NovelToon NovelToon
Bocah Cadel Itu Suami Ku

Bocah Cadel Itu Suami Ku

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / CEO / Perjodohan
Popularitas:3.7k
Nilai: 5
Nama Author: Alia Chans

Brielle Ardelia Noor selalu hidup bak putri kerajaan—dikelilingi keluarga hangat, kakak-kakak jahil, dan Daddy yang selalu memanjakannya.

Sampai suatu malam… hidupnya berubah.

Demi menyelamatkan perusahaan keluarga, Brielle harus menerima perjodohan dengan putra keluarga rival.

Masalahnya?
Calon suaminya adalah cowok dingin, menyebalkan… dan seorang bocah cadel yang paling ingin ia hindari.

Namun, siapa sangka—di balik tutur katanya yang tak sempurna, tersembunyi cinta paling tulus yang belum pernah sebelumnya Brielle temui

•“Katanya dia cadel dan aneh…
Tapi kenapa cuma dia yang mampu bikin Princess Noor jatuh paling dalam?” ✨


•“Dijodohkan demi bisnis? Brielle siap memberontak.
Tapi semuanya berubah saat si bocah cadel itu mulai memanggilnya… ‘istri’.” 💍

" kenapa harus bocah kek lu sih, yang jadi Suami gw~

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alia Chans, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kecewa

Beberapa minggu berlalu sejak Brielle tinggal di mansion Garendra. Hubungannya dengan Nevran masih sama—dingin di luar, tapi ada sesuatu yang hangat di sela-sela.

Sampai suatu sore, Nevran pulang lebih awal dari biasanya.

Ia berjalan menyusuri lorong menuju ruang kerja Daddy-nya. Tanpa mengetuk, ia langsung memutar gagang pintu dan masuk. Rakael Garendra yang sedang duduk di balik meja kerja menatap anaknya dengan alis terangkat.

“Apa semakin dewasa, kau kehilangan tata krama, boy?”

Nevran tidak menjawab. Ia berjalan ke sofa di depan meja kerja lalu duduk dengan santai. Matanya menatap Daddy-nya dingin.

Rakael menghela napas panjang. Ia meletakkan pulpen di atas meja dan menyandarkan punggung di kursi. “Katakan.”

“Aku ingin menikah.”

Rakael tidak terkejut. Sebaliknya, senyum miring tersungging di bibirnya. “Apa kau tidak takut dengan konsekuensinya, boy?”

Nevran menatap Daddy-nya dengan tatapan tajam. “Menyakiti putra harammu?”

Rakael terkekeh kecil. “Atau menyakiti diri sendiri?”

Nevran diam. Rahangnya mengeras.

“Kau tahu, boy,” lanjut Rakael sambil memainkan pulpen di jemarinya, “aku sangat ingin berpura-pura... bahwa ini semua karena cinta. Tapi kau dan aku sama-sama tahu, tidak segampang itu.”

“Aku tidak peduli.” Suara Nevran dingin. “Pokoknya aku ingin menikah. Atau kau ingin aku membawa Mama pergi dari hidupmu?!”

Hening.

Rakael menatap anaknya lekat-lekat. Senyumnya masih tersisa, tapi matanya berubah serius. “Sungguh ancaman yang menyeramkan.”

Ia berdiri, berjalan ke jendela, membelakangi Nevran.

“Baiklah. Urus sendiri perizinannya. Aku tidak mau ikut campur.”

Nevran berdiri tanpa berkata apa-apa, lalu keluar dari ruangan. Pintu ditutup tidak terlalu keras—tapi cukup membuat Rakael tersenyum getir.

“Anak muda... pikirannya cuma itu-itu saja.”

---

Di mansion keluarga Noor, suasana tidak seperti biasanya.

Brielle duduk di sofa ruang tamu. Wajahnya pucat. Matanya merah, tapi air matanya belum jatuh. Di sekelilingnya, Freya duduk di samping, Arven dan Zayden berdiri di belakang sofa dengan rahang mengeras.

Om Rakael—Daddy Nevran—baru saja pergi setelah menyampaikan kabar itu.

“APA GAK CUKUP, DAD?!”

Suara Brielle meledak. Tangannya mengepal di pangkuan.

“Apa gak cukup cuma pertunangan aja?! Dan sekarang?!” Ia tertawa kecil. Pahit. Miris. “Menikah?!”

Arven mengepalkan tangan. “Daddy—”

“Daddy tidak menerima bantahan, Arven.”

Suara Daddy memotong dingin. Belum lagi naik ke kamar. Ia masih berdiri di dekat pintu, menatap putrinya dengan sorot yang tidak bisa dibantah.

“Jangan kira Daddy tidak tahu.” Daddy melangkah mendekat satu langkah. “Sampai sekarang, kamu masih menjalin hubungan dengan pacar kamu. Di saat kamu masih punya tunangan. Jangan salahkan Daddy.”

Brielle menggigit bibir. Tidak bisa membantah.

“Daddy tidak akan mengulangi lagi. Ini sudah keputusan Daddy.”

