Di sebuah kampung tua di pinggiran Jawa Barat, muncul teror mengerikan dari sosok makhluk yang dipercaya sebagai Jurig Jarian — hantu penghuni tempat sampah yang lahir dari kebencian, keserakahan, dan sampah manusia yang menumpuk selama puluhan tahun. Siapa pun yang membuang sesuatu sembarangan pada malam tertentu akan mendengar suara garukan dari tong sampah… sebelum akhirnya menghilang tanpa jejak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pena Lullaby, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rahasia Yang Terungkap
Suasana hutan larangan semakin senyap, menyisakan deru napas lelah dari warga yang mulai putus asa. Adrian masih terduduk lesu di atas tanah lembap, menatap kosong ke arah kegelapan kabut. Kehilangan Dinda, runtuhnya logikanya, dan ancaman gaib yang nyata membuat kepalanya serasa mau pecah.
Bagas berjalan mendekat dengan langkah gontai. Tangannya yang memegang kamera rusak milik Dinda bergetar hebat. Dia menatap Adrian dengan tatapan yang campur aduk antara sedih, marah, dan penyesalan yang mendalam.
"Yan... Aki Sukra benar. Ada hal yang masih tersimpan di antara kita. Dan itu bukan cuma soal draf proyek atau foto di laptop mu." Bagas dengan suaranya bergetar, menahan tangis yang pecah.
"Maksud mu apa, Gas? Kita udah hapus semuanya. Aku gak paham lagi kenapa Jarian masih menolak ritual tadi." Adrian mendongak pelan, wajahnya tampak kuyu.
"Kamu emang gak pernah paham, Yan! Kamu terlalu sibuk sama riset dan jurnal mu dan semua perempuan di kampus yang selalu mendekati mu! Kamu sadar gak sih, selama ini Dinda itu suka sama kamu? Dia mendendam rasa itu sendirian, bertahun-tahun!" Bagas tersenyum sinis, air matanya menetes.
"Gas! Kamu jangan ngaco di situasi kayak gini." Adrian tertegun, matanya membelalak.
"Aku gak ngaco, Adrian! Kamu inget sebulan sebelum kita berangkat KKN, waktu draf proyek Smart Trash ini pertama kali kamu ajuin ke kampus? Dinda yang paling semangat survei data lewat artikel digital, sampai dia nemu artikel lama tentang Desa Pasir Angin dan area Jarian ini. Kita pikir dia cuma ambisius buat program kerja." Bagas meninggikan suaranya.
"Minggu pertama kita sampai di desa ini, malam sebelum kita mulai bersih-bersih rumah, aku gak bisa tidur dan aku keluar duduk diteras rumah buat nyari angin. Dan kamu tahu, aku ngelihat apa, Yan? Aku ngelihat Dinda, dia jalan sendirian ke arah batas desa, nembus kegelapan menuju Jarian yang waktu itu masih penuh tumpukan sampah busuk.". Bagas menarik napas dalam-dalam, dadanya sesak mengingat sebuah rahasia yang selama ini dia kunci rapat.
Mendengar penuturan Bagas, Pak RT, Aki Sukra, dan Kang Koism langsung melangkah mendekat. Suasana di bawah beringin tua itu mendadak semakin dingin mencekam.
"Astaga... jadi Nak Dinda sudah pernah ke Jarian sendirian di malam hari?" Tanya Pak RT yang terkejut mendengar cerita Bagas.
"Benar, Pak. Saya ngikutin dia dari jauh karena takut dia kenapa-napa. Di sana, di tengah bau busuk Jarian, Dinda nangis. Dia bakar sesuatu, semacam foto Adrian dan sejumput bunga melati kering. Saya dengar dia berbisik, meminta pada kegelapan tempat itu agar ego Adrian runtuh, agar Adrian berhenti melihat perempuan lain, dan hanya melihat Dinda seorang." Bagas mengangguk lemas ke arah Pak RT.
"Gak mungkin Dinda nekat lakuin hal syirik kayak gitu, Gas." Adrian berdiri dengan tubuh gemetar, syok setengah mati.
"Dia lakuin itu karena dia putus asa, Yan! Tempat itu... Jarian, mengendus sisa hati Dinda yang kotor karena rasa iri, cemburu, dan obsesi denag mu! Makanya, waktu kamu tusuk tanah itu pakai sekop kemarin, bukan bakteri yang kamu usik, tapi ikatan perjanjian yang udah dibuat Dinda sama tempat itu! Sinta sosok kebaya yang aku temui pagi tadi, dia adalah perwujudan dari melati kering dan keinginan terselubung Dinda yang menjelma sebagai peringatan!" Bagas berteriak di depan wajah Adrian.
Aki Sukra menghela napas panjang yang terdengar sangat berat. Beliau mengelus kamera rusak milik Dinda, lalu menatap Adrian yang kini wajahnya pucat pasi, menyadari bahwa ketidakhormatan terbesar bukan datang dari teknologi yang mereka bawa, melainkan dari niat hati yang tidak bersih sejak menginjakkan kaki di desa ini.
"Gusti nu Agung... Pantas saja. Jurig Jarian itu wujud dari kelalaian manusia menjaga lingkungan, tapi dia juga hidup dari kotornya hati manusia yang datang membawa pamrih. Nak Dinda sudah menyerahkan secuil jiwanya demi egonya sendiri. Tempat itu sudah 'mencicipi' jiwanya, seperti yang dikatakan makhluk itu semalam." Aki Sukra menambahkan.
"Lalu bagaimana sekarang, Ki? Kalau begini ceritanya, hutan larangan gak akan pernah mengembalikan anak itu." Kang Kosim bertanya dengan nada gemetar.
"Penebusan ini bukan lagi tugas kami, warga desa. Penebusan ini ada pada kamu, Nak Adrian. Tanah ini meminta kejujuran. Kamu harus membersihkan hati kamu, mengakui segala kelalaian kamu yang abai pada sekitar, dan menghadapi apa yang sudah mengikat temanmu." Aki Sukra menatap Adrian dengan tajam namun penuh wejangan.
Adrian jatuh berlutut kembali di atas tanah. Air mata penyesalan akhirnya runtuh dari sepasang mata mahasiswa yang semula hanya mempercayai angka dan logika itu. Di tengah kabut hutan larangan yang semakin pekat, suara tawa melengking samar dari kejauhan kembali terdengar, seolah memanggil mereka untuk masuk lebih dalam ke sarang sang penunggu.