"Sialan! Kenapa transmigrasiku tidak memberiku kekuatan super?!"
Ye Xuan adalah seorang pemuda dari Bumi yang terbangun di Benua Sembilan Cakrawala, sebuah dunia di mana para kultivator bisa membelah lautan dengan satu tebasan pedang. Sialnya, ia menempati tubuh seorang Tuan Muda Klan Ye yang dibuang karena tidak memiliki bakat kultivasi sedikit pun.
Tanpa energi spiritual, tanpa sistem bela diri, Ye Xuan terpaksa hidup terasing di sebuah puncak gunung terpencil. Untuk bertahan hidup, ia hanya bisa berkebun ubi, menyapu halaman, dan memancing di kolam belakang gubuknya.
Namun, yang tidak Ye Xuan sadari adalah:
Air bekas cucian ubi yang ia buang sebenarnya adalah Cairan Kehidupan Abadi yang diperebutkan para Kaisar.
Sapu lidi tua miliknya adalah Senjata Pemusnah Dao yang ditakuti seluruh iblis.
Dan ubi bakar yang ia anggap "makanan rakyat jelata" sebenarnya adalah Obat Dewa yang bisa membuat seseorang menerobos ranah dalam semalam!
Ketika para dewi sekte suci d
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon WANA SEBAYA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 18: DISRUPSI PASAR DAN KANGKUNG "GHOST KITCHEN
"
Setelah kebunnya kembali bersih (berkat tenaga kerja naga dan ribuan kultivator), Ye Xuan menatap tumpukan sisa kangkung "ukuran normal" yang tidak sempat ditebang massa.
"Terlalu banyak kangkung. Kalau dibiarkan, ini akan layu dan jadi sampah," gumam Ye Xuan. Ia menatap Ao Guang yang sedang menyapu lantai dengan lesu. "Pak Tua, ayo ikut aku ke pasar kota terdekat. Kita akan menjual ini. Tapi ingat, jangan pakai baju emas norak itu, pakai baju kuli saja."
Ao Guang, Sang Naga Langit yang biasanya dipuja dengan persembahan permata, kini harus memikul dua keranjang besar kangkung sambil mengenakan kaos singlet kain kasar. "Baik, Senior... tapi apakah kita tidak akan rugi menjual harta karun ini di pasar biasa?"
"Harta karun matamu! Ini sayur!" potong Ye Xuan tegas.
Sesampainya di Kota Angin Sepoi, Ye Xuan tidak langsung menggelar lapak. Ia melihat pasar tradisional sangat penuh sesak dan tidak efisien. Pemikirannya sebagai orang modern muncul.
"Pak Tua, kita tidak akan jualan di sini. Kita akan pakai sistem 'Lapak Bayangan'," ucap Ye Xuan dengan mata berbinar konyol.
Ye Xuan menyewa sebuah gudang tua yang terpencil di gang sempit. Ia kemudian menyuruh Ao Guang menyebarkan brosur yang ditulis tangan di atas daun ubi:
"Kangkung Eksklusif Puncak Awan. Hanya untuk yang memiliki 'Kartu Member Daun Pisang'. Lokasi dirahasiakan, silakan ikuti aroma tumisan."
Para kultivator di kota itu awalnya bingung, tapi aroma kangkung yang mulai ditumis Ye Xuan di dalam gudang (sebagai sampel) menyebar hingga puluhan kilometer. Aroma itu mengandung energi wood element yang begitu murni hingga membuat para ahli alkimia di kota itu berlarian keluar rumah sambil membawa kantong uang.
"Saya mau satu ikat! Ini seratus batu spiritual!" teriak seorang saudagar kaya yang berhasil menemukan gudang Ye Xuan.
Ye Xuan menggeleng tegas, wajahnya tampak seperti CEO startup yang sedang pitching. "Maaf, Tuan. Di sini kami tidak menerima uang tunai batu spiritual secara langsung untuk pembelian eceran. Anda harus membeli 'Voucher Ubi' terlebih dahulu. Satu voucher berlaku untuk tiga helai daun."
