Seorang bayi terlahir dalam keadaan cacat buta diberi nama Jalaludin Al Bulqini. Kesaktiannya di dapatkan dari darah sang ibu yang ternyata keturunan Si Buta Dari Gua Hantu.
Di saat bersamaan lahir seorang bayi yang juga buta, yang akan menjadi lawan antara putih dan hitam. baik dan buruk.
mereka memperebutkan mustika yang ternyata tersimpan di dalam tubuh seorang perempuan yang lahir di waktu yang sama, keturunan Ratu Ageng Subang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Iman Darul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gesekan Pertama
Suasana kelas pagi itu begitu tenang. Suara kapur yang beradu dengan papan tulis menciptakan irama monoton yang biasanya membuat para siswa mengantuk. Jalal duduk di barisan tengah, mencoba memfokuskan pikirannya pada penjelasan guru matematika tentang rumus trigonometri. Namun, konsentrasinya mendadak buyar ketika merasakan sesuatu yang ganjil. Udara di dalam ruangan yang seharusnya hangat karena sinar matahari pagi, tiba-tiba terasa mendingin secara tidak wajar.
Bulu kuduk di lengan Jalal berdiri tegak. Sebuah getaran frekuensi rendah yang hanya bisa dirasakan oleh instingnya mulai merayap dari telapak kaki hingga ke tulang belakang. Jalal menoleh ke arah jendela besar di samping kiri kelas. Di balik kaca bening itu, ia tidak lagi melihat pepohonan hijau yang melambai tertiup angin. Di dalam matanya yang gelap, sebuah penglihatan gaib terbuka; ia melihat gumpalan hawa hitam pekat sedang bergerak lambat seolah ingin menyelimuti seluruh area sekolah. Hawa itu berbau amis, bau yang identik dengan kemarahan yang dipendam dan kekuasaan yang absolut.
Tanpa sadar Jalal meremas ujung mejanya. Ia tahu siapa yang datang. Getaran ini terlalu akrab, sesuatu yang telah ia hindari namun diam-diam selalu ia nantikan kehadirannya sebagai bagian dari takdir. Jalal berdiri secara mendadak hingga kursi kayunya berderit nyaring di lantai. Seluruh mata di kelas tertuju padanya, termasuk sang guru yang sedang memegang penggaris panjang.
"Jalal? Ada masalah dengan soal di depan?" tanya sang guru dengan kening berkerut.
"Maaf, Pak. Perut saya mendadak tidak enak. Saya izin ke belakang," jawab Jalal dengan suara pelan namun tegas.
Guru itu hanya mengangguk singkat, memberikan izin meski dengan tatapan bingung. Jalal segera melangkah keluar kelas. Namun, alih-alih menuju toilet di ujung koridor, langkah kakinya justru berbelok menuju pintu keluar darurat di belakang gedung olahraga. Ia bergerak dengan kecepatan yang tidak wajar bagi siswa biasa. Langkahnya ringan, nyaris tak bersuara, melewati pagar tembok belakang sekolah yang tersembunyi dari pantauan penjaga.
Di pinggir jalan aspal yang sepi, sekitar lima ratus meter dari gerbang utama sekolah, sebuah mobil Rolls-Royce berkelir hitam legam terparkir dengan mesin yang masih mendesis halus. Di dalamnya, suasana begitu kontras dengan teriknya matahari luar. Hawa AC yang menusuk kulit dan bau kulit jok yang mahal menciptakan atmosfer kemewahan yang menindas. Satya Wijaya duduk dengan tenang di kursi belakang, menyilangkan satu kakinya di atas kaki yang lain. Tangannya mengelus kepala naga perak pada tongkatnya dengan gerakan ritmis.
Satya menyunggingkan senyum tipis di balik kacamata hitamnya. Meski matanya terpejam, ia bisa merasakan kehadiran energi yang mulai mendekat. Energi itu murni, hangat, namun menyimpan kekuatan yang bisa memporak-porandakan kegelapan jika terpancing.
"Dia sudah di sini. Instingnya masih setajam dulu," gumam Satya dengan nada bangga sekaligus penuh tantangan.
Ia menoleh sedikit ke arah pria di sampingnya. Reno, yang kini sudah tidak lagi mengenakan perban namun masih memiliki bekas luka kecil di rahangnya, duduk dengan posisi tegap. Kesetiaan terpancar dari matanya yang kini terlihat lebih dingin daripada saat ia masih menjadi penguasa sekolah.