Tanpa menunggu jawaban, Daddy berbalik dan menaiki tangga menuju kamarnya. Setiap langkahnya berat, tegas, dan meninggalkan kehampaan di ruang tamu.

Brak.

Pintu kamar Daddy tertutup.

Brielle lemas. Tubuhnya tergelincir dari sofa ke karpet. Kepalanya menunduk. Tangannya lemas di samping.

“Mom...” suaranya lirih. Hampir tidak terdengar.

Freya segera turun dari sofa, memeluk putrinya erat. Kedua tangannya membelai rambut Brielle dengan lembut—seperti saat Brielle masih kecil dan jatuh dari sepeda.

“Mom...” Brielle kembali memanggil, kali ini isaknya mulai pecah.

“Elle sayang... Mommy ada di sini.”

“Elle gak siap nikah, Mom...”

Freya memejamkan mata. Air matanya jatuh—tapi ia usap cepat-cepat. Ia harus kuat untuk putrinya.

“Mommy tahu, sayang. Mommy tahu.”

“Aku masih sekolah, Mom. Aku masih punya mimpi. Aku masih...” Brielle menggigit bibir. Air matanya akhirnya jatuh. “Aku masih sayang Elvaro.”

Arven yang dari tadi diam, mengepalkan tangan lebih erat. Zayden memejamkan mata, menahan amarah.

“Tapi Daddy...” Brielle terisak. “Daddy gak pernah denger aku.”

Freya membelai rambut Brielle lembut. Matanya juga basah.

“Mommy akan bicara sama Daddy.”

“Gak akan guna, Mom. Daddy sudah punya rencananya sendiri. Aku cuma... aku cuma anak perempuan yang harus nurut.”

Hening.

Arven akhirnya bersuara. “Princess, kakak gak akan biarin.”

Brielle mengangkat wajah. Matanya sembab, pipinya basah.

Zayden mengangguk, ikut jongkok di samping Brielle. “Iya, Princess. Kakak berdua belain kamu.”

“Kak Arven... Zayden...” suara Brielle pecah.

“Kita bakal bicara sama Daddy. Lo gak sendirian.”

“Tapi—”

“Percaya sama kakak, Princess,” potong Arven lembut. “Sekali ini, percaya.”

Brielle tersenyum tipis. Senyum yang tidak sampai ke mata. Tapi setidaknya, ada sedikit cahaya di sana.

“Makasih, Kak Arven. Makasih, Kak Zayden.”

Freya mengelus pipi Brielle. “Sekarang istirahat dulu, sayang. Mom bawain susu hangat.”

Brielle menggeleng pelan. “Gak mau. Mom... temenin Elle di sini aja.”

Freya mengangguk. Ia membiarkan Brielle tetap di pangkuannya, seperti saat Brielle masih kecil dan takut badai.

“Mom...”

“Hm?”

“Elle takut.”

Freya menggenggam tangan Brielle erat. “Takut sama apa, sayang?”

Brielle tidak menjawab. Ia hanya memandangi gelang kelinci di pergelangan tangannya.

Malam itu, Brielle tidak tidur di kamarnya. Ia tidur di pangkuan Mamanya, di sofa ruang tamu, seperti saat ia masih kecil dan berlindung dari segala ketakutan dunia.

Dan di kejauhan, di mansion Garendra, Nevran berdiri di balkon kamarnya, memandang langit malam yang gelap.

Ia tahu.

Ia tahu apa yang ia lakukan.

Dan ia tidak akan mundur.

Bersambung

1
Lucky Ferdinand Sihombing
lanjutttgt
Lucky Ferdinand Sihombing
Gak brisik gak Briellle 🤣🤣
Lucky Ferdinand Sihombing
lucu bet mereka berantam 🤣🤣
Lucky Ferdinand Sihombing
hadir 💪
jeeny sihombing
lanjut pokoknya💪
jeeny sihombing
keren
cila_aa
Haii salam kenal kak🖐


bantu support juga yaa😇
Alia Chans: Salken juga kk☺
total 1 replies
Wulandari Ayuningtyas
et si cadel bisa ae maen nyosor aja 😩
Wulandari Ayuningtyas: wkwk🤣🤣
total 2 replies
Wulandari Ayuningtyas
itu om om suruh share lok buruan thor,mau aku gampar dengan kata kata 🤣
Wulandari Ayuningtyas: iya biar sadar dia 🤣
total 2 replies
Adinda
buat peran cewek Manis dan imut anak pindahan sekolah lain Dan buat brielle panas karena nevran dekat sama cewek itu Thor pasti seru
Alia Chans: Saran diterima kk🙏🏻😊
total 1 replies
jeeny sihombing
good💪
jeeny sihombing
suka pokoknya, cerita nya gk klise gitu, bintang lima deh
Nelson Sihombing
mampir
SANG
Asik ya
SANG
Seru ya
SANG
Like iklan plus komen👍💪
SANG
Bunga untukmu dek/Rose//Rose//Rose//Rose//Rose/
SANG: Masama dek/Rose/
total 2 replies
SANG
Lanjut dek👍💪
SANG
Semangat dek👍💪
SANG
Aku hadir dek👍💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!