NovelToon NovelToon
Tirai Sutra Tuan Muda Cang

Tirai Sutra Tuan Muda Cang

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Kultivasi
Popularitas:394
Nilai: 5
Nama Author: 𝐍𝐞𝐳𝐮𝐤𝐨 i

Klan Jenderal Cang yang agung berdiri di ujung jurang kehancuran. Titah rahasia Kaisar Yan telah turun, mengincar nyawa setiap anggota keluarga yang memegang kendali militer. Sebagai pewaris tunggal, Cang Qixuan memilih jalan yang paling dibenci dunia demi menyelamatkan klannya: menjadi sampah. Ia menenggelamkan diri dalam lautan arak, judi, dan wanita, menghamburkan emas kekaisaran seolah debu. Di balik cemoohan rakyat dan tawa meremehkan musuh-musuhnya, Qixuan merajut Jaring Bayangan. Setiap keping emas yang ia lempar di rumah bordil adalah investasi intelijen; setiap aib yang ia ciptakan adalah perisai pelindung. Berawal dari kultivasi yang hancur, ia memanjat kembali dari dasar jurang kekuasaan, menelan penghinaan untuk kelak menelan seluruh Kekaisaran Yan.


Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝐍𝐞𝐳𝐮𝐤𝐨 i, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 11 bahtera emas di langit utara

Salju pertama yang turun di ibukota Jinling hanyalah selimut tipis yang rapuh. Jauh berbeda dengan badai es abadi yang mencabik-cabik dataran utara Benua Surgawi. Angin di sana tidak sekadar berhembus, melainkan meraung laksana ribuan hantu kelaparan, membekukan darah siapa saja yang berani melangkah keluar tanpa qi pelindung.

Di dalam ruang kerja rahasianya di Kediaman Cang, Qixuan melempar Segel Harimau hitam ke atas meja kayu cendana. Suara dentingan logam berat itu memecah kesunyian. Nyonya Su Liyin dan Lin Sanniang berdiri tegak di hadapannya, menatap benda pusaka yang menjadi simbol kekuasaan militer tertinggi tersebut dengan napas tertahan.

"Segel ini hanyalah bongkahan besi mati selama pasukan di sana masih mematuhi perintah kaisar," Qixuan menuangkan arak hangat ke dalam cawannya. "Aku harus pergi ke Lembah Ngarai Besi secara pribadi. Rantai kesetiaan yang putus harus disambung kembali menggunakan api dan emas."

"Tuan Muda akan pergi ke garis depan?" Nyonya Su Liyin mengerutkan kening, kekhawatiran tersirat jelas di wajah cantiknya. "Bangsa Badai dari utara sangat biadab. Pemimpin invasi mereka kali ini adalah Khuza Sang Pencabik, seorang kultivator tingkat Pembentukan Fondasi tahap puncak yang mengendarai Serigala Salju Raksasa. Di sisi lain, racun *Embun Pemutus Dao* racikan Gu Lie telah menyebar sempurna di tubuh prajurit kita. Mereka tidak akan bisa melindungi Anda."

"Liyin, kau lupa satu hal," Qixuan tersenyum miring, menenggak araknya dalam sekali telan. "Aku tidak pernah meminta perlindungan dari siapa pun. Pasukan itu adalah milikku, bukan karena mereka kuat, melainkan karena aku yang membeli nyawa mereka. Mo Chen akan tetap di ibukota, memimpin Jaring Bayangan sekaligus menjaga kakek dan ibuku dari anjing-anjing istana yang mungkin bertindak nekat. Sanniang, kau ikut denganku. Kita berangkat esok fajar."

"Kendaraan apa yang akan kita gunakan, Tuan Muda?" tanya Lin Sanniang bersiap mencatat persiapan logistik. "Kuda Iblis Mata Merah tercepat pun membutuhkan waktu sepuluh hari menembus badai salju untuk mencapai utara."

Qixuan menyentil tepi cawannya hingga berbunyi merdu. "Kuda? Berhentilah berpikir seperti rakyat jelata, Sanniang. Sepuluh hari adalah waktu yang terlalu lama. Mu Chenghai bisa saja mati sebelum aku sempat melihat wajah keputusasaannya. Hubungi Kamar Dagang Emas. Sewa *Bahtera Awan Emas* dari Paviliun Harta Karun Terbang. Kita akan membelah langit."

