NovelToon NovelToon
DARI TUKANG PAKIR HINGGA LEGENDA

DARI TUKANG PAKIR HINGGA LEGENDA

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Crazy Rich/Konglomerat / Dunia Masa Depan
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Tri Wahyuni92

tepat di depan sebuah pusat perbelanjaan besar, berdiri seorang pemuda berusia sekitar dua puluh tahun.
Tubuhnya ramping, kulitnya agak gelap karena sering terpapar sinar matahari, namun sorot matanya memancarkan keteguhan yang jarang dimiliki anak-anak muda seusianya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tri Wahyuni92, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13: Menanam Akar Semakin Dalam

Matahari pagi bersinar lembut menembus celah-celah kaca besar di ruang kerja utama gedung pusat PT Raka Karya Utama. Ruangan itu luas, beraroma kayu jati yang harum, dan tertata dengan kesederhanaan yang mewah. Di dinding utamanya, tergantung sebuah lukisan besar yang sangat berharga. Bukan lukisan pemandangan indah atau kemegahan gedung pencakar langit, melainkan lukisan sketsa sederhana:

seorang pemuda muda dengan baju yang agak lusuh, berdiri di pinggir jalan berdebu, tangan kanannya memberi isyarat mengatur kendaraan, sementara di wajahnya terpahat senyum penuh harapan dan ketegasan. Itu adalah Raka, sang pendiri, saat berada di titik paling bawah dalam hidupnya. Dan di bawah lukisan itu, tertulis kalimat emas yang menjadi nyawa bagi seluruh perusahaan ini:

 "Dari debu kita bangkit, dengan kejujuran kita bertahan, dan dengan kebaikan kita mewarisi masa depan."

Di balik meja kerja besar itu, kini duduk Rian, putra tunggal Raka, penerus tunggal obor perjuangan itu. Usianya kini menginjak tiga puluh lima tahun. Rian mewarisi wajah ayahnya: rahang tegas, sorot mata tajam namun lembut, dan senyum yang selalu menenangkan hati siapa saja yang melihatnya. Namun, ada satu hal yang membedakan Rian dari Raka. Jika ayahnya dibentuk oleh pukulan keras kehidupan, oleh panas dan hujan di jalanan, oleh rasa lapar dan ejekan orang lain, maka Rian dibentuk oleh pendidikan tinggi, pergaulan luas, serta didikan ketat namun penuh kasih sayang dari kedua orang tuanya. Ia lahir saat nama Raka mulai dikenal, tumbuh saat kekayaan mulai mengalir, dan dewasa saat kerajaan bisnis itu mulai kokoh berdiri.

Namun, Rian sadar betul akan satu kebenaran pahit: menjadi penerus jauh lebih sulit daripada menjadi pendiri.

Raka membangun kerajaan ini dari nol. Ia tidak punya apa-apa untuk dikhawatirkan hilang, tidak ada beban ekspektasi yang berat, dan ia bergerak dengan insting yang diasah oleh perjuangan hidup. Sedangkan Rian? Ia mewarisi nama besar yang disegani, kekayaan yang melimpah, dan kepercayaan jutaan orang. Tapi ia juga mewarisi beban pertanyaan besar yang selalu ada di udara:

 "Apakah Rian sehebat ayahnya? Apakah ia mampu menjaga apa yang sudah dibangun dengan keringat dan air mata itu? Atau apakah ia hanya akan menjadi anak orang kaya yang membiarkan warisan itu runtuh perlahan?"

Pagi itu, Rian sedang menatap dokumen tebal di hadapannya. Itu adalah laporan hasil evaluasi satu tahun pertama kepemimpinannya. Secara angka, semuanya terlihat indah. Keuntungan meningkat dua puluh persen, jumlah proyek bertambah, dan jaringan bisnis mulai merambah hingga ke luar batas negara. Namun, Rian bukanlah pemimpin yang hanya melihat angka. Ia mewarisi ketelitian dan kepekaan hati ayahnya, serta kecermatan ibunya, Sari. Di balik angka-angka hijau yang menggembirakan itu, ia melihat tanda-tanda kecil yang mengkhawatirkan.

Ada laporan dari tim pengawas kualitas yang menyebutkan bahwa di beberapa proyek cabang, mulai muncul kelalaian kecil dalam pemilihan bahan baku. Bukan sampai membahayakan keselamatan, tapi kualitasnya sedikit diturunkan dari spesifikasi yang seharusnya, semata-mata untuk memangkas biaya dan memperbesar keuntungan sesaat. Ada juga laporan dari bagian sosial, yang menyebutkan bahwa anggaran bantuan untuk warga sekitar proyek mulai dipersempit dengan alasan "efisiensi". Dan yang paling membuat dada Rian sesak, ada catatan bahwa beberapa manajer di tingkat menengah mulai merasa bangga, berbicara dengan nada tinggi kepada mitra kerja kecil, dan menganggap nama besar perusahaan ini adalah hak mutlak mereka untuk diandalkan.

