"Dewa Penulis... kenapa Kau bikin kami hidup, tapi gak kasih kami arti?" — Lord Valgus, Penyihir Jahat
Gue Leon, dan gue yang bikin dunia ini. Gue yang nulis siapa hidup, siapa mati, siapa kuat, siapa lemah. Tapi gue ngelakuinnya santai banget, asal ketik aja di keyboard. Buat gue, ini cuma cerita hiburan doang.
Sampai akhirnya gue malah terjebak masuk ke dalam cerita itu sendiri.
Ternyata, jadi penulis itu gak enak ya kalau ceritanya sendiri berantakan. Kerajaan megah tapi bentuknya aneh, tokoh-tokohnya punya perasaan sendiri di luar naskah, terus musuh utama malah pengen bunuh gue karena ngerasa hidupnya cuma dipermainkan.
Sekarang gue gak cuma nulis cerita lagi. Gue harus hidup di dalamnya, benerin semua kesalahan gue, dan bikin akhir cerita yang adil buat mereka... sebelum gue dihukum sama karya gue sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ananda Anggit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1. Gila! Gue masuk ke dunia sendiri.
Jam udah menunjukan pukul dua pagi, tapi matanya masih seger banget kayak baru bangun tidur. Di depan layar laptop, naskah novel berjudul Kerajaan Cahaya masih terbuka lebar. Pikirnya, jujur aja, tulisan ini berantakan banget. Gue nulisnya cuma iseng doang, nggak ada rencana, nggak ada kerangka, pokoknya jari gerak, ketik deh.
Awalnya sih pengen bikin cerita fantasi yang keren. Ada kerajaan megah, ksatria gagah, penyihir sakti, sama putri cantik. Tapi masalahnya, gue nulisnya seenak jidat. Kadang nama tokoh berubah-ubah karena lupa apa yang udah ditulis sebelumnya. Aturan sihir? Ya ampun, itu paling parah. Hari ini sihirnya butuh mantra, besoknya dia ubah jadi cukup pikiran aja, lusa malah jadi harus pegang batu khusus. Pokoknya ngawur banget deh.
Terus peta dunianya? Jangan tanya. Leon cuma nulis kalimat pendek, “di sebelah timur ada hutan lebat yang agak seram”, abis itu dia lupa ngelanjutin sisanya. Yang paling parah, sekarang Leon lagi bingung. Ceritanya udah di tengah konflik besar, penjahat utamanya, Lord Valgus, udah nyerang benteng, tapi Leon beneran nggak tau harus ngapain lagi. Alasan kenapa Valgus jahat aja lupa ditulis, jadi dia jahat cuma karena emang harus jadi penjahat aja. Batinnya, itu yang ada di otak gue.
“Ck, bosen banget,” decak Leon sambil nyender di kursi, tangannya mengusap wajah lelah. “Besok aja deh dilanjutin, otak gue udah macet.”
Waktu mau menekan tombol simpan, jarinya belum sempat nyentuh keyboard, tiba-tiba layar laptop itu berubah. Warna tulisan yang tadinya hitam di latar putih, berubah jadi menyala merah menyala, makin lama makin terang sampai bikin mata terasa perih.
“Apaan nih? Rusak ya?” Leon kaget. Mau mundur, tapi badannya terasa kaku banget.
Suara berdengung terdengar keras, kayak suara listrik yang kelebihan arus. Cahaya merah itu makin membesar, keluar dari layar dan melingkari seluruh tubuh Leon. Dia mau berteriak, mau minta tolong, tapi mulutnya kayak disumpal, suaranya nggak bisa keluar. Rasanya kayak ditarik dan disedot masuk ke dalam layar itu. Semuanya berputar kencang, kepalanya terasa pusing parah, sampai akhirnya Leon nggak ingat apa-apa lagi.
“Ugh… sakit banget…”
Leon membuka matanya perlahan. Kepalanya terasa kayak habis ditumbuk palu sepuluh kali. Badannya terasa berat, dan yang paling bikin bingung… tanah? Pikirnya, kenapa gue tidur di tanah?
Leon bangun dengan susah payah, mengusap bajunya yang penuh debu dan daun kering. Pas dia mengangkat kepala dan melihat sekeliling, mulutnya langsung terbuka lebar sampai bisa dimasuki nyamuk.
“HAH?! DI MANA INI?!”