Lin Sanniang melebarkan matanya. Bahtera Awan Emas adalah kapal terbang spiritual kelas Surga yang digerakkan oleh ribuan batu spiritual murni. Biaya sewanya untuk satu hari mencapai seratus ribu tael emas! Benda itu biasanya hanya digunakan oleh patriark sekte agung saat melakukan perjalanan suci, bukan untuk menembus medan perang yang penuh debu dan darah.

Melihat kebimbangan bawahannya, Qixuan tertawa pelan. "Uang yang disimpan di dalam peti hanyalah bongkahan logam dingin. Ia baru memiliki nilai saat digunakan untuk menginjak kepala orang lain. Siapkan bahteranya. Biarkan utara melihat bagaimana Dewa Kekayaan mereka turun dari langit."

Fajar belum sepenuhnya menyingsing ketika sebuah bayangan raksasa menutupi langit barat Jinling.

Sebuah kapal terbang sepanjang lima puluh meter, terbuat dari Kayu Apung Seribu Tahun yang dilapisi perunggu emas, melayang membelah awan. Formasi pelindung di sekeliling kapal memancarkan cahaya keemasan yang menolak angin, salju, dan hawa dingin. Layarnya yang terbuat dari sutra ulat es berkibar megah, membawa lambang naga melingkar yang sengaja dibuat lebih besar dari lambang kekaisaran.

Di dalam kabin utama yang mewah, suhunya sehangat musim semi berkat tungku kristal api. Qixuan duduk bersila di atas dipan batu giok putih, mengabaikan hamparan makanan lezat yang tersaji di meja. Pikirannya sepenuhnya tenggelam ke dalam lautan kesadarannya.

*Seni Pernapasan Menelan Langit.*

Udara di ketinggian ribuan kaki sangat tipis, dipenuhi esensi alam yang liar. Qixuan menarik napas dalam, menyedot partikel-partikel esensi itu secara paksa menembus pori-pori kulitnya. Di dalam Dantiannya, empat pusaran energi berputar dengan ritme yang mematikan.

Pusaran pertama (Dada) dan kedua (Perut Atas) bertindak sebagai mesin penggiling, menghancurkan qi liar menjadi bentuk paling murni. Pusaran ketiga (Bumi) berdenyut lambat, memberikan pertahanan fisik sekokoh gunung karang. Sedang pusaran keempat (Air/Yin Kegelapan), yang baru saja ia bentuk menggunakan Bunga Jiwa Hitam, memancarkan hawa sedingin es abadi, mendinginkan darahnya dan menajamkan ketenangan mentalnya.

Kedua elemen—Bumi dan Yin—berbenturan di dalam tubuhnya, sering kali menciptakan rasa sakit yang membuat tulang rusuknya berderak. Aliran energi buas ini menuntut sebuah penyeimbang. Elemen Yang atau Api mutlak dibutuhkan untuk menciptakan pusaran kelima di pusat jantungnya.

Qixuan membuka matanya secara perlahan. Cahaya amber-emas di pupilnya kini bercampur dengan kilatan biru kelam yang mengerikan. Ia telah memadatkan kultivasinya di ranah Pembentukan Fondasi tahap awal menuju tahap menengah. Fondasinya begitu kokoh hingga ia yakin mampu meremukkan leher kultivator tingkat puncak hanya dengan tekanan qi murni.

"Tuan Muda," Lin Sanniang melangkah masuk, membungkuk hormat. "Kita telah melintasi perbatasan Provinsi Angin Utara. Lembah Ngarai Besi berada seratus li di depan kita. Badai di luar sangat pekat, penglihatan mata fana nyaris nol. Mata-mata kita di bawah melaporkan bahwa Bangsa Badai sedang melancarkan serangan besar-besaran ke arah mulut ngarai."