"Reno, keluar dan hadang dia. Dia adalah musuh abadiku, satu-satunya orang yang membuatku merasa hidup di dunia yang membosankan ini. Aku ingin tahu sejauh mana perkembangannya setelah sekian lama," perintah Satya.
Reno hanya mengangguk tanpa bertanya satu patah kata pun. Ia membuka pintu mobil, keluar ke aspal yang panas, diikuti oleh dua mobil SUV hitam lainnya yang terparkir di belakang. Dari mobil-mobil tersebut, keluar beberapa pria bertubuh tegap dengan wajah bengis. Sebagian dari mereka menggenggam samurai yang masih terbungkus sarung kulit, sementara yang lain menimang-nimang tongkat baseball berbahan logam yang berkilau terpapar cahaya matahari.
Mereka mulai berjalan menyusuri jalan setapak yang membelah kebun kosong di pinggiran sekolah. Reno memimpin di depan, langkahnya kini lebih terukur, mencerminkan pelatihan disiplin yang ia terima dari instruksi Satya selama masa pemulihannya.
Jalal terus berjalan, mengikuti tarikan energi yang membimbingnya hingga tiba di sebuah persimpangan sepi yang dikelilingi oleh ilalang tinggi. Jalal berhenti sejenak, ia menoleh ke arah kiri, ke sebuah jalan buntu yang dipenuhi bayangan pohon tua. Dari balik bayangan itu, suara tepuk tangan yang lambat terdengar, menggema secara ganjil di antara pepohonan.
"Benar sekali ucapan sang Raja. Ia pasti yang akan menghampiri kita," ucap Reno sambil melangkah keluar dari balik rimbunnya ilalang.
Jalal berhenti tepat beberapa meter dari tempat Reno berdiri. Ia melihat sekelompok pria bersenjata yang kini mulai membentuk formasi mengepungnya. Namun, alih-alih menunjukkan ketakutan, wajah Jalal justru terlihat polos dan bingung, sebuah topeng yang selalu ia gunakan untuk menutupi kewaspadaan tingkat tingginya.
"Maaf, saya sepertinya tersesat saat ingin mencari toko buku," ucap Jalal dengan nada bicara yang sangat pelan dan sopan.
Reno tidak tertipu. Ia telah melihat bagaimana Satya menghancurkan mentalitasnya, dan ia tahu orang yang dianggap Satya sebagai musuh abadi tidak mungkin hanya seorang siswa tersesat. Reno memberikan isyarat kecil dengan menunjuk menggunakan dagunya ke arah salah satu anak buahnya yang paling besar.
Pria berotot itu maju dengan langkah sunyi, sepatu larasnya tidak menimbulkan suara di atas tanah berdebu. Tanpa peringatan atau gertakan, ia langsung mengayunkan tongkat baseball logamnya dengan tenaga penuh, mengincar sisi kepala Jalal. Sebuah serangan yang dimaksudkan untuk mengakhiri segalanya dalam satu detik.
Wush!
Angin dari ayunan tongkat itu menerpa rambut Jalal. Namun, tepat pada saat logam itu seharusnya menghantam tulang tengkoraknya, Jalal secara kebetulan menjatuhkan pulpen yang ia bawa di sakunya. Ia segera menunduk dalam-dalam untuk memungut pulpen itu, membuat serangan pria besar tersebut hanya mengenai udara kosong dengan suara desing yang keras.
Pria itu terhuyung karena momentum serangannya sendiri yang tidak mengenai sasaran. Jalal bangkit kembali dengan senyum ramah sambil memegang pulpennya.
"Jalal berdiri kembali seperti tidak terjadi apa-apa, ia menepuk-nepuk debu di celananya, sambil mengantongi pulpennya kembali.
Reno menyipitkan mata. Ia melihat gerakan Jalal tadi. Itu bukan kebetulan. Jalal bergerak sebelum tongkat itu diayunkan, namun ia melakukannya dengan sangat halus sehingga terlihat seperti kecerobohan yang tidak disengaja. Ini adalah jenis bela diri tingkat tinggi yang tidak mengandalkan benturan, melainkan aliran.
"Seorang!" Reno memerintahkan semua anak buahnya.
Dua orang lainnya segera mencabut samurai mereka. Bilah baja mengkilap itu terhunus, siap membelah apa saja yang ada di depan mereka. Mereka menyerang dari dua sisi berbeda secara sinkron. Salah satu menebas secara horizontal ke arah pinggang, sementara yang lain menusuk lurus ke arah jantung.
