Aurel, gadis sederhana dari desa Kembang, datang ke Jakarta demi menggantikan ibunya yang sakit. Hidupnya berubah saat ia bekerja di rumah keluarga kaya dan tanpa sengaja terlibat dalam kehidupan Arvano—pria dingin yang tak peduli wanita selain ibunya.
Perasaan yang seharusnya tidak ada— justru tumbuh di antara mereka.
Namun perbedaan status menjadi tembok besar yang memisahkan. Penolakan, penghinaan, dan masa lalu yang tersembunyi mulai menguji hubungan mereka.
Saat semuanya perlahan membaik dan kebahagiaan hampir tergenggam— sesuatu yang tak terduga terjadi.
Aurel menghilang.
Diculik oleh seseorang yang ingin menghancurkan hidupnya.
Dalam keputusan dan waktu yang terus berjalan, Arvano harus memilih—
Menyelamatkan wanita yang ia cintai?
atau kehilangan segalanya untuk kedua kalinya?.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bila Official, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18. Pergi Kemall
Indah sejak tadi mondar-mandir di ruang tengah sambil memeriksa daftar belanja di tablet miliknya. Beberapa kebutuhan rumah ternyata mulai habis, ditambah lagi ada beberapa bahan untuk bisnis fashion miliknya yang harus dibeli langsung ke mall.
Di sisi lain, Aurel sedang membantu Feni membereskan dapur setelah sarapan selesai. Suara piring beradu pelan memenuhi dapur. Aroma teh hangat masih terasa di udara.
Namun suasana hati Aurel sebenarnya cukup baik pagi itu. Sejak hubungan rahasianya dengan Arvano dimulai, hari-harinya terasa lebih berwarna. Walaupun tetap harus sembunyi-sembunyi, walaupun tetap penuh rasa takut.
Namun perhatian kecil dari Arvano selalu berhasil membuat hatinya hangat, justru itu yang membuat Aurel semakin takut kehilangan semuanya.
“Aurel.” Suara Indah terdengar dari ruang tengah.
Aurel langsung keluar dari dapur. “Iya, Bu?”
“Kamu ikut saya ke mall ya.” Ucap Indah.
Aurel sedikit kaget. “Hah? Saya?”
“Iya. Barangnya banyak.” Ucap Indah.
“Oh… iya Bu.”
Feni langsung ikut bicara, “Hati-hati ya kalian.”
Indah tersenyum kecil. “Tenang.”
Tak lama kemudian, Mobil Indah keluar dari halaman rumah.
Aurel duduk di kursi belakang sambil melihat jalanan Jakarta dengan kagum seperti biasanya. Meski sudah beberapa minggu tinggal di kota itu, Ia masih belum terbiasa melihat gedung-gedung tinggi dan jalanan ramai.
Indah yang melihat ekspresinya hanya tersenyum kecil. “Masih kagum sama Jakarta?”
Aurel langsung malu. “Hehe… iya, Bu.”
“Kamu nanti pasti terbiasa.”
Aurel mengangguk kecil.
Namun sebenarnya, Ia masih sering merasa dirinya bukan bagian dari dunia itu. Dunia mewah milik keluarga Argas.
Mall yang mereka datangi cukup besar dan ramai. Lampu-lampu terang menyala di setiap sudut. Musik pelan terdengar dari speaker.
Aurel sampai beberapa kali menoleh kagum ke arah etalase toko-toko mahal. Indah diam-diam memperhatikannya, lalu tersenyum kecil sendiri.
Entah kenapa, Indah merasa nyaman mengajak Aurel. Karena gadis itu tidak pernah terlihat matre atau dibuat-buat. Sederhana, dan tulus.
Indah semakin menyukai sifat Aurel. “Aurel.”
“Iya Bu?” Aurel menoleh ke Indah.
“Tolong pilih warna kain yang cocok buat model ini.” Perintah Indah.
