NovelToon NovelToon
Darah Di Bukit Manoreh

Darah Di Bukit Manoreh

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Istana/Kuno / Anak Genius
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Maya Melinda Damayanty

Mereka menyebutnya perempuan api dari Bukit Menoreh.
Putri seorang punggawa sakti yang tumbuh bersama pedang dan dendam.
Saat kematian ayahnya menyeretnya ke dalam pusaran perang dan kesalahpahaman, Srikandi percaya kerajaan telah mengkhianati darah ayahnya.
Namun semakin jauh ia melangkah… semakin ia sadar bahwa luka manusia tak pernah sesederhana hitam dan putih.
Terlebih ketika hatinya justru jatuh pada lelaki yang tak mungkin ia miliki.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maya Melinda Damayanty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

KI ABDA SEDAH NIRAH 4

Plak! Desirah menampar pelan pipi sang putri agar anaknya itu tersadar. Windu terkejut, ia menyentuh pipinya, walau tamparan itu tidak keras, tapi itu membuatnya sangat sakit.

"Ibunda ... Ibunda menamparku?" tanyanya dengan genangan air mata.

"Sadarlah Windu. Kau siapa dan ada di mana!" teriak Desirah tak habis pikir.

"Jika pun Ki Abda menerimamu dan melihatmu seperti ini sekarang. Ia pasti membatalkannya segera!" lanjutnya marah.

Windu menatap dirinya sendiri, lalu ia merasakan panjang rambutnya yang tergerai bebas. Di sana para prajurit, abdi dalem dan panembahan duduk bersimpuh dengan kepala tertunduk dalam.

Lalu tatapannya beralih pada sang ayah. Di sana, Pangeran Dalapati tak mau melihat putrinya. Pantangan besar bagi laki-laki memandangi tubuh perempuan walau itu putrinya sendiri.

"Kenapa kau masih berdiri di situ, Windu. Apa harus Ibunda yang menyeretmu!" teriak Desirah yang membuat semua abdi dalem takut dan duduk mengkerut.

Windu akhirnya berlari ke kamarnya, ia menangis sejadi-jadinya. Baru kali ini ia mempermalukan dirinya sendiri.

Sepeninggal Windu, Desirah langsung sujud di kaki suaminya. Ia minta ampunan sang pangeran atas kelalaiannya menjaga Windu, putri mereka.

"Ampun seribu ampun hamba Gusti Pangeran! Hamba pantas mendapat hukuman!" ujarnya dengan tangisan penyesalan.

Pangeran Dalapati memejamkan matanya, ia juga merasa bersalah atas didikannya yang terlalu memanjakan Windu.

"Sudahlah, Nyimas ...," ia menunduk dan menarik bahu istrinya yang sujud.

Bahu wanita itu berguncang akibat tangisannya. Airmatanya mengalir deras, ia benar-benar menyesal atas kejadian tadi. Pangeran Dalapati memeluk istrinya, keduanya pun bertangisan.

Waktu berlalu, pesta panen memeriahkan istana. Semua penduduk tumpah ruah, Prabu Laksa membuka lebar-lebar pintu istana. Semua rakyatnya bisa bercengkrama dengannya.

Srikandi ikut serta, ia bersama kakek dan neneknya yang renta. Di mana semua gadis berpenampilan cantik agar dilirik para prajurit atau kalau bisa para panembahan untuk dijadikan istri maupun selir.

Namun tidak untuk Srikandi, gadis itu memakai kebaya bekas milik mendiang ibunya yang sedikit lusuh. Ia sibuk melayani kakek dan neneknya menikmati hidangan istana. .

"Sugeng enjang, Sri Asih! Apa panjenengan sareng simbah?" sapa Prabu Laksa ramah.

"Ampun daulat Sri Baginda Raja! Nggeh Kula sareng Simbah!" jawab Sri Asih penuh hormat.

Raden Ajeng Windu juga ada di sana. Ia lebih banyak diam, sementara perempuan-perempuan bangsawan lainnya tengah memamerkan perhiasan dari kota.

"Windu ... Lihat ini. Ayahku membelikan satu set perhiasan kebaya dari kota. Ini emas asli!" ujar salah satu Putri bangsawan angkuh.