Jalal menghela napas panjang. Ia menutup matanya sekejap, merasakan getaran logam di udara. Saat bilah pertama mendekat, Jalal melakukan gerakan berputar yang sangat ringan, seolah ia adalah sehelai daun yang tertiup angin kencang. Tebasan itu hanya melewati bajunya, menyisakan robekan kecil tanpa menyentuh kulit. Di saat yang sama, ia menepis pergelangan tangan sang penusuk dengan ujung jarinya. Sentuhan itu terlihat lemah, namun mampu mengalihkan arah tusukan samurai tersebut hingga justru menghantam rekannya sendiri.
Suara denting logam beradu logam terdengar nyaring. Kedua penyerang itu terkejut melihat senjata mereka saling bertabrakan. Sebelum mereka sempat menarik kembali senjata masing-masing, Jalal sudah berada di antara mereka, memberikan dorongan lembut pada bahu keduanya. Dorongan itu membuat mereka kehilangan keseimbangan dan jatuh terjungkal ke dalam semak berduri.
Reno yang menyaksikan hal itu mulai merasakan ketegangan yang sama seperti saat ia menghadapi Satya. Bedanya, jika Satya adalah kegelapan yang menekan, Jalal adalah kekosongan yang tidak bisa digenggam.
"Cukup!" Reno berteriak sambil melangkah maju, tangannya terkepal kuat. "Kau memang bukan manusia biasa, Jalal. Raja kami sudah lama menunggumu. Dan hari ini, aku akan membawa bukti kepalamu padanya."
Reno langsung memasang kuda-kuda rendah. Ia menyerang dengan kombinasi tendangan Muay Thai yang ia banggakan. Jalal tetap diam di tempatnya, matanya menatap tajam ke arah mobil Rolls-Royce yang terparkir jauh di belakang. Ia tahu Satya sedang menonton dari balik kaca gelap itu.
Setiap serangan Reno dihindari Jalal dengan gerakan minimal. Jalal seolah-olah menari di antara hujan pukulan, tangannya sesekali melakukan gerakan menangkis yang terlihat seperti mengelus udara. Reno semakin frustrasi karena merasa kekuatannya seperti diserap oleh kekosongan.
"Kenapa kau tidak membalas?" teriak Reno sambil melayangkan pukulan uppercut.
Jalal menangkap tinju Reno dengan telapak tangannya yang terbuka. Benturan itu tidak menimbulkan suara keras, melainkan suara desis seperti api yang disiram air. Jalal menatap mata Reno dengan tatapan yang dalam dan penuh duka.
"Karena aku dan kamu tidak punya urusan. Beritahu tuanmu, jika dia ingin bertemu, temui aku secara jantan, bukan dengan mengirim orang lain untuk mati baginya," ucap Jalal dengan suara yang tiba-tiba berubah menjadi berat dan berwibawa.
Jalal melepaskan genggamannya, membuat Reno terdorong beberapa langkah ke belakang. Reno tertegun, tangannya yang tadi digenggam Jalal terasa kesemutan hebat hingga ia tidak bisa mengepalkannya kembali. Ia menyadari bahwa jika Jalal ingin membunuhnya, ia sudah mati sejak menit pertama pertemuan mereka.
Dari kejauhan, di dalam mobil mewah itu, Satya Wijaya tertawa kecil. Tawa yang sangat puas hingga bahunya berguncang. Ia merasakan segalanya melalui suara monitor kecil yang terhubung dengan kamera tersembunyi di seragam Reno.
"Luar biasa, Jalal. Kau masih tetap membosankan dengan filosofi kedamaianmu itu. Tapi itu yang membuat penghancuranmu nanti akan terasa sangat manis," bisik Satya.
Satya mengetuk kaca jendela mobil, memberikan isyarat agar sopirnya segera pergi. Ia tidak perlu melihat lebih banyak lagi. Data yang ia inginkan sudah cukup. Pertemuan hari ini hanyalah sebuah salam pembuka dari sebuah drama besar yang akan menghancurkan tidak hanya satu sekolah, melainkan kedamaian yang selama ini dijaga Jalal dengan susah payah.
Jalal berdiri sendirian di persimpangan jalan setelah Reno dan anak buahnya mundur masuk ke dalam mobil. Ia berjalan kembali ke sekolah. "Yah terlambat." Telinganya menangkap bunyi bel sekolah.