Larasati, gadis desa sederhana, percaya bahwa pernikahannya dengan Reza Adiguna akan membawa kebahagiaan. Namun semua harapan itu hancur di hari ia melahirkan—anaknya direbut, dirinya diceraikan, dan ia dicampakkan tanpa sempat memeluk buah hatinya.
Sendiri dan hancur, Larasati berjuang bertahan hidup di tengah kota yang asing. Hingga takdir mempertemukannya dengan Hajoon Albra Brajamusti, pria yang dulu pernah dikenalnya tanpa sengaja.
Dengan keberanian yang tumbuh dari luka, Larasati menyamar sebagai ibu susu demi bisa dekat dengan anaknya kembali.
Di tengah perjuangannya, hadir perasaan yang tak pernah ia duga.
Apakah Larasati sanggup merebut kembali anaknya sekaligus menemukan arti cinta sejati?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon IAS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ketemu 18
Degh!
Laras sedikit terkejut ketika pintu rumah keluarga Adiguna dibuka dan seseorang yang muncul dari balik pintu. Tubuhnya membeku dan tangannya gemetar.
Orang itu adalah orang yang sangat dikenalnya. Sangat kenal dari luar dalam sehingga Laras merasa muak dan jijik terhadapnya.
"Maaf, cari siapa?"
Suara yang lembut namun sangat membuat sakit di telinga, terutama di hati Laras. Dia terdiam sejenak untuk mengontrol hati dan bibirnya.
"Hallo, nyari siapa ya?" tanyanya lagi karena tak kunjung mendapat jawaban dari sang tamu.
"Ekhem, assalamualaikum. Saya adalah Saras, ibu susu yang dipekerjakan di sini,"jawab Laras ketika dia merasa sudah cukup tenang untuk menghadapi pria yang telah menghancurkan hidupnya.
Beruntung saran Hajoon lansung ia terapkan yakni menggunakan cadar, sehingga Laras bisa menyembunyikan ekspresi wajahnya yang penuh dengan kemarahan itu.
"Ah Anda yang akan jadi ibu susu anak kami ya. Alhamdulillah akhirnya anak kami bisa kenyang dan mendapatkan ASI yang sesuai. Silakan masuk, maaf membuat Anda berdiri lama. Saya tidak tahu karena kemarin saya tidak ada di rumah. Perkenalkan nama saya Reza Adiguna, saya ayah dari anak yang akan Anda susui,"ucap Reza sambil tersenyum lebar.
Reza juga mengulurkan tangannya, hendak menyalami Laras tapi Laras tidak menyambut tangan itu. Ia menangkupkan kedua tangannya di depan dada.
"Saya Saraswati, salam kenal Pak Reza,"jawab Laras.
Degh!
Reza terdiam ketika mendengar wanita yang akan jadi ibu susu anaknya menyebutkan nama. Sejenak dia terpaku karena nama wanita itu sedikit mirip dengan nama mantan istrinya.
Sedangkan di sisi Laras, dia sedari tadi menahan rasa amarahnya. Sedari tadi Reza selalu berkata 'anak kami, anak kami' sungguh hal tersebut membuatnya marah bukan main. Jelas-jelas Baby El adalah putranya, tapi dibilang anak Reza dan Eva.
"Ada apa, Pak Reza? Dan dimana sekarang baby El berada. Sepertinya saya harus segera bertemu dengan baby El karena dia harus segera menyusu,"ucap Laras.
Reza tersentak, dia yang tadi sejenak terdiam karena teringat mantan istrinya, sekarang langsung tersadar setelah Laras menanyakan keberadaan anaknya.
"Ah maaf, saya sedikit melamun tadi. Sebelah sini, Mbak Saras. Oh iya, bisakah kita bicara dengan santai,"jawab Reza.
"Silakan Pak, senyaman Bapak saja."
Reza menganggukkan kepalanya, dia lalu mengantarkan Laras menuju ke kamar Baby El. Di dalam sana Sus Ani sedang menggantikan pakaian Baby El. Agaknya bayi itu baru saja mandi.
Laras mengerutkan alisnya ketika tak melihat tak ada Eva di sana. Laras pikir Eva akan standby di sisi Baby El layaknya seorang ibu. Tapi ternyata tidak demikian. Eva tidak ada di sana, dan hanya seorang perawat yang merawat Baby El.
