NovelToon NovelToon
ANAK HASIL PERSELINGKUHAN

ANAK HASIL PERSELINGKUHAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Pelakor / Cerai / Penyesalan Suami
Popularitas:741
Nilai: 5
Nama Author: NeyNaa

Perselingkuhan di balas dengan selingkuh, hingga menghasilkan buah hati dalam hubungan terlarang!!!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NeyNaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Puber Kedua

Pagi itu Sulis duduk di meja makan sambil mencatat pengeluaran rumah tangga,di hadapannya terdapat sebuah buku kecil berwarna biru yang sudah mulai kusam karena sering dibuka.

Setiap rupiah yang masuk dan keluar selalu ia tulis dengan rapi,kebiasaan itu sudah ia lakukan sejak awal menikah,namun beberapa bulan terakhir, ada satu hal yang berbeda,kini Sulis tidak hanya mencatat pengeluaran,Ia juga mulai menyisihkan uang secara diam-diam,sedikit demi sedikit,kadang lima puluh ribu,seratus ribu,kadang bisa lebih jika penjualan makanannya sedang ramai.

Uang itu tidak disimpan di rumah,Ia membuka rekening tabungan atas namanya sendiri dan menyimpannya di sana,tidak seorang pun tahu,termasuk Irwan.

Awalnya Sulis merasa bersalah melakukan hal itu,seolah ia sedang menyembunyikan sesuatu dari suaminya,namun semakin lama ia menyadari bahwa dirinya harus bersiap menghadapi segala kemungkinan,ia tidak tahu bagaimana masa depan rumah tangganya,ia juga tidak tahu apakah Irwan akan berubah dan sampai kapan perselingkuhan itu akan terus berlangsung,yang ia tahu hanya satu,jika suatu hari keadaan benar-benar memburuk, ia harus mampu melindungi dirinya dan anak-anaknya.

...****************...

Sore hari ketika Dito dan Rara sedang bermain di ruang tamu, Sulis memandangi mereka cukup lama.

Dito tertawa saat adiknya kalah bermain ular tangga,Rara langsung protes sambil cemberut,suasana sederhana itu membuat hati Sulis hangat sekaligus sedih,anak-anak itu tidak tahu apa yang sedang terjadi di antara kedua orang tuanya.Mereka hanya ingin rumah yang tenang,Ayah yang hadir,dan ibu yang bahagia.

Sulis menarik napas panjang.

"Aku harus kuat," bisiknya pelan.

Bukan demi Irwan,melainkan demi kedua anaknya.

Sementara itu, kehidupan Irwan justru mulai berjalan ke arah yang berbeda.

Jika dulu ia sangat fokus pada usaha reklamenya, kini perhatiannya mulai terpecah,banyak waktunya habis untuk menemui Lastri.Perjalanan yang katanya untuk urusan pekerjaan sering kali berakhir di hotel atau penginapan,kadang satu malam,dua malam,kadang bisa lebih.

Akibatnya, banyak pekerjaan mulai terbengkalai,beberapa klien mengeluh karena pemasangan reklame terlambat,ada desain yang salah cetak,ukuran banner yang tidak sesuai pesanan,hal-hal yang dulu hampir tidak pernah terjadi.

Suatu pagi salah satu pelanggan datang langsung ke ruko.

Wajah pria itu tampak kesal.

"Mas Irwan ada?"

"Ada, Pak."

Tak lama kemudian Irwan keluar dari ruang kerjanya.

"Ada apa, Pak?"

Pria itu langsung meletakkan beberapa lembar desain di meja.

"Ini pesanan saya."

Irwan melihatnya sekilas.

Lalu wajahnya berubah,ia langsung sadar kesalahan yang terjadi.

Logo perusahaan yang seharusnya dicetak besar justru salah penempatan,bahkan beberapa informasi penting tertukar,akibat kesalahan itu, seluruh baliho harus dicetak ulang.

"Kami rugi karena keterlambatan ini, Mas."