Windu hanya mengangguk, ia tak menanggapi sama sekali. Padahal ia juga mengenakan perhiasan yang jauh lebih mahal. Ayahnya seorang pangeran, tentu perhiasan itu buah tangan dari kerajaan lain yang bertandang sebagai tamu.

Matanya mencari keberadaan Abda. Pria itu tidak terlihat batang hidungnya sama sekali. Karena bosan, Windu berjalan menuju taman istana.

Di sanalah ia melihat Abda tengah bercengkrama dengan Sengko dan Buksa. Dua pria yang tak kalah tampannya dengan Abda.

"Ah .. Kangmas Abda lebih akrab dengan Kangmas Sengko dibanding Kangmas Buksa!' gumamnya pelan, tiba-tiba ia mendapat ide besar.

Windu mencari keberadaan ayahnya, pangeran Dalapati. Ia sangat yakin keputusannya kali ini akan membalas sakit hatinya pada pemuda yang ia gandrungi.

"Ayahanda!" Pangeran Dalapati menoleh, ada Prabu Laksa di sana.

Windu mendekati dengan wajah semringah. Tampak benar-benar kebahagiaan di sana.

"Jaga kesopananmu, Windu!" tegur Pangeran Dalapati.

"Ampun Gusti Paman Raja!" Windu hendak bersimpuh, tapi langsung dicegah oleh Prabu Laksa.

"Diterima, Nduk. Ada apa sepertinya ada kabar baik yang ingin kau sampaikan?" ujarnya penuh selidik.

"Paman Raja, Ayahanda ... Nikahkan aku dengan Kangmas Sengko!' pinta Windu penuh keyakinan.

"Apa?"

Permintaan dari bibir Raden Ayu Windu siang itu laksana petir kedua yang menyambar ketenangan Istana Kali Ireng.

Di tengah riuh rendahnya tabuhan gamelan pesta panen, waktu seolah berhenti berputar di sudut taman istana.

Prabu Laksa menahan cangkir minumannya di udara, sementara Pangeran Dalapati terbelalak, menatap putrinya dengan dahi berkerut dalam.

"Apa kau yakin Rara?" tanya Prabu Laksa lalu meletakkan cangkir tehnya.

"Yakin Paman Raja!" jawab Windu semangat.

"Apa kau mengenal Sengko?" tanya Prabu sekali lagi.

Windu terdiam, tentu ia tak mengenal siapa Sengko. Tapi semua demi balas dendam sakit hatinya, ia tetap bersikeras ingin menikah dengan Sengko.

"Baik, kalau kau bersikeras. Hari ini juga, aku nikahkan kau dengan Adipati Sengko!" ujar Prabu Laksa.

"Dimas ...," Pangeran Dalapati hendak menolak.

Prabu Laksa menepuk pelan lengan kakaknya. Ia menatap penuh arti pada Dalapati.

"Aku bersedia Paman, asal maharku satu peti emas dan sapi tiga ekor!" jawab Windu penuh keyakinan.

"Baik! Jangan kau tarik lagi kata-katamu itu, Windu!" ujar Prabu Laksa tegas.

Windu dibawa abdi dalem ke sebuah kepuntren milik pribadi Prabu Laksa. Ia akan didandani layaknya pengantin. Desirah yang tadi bercengkrama dengan para istri bangsawan dipanggil. Ia duduk bersama suaminya.

"Kangmas, ada apa? Kenapa kita di sini?" bisiknya bertanya.

"Kita akan melihat putri kita yang menghancurkan dirinya sendiri, Nyimas," jawab Pangeran Dalapati pasrah.

"Apa?"

Prabu Laksa mendatangi Sengko, ia menyuruh pria itu menyiapkan satu peti emas dan tiga ekor sapi. Tentu saja karena raja yang meminta, Sengko langsung memenuhinya.

Sengko termasuk pemuda kaya raya di kerajaan Kali Ireng. Satu-satunya pria biasa yang bisa memiliki harta berlimpah karena kecerdasannya dalam keuangan. Sawahnya ada seribu petak, kerbaunya ada dua ratus ekor dan sapi perahnya ada seratus ekor.

Sawah dan peternakan Sengko jadi tempat hidup ratusan warga bekerja. Makanya, ketika Prabu Laksa meminta satu peti emas dan tiga ekor sapi, bukan hal yang memberatkannya.

