dengan kesal.
"Seharusnya kau membiarkan saya mematahkan tangannya agar dia tidak bisa menyakitimu lagi!!" Lanjutnya.
Gaby tersenyum pahit sebelum menjawab.
"Sejahat apapun dia, dia tetap saja seorang manusia berhati lembut. Saya memang kesal dan marah padanya, tapi saya juga tidak ingin melihatnya terluka." Jawab Gaby dengan nada lirih.
Ardiaz membuang nafas secara perlahan.
"Kau ini, jika kau ingin membalas dendam kau harus berani menyakiti orang lain yang dulu menyakitimu." Ucap Ardiaz sambil melajukan mobilnya.
"Ya saya tahu... saya sedang berusaha..." jawab Gaby dengan nada lirih.
"Ternyata balas dendam tak semudah pikiranku," ucap Gaby pelan.
Ardiaz tersenyum kecil mendengar perkataan Gaby. Ardiaz mengencangkan kecepatan mobilnya. Kemudian melirik kearah Gaby yang sedang fokus melihat jalanan. Ardiaz menghentikan mobilnya tepat di pinggir jalan, lalu mendekati Gaby sementara Gaby terheran-heran mengapa Ardiaz menghentikan mobilnya dan secara tiba-tiba mendekatinya.
Jantung Gaby berdetak dengan kencang seakan-akan ingin meledak, Ardiaz terus mendekat hingga tubuh Gaby membentur pintu mobil. Ardiaz mengangkat tangannya sementara Gaby menutup matanya, Ardiaz meraih sabuk pengaman dan memakaikannya pada Gaby
Melihat Gaby yang gugup sambil menutup mata membuatnya geli hati ingin tertawa lepas.
"Kau kenapa gugup?" Tanya Ardiaz menjauhkan diri dari Gaby.
"Eh? Aku pikir tuan Ardiaz akan...," batin Gaby sambil membuka matanya dan membenarkan posisi duduknya.
"Ti-tidak tuan, saya tidak gugup." Jawab Gaby sembari menundukkan kepalanya menahan malu.
"Saya hanya ingin memasangkan sabuk pengaman, apakah saya seseram itu?" Ardiaz kembali memancing Gaby.
"Umm... tidak... saya hanya takut saja menatap tatapan tuan," jawab Gaby sambil memutar-mutar bola matanya.
"Hmm?" Ardiaz melajukan mobilnya kembali.
"Haiisss... seharusnya aku tidak terlalu percaya diri," batin Gaby menggerutu.
Beberapa menit kemudian mereka telah tiba dirumah Gaby, Ardiaz membukakan pintu mobil untuk Gaby.
"Terima kasih tuan, tuan telah menjemput saya." Ucap Gaby dengan tulus.
"Hmmm... Rony bilang kalau kau hampir ditampar wanita itu pagi tadi. Makanya saya yang menggantikan dia untuk menjemputmu," jawab Ardiaz sambil membenarkan dasinya.
"Ah baiklah, tuan...," Gaby menghentikan ucapannya dan membuat Ardiaz menunggu ia meneruskan.
"Ada apa?" Tanya Ardiaz mendekat kearah Gaby.
"Ummm... itu... ha... hati-hati dijalan tuan," lanjut Gaby dengan pipi merah merona.
"Hmmm? Kalau tidak hati-hati memangnya kenapa?" Tanya Ardiaz sambil masuk kedalam mobilnya.
"Ya, nanti tuan bisa mengalami kecelakaan." Jawab Gaby dengan nada cemas.
"Kau mendoakan saya? Agar saya kecelakaan?" Ardiaz kambali memancing emosi Gaby dengan memberi pertanyaan yang tidak masuk akal.
"Ah tuan, mana berani saya seperti itu. Saya hanya menjawab pertanyaan tuan saja," jawab Gaby dengan senyum terpaksa.
"Aaah... kok jadi begini sih!?" Batin Gaby kesal.
Ardiaz mengernyitkan dahinya.
"Baiklah," ucap Ardiaz.
"Ah!?" Gaby terkejut dengan ucapan Ardiaz, sedikit tidak terdengar oleh telinganya.
"Apa? Apa barusan?" Pikir Gaby mencoba mengingat ucapan Ardiaz.
Ardiaz melajukan kendaraannya keluar dari halaman rumah Gaby dan meninggalkan jejak penasaran dihati Gaby.
"Tadi tuan bilang apa ya?" Ucap Gaby pelan sambil berjalan masuk kedalam.