"Turunkan ketinggian bahtera. Kurangi kecepatan formasi pendorong agar tidak bersuara," perintah Qixuan seraya bangkit berdiri. Ia mengambil jubah sutra merah tebalnya, mengenakannya dengan gerakan elegan. "Mari kita lihat seberapa menyedihkan rupa anjing-anjing kelaparan kekaisaran itu."

Di bawah sana, Lembah Ngarai Besi benar-benar telah menjelma menjadi neraka dunia.

Tebing-tebing batu hitam yang mengapit celah sempit itu berlumuran darah segar yang langsung membeku. Ribuan prajurit Pasukan Naga Hitam bertahan mati-matian menggunakan formasi tameng baja. Wajah mereka pucat pasi, tubuh mereka kurus kering akibat kurang gizi, dan yang paling parah, qi di dalam Dantian mereka seakan tersumbat oleh lumpur beracun.

Mereka tidak menyadari bahwa *Embun Pemutus Dao* yang menempel pada dinding meridian mereka-lah penyebab utama hilangnya tenaga tersebut. Mereka hanya mengira tubuh mereka hancur akibat kelelahan ekstrem dan penyakit kutukan hawa dingin.

Di garis belakang pertahanan, Wakil Jenderal Mu Chenghai bersandar pada dinding tebing. Zirah hitamnya robek di bagian dada, memperlihatkan luka cakar raksasa yang terus mengeluarkan darah. Napasnya tersengal-sengal. Pedang besarnya tertancap di tanah sebagai penopang tubuhnya yang nyaris ambruk.

"Jenderal! Sisi kiri formasi mulai jebol!" teriak seorang perwira yang helmnya sudah hilang, wajahnya penuh jelaga dan darah. "Pasukan kita tidak memiliki cukup qi untuk menahan serangan panah ledak dari Bangsa Badai! Kita harus mundur!"

"Mundur ke mana, Keparat?!" raung Mu Chenghai, memuntahkan darah hitam dari mulutnya. "Di belakang kita adalah pemukiman sipil! Jika kita membiarkan mereka lewat, jutaan rakyat akan dibantai! Tahan posisimu! Gunakan tombak kalian jika qi kalian habis! Gigit leher mereka jika tombak kalian patah!"

Perintah itu terdengar heroik, sebuah ironi yang menyedihkan. Jenderal yang sebelumnya tega mengorbankan pasukannya demi ambisi politik kini dipaksa menjadi pahlawan yang menemui ajal di medan pertempuran.

Di ujung ngarai, suara terompet dari tanduk monster berbunyi memekakkan telinga.

Dari balik badai salju tebal, muncullah ribuan kavaleri Bangsa Badai. Mereka menunggangi serigala-serigala salju setinggi dua meter. Di barisan paling depan, sesosok raksasa setinggi nyaris tiga meter duduk di atas serigala bermata tiga yang sangat buas. Raksasa itu mengenakan zirah dari tulang naga tanah, memegang sepasang kapak baja seberat ratusan kati.

Dialah Khuza Sang Pencabik.

"Hahahaha! Pasukan Naga Hitam ternyata hanya sekumpulan cacing tanah yang membeku!" tawa Khuza menggelegar, diperkuat oleh qi Pembentukan Fondasi tahap puncak miliknya. Suaranya memicu longsoran salju kecil di tebing sekitarnya. "Mu Chenghai! Kepalamu akan kujadikan cangkang arakku malam ini! Serbu! Ratakan mereka dengan tanah!"

Kavaleri barbar itu melesat maju bagai tsunami putih, siap menggiling sisa-sisa pertahanan pasukan kekaisaran menjadi debu darah.

Para prajurit Naga Hitam menutup mata mereka. Tenaga mereka telah habis. Harapan telah sirna. Bantuan dari ibukota tidak pernah datang. Mereka telah dikhianati oleh negara yang mereka lindungi mati-matian.

Tepat saat kapak-kapak barbar itu hampir menebas leher para prajurit garda depan, sebuah fenomena aneh terjadi.

Salju yang turun dengan deras tiba-tiba berhenti di udara. Awan kelabu pekat di langit terbelah secara paksa, seolah ada pedang raksasa yang menebasnya dari atas. Cahaya keemasan yang luar biasa menyilaukan menembus kegelapan lembah, membawa kehangatan yang instan mencairkan es di pedang para prajurit.