"Sengko, bersiaplah kau jadi keponakan iparku!" seru Prabu Laksa.

"Gusti Prabu?' Sengko tentu tak mengerti terlebih Abda dan Buksa.

"Kau akan menikahi keponakanku, Raden Ajeng Windu Jeninten Ireng!" ujar Prabu Laksa menggegerkan Kerajaan Kali Ireng.

Pesta pernikahan dijadikan satu dengan pesta panen. Windu terkejut dengan mahar yang ada di depan matanya. Ia tak menyangka jika Sengko dapat memenuhi keinginannya.

Setelah pernikahan mereka diberkati oleh Resi Agung Brahmana Kerajaan Kali Ireng dan Prabu Laksa.

Keduanya, duduk di singgasana. Prabu meminjamkan sebentar kursi kehormatan itu pada dua pengantin.

Wajah Sengko masih linglung, Windu juga sama. Tapi seperti kata Prabu Laksa, ia tak boleh menarik ucapannya.

Semua memberi selamat atas pernikahan keduanya. Windu dapat melihat betapa Abda begitu berbahagia melihat sahabatnya menikah.

"Selamat Adipati, kau baru saja mendapatkan berlian yang paling bersinar di Kerajaan Kali Ireng!" ujar Abda tulus.

Windu benar-benar menggali kuburannya sendiri. Mengira bisa mengatur Sengko. Tetapi, pria itu tak bisa diatur semaunya.

"Aku menghormatimu sebagai istriku, Rara. Tapi, jangan kau uji batas kesabaranku!' tekan Sengko penuh ancaman.

"Walau ayahmu seorang pangeran bahkan pamanmu raja. Aku tak mengindahkan prinsip tata krama jika kau melampaui batas!" lanjutnya tegas.

Dua minggu setelah pernikahannya dengan Sengko. Ia mendapat kabar tentang pernikahan Abda dengan perempuan desa bernama Sri Asih.

Tak ada pesta seperti pesta pernikahan dirinya. Hanya sebuah hiburan pencak silat sederhana yang dilakukan oleh Ki Abda sendiri.

Hingga satu tahun pernikahan. Windu kembali mendengar kabar, jika istri Ki Abda meninggal karena melahirkan.

Ia juga datang ke tempat hunian istri dari Ki Abda. Windu melihat kesedihan mendalam dari wajah pria idamannya. Lalu menatap bayi perempuan digendongan Ki Abda.

"Mirip sekali ayahnya?" gumamnya penuh kebencian.

Bersambung.

Oh ... Ternyata gitu toh? Kenapa Windu benci Srikandi.

Next?

1
Deyuni12
hiiii
nyi padan serem akh
lanjut
Anita Barus
windu...windu. berharalmemanasi Ki abda Ter nyata kiabda malah senang dan memberi selamat PD mempelai 🤣🤣🤣🤣🤣
Anita Barus
raja pasti akan menuruti.apa yg di mau Ki abda .
Anita Barus
maka nya dia selalu saja mengganggu Srikandi weleh. weleh
Anita Barus
oh ternyata windu sejak dulu SDH jatuh cinta PD Ki abda namun di tolak .cinta bertepuk sebelah tgn to .
Anita Barus
ada2saja si windu ini masak sama keponakan suami nya sendiri cemburu kenapa pula sambil nangis nyebut ayahanda Srikandi dsr w😄Ong edan
Anita Barus
berarti ki abda sengaja menumbal kan diri nya utk melindungi kerajaan
vania larasati
lanjut
Deyuni12
lanjutkan
Deyuni12
seruuuuu
Deyuni12
lanjutkan
vania larasati
lanjut
Eni Istiarsi
Bibi Rukmi antara kesambet atau dapet hidayah😄
vania larasati
lanjut
Deyuni12
lanjut kan
vania larasati
lanjut
Anita Barus
sesuai dgn namanya srikandi.dia pasti menemukan penghianat pengecut trsbut
Anita Barus
akan kah Srikandi menuntut balas .lanjut Thor
Anita Barus
hati Srikandi pasti hancur saat mengetahui ayah nya gugur .dan tau pasti ada penghianat didlm pasukan tersbt .apakah penghianat itu Sasongko .
Deyuni12
lanjutkan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!