"Eh Mbak Saras, selamat datang Mbak. Bentar ya Baby El baru aja kelar mandi,"jawab Sus Ani tanpa mengalihkan pandangannya dari si bayi.
"Nggak apa, Mbak Ani. Tenang aja, aku akan tunggu sampai Baby El selesai. Apa ada yang perlu aku bantu?" jawab laras.
"Aman Mbak, ini udah mau selesai kok. Nah Baby El udah siap, ututu laper yang sayang."
Sus Ani langsung memberikan Baby El kepada Laras. Bayi itu nampak senang, dia tersenyum dengan mata yang berbinar seakan mengenali Laras meski saat ini Laras mengenakan cadar.
"Siap untuk minum, sayang?" tanya Laras kepada Baby El. Namun dia tak lekas melakukannya. Bukan karena Laras tak ingin segera memberi Baby El ASI, dia jelas tidak bisa melakukannya karena Reza masih ada di sana.
"Maaf pak, apa Bapak bisa keluar. Saya tidak mungkin bisa menyusui Baby El saat Pak Reza ada di sini,"ucap Laras.
"Oh Ya Allah, maaf aku lupa. Aku beneran nggak sengaja. Aku cuma takjub aja ngelihat Baby El langsung diem dan kayak seneng gitu ketemu sama kamu. Padahal kalian baru aja ketemu kemarin kan? Oh ah maaf, maaf, aku terlalu banyak omong. Ya udah aku pergi dulu."
Reza menghentikan ucapannya karena mendengar Baby El menangis. Reza tahu bahwa putranya itu lapar, dan dia sudah menyita banyak waktu Baby El bersama ibu susunya.
Klak
Reza menutup pintu dengan perlahan. Namun, Reza tak beranjak dari depan kamar Baby El. Ya pria itu masih berdiri di samping pintu.
"Kenapa El kayak deket sama wanita itu ya? Padahal mereka baru ketemu kemarin. Dia nggak pernah tenang kalau sama Eva, aneh," gumam Reza lirih. Saat ini dia tengah membandingkan Eva dengan sang ibu susu.
Tap tap tap
Reza akhirnya pergi juga dari depan kamar anaknya. Dia hari ini memang tidak pergi bekerja karena Eva dan Rini ada urusan di luar sehingga Reza diminta untuk tetap di rumah.
"Ibu susu itu mau datang, Mas. Jadi kamu di rumah aja ya. Nggak enak soalnya kalau dia dateng tapi nggak ada orang. Soalnya dia adalah ponakan Brigita Almeida, kita nggak boleh nyepelin dan nyuekin dia."
Begitulah pesan Eva kepada Reza. Alhasil Reza lah yang berada di rumah untuk menyambut Laras.
Meski sedikit terkejut karena Laras ternyata bercadar, akan tetapi Reza tidak merasa curiga sama sekali. Yang ada malah dia seolah merasa sudah mengenal wanita itu.
"Nggak tahu lah. Mau siapa dia yang penting El dapat minun ASI. Sampe sekarang Eva belum bisa menghasilkan ASI. Beruntung ada ibu susu yang cocok, kalau nggak El bisa sakit lagi. Anak itu aku dapetin dengan susah payah. Jadi dia nggak boleh kenapa-napa. Anakku, pewaris ku, dia harus jadi kuat dan selalu sehat."
Reza bicara sendiri sambil mengingat-ingat tentang bagaimana dia sangat menantikan seorang buah hati. Dia bahkan harus menikahi lagi untuk mendapatkan Baby El. Pasalnya hingga detik ini Eva tak kunjung bisa memberikannya anak. Dan mungkin mereka Reza serta Eva harus bisa menerima bahwa mereka tak bisa memiliki anak.
Baby El akan menjadi satu-satunya anak Reza karena vonis dokter telah dipastikan Eva tak bisa memiliki keturunan.
Sebenarnya Reza sangat takut kemarin saat El tak mau menyusu. Bayi itu juga sempat sakit karena kurang ASI. Tapi rasa khawatir Reza sekarang sudah hilang sepenuhnya setelah melihat ada ibu susu yang cocok dengan anaknya.
"Saraswati, kenapa juga namanya mirip ke dia. Kan aku jadi keinget sama Laras. Ah udahlah, tuh orang udah jadi masa lalu. Nggak ada untungnya juga nginget-nginget orang yang udah nggak guna lagi."
TBC