Cinta Kirana, hidup dengan masa lalu yang tragis ditinggalkan orangtua. Menyisakan trauma sampai dengan ia dewasa. Siapa sangka, seorang datang mengganti luka dengan suka cita. Perbedaan usia, status sosial dan keterkaitan di masa lalu membuatnya Cinta terpuruk dan kembali terluka. Akankah Cinta bisa menerima kenyataan yang menghampiri?
===
“Namaku Cinta, banyak yang cinta udah pasti. Yakin masih mau sama aku?”
“I love you, Cinta. Sekarang, nanti dan selamanya.”
“Masa?”
“Mahameru pantang ingkar janji.”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dtyas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
9. Ulah Eru Yang ....
Bab 9
“Kita cabut,” seru Umar. “Malam cek hasil, kurangnya lanjut besok. Bawa Eru malah jadi tontonan begini.”
Asep terkekeh, Eru sudah beranjak sejak tadi menghampiri Cinta membawakan kotak berisi perangkat drone. Bahkan kunci mobil sudah di tangannya, menunggu di sana lebih baik daripada menjadi perhatian para perempuan pengunjung setu.
“Sekalian shoot host aja, si Eru hostnya dijamin rating aman,” cetus Asep sudah merapat ke mobil.
“Nggak ah, saya nggak mau terkenal lebih awal.”
“Songong,” cetus Cinta dan Eru terkikik geli mendapati gadis itu mencibir dan menatap sinis.
“Kemana kita, pak?” tanya driver campervan pada Umar.
“Hotel, rehat dulu. Ta, hotelnya di mana?” teriak Umar. Cinta masih mengoceh pada Eru sedangkan Asep merokok agak menjauh dari mobil.
“Hotel X, udah dibooking kantor. Nggak usah ngarep berbintang ya,” jelas Cinta. “Kang Asep, buruan. Aku udah gerah, laper pula.”
“Bawel maneh.”
“Apa, bawal? Aku nggak suka ikan bawal.”
“Bol0t, budek,” sahut Asep berteriak tidak jauh dari telinga Cinta saat gadis itu akan masuk ke mobil.
Eru sudah berada di dalam mobil fokus dengan ponselnya.
...Mami_Maura...
Sibuk ya? Kok, nggak ada kabar
^^^Baru beres mih, otw hotel^^^
Hm, istirahat. Jangan telat makan loh
^^^Iya^^^
Beralih ke grup keluarganya.
...Arkatama family...
Krisna : Ini nggak ada kelanjutanya
Meilan : Kelanjutan apa?
Samudera A. : Yang lagi jatuh cinta, gimana Ru? Krisna udah ngantongin info itu cewek. Mau di prospek sama si duda🤣
Langit : Astaga, kayak nggak ada cewek lain pake rebutan gitu
Bunda Indri : Krisna kenapa?
Krisna : gpp bun
Samudera A.: Mau nikung Eru. Parah lo, tega sama sepupu sendiri 🤭
Eru_Kerenz : Apaan sih. Jangan aneh-aneh om Kris😏
Krisna : Cantik Ru, gemesin
Eru_Kerenz : Ganti topik, para pengusaha kok gibahin anak gadis orang. kayak lagi gabut aja
Krisna : Gue lagi di Bandung, merapat ah Ke Cirebon
Eru_Kerenz : Nggak usah aneh-aneh, kalau mau mobilmu aman
Memasuki area hotel, kedua mobil parkir bersisian. Campervan memposisikan yang terlihat jelas dengan CCTV. Cinta turun lebih dulu membawa zipper bag menuju resepsionis.
Asep kembali menyulut rokoknya bersandar pada badan mobil. Eru berjongkok tidak jauh, fokus dengan ponselnya melihat isi galeri. Foto-foto kegiatan hari ini, bahkan ia men zoom foto seseorang, foto Cinta. Tanpa ia tahu, Asep sempat melirik dan melihat hal itu.
“Ru!”
“Iya,” sahut Eru lalu berdiri dan ikut bersandar pada mobil.
“Lo nggak rokok?”
“Paling vape, itu juga jarang.”
“Kalau lagi stress doang?” tanya Asep lagi dijawab dengan anggukan. “Hidup sehat.”
“Saya ada alergi makanan dan hal lain. Kadang hal baru dan entah apa tiba-tiba tubuh menolak. Jadi, kalau nggak hati-hati yang rasakan susah ya saya sendiri.”
“Udah ada pacar?” tanya Asep lagi kali ini dijawab dengan gelengan. “Nggak percaya gue. Tampang kayak elo nggak ada pacar. Tiap tikungan ada pun, nggak akan protes mereka.”