Bukan kamar kosan yang sempit, bukan meja belajar yang berantakan, bukan apapun yang biasa dia lihat. Di depan matanya sekarang… hutan. Hutan yang sangat lebat, pohon-pohonnya tinggi menjulang, daun-daunnya berwarna aneh. ada yang biru, ada yang ungu, ada yang merah menyala. Angin berhembus membawa bau yang campur aduk, ada bau bunga, ada bau tanah basah, tapi ada juga bau yang aneh, kayak bau gula dan besi berkarat dicampur jadi satu.
“Gila… ini bukan mimpi kan?” Batinnya, sambil mencubit lengannya sendiri. “Aduh! Sakit! Berarti beneran nyata!”
Jantungnya berdegup kencang. Dia melihat bajunya, masih kaos dan celana pendek yang dipakai pas menulis tadi. Di sampingnya ada tas ransel kecil yang entah kenapa ikut ada di sana, serta sebuah buku catatan tebal bersampul hitam polos. Dia mengambil buku itu, dan pas dibuka… isinya naskah novelnya! Tulisan tangannya sendiri, semua yang diketik di laptop tadi ada di sana, tertulis rapi di atas kertas.
Pikirnya, Gue… gue masuk ke dalam cerita gue sendiri?! Suaranya teriak kaget, memantul di antara pepohonan. “Ini kan hutan yang gue tulis! ‘Di sebelah timur ada hutan lebat yang agak seram’… Ya Tuhan, gue beneran masuk ke sini!”
Belum sempat dia menenangkan diri, tiba-tiba terdengar suara langkah kaki banyak sekali dari arah depan. Ada suara orang berbicara, benturan besi, dan kuda yang meringkik. Leon panik, langsung lari bersembunyi di balik pohon besar yang kulitnya kasar.
Dari balik semak-semak keluar sekelompok orang. Ada sekitar dua puluh orang, memakai baju zirah perak yang berkilau terkena sinar matahari, membawa pedang dan tombak. Di tengahnya ada dua orang yang paling terlihat berbeda.
Yang satu laki-laki, bertubuh tinggi dan kekar, wajahnya tampan kayak aktor film. Rambutnya keemasan, matanya berwarna biru terang persis seperti yang dideskripsikan Leon: “Zarek, ksatria terkuat Kerajaan Cahaya, tampan, gagah, dan sangat pemberani.”
Di sebelahnya ada seorang gadis berambut panjang hitam, matanya biru tajam tapi lembut, mengenakan gaun biru muda sederhana tapi tetap terlihat anggun. Itu Liora, tokoh utama perempuan, putri yang memiliki kekuatan sihir cahaya.
Leon hampir berteriak kegirangan, tapi langsung menutup mulutnya rapat-rapat. Pikirnya, Itu tokoh buatan gue! Beneran ada di depan mata gue!
Tapi rasa senangnya langsung hilang seketika begitu mendengar ucapan Zarek.
“Tuan Putri, tenang saja! aku yakin kita bakal selamat sampai di istana! aku kan ksatria terkuat, nggak ada yang berani mengganggu kita!” ucap Zarek dengan nada bangga, sambil membusungkan dadanya.
Liora hanya tersenyum tipis, tapi terlihat lelah dan bingung. “Iya, Zarek. Aku tahu kamu hebat. Tapi tolong… jangan memotong jalan kita lagi ya? Tadi kita nyasar ke rawa-rawa cuma karena kamu yakin sekali arahnya ke kanan, padahal peta menunjuk ke kiri.”
Zarek menggaruk kepalanya yang tidak gatal. “Eh… masa sih? Tapi kan di tulisan penulisnya, aku dibilang ‘kuat banget tapi nggak terlalu pintar’. Ya sudah, berarti memang sudah takdir aku begini, Tuan Putri. aku kan cuma mengikuti apa yang ditulis Dewa Penulis.”
Leon di balik pohon hampir terjatuh mendengarnya. Dewa Penulis?! Mereka tahu?! Dan dia mengaku dirinya kurang pintar cuma karena Leon menulisnya begitu?!
Batinnya, Astaga… ini bahaya banget. Semua yang gue tulis asal-asalan jadi kenyataan beneran. Zarek memang kuat, tapi otaknya beneran kosong! Yang paling parah, mereka sadar kalau mereka cuma karakter cerita!
“Terus bagaimana dengan Lord Valgus?” tanya salah satu prajurit yang terlihat ketakutan. “Katanya dia sangat marah kepada Dewa Penulis. Konon… konon Dewa Penulis lupa memberikan alasan kenapa dia harus menjadi penjahat. Jadi Valgus sekarang sangat membenci, merasa hidupnya hanya dijadikan bahan hiburan saja.”