Semua orang, baik pasukan kekaisaran maupun Bangsa Badai, mendongak ke langit dengan mulut terbuka.

Sebuah bahtera raksasa yang seluruhnya memancarkan cahaya emas turun perlahan dari balik awan. Lambang naga melingkar berkibar gagah di tiang utamanya. Bayangan kapal terbang itu menutupi seluruh celah ngarai, memberikan tekanan mental yang membuat serigala-serigala salju tunggangan kaum barbar meringkuk ketakutan dan berhenti berlari.

"Bala bantuan dewa?!" bisik seorang prajurit kekaisaran sambil menjatuhkan pedangnya, air mata mulai mengalir di wajahnya yang kotor.

Di atas geladak bahtera emas tersebut, Cang Qixuan berdiri sendirian di ujung haluan. Jubah merahnya berpadu kontras dengan cahaya emas kapal. Wajah tampannya tertutup sebagian oleh kipas giok, matanya memandang ke bawah dengan tatapan bosan, seakan pertempuran hidup mati di bawah sana tak lebih dari pertunjukan semut yang memperebutkan remah roti.

"Kalian terlihat sangat menyedihkan," suara Qixuan menggema ke seluruh penjuru lembah. Bukan suara teriakan, melainkan suara santai yang diperkuat oleh formasi pengeras suara bahtera. "Kudengar anjing-anjingku di utara sedang kelaparan. Sanniang, berikan makanan pada mereka."

Lin Sanniang yang berdiri di belakang Qixuan langsung mengayunkan tangannya. Dari ruang penyimpanan bahtera, ratusan peti kayu raksasa dijatuhkan langsung ke area pertahanan Pasukan Naga Hitam.

Peti-peti itu menghantam tanah berbatu hingga pecah berantakan. Isinya tumpah ruah. Roti daging panggang yang masih mengepulkan asap panas, pil penyembuh luka tingkat menengah, dan ribuan anak panah besi hitam kualitas tertinggi berhamburan di depan mata para prajurit yang kelaparan.

Aroma daging panggang di tengah medan perang bersalju itu langsung membangkitkan insting bertahan hidup yang paling purba.

"Makanlah, isi perut kalian," ucap Qixuan dari atas langit, nada suaranya berubah menjadi perintah yang mengandung qi penekan. "Setelah kalian kenyang, berlututlah pada majikan baru kalian."

Mu Chenghai menatap sosok pemuda berjubah merah di atas bahtera itu. Matanya membelalak lebar, urat di wajahnya nyaris pecah karena syok yang teramat sangat. Ia mengenali wajah angkuh itu!

"C-Cang Qixuan?!" Mu Chenghai merintih histeris. Otaknya yang cerdas segera merangkai setiap kepingan puzzle yang berserakan. Konsorsium Katak Emas, harga gandum yang melonjak, hilangnya tenaga pasukannya secara misterius... Semuanya terhubung pada satu titik!

Pemuda sampah ini... pemuda yang merusak putranya, ternyata adalah arsitek dari seluruh penderitaan utara! Dia datang bukan untuk menyelamatkan kekaisaran, melainkan untuk merebut kesetiaan mutlak dari pasukan yang telah ia hancurkan sendiri!

"Cang Qixuan! Bajingan licik!" raung Mu Chenghai, memaksakan dirinya berdiri menggunakan pedangnya, menuding ke arah langit. "Kaulah yang meracuni pasukan ini! Kaulah yang menahan gandum kami! Jangan dengarkan dia, Prajurit! Dia adalah pengkhianat negara!"

Sayangnya, teriakan Jenderal yang terluka itu tenggelam oleh suara riuh para prajurit yang sudah kalap memungut roti dan pil obat. Perut yang keroncongan tidak mempedulikan politik istana. Pemuda di langit itu memberi mereka makanan dan senjata saat kekaisaran membiarkan mereka mati. Bagi prajurit rendahan, siapa yang memberi makan, dialah dewa yang harus disembah.