“Serius kang. Justru saya nggak mau pacaran dulu ya gitu. Nggak direspon aja ada yang ngaku pacar apalagi saya respon.”
“Temen gue, hati-hati lo terpesona sama tingkahnya,” jelas Asep lalu membuang puntung rokok dan menginjaknya.
“CInta?”
“Ya, iya, siapa lagi. Udah banyak yang suka tapi kecewa.” Asep menepuk bahu Eru mengajaknya ke lobby.
Cinta memegang 3 kunci kamar, mendengarkan arahan Umar untuk pembagiannya.
“Mas Abil sama mas driver,” seru gadis itu menyerahkan satu kunci. “Satu lagi bang Umar, satu lagi aku.”
“Gue sama siapa Ta?”
“Di pos satpam aja, kebagusan tidur di kamar,” ujar CInta dan Asep langsung menghampiri menarik ujung rambut membuatnya menjerit. “Awas, pembalasanku akan lebih kejam.”
“Tas mau diturunin semua mbak?” tanya Eru menghentikan candaan itu. Ia tidak terlalu suka ulah Cinta yang terlalu physical touch.
“Iya.”
Berharap pertanyaannya mengalihkan perhatian Cinta. Benar saja, gadis itu mengekor langkahnya kembali ke parkiran. Meminta bantuan petugas hotel membawakan bawaan milik Umar dan Asep. Eru memakai ransel miliknya di punggung lalu menggantung ransel biru milik Cinta di bahu sebelah kanan.
“Eh, biar aku aja,” seru Cinta, tangannya terulur hendak mengambil ransel satunya, tapi gerakan Eru lebih cepat meraih tas itu dan tangan kirinya meraih tangan Cinta yang langsung digenggam dan pandangan mereka saling tatap.
“Mas Abil sama driver, Bang Umar bareng Kang Asep. Berarti kita satu kamar dong.”
“Hah, ngaco kamu. Me-sum kayak isi kepalanya Kang Asep.” Cinta sudah siap ingin menghajar Eru, tapi tangannya masih digenggam Eru yang terkekeh. “Lepas nggak?”
“Iya bener dong, masa saya di mobil. Buka kamar lagi nggak mungkin. Lagian kang Asep bilang kamu bukan perempuan.”
“Ngaco.” Tangan Cinta satunya berhasil terayun memukul lengan Eru.
“Beraninya pake tangan.”
“Terus, pake apaan. Kaki?”
“Bibir mbak,” cetus Eru lalu menyerahkan ransel coklat milik CInta, sedangkan yang satunya dibawa olehnya.
“Eru!” teriak CInta. Yang dipanggil acuh saja menutup bagasi dan menekan sensor mengunci pintu. “Ih bener ya nie orang. Diem-diem, sekalinya ngomong bikin merinding,” tutur Cinta mengekor langkah Eru. Bahkan sampai lobby masih saja mengoceh.
“Apaan lagi ini,” keluh Asep melihat kedatangan pasangan itu.
Umar dan Abil berdiri di depan lift, ikut menoleh.
“Mbak CInta ngajak aku sekamar sama dia kang, gimana dong?”
“Heh, mulut. Hoax itu.” Cinta mengejar Eru, tanpa diduga pria itu malah merangkul bahunya.
“Berisik mbak.”
Lebih berisik isi kepala aku sih, batin Eru. Bibirnya tersenyum, berhasil membuat Cinta tidak berkutik.
“Bang, bahaya nie anak berdua,” pekik Asep sambil menggeleng. “Cocok kalian. Botol kecap sama botol yakult.”
Cinta hendak menoleh dan memberi pelajaran pada mulut Asep, tapi rangkulan Eru cukup erat sulit untuknya bergerak. “Lepas, Ru!”
“Nanti di kamar.”
“Eh!”
egoisnya akbar hanya mementingkan ke baikan keluarganya sendiri. tanpa memikirkan orang lain.😤
siap2 reaksi cinta nrma ga ya kenyataan
kamu dah di kasih tau sama mamih kan dan di wanti² tentang gosip tidak enak nah ini maksudnya
harusnya kamu dukung dan restuin agar cinta dapet keluarga baru dari pihak keluarga laki². lah ini aneh² aja 😏
takut nama keluarga tercoreng,takut ini takut itu..
Takut saham hancur dan turun lebih pastinya..
tapi nggak mikir gimana cinta tidak mendapat keadilan untuk orang tuanya...
Perselisihan dan perpisahan pasti ada,tapi aku yakin cinta Eru itu tulus dan kuat.
lama lama Cinta juga akan luluh dan memaafkan Eru..
lagian bukan eru yang menabrak,mereka sama sama korban juga