Irwan mencoba meminta maaf,namun pelanggan tersebut tetap kecewa,akhirnya perusahaan Irwan harus menanggung biaya penggantian yang tidak sedikit.

Masalah tidak berhenti sampai di situ,beberapa minggu kemudian kesalahan lain kembali terjadi.Kali ini lebih parah,sebuah proyek reklame bernilai besar mengalami kesalahan desain dan baru diketahui setelah proses produksi selesai,akibatnya seluruh material harus diperbaiki.

Kerugian yang harus ditanggung mencapai hampir seratus juta rupiah,ketika mendengar angka itu, salah satu karyawannya sampai terdiam.

"Mas... kita rugi banyak."

Irwan hanya mengusap wajahnya,kepalanya terasa berat.

Seratus juta bukan jumlah kecil,apalagi keuntungan usaha beberapa bulan terakhir sudah mulai menurun.

Malam harinya Irwan duduk sendirian di ruang kerja rumah,di depannya terdapat tumpukan tagihan dan laporan keuangan,setelah sekian lama, ia mulai menyadari sesuatu,usahanya tidak lagi berjalan sebaik dulu,pemasukan menurun,pelanggan mulai berkurang,serta keluhan semakin banyak.Namun bukannya mencari akar masalah, Irwan justru lebih sering menyalahkan keadaan,menyalahkan karyawan,menyalahkan persaingan usaha,serta ekonomi yang sedang sulit.

Padahal jauh di dalam hati, ia tahu penyebab utamanya adalah ia sendiri,yang sudah tidak fokus seperti dulu,tidak lagi bekerja dengan sepenuh hati,dan mengawasi usaha yang dibangunnya dari nol.

Sulis memperhatikan suaminya dari dalam kamar.

Wajah Irwan terlihat lebih lelah dari biasanya,namun Sulis tidak bertanya,ia hanya kembali membuka buku tabungannya,mencatat pemasukan hari itu,lalu menambahkan sejumlah uang ke dalam perhitungan masa depannya.

Tabungan itu memang belum besar,tapi cukup untuk memberinya rasa aman,Sulis semakin memahami satu hal,ia tidak bisa menggantungkan seluruh hidupnya pada Irwan.

...****************...

Minggu-minggu berikutnya menjadi masa yang berat bagi usaha reklame milik Irwan,dulu, telepon di rukonya hampir tidak pernah sepi,pelanggan datang silih berganti,bahkan terkadang ia harus menolak beberapa pesanan karena kapasitas produksi sudah penuh,kini keadaan mulai berubah.

Beberapa pelanggan lama memilih menggunakan jasa percetakan lain,sebagian mengeluhkan keterlambatan,sebagian lagi merasa kualitas pelayanan sudah tidak seperti dulu,hal-hal kecil yang selama ini menjadi kekuatan usaha Irwan perlahan mulai hilang.

"Mas, klien toko bangunan batal pasang billboard bulan depan."

Salah satu karyawan menyerahkan pesan yang baru diterimanya.

Irwan mengangkat kepala.

"Kenapa?"

"Mereka bilang mau coba vendor lain."

Irwan terdiam.

Padahal klien itu sudah bekerja sama dengannya hampir tiga tahun,biasanya mereka selalu memperpanjang kontrak tanpa banyak pertimbangan,kini mereka memilih pergi,dan itu bukan yang pertama.

Di ruang kerja yang dulu selalu membuatnya bersemangat, Irwan mulai sering termenung,pikirannya tidak lagi fokus pada desain, pemasaran, atau pengembangan usaha,sebagian besar waktunya justru habis memikirkan kapan bisa bertemu Lastri lagi.

Bahkan ketika sedang rapat dengan klien, sesekali ia memeriksa ponsel keduanya yang disimpan diam-diam di dalam tas,jika ada pesan dari Lastri, suasana hatinya langsung berubah,jika tidak ada kabar, pikirannya menjadi gelisah,tanpa sadar, hubungan itu mulai mengendalikan hidupnya.

Sementara di rumah, Sulis terus menjalankan rutinitasnya,usaha makanan online yang awalnya hanya iseng-iseng kini mulai berkembang,beberapa pelanggan mulai memesan dalam jumlah lebih banyak.