Khuza Sang Pencabik, yang berada di seberang barisan, menggeram marah melihat mangsanya mendapatkan bala bantuan. Mata liarnya menatap bahtera emas di langit dengan penuh keserakahan. Kapal itu pasti bernilai jutaan tael emas!

"Hanya seorang bocah kaya raya dengan mainan terbang!" teriak Khuza meremehkan. "Prajurit Badai! Bidik kapal emas itu! Jatuhkan bocah itu dan seluruh hartanya akan menjadi milik kita!"

Ribuan kavaleri barbar menarik busur tulang raksasa mereka. Anak panah yang dilumuri racun es melesat ke langit bagai hujan badai, mengarah tepat ke arah geladak bahtera.

Lin Sanniang bersiap mengaktifkan perisai formasi kapal.

"Jangan sentuh formasinya," Qixuan mengangkat tangannya, mencegah Sanniang.

Ia melangkah maju hingga ujung sepatunya melewati batas haluan kapal. Qixuan menutup kipasnya. Sepasang matanya berubah sepenuhnya menjadi biru kelam mematikan.

"Menelan Langit: Dinding Bumi Pembelah Langit."

Qixuan mengentakkan kaki kanannya ke geladak. Pusaran elemen bumi di dalam perutnya meledak memancarkan energi. Hawa keberadaan yang tadinya disembunyikan rapat-rapat kini dilepaskan sepenuhnya. Tekanan spiritual Pembentukan Fondasi tahap menengah yang sangat buas dan kasar menyapu udara.

Gelombang gravitasi tak kasat mata menghantam hujan panah es itu tepat sepuluh meter sebelum menyentuh bahtera. Anak-anak panah itu berhenti mendadak di udara seolah menabrak dinding baja tak terlihat, lalu hancur menjadi serbuk es dan debu kayu yang berjatuhan kembali ke bumi.

Khuza membelalakkan matanya. Tekanan qi itu... sangat murni dan berat! Pemuda itu bukan bangsawan biasa!

Tanpa memberi kesempatan musuh berpikir, Qixuan menjatuhkan dirinya dari atas bahtera. Ia melompat dari ketinggian seratus meter tanpa menggunakan pedang terbang atau jimat pelayang. Tubuhnya meluncur deras bagai meteor merah yang membelah salju, mengarah tepat ke barisan depan kavaleri barbar.

"Bunuh dia!" raung Khuza, mengayunkan sepasang kapaknya yang memancarkan aura es biru, memacu serigalanya melompat menyambut jatuhnya Qixuan di udara.

Tepat saat jarak mereka hanya tersisa sepuluh kaki di udara, Qixuan menyeringai iblis.

"Pusaran Air Kegelapan... Rantai Tulang Es," bisiknya dingin.

Energi Yin purba yang ia serap dari Bunga Jiwa Hitam kini ia lepaskan melalui kedua telapak tangannya. Aliran kabut hitam pekat yang luar biasa dingin menyembur keluar, langsung membekukan uap air di udara menjadi rantai-rantai es berwarna ungu gelap.

Rantai es beracun itu melesat lebih cepat dari kilat, melilit tubuh serigala raksasa dan kedua lengan Khuza. Suhu udara di sekitar mereka turun drastis melampaui batas kewajaran. Zirah tulang naga milik Khuza seketika retak karena perbedaan suhu yang ekstrem.

"A-Apa ini?! Qi Es macam apa ini?!" Khuza membelalak, merasakan darah di dalam nadinya mulai membeku.

Qixuan mendarat tepat di atas kepala serigala raksasa itu dengan gerakan seringan bulu, tangannya meraih kerah zirah Khuza. Jarak wajah mereka hanya sejengkal. Sang Panglima Barbar yang ditakuti seluruh utara itu kini menatap langsung ke dalam mata amber Qixuan, dan ia melihat kegelapan neraka tak berdasar di sana.

"Kau merusak pemandangan saljuku, Raksasa," bisik Qixuan.

Tangan kanan Qixuan, yang dialiri energi elemen bumi super padat, menghantam dada Khuza dengan pukulan telapak tangan terbuka.