Darah Leon terasa mengalir dingin. Itu salahnya! Dia memang lupa menuliskan latar belakangnya! Pikirnya, penjahat ya penjahat saja, buat apa ribet kasih alasan. Ternyata dampaknya seberat ini!
Liora memandang sekeliling hutan dengan waspada. “Makanya kita harus segera sampai ke istana. Kabarnya di sini banyak hal aneh terjadi karena tulisan Dewa Penulis yang sering berubah-ubah. Ada wilayah yang ditulis ‘isinya apa saja’, katanya di sana bisa muncul apa saja, mulai dari binatang buas sampai kue cokelat raksasa.”
Leon memukul dahinya dengan keras. Ya ampun… kalimat itu juga tulisannya! Dia menulis itu pas lagi bingung mau mendeskripsikan apa, jadi ditulis saja “wilayah ini aneh, isinya apa saja ada”. Disangka cuma isian biasa, ternyata benar-benar jadi zona kacau!
Saat itu juga, tanah di bawah kaki rombongan itu berguncang. Semua orang terkejut dan segera bersiap mencabut senjata. Dari dalam tanah keluar uap berwarna-warni, lalu muncul… seekor naga raksasa? Bukan! Ternyata itu kue ulang tahun raksasa yang punya mata dan mulut!
“Waduh! Apaan itu?!” teriak Zarek sambil mundur, tangannya gemetar memegang pedang. “Ini monster atau makanan?!”
Wajah Liora memucat. “Itu pasti efek tulisan yang ngawur! Dewa Penulis benar-benar nggak berpikir panjang saat menciptakan tempat ini ya?!”
Kue raksasa itu berbicara dengan suara melengking, “SIAPA YANG MAU MAKAN GUE?! ATAU GUE YANG AKAN MAKAN KALIAN?!”
Semua orang panik dan berlarian. Zarek hendak menyerang, tapi malah salah langkah dan jatuh menimpa tumpukan daun kering. Para prajurit lain bingung harus berbuat apa, ada yang ingin menyerang, ada yang ingin lari menjauh.
Leon di balik pohon sudah berkeringat dingin sekujur tubuh. Ini semua ulahnya! Dunia ini jadi kacau balau karena dia menulisnya sembarangan. Karakter-karakter ini hidup, punya perasaan, dan sekarang terancam bahaya gara-gara kemalasannya berpikir.
Dia melihat buku catatan di tangannya. Di halaman terakhir ada tulisannya yang belum selesai: “Tiba-tiba muncul bahaya besar, tapi…”
Tapi apa? Dia belum sempat menulis kelanjutannya.
Pikirnya, Gue harus melakukan sesuatu. Kalau gue diam saja, mereka bisa mati beneran. Tapi kalau gue bertindak… nanti ketahuan gue siapa?
Di depan sana, kue raksasa itu mulai melangkah mendekat. Krimnya menetes ke tanah, baunya yang sangat manis terasa menyengat. Zarek baru saja bangun, mencoba terlihat berani tapi malah berteriak, “Hei! Kamu… eh… Kue Jahat! Minggir sana!”
Keadaan makin kacau. Liora hampir terkena lemparan krim yang terasa panas.
Leon menarik napas dalam-dalam. Batinnya, Gue penulisnya. Gue yang menciptakan dunia ini, jadi gue juga yang harus memperbaikinya. Meski harus menyamar, meski harus menyembunyikan identitas, gue nggak bisa membiarkan mereka celaka.
Dia menutup buku catatannya, memasukkannya ke dalam tas, lalu melihat sekeliling mencari jalan keluar dari persembunyiannya.
“Baiklah,” bisiknya sambil memandang rombongan itu yang sedang kewalahan menghadapi kue raksasa. “Petualangan dimulai. Gue harus memperbaiki semua kekacauan ini, menyelesaikan cerita yang belum selesai, dan mencari jalan pulang. Semoga saja gue nggak mati duluan atau ketahuan sebagai penulis yang ngawur ini.”
Dengan jantung yang berdebar kencang, dia mulai melangkah keluar dari balik pohon, berpura-pura menjadi orang asing yang kebetulan lewat di sana. Leon tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya, tapi satu hal yang dia yakini. hidupnya sekarang berubah total, dan dia terjebak di dalam dunia yang ditulisnya sendiri secara sembarangan.
Dan ini baru permulaan dari kekacauan yang jauh lebih besar.