Bahkan ada sebuah kantor kecil yang rutin membeli makan siang setiap minggu,keuntungan yang diperoleh memang masih jauh dibanding penghasilan Irwan pada masa jayanya,tapi Sulis tidak mengeluh,sedikit demi sedikit tabungannya bertambah.

Sedikit demi sedikit rasa percaya dirinya kembali tumbuh.

Di saat yang sama, Irwan justru sedang berada di luar kota bersama Lastri,sebuah hotel yang nyaman dan tersembunyi menjadi tempat pertemuan mereka malam itu.Mereka makan malam bersama, berbincang, lalu menghabiskan waktu hingga larut,Lastri bercerita tentang mimpinya membuka usaha kecil,sementara Irwan mendengarkan sambil tersenyum.

Irwan menatap Lastri yang tengah asik bercerita, melihat wajah Lastri yang bersemangat seolah mengangkat separuh beban dari kepalanya.

Jemari Irwan mulai menjelajah lewat selah kecil milik Lastri, sontak membuat Lastri terkejut, bukannya menghindar, ia mendekatkan lagi kepalanya tepat didepan wajah Irwan yang sedari tadi sudah menelan ludah.Lastri tau maksud Irwan, Irwan yang lelah dari pekerjaan, ingin mengisi ulang dayanya, sontak Lastri sedikit mengila, ia menarik paksa kemeja Irwan dan melemparnya kelantai.

Irwan hanya pasrah melihat kepiawaian Lastri menservis dan mengisi tenaga,Lastri mendarat tepat diatas,Irwan mengeliat bak cacing kepanasan,ia tak kuasa memejamkan matanya,sambil meremas milik Lastri. Bagai menaiki kuda,Lastri seperti telah meneguk ramuan penguat,tanpa lelah melayani seseorang yang tak memiliki satus dengannya seolah menunjukan bahwa,aku penguasa atas dirimu.Satu hal yang tak dipunyai oleh istri SAH nya,Sulis tak akan pernah bisa di bandingkan dengan Lastri, jika bicara soal ranjang.

Setelah puas menjelajah,keduanya terbaring menatap langit-langit kamar, nafas mereka masih berlomba satu sama lain, meski udara didaerah itu sangat dingin tak membuat keduanya mengenakan selimut yang tersedia di kamar, justru malam itu bulir-bulir keringat bercucuran, bak habis berlari maraton.

1
Yati Adek
dasar janda bolong wkwkwk
NeyNaa: wkwkwkw tenangin diri kak 🤣🤣
total 1 replies
Yati Adek
dasar janda gatal
Yati Adek
memang perempuangktau malu
NeyNaa: mksh ud mmpir kak 😄
total 1 replies
Neriya Naura
Si lakor kayaknya pke guna2, si iwan ampe segitunya, author matiin tu lakor, gatal bgt....
Si sulis juga demen bgt masih betah am tu laki...
NeyNaa: jgn emosi kak 🤭
total 1 replies
NeyNaa
ud buta sma cnta, efeknya amnesia 🤭
Lili Amalia
laki2 klau sdh mulai mengalami puber ke 2 atau apapun itu alasannya, TDK akan bisa mendengar nasihat dari siapapun.
kalau kata aku sih biar saja mreka ,dan s istri minta talak 3 dan cari cuan sebanyak banyaknya tuk menyenangkan diri sendiri dan anak. Ngapain bertahan dg laki2 tdk setia. najis .
Neriya Naura
Gak tau malu bgt 🤭
Neriya Naura
Ni si pastri gatel ya gak ketulungn, gatel+gak tau malu, si iwan juga silau bgt ama godaan janda🤭, lemah bgt imannya.
NeyNaa: tenangkan dirimu kak...🤭
total 1 replies
Neriya Naura
Cerita menarik, makin seru, si suami naksir janda gatel...
Neriya Naura
Si pastri gatel bgt sih.... 🤭
NeyNaa
seru
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!