*BLAAARRR!*

Bukan sekadar pukulan biasa. Gravitasi elemen bumi yang dikompresi itu meledak ke dalam tubuh Khuza. Zirah tulang naga hancur berkeping-keping. Tulang rusuk sang panglima remuk redam. Tubuh raksasa seberat empat ratus kati itu terlempar ke belakang dengan kecepatan peluru, menghantam tebing ngarai hingga menciptakan kawah kecil. Darah bercampur pecahan organ dalam menyembur mewarnai salju menjadi merah pekat.

Serigala raksasa tunggangan Khuza mencoba menggigit Qixuan, padahal hewan buas itu sudah kehilangan pijakan. Qixuan tidak repot-repot menghindar. Pusaran Yin miliknya langsung menyerap esensi vital serigala itu melalui kakinya yang masih menempel di kepala hewan tersebut. Dalam hitungan detik, monster spiritual itu membeku menjadi patung es hitam, lalu pecah menjadi ribuan kristal kecil saat menghantam tanah.

Qixuan mendarat di atas salju dengan elegan, jubah sutra merahnya sama sekali tidak ternoda oleh setetes darah pun.

Keheningan mutlak menyapu Lembah Ngarai Besi.

Ribuan pasukan barbar yang tadinya haus darah kini menahan napas, menatap sisa-sisa mayat pemimpin mereka yang tertanam di dinding tebing. Monster raksasa itu dibunuh hanya dengan satu sentuhan dan satu pukulan? Eksistensi iblis macam apa pemuda ini?!

"Kalian punya waktu tiga tarikan napas untuk memutar serigala kalian dan berlari kembali ke padang rumput utara," Qixuan berbicara tanpa menoleh ke arah barisan musuh. Sambil membersihkan kuku jarinya, ia melanjutkan, "Jika setelah tarikan napas ketiga aku masih melihat bayangan kalian di lembah ini, aku akan membakar jiwa kalian menjadi abu."

Satu.

Pasukan barbar saling bertukar pandang penuh kengerian.

Dua.

Beberapa serigala mulai melengking ketakutan, secara insting merasakan ancaman predator tingkat tinggi.

Tiga.

Keputusasaan memecah barisan. Ribuan prajurit barbar yang terkenal tak kenal takut itu memutar arah tunggangan mereka dan melarikan diri kocar-kacir, saling bertabrakan demi menyelamatkan nyawa dari sang dewa kematian berjubah merah. Mereka bahkan tidak repot-repot membawa sisa mayat panglima mereka.

Melihat musuh bebuyutan mereka kabur ketakutan, para prajurit Pasukan Naga Hitam menelan ludah kering. Mereka yang baru saja memakan roti pemberian Qixuan kini menatap pemuda itu dengan tatapan campuran antara pemujaan suci dan teror absolut.

Qixuan perlahan membalikkan badannya, melangkah melewati tumpukan mayat menuju barisan pertahanan kekaisaran. Langkah kakinya pelan, namun setiap pijakannya di atas salju terdengar laksana ketukan genderang penguasa.

Para prajurit menyingkir, memberinya jalan.

Qixuan berhenti tepat di depan Mu Chenghai yang masih tersungkur di tanah. Jenderal tua itu menatap Qixuan dengan kebencian yang mendalam, meski tubuhnya tak lagi bisa digerakkan.

"Kau... bajingan. Kau memanipulasi kami semua," desis Mu Chenghai, ludahnya bercampur darah. "Pasukan ini tidak akan pernah sujud pada pengkhianat sepertimu..."

"Pengkhianat?" Qixuan terkekeh pelan, jongkok di depan Mu Chenghai. "Jenderal Mu, kau yang menjual aset militer untuk makan. Kau yang membiarkan mereka kelaparan demi posisimu. Aku datang membawa roti, pil, panah, dan keamanan. Di mata mereka, aku bukan pengkhianat. Aku adalah Penyelamat."

Qixuan berdiri tegak, memandang lautan prajurit berbaju zirah hitam di hadapannya. Ia mengeluarkan Segel Harimau dari balik bajunya, mengangkatnya tinggi-tinggi ke udara. Pusaka hitam itu memancarkan resonansi spiritual yang langsung dikenali oleh seluruh anggota Pasukan Naga Hitam.