"Voucher? Apa itu?" tanya massa bingung.
"Ini adalah inovasi finansial!" seru Ye Xuan konyol sambil menunjukkan potongan bambu kecil yang ia beri stempel jempolnya. "Dengan voucher ini, Anda tidak perlu membawa batu spiritual berat-berat. Cukup tunjukkan bambu ini, dan kangkung akan dikirim ke rumah Anda oleh... ehem, kurir naga kami."
Ao Guang melotot. Kurir naga?! Aku?!
Dalam hitungan jam, seluruh batu spiritual di Kota Angin Sepoi berpindah ke tangan Ye Xuan karena semua orang berebut membeli "Voucher Bambu". Akibatnya, mata uang resmi kekaisaran mendadak tidak laku. Orang-orang lebih memilih memegang bambu stempel jempol Ye Xuan daripada emas.
"Senior, ekonomi kota ini lumpuh!" lapor Ao Guang panik melihat pasar tradisional tutup karena pedagang daging pun hanya mau dibayar pakai kangkung atau voucher bambu. "Harga kangkung sekarang lebih mahal dari harga satu set zirah tempur tingkat tinggi!"
Kekacauan ini memicu kedatangan Gubernur Kota, seorang pria gemuk yang juga seorang kultivator tingkat Nascent Soul. Ia datang dengan pasukan penuh untuk menyegel gudang Ye Xuan.
"Siapa yang berani mengacaukan nilai tukar mata uang kekaisaran dengan potongan bambu?!" teriak Gubernur sambil mendobrak pintu gudang.
Ye Xuan yang sedang asyik menghitung batu spiritual (dan bingung kenapa jumlahnya banyak sekali) langsung pucat. "Waduh! Satpol PP dunia ini galak sekali!"
Ye Xuan dengan konyol langsung menyodorkan seikat kangkung yang sudah matang ke mulut Gubernur yang sedang berteriak. "Anu... Pak Pejabat, makan dulu. Jangan marah-marah, nanti darah tinggi."
Gubernur itu secara refleks mengunyah. Matanya mendadak melotot. Energi di dalam tubuhnya yang selama ini tersumbat karena terlalu banyak makan lemak babi, tiba-tiba mengalir lancar. Lemak di perutnya menyusut, dan rambut botaknya mulai tumbuh dalam hitungan detik.
"Ini... ini bukan sekadar sayur!" Gubernur itu jatuh berlutut, air matanya membasahi kangkung Ye Xuan. "Ini adalah Solusi Kesehatan Nasional! Senior, lupakan soal hukum! Bisakah kita bekerja sama? Saya akan jadikan kangkung ini sebagai cadangan devisa negara!"
Ye Xuan menggaruk kepalanya, menatap Ao Guang yang juga bingung. "Cadangan devisa? Pak Pejabat, saya cuma mau jualan sayur buat beli sabun cuci baju. Kenapa urusannya jadi sampai ke negara?"
Malam itu, Ye Xuan pulang dengan gerobak yang penuh dengan sabun cuci terbaik, baju baru, dan ribuan batu spiritual yang ia gunakan sebagai "pengganjal pintu" karena jumlahnya terlalu banyak.
"Hah... jualan pakai sistem modern ternyata melelahkan," keluh Ye Xuan. "Pak Tua, besok jangan jualan lagi. Terlalu banyak orang yang menangis setelah makan kangkung, aku jadi merasa seperti penjual bawang."
Ao Guang menatap tuannya dengan takjub. Hanya dalam satu sore, dia menghancurkan ekonomi satu kota dan menggantinya dengan sistem 'Bambu Digital'. Jika ini bukan Dewa Keuangan, lalu apa lagi?
Namun, di kegelapan malam, seorang mata-mata dari Sekte Akuntansi Langit sedang mengamati dari jauh. "Voucher Bambu itu... mengandung kode formasi yang tidak bisa dipalsukan. Kita harus mencuri teknologi 'Blockchain Bambu' milik pemuda itu!"