Kedatangan murid baru di SMA Adiwijaya langsung jadi perbincangan hangat. Kabar bahwa anak pemilik sekolah ikut pindah di hari yang sama, membuat suasana sekolah makin ramai dan penuh teka-teki.
Sekelompok murid berpengaruh berambisi mencari siapa sosok pewaris asli yang disembunyikan. Siapa pun yang dianggap mengganggu atau tidak pantas, akan mereka singkirkan tanpa ampun.
Naysilla, gadis pindahan yang polos dan tak paham aturan keras di sana, tiba-tiba jadi sasaran utama kecemburuan dan perundungan. Di saat ia dikucilkan, disudutkan, dan tak ada satu pun yang berani mendekat, selalu ada satu sosok yang diam-diam hadir.
Raynor Mohan, cowok berkacamata yang penampilannya sederhana, pemalu, dan selalu dipandang sebelah mata oleh semua orang. Namun bagi Naysilla, sosok itulah satu-satunya tempat aman untuk pulang. Di balik sikapnya yang cupu, Naysilla perlahan menemukan sisi lain yang hanya ia bisa lihat sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon arina_ar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29.
Naysilla terdiam sejenak, mencerna emosi dan perasaan asing yang tiba-tiba hadir. Setelah meneguk minuman itu hingga tandas, rasa pahit menyebar cepat di lidahnya.
Ia mengangkat kepala, tapi dunia di depannya tiba-tiba berputar searah. Dinding, sosok pria-pria di sekitarnya, bahkan bayangan Satria yang berdiri jauh, semuanya jadi kabur, bergabung satu sama lain seperti cat yang dicampur.
"Kak Satria..." suaranya parau, terpotong-potong.
Tubuhnya tiba-tiba terasa lemah sekali, kaki tak bisa menopang bobot, tangan tergantung lemas. ia coba berdiri, tapi tubuhnya malah terasa tertarik ke bawah, seolah ada tarikan yang kuat menariknya ke dalam kegelapan.
Sebelum kesadaran benar-benar hilang, ia melihat bayangan Satria yang berjalan cepat mendekatinya. Wajahnya terlihat cemas, rahang mengeras, tapi Naysilla tak sempat menangkap apa yang ia ucapkan.
Lalu, segalanya hilang.
...****************...
Kesadaran kembali perlahan, tapi kepalanya terasa seperti ditindih batu besar. Pandangannya kabur, tapi sudah bisa merasakan lantai kasar dan berdebu di punggungnya.
Bau lembap, jamur, dan sesuatu yang tidak sedap memenuhi hidungnya. Ia mencoba membuka mata lebih lebar, dan jantungnya terus berdegup kencang.
"Ini di mana...?" ucapnya lirih, terdengar seperti suara rintihan yang tertahan. Matanya melayang gelisah, menatap ruangan tua yang gelap, berdebu dan terasa sangat pengap.
Rasa takut segera menyergapnya saat sadar dirinya dikelilingi beberapa sosok pria asing. Tatapan mereka liar dan rakus, membuat bulu kuduk meremang seketika.
"Sudah bangun ya, sayang?" sapa salah satu dari mereka dengan nada menjijikkan, lalu melangkah mendekat dengan senyum penuh nafsu.
Naysilla beringsut mundur, tangannya mendekap lumutnya sendiri, melindungi diri. Dengan tubuh gemetar hebat ia berusaha berdiri, namun kakinya terasa lemas tak bertenaga hingga ambruk kembali ke lantai.
"Aaaah… Ja‑jangan… Jangan sentuh…!" pekiknya memecah keheningan, saat sepasang tangan kasar menyergap pergelangan kakinya lalu merambat naik perlahan, mengusap paha indah yang terbalut seragam sekolah.
"Kenapa sayang, lo suka hmm?" ejek pria itu makin bergairah. Semakin gadis itu menunjukkan ketakutan, semakin terpuaskan hatinya. Jemarinya tak berhenti menyentuh kulit halusnya, matanya menyala dengan napas memburu penuh nafsu.
"Cepatan dong, jangan lama‑lama! Atau biar giliran gue duluan!" protes salah satu temannya tak sabar.
"Diam! Berisik... Mundur kalian semua! Gue mau bersenang‑senang, mau berdua dulu sama gadis manis ini," bentak pria yang terlihat memimpin, lalu kembali menatap Naysilla dengan senyum yang lembut namun mengerikan.
"Jangan menangis, sayang… Abang janji bakal lakuin dengan lembut," bisiknya lirih, namun kalimat itu justru terasa seperti kutukan bagi Naysilla.
Tangannya perlahan merayap naik semakin dekat. Naysilla ingin melawan, ingin berteriak sekuat tenaga, namun tubuhnya seolah lumpuh, dikuasai rasa takut dan sisa pengaruh obat yang masih melemahkan.