"Mulai hari ini, Segel Harimau telah kembali ke tangan keluarga Cang!" suara Qixuan menggelegar ke seluruh penjuru lembah. "Kaisar di ibukota terlalu sibuk membangun istana baru untuk peduli pada perut kalian! Tetapi aku berbeda! Aku memiliki kekayaan untuk memberi makan setiap istri dan anak kalian di rumah! Aku memiliki kekuatan untuk menghancurkan musuh kalian di depan mata! Pertanyaannya adalah... apakah kalian lebih memilih mati sebagai anjing istana yang kelaparan, atau hidup sebagai serigala bayangan di bawah panjiku?!"

Para prajurit terdiam. Di dalam dada mereka, patriotisme buta terhadap kaisar telah terkikis habis oleh penderitaan selama sebulan terakhir. Kehadiran Qixuan yang menyelamatkan mereka dari ambang kematian, ditambah kepemilikan Segel Harimau yang sah, menancapkan keraguan terakhir mereka.

Seorang kapten yang wajahnya dipenuhi bekas luka parang perlahan maju ke depan. Ia meletakkan pedangnya di atas salju, lalu berlutut dengan satu kaki.

"Pasukan Garda Kiri Naga Hitam... menyambut Tuan Muda Cang sebagai Panglima Tertinggi!" teriak kapten itu dengan suara serak.

Tindakan itu seperti memecah bendungan. Satu per satu, diikuti puluhan, ratusan, hingga akhirnya seratus ribu prajurit elit kekaisaran menjatuhkan senjata mereka dan berlutut secara serempak. Suara zirah mereka yang berbenturan dengan tanah berbatu terdengar bagai gemuruh guntur yang menyambut kelahiran kaisar baru.

"Hidup Panglima Cang! Hidup Raja Pelindung Utara!"

Teriakan itu menggema, memecah badai salju, mengubur sisa-sisa pengaruh Kaisar Yan Wudi di dataran utara untuk selamanya.

Qixuan menatap lautan prajurit yang tunduk di hadapannya. Seringai angkuh menghiasi wajahnya. Ia meraih sebuah botol giok kecil dari sabuknya, lalu melemparnya ke arah kapten yang pertama kali berlutut tadi.

"Ini adalah Pil Pembersih Sumsum tingkat menengah. Cairkan ke dalam kuali air panas dan bagikan kepada setiap prajurit. Penyakit yang menyumbat meridian kalian akan sembuh dalam semalam. Anggap ini sebagai salam perkenalan dari penguasa baru kalian," titah Qixuan.

Pil itu sesungguhnya adalah penawar berkala untuk racun *Embun Pemutus Dao*. Racun itu tidak akan pernah hilang sepenuhnya; para prajurit ini harus terus bergantung pada pasokan obat dari Qixuan setiap bulan. Kesetiaan mereka telah dibeli, dan nyawa mereka telah diikat erat oleh jaring racun yang kasat mata.

Mu Chenghai, yang menyadari apa arti obat tersebut, membelalakkan matanya dengan putus asa. "K-Kau menjadikan mereka budak... Iblis... Kau adalah iblis..."

"Dan kau adalah sejarah yang usang, Jenderal," Qixuan menunduk menatap Mu Chenghai untuk terakhir kalinya.

Tanpa belas kasihan, Qixuan menginjak dada Mu Chenghai. Qi elemen bumi meremukkan jantung jenderal itu dalam sekejap. Tubuh Mu Chenghai mengejang sesaat sebelum akhirnya terdiam selamanya, terkubur di bawah salju, menjadi pijakan kotor bagi langkah pertama Tuan Muda Cang dalam menaklukkan benua.

Di bawah naungan Bahtera Awan Emas yang bersinar megah di langit, Qixuan berdiri sebagai penguasa absolut utara. Tembok es kekaisaran telah runtuh, dan sang Naga Bayangan kini memiliki pasukannya sendiri, siap memutar pedang mereka mengarah ke jantung singgasana Jinling. Permainan catur ini telah memasuki babak pertumpahan darah yang sesungguhnya.

1
Sang Alang
cerita sebagus ini koq kurang peminatnya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!