Rian menghela napas panjang, lalu bangkit dari kursinya. Ia berjalan mendekati jendela kaca yang menghadap ke luar. Dari ketinggian puluhan lantai, ia bisa melihat hamparan kota yang luas, gedung-gedung tinggi yang sebagian besar dibangun oleh perusahaan ayahnya, jalan-jalan raya mulus, taman-taman indah, dan di kejauhan, samar terlihat patung perunggu sang Ayah yang berdiri kokoh di tengah alun-alun kota.

"Ayah dulu membangun semua ini bukan untuk kemegahan bangunan,"

batin Rian berbicara dalam hati, seolah-olah ayahnya masih ada di sana dan bisa mendengarnya.

"Beliau membangun ini untuk mengubah hidup manusia, untuk membuktikan bahwa cara berbuat baik itu ada, dan untuk menjadi tempat berlindung bagi mereka yang lemah. Tapi sekarang, aku melihat bibit-bibit keserakahan dan kesombongan mulai tumbuh di dalam tubuh perusahaan ini. Jika aku membiarkannya, perlahan tapi pasti, nilai-nilai yang menjadi fondasi kita akan hancur, meski gedung-gedungnya tetap berdiri megah."

Pintu ruang kerjanya diketuk pelan. Tanpa menunggu jawaban, pintu itu terbuka perlahan, dan tampaklah sosok wanita tua yang berjalan dengan tenang namun penuh wibawa. Itu adalah Sari, ibunya. Meski rambutnya kini sudah memutih seluruhnya dan langkahnya sedikit melambat dimakan usia, Sari masih menjadi wanita paling dihormati di seluruh lingkungan PT Raka Karya Utama. Kehadirannya saja sudah cukup untuk membuat suasana menjadi hening dan penuh rasa hormat. Di tangannya, Sari membawa sebuah buku jilid kulit tua, sudah agak kusam di bagian ujung-ujungnya, namun dijaga sangat rapi. Itu adalah buku harian pribadi Raka, yang tidak pernah lepas dari genggaman Sari sejak suaminya berpulang.

"Ibu," sapa Rian lembut, segera berjalan menyambut ibunya dan menuntunnya duduk di sofa sudut ruangan. "Kok Ibu datang ke sini pagi-pagi? Biasanya Ibu masih di taman."

Sari tersenyum, senyum yang sama persis seperti dulu, yang selalu mampu menenangkan Raka di saat-saat terberatnya. Ia menatap wajah putranya lekat-lekat, seolah bisa membaca setiap beban yang sedang dipikul anaknya hanya dari sorot matanya saja.

"Aku bermimpi semalam, Nak," ucap Sari dengan suara lembut namun jelas. "Aku bermimpi Ayahmu datang. Beliau tidak membawa pesan panjang, hanya berkata satu kalimat saja:

'Rumah yang paling megah pun akan rubuh jika pondasinya digerogoti rayap, bukan karena gempa atau badai.'

Lalu aku terbangun, dan aku merasa harus datang ke sini. Aku tahu, ada sesuatu yang sedang memberatkan hatimu hari ini."

Mata Rian seketika menjadi berair. Begitu dalamnya pemahaman ibunya, begitu peka hatinya. Rian mengangguk pelan, lalu kembali duduk di samping ibunya, membuka laporan-laporan yang baru saja ia baca. Ia menceritakan semuanya, mulai dari kekhawatirannya soal penurunan kualitas, perubahan sikap karyawan, hingga ketakutan terbesarnya: bahwa ia akan gagal menjaga warisan suci ayahnya.

"Ibu, aku takut," akui Rian terus terang, menundukkan wajah seolah menjadi anak kecil yang sedang mengadu. "Semua berjalan baik secara hitungan uang. Keuntungan kita besar, nama kita harum. Tapi aku merasakan ada yang salah di dalam. Orang-orang mulai berpikir bahwa tujuan utama kita adalah mencari untung sebanyak-banyaknya. Mereka lupa, bahwa keuntungan itu hanyalah hasil sampingan dari tujuan utama kita: memberikan manfaat sebesar-besarnya. Jika aku membiarkan ini terus, suatu hari nanti, nama baik yang Ayah bangun dengan darah dan air mata itu akan ternoda. Aku takut aku dianggap gagal sebagai anak dan penerus."

Sari mendengarkan dengan tenang, tangannya yang keriput namun halus mengusap punggung tangan Rian dengan penuh kasih sayang. Ia tidak langsung menjawab. Ia membuka buku harian tua milik Raka yang dibawanya. Halaman-halamannya penuh tulisan tangan tegak bersambung Raka, penuh coretan ide, renungan hidup, dan pesan-pesan yang ditulis saat ia masih berjuang keras.

"Dulu, saat Ayahmu baru saja menjadi mandor, lalu menjadi manajer, lalu mendirikan perusahaan sendiri, beliau juga pernah merasa seperti ini," kata Sari pelan, memulai ceritanya. "Beliau pernah mengeluh padaku, 'Sari, kenapa semakin besar kita, semakin banyak orang yang masuk hanya demi uang? Kenapa semakin sukses kita, semakin sulit mencari orang yang punya hati?'

 Dan beliau menulis jawabannya di sini, Nak. Dengarkan baik-baik."

1
Indra P.
lanjutkannnn
Indra P.
mantappp.....inspirasi yg hebatt
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!