Aurel langsung mendekat melihat desain di tablet Indah. “Kalau ini kayaknya cocok warna cokelat susu, Bu.”
Indah sedikit terkejut. “Kamu ngerti juga?”
Aurel tertawa kecil malu. “Enggak terlalu… cuma kayaknya bagus aja.”
Namun saat Indah membandingkan beberapa warna, ternyata pilihan Aurel memang paling cocok.
Indah sampai mengangguk puas. “Selera kamu bagus.”
Aurel langsung salah tingkah. “Hehe… Biasa saja, Bu.”
Sejak Aurel datang menggantikan Freya, Indah perlahan mulai merasa rumahnya berubah lebih hangat.
Gadis itu selalu bekerja tanpa mengeluh, selalu sopan, dan yang paling membuat Indah nyaman yaitu, Aurel tidak pernah mencoba cari perhatian pada keluarganya.
Berbeda dengan Erika, yang sejak awal terlalu memaksakan diri terlihat sempurna.
Semakin lama, Indah mulai sadar. Ada sesuatu yang tidak tulus dari Erika. Namun Indah tidak pernah punya bukti jelas.
Setelah belanja selesai, hari sudah mulai sore. Aurel membantu memasukkan beberapa kantong belanja ke bagasi mobil. Indah baru saja menutup pintu mobil saat tiba-tiba Indah terdiam. Tatapannya lurus ke arah pintu masuk mall. Keningnya langsung berkerut.
Aurel yang sadar perubahan wajah Indah langsung bingung. “Bu?”
Indah tidak menjawab. Tatapannya masih fokus ke satu arah. Aurel akhirnya ikut menoleh, dan langsung melihatnya.
Erika sedang berjalan masuk ke mall sambil tertawa kecil bersama seorang pria.
Dan pria itu, jelas bukan Arvano. Mereka terlihat sangat dekat. Terlalu dekat untuk sekadar teman biasa, bahkan pria itu sempat merangkul pinggang Erika pelan.
Mata Indah langsung membesar. “Ya ampun…” Nada suaranya terdengar kecewa. Aurel juga ikut kaget. Namun ia cepat-cepat melihat sekitar. “Bu… jangan langsung dipanggil.”
Indah masih terlihat tidak percaya. “Itu Erika.”
Aurel langsung berpikir cepat. “Bu… foto aja diam-diam.”
Indah menoleh cepat. “Hah?”
“Biar ada bukti.” Sahut Aurel.
Indah akhirnya langsung mengambil ponselnya, dengan tangan sedikit gemetar. Kemudian memotret Erika dan pria itu dari jauh.
Klik. Klik.
Beberapa foto berhasil diambil. Dan semakin Indah melihat kedekatan mereka, semakin besar rasa kecewanya.
“Kurang ajar.” gumamnya Indah yang pelan.
Aurel diam. Ia bisa melihat sendiri betapa kecewanya Indah saat itu. Karena selama ini, keluarga mereka benar-benar mempercayai Erika.
Sepanjang perjalanan pulang, Indah lebih banyak diam. Tatapannya kosong ke depan.
Sementara Aurel juga tidak tahu harus bicara apa. Suasana mobil terasa berat.
“Bu…” Aurel memanggil Indah.
Indah menghela napas panjang. “Pantas saja Arvano selalu dingin sama dia.”
Aurel langsung menoleh. “Hm?”
“Mungkin Arvano sudah tahu sesuatu.” Ucap Indah.
Aurel diam.
Karena sebenarnya, Ia tahu lebih banyak dari yang Indah kira. Namun tentu saja, Indah tidak bisa mengatakan apa pun.
Menjelang malam, Semua anggota keluarga akhirnya sudah pulang.
Bagaskara baru masuk rumah sambil melepas jas. Sementara Arvano berjalan masuk sambil membuka dasi.
Di ruang tamu, Indah sudah duduk sejak tadi dengan wajah serius. Aurel berada di dapur bersama Feni. Namun telinganya diam-diam mendengar suasana ruang tamu.