Namun tepat saat itu, sebuah bentakan keras dan menggelegar membelah suasana.
“JAUHI DIA!”
Satria berdiri tegak di ambang pintu, sosoknya menjulang gagah bak benteng pelindung.
Di tangannya tergenggam erat sebuah pistol Glock 17 berwarna hitam metalik, logamnya memantulkan kilatan cahaya remang yang terasa menusuk dingin. Wajahnya pucat pasi, namun di balik rahang yang mengeras itu menyala amarah yang meluap membara.
Dalam relung hatinya, sesal menggulung hebat bagai ombak yang tak tertahan. Ia menyesal telah tunduk pada perintah Jessy, ia tak sanggup menyaksikan gadis yang diam‑diam menghuni hatinya itu meringkuk ketakutan, dan sialnya dialah yang menjadi awal dari bencana ini.
Benar, ia yang menjebak Naysilla, terpaksa, karena Jessy mengancam keselamatan orang yang berharga baginya. Namun di detik ini, rasa rindu dan cinta yang mulai tumbuh diam-diam, meletus lebih dahsyat daripada segala ketakutan akan ancaman.
Ia takkan membiarkan gadis itu ternoda dan direnggut kehormatannya, walau harus mempertaruhkan nyawanya sendiri.
Dor...!
Satu peluru melesat jauh, memecah keheningan dan memicu keributan seketika. Satria memasang sikap siaga, ketika beberapa pria berwajah garang bermunculan dengan raut murka membara.
“Kurang ajar…!” geram pria di samping Naysilla. Ia melepaskan cengkeramannya, lantas menatap tajam ke arah pemuda yang kini menggenggam erat pistol di tangannya.
“Cepat lari…” ucap Satria dengan nada menekan, tegas namun tak menyembunyikan kepeduliannya. Ia tetap berdiri kokoh bagai perisai di hadapan mereka. “Pergi, Nay! Lari selagi masih ada kesempatan!”
“Kak Satria…” bisik Naysilla lirih, terkejut dan bingung di tengah keadaan.
Jantungnya berpacu cepat, ia berlari dengan kaki tersendat‑sendat. Langkahnya terasa berat, dan berkali‑kali matanya melirik ke belakang, ke arah Satria yang kini mulai dikepung bahaya.
“Tuhan… selamatkan lah orang baik itu. Dan semoga siapa pun yang menjebak ku di sini, kejahatannya segera terungkap…” do'anya dalam hati, di akhiri setetes air mata yang jatuh membasahi tanah di bawah kakinya.
Sekali lagi ia menoleh, seolah ingin mengabadikan sosok itu dalam ingatan dan ponsel miliknya, sebagai bukti terakhir sebelum benar‑benar melarikan diri.
Begitu melangkah keluar, gerimis kecil menyambutnya. Tak ada waktu untuk berteduh, ia menerobos rintik hujan dengan sisa tenaga yang ada. Terus berlari hingga akhirnya menemukan kembali pintu rahasia yang menembus celah dinding tebal.
Suara guntur bergemuruh perlahan, cahaya senja mulai memudar, sementara hujan turun semakin deras dibawa hembusan angin kencang.
Kakinya dipaksa terus melangkah meski rasa lelah mulai menjalar ke seluruh tubuhnya. Melewati deretan ruangan kosong , matanya terpaku, di ujung lorong itu, ruang UKS terbengkalai terlihat menyala terang, tempat dimana ia pernah berlindung di dalamnya.
Hatinya langsung tertuju pada satu nama. Langkahnya terasa lebih ringan, seolah menemukan tempat pulang yang selama ini memberinya rasa aman. Namun, semakin dekat ia mendekat, rasa tenang itu perlahan berubah menjadi ancaman yang jauh lebih menyakitkan.
Tawa seorang perempuan terdengar samar, membuatnya terkejut. Ia melangkah lebih hati‑hati, meredam setiap bunyi langkah, mendekat dengan perasaan was‑was yang memuncak.
“Mohan… jangan…”
“Diam!”
“Tapi, aaah… Sakit Mohan, pelan-pelan"
“Cantik, gue suka"
Deg!
Naysilla segera membekap mulutnya rapat‑rapat. Suara itu, ia sangat mengenalinya. Dan kalimat‑kalimat itu menusuk hatinya laksana belati tajam yang merobek hingga ke dasar jiwa.
Kakinya lemas seketika, nyeri menyergap dadanya. Dengan mata terpejam sesaat menahan tangis, ia memberanikan diri mengintip lewat celah jendela.
"Ya Tuhan... Momon..."
Hanya tiga detik saja… tapi itu sudah cukup untuk membuat dunianya hancur, hatinya remuk seketika.
cupu tuh apaan ?