“Duduk dulu.” Nada suara Indah membuat Bagaskara mengernyit. “Ada apa?”
Arvano juga langsung sadar ada sesuatu yang tidak biasa.
Indah mengambil ponselnya. Tanpa banyak bicara, lansung menunjukkan foto-foto Erika di mall tadi.
Ruangan langsung sunyi. Bagaskara mengambil ponsel itu cepat. “Kapan ini?!”
“Tadi sore.” Sahut Indah.
Wajah Bagaskara langsung berubah kesal.
Sementara Arvano, justru terlihat tenang. Sangat tenang.
Indah langsung menoleh heran. “Kamu enggak kaget?”
Arvano bersandar santai. “Karena aku udah tahu.”
Deg.
Bagaskara langsung menatap tajam. “Maksud kamu?”
Arvano menghela napas kecil. “Dia selingkuh udah lama.”
Indah membulatkan mata. “Kamu tahu tapi diam aja?!”
“Aku males ribut.” Arvano menjawab dingin. “.....Aku juga enggak pernah suka sama dia.”
Bagaskara mulai emosi. “Terus kenapa baru bilang sekarang?!”
“Papa enggak akan percaya.” Ucapannya Arvano langsung membuat Bagaskara diam sesaat.
Karena memang benar. Selama ini kedua orang tua arvano terlalu percaya pada keluarga Erika karena hubungan bisnis mereka.
Bagaskara langsung berdiri. “Aku telepon ayahnya sekarang.”
Indah masih terlihat kesal. Sementara Arvano hanya diam.
Tak lama kemudian… Telepon tersambung. Bagaskara langsung bicara tegas.
Pesan
Bagaskara: Pak, saya mau tanya. Anak bapak ini sebenarnya bagaimana?
Ayah Erika: Ada apa, Pak Bagaskara?
Bagaskara: Saya kirim foto sekarang.
Beberapa detik kemudian, Foto itu terkirim. Suasana ruang tamu langsung tegang.
Tak lama— Telepon kembali berbunyi.
Ayah Erika langsung tertawa kecil gugup. “Itu cuma salah paham, Pak.”
Bagaskara mengernyit tajam. “Salah paham?”
“Itu adiknya Erika.” Kata Bapaknya Erika.
Padahal, di sisi lain telepon, Erika sedang duduk tepat di samping ayahnya dengan wajah tegang. Wanita itu menggigit bibirnya sendiri panik, seolah tahu, situasi mulai berbahaya.
Namun meski ayah Erika mencoba berbohong, Baik Indah maupun Arvano tidak percaya sedikit pun. Tatapan mereka sudah cukup untuk menunjukkan itu.
Bagaskara mulai goyah, karena selama ini terlalu keras memaksakan hubungan Arvano dan Erika demi bisnis.
Namun sekarang, bukti mulai muncul di depan mata. Dan itulah membuat pikirannya kacau.
Malam semakin larut. Suasana rumah terasa jauh lebih dingin dibanding biasanya.
Di dapur, Aurel diam-diam memikirkan semuanya sambil mencuci gelas. Ia tahu, cepat atau lambat hubungan keluarga Argas dan Erika pasti akan hancur.
Dan itu berarti, Hubungannya dengan Arvano mungkin akan semakin rumit.
Sementara itu, di kamarnya sendiri, Erika sedang menangis marah sambil melempar barang. “Kenapa bisa ketahuan?!” Tangannya gemetar karena emosi.
Kemudian, tangisnya berhenti, dan perlahan, tatapannya berubah dingin. Sangat dingin. “Kalau keluarga Argas mulai membenciku…” Menggenggam ponselnya kuat-kuat. “…maka Aurel juga enggak boleh hidup tenang.”
Dan malam, Seseorang mulai menyusun rencana yang jauh lebih berbahaya dari sebelumnya.