Demi memastikan calon tunangan yang akan dijodohkan orang tuanya, Bella terpaksa menyamar bekerja di perusahaan milik Gilang, pria yang dipilih oleh sang papa untuk menjadi suaminya.
Satria Wijaya,, papa Bella adalah seorang pengusaha kaya raya dan Bella adalah anak semata wayang pasangan Satria dan Hani. Bella tentu tidak ingin calon suaminya, bersedia menikah dengannya hanya karena harta dan ia pun ingin memastikan jika pria yang akan menjadi pendamping hidupnya adalah pria setia.
Namun, kesalahpahaman terjadi. Gilang justru menganggap Bella adalah wanita simpanan Satria karena Satria lah yang meminta Gilang untuk mempekerjakan Bella sebagai sekretaris Gilang tanpa melalui proses pengrekrutan karyawan pada umumnya.
Lantas, bagaimana perjalanan kisah mereka selanjutnya? Ikuti saja kisah Bella dan Gilang dalam novel Sekretaris Palsu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon REZ Zha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menyelamatkan Gilang
Mereka tiba di sebuah western restorant semi formal . Restoran itu dipilih oleh calon relasi kantor Mahesa Persada untuk membahas rencana kerja sama mereka.
Ruang yang dipilih ternyata private room oleh calon relasi mereka. Saat mereka tiba, pegawai restoran mengantar mereka di ruangan yang dituju hingga kini mereka sampai di depan pintu private room yang sudah dipesan.
"Ini ruangannya, Pak. Silakan!" Pelayan lalu mengetuk pintu dan mempersilakan mereka masuk setelah menggeser pintu hingga terbuka.
"Terima kasih," sahut Gilang.
Pegawai restoran lalu meninggalkan mereka setelah menyelesaikan tugasnya.
Gilang dan Bella melangkah masuk ke privat room. Hanya ada seorang wanita di dalam ruangan itu.
"Selamat siang, Pak Gilang." Wanita itu bangkit dan menyapa Gilang.
Bella dan Gilang menunjukkan ekspresi yang sama melihat penampilan wanita itu. Dia mengenakan pakaian dengan model off shoulder. Memperlihatkan bahu dan tulang selangka putih mulus, yang dapat membuat lawan bicara kurang konsentrasi, apalagi dengan dada penuh sampai terlihat lekukan yang membelahnya.
"Siang, Bu." Gilang membalas sapaan wanita itu, sementara Bella langsung menunjukkan ekspresi tak suka dan merasa terganggu dengan penampilan calon relasi bisnis Gilang
"Perkenalkan, saya Helen Maharani, Pak. Saya pimpinan Maharani Putra" Helen memperkenalkan diri dengan nada lembut bahkan terkesan dibuat-buat dan manja.
"Senang bertemu dengan Ibu Helen." Gilang menerima ukuran tangan Helen.
Bella langsung mendelik pada Gilang mendengar balasan bosnya itu.
"Dia pasti suka melihat dadanya." Sambil memutar bola matanya, Bella mencibir Gilang yang tergoda melihat dua aset Helen yang terlihat bulat dan penuh. Sontak ia melirik miliknya yang tak sebesar milik Helen. "Ah, paling juga itu hasil operasi." cibir Bella masih bangga miliknya alami tanpa oplas.
"Ternyata Pak Gilang lebih tampan aslinya, lho." Tampa rasa malu Helen memuji Gilang dengan nada menggoda.
"Disgusting!" Bella terus mengumpat dalam hatinya, menduga Helen sedang berusaha menggoda Gilang.
"Anda terlalu berlebihan." Dengan tertawa kecil Gilang menjawab. Dia hanya bersikap profesional. Sebenarnya dia pun merasa tak nyaman dengan penampilan Helen. Untung saja ada Bella yang menemaninya siang ini.
"Silakan, Pak Gilang!" Helen lalu mempersilakan Gilang duduk tepat sejajar di hadapannya.
"Terima kasih." Gilang menarik kursi di depan Helen dan mendudukinya.
"Saya senang bisa bertemu langsung dengan Pak Gilang. Saya harap kita bisa bekerja sama." Helen berbicara dengan menggerakkan tubuhnya dengan gemulai, seperti seorang wanita yang sedang melakukan aksi flirting.
"Apa dia terkena ambeien?" Melihat gestur tubuh Helen yang tidak bisa diam, terus mengoyangkan tubuhnya, dalam hati Bella kembali mencibir, menganggap Helen sedang mengalami penyakit wasir.
"Semoga saja, Bu. Sebelumnya kalau boleh tahu, perusahaan Ibu bergerak di bidang apa?" tanya Gilang, ingin tahu usaha calon relasi bisnisnya sebelum memutuskan akan bekerja sama.
"Sebenarnya bisnis yang saya geluti nggak berhubungan dengan bisnis Pak Gilang. Hanya saja saya berminat membeli saham dari perusahaan Pak Gilang. Saya dapat info katanya saham Mahesa Persada sempat dibuka untuk publik" Helen menjelaskan maksudnya bertemu Gilang. Dia menyatakan ketertarikannya membeli saham PT. Mahesa Persada.
"Beberapa waktu lalu memang benar, Bu. Tapi, sudah ada yang membeli saham kami." Gilang menjelaskan.
"Aduh, sayang sekali saya telat. Mungkin Pak Gilang ingin menambah modal lagi? Saya siap menanamkan modal di perusahaan Pak Gilang." Helen tak putus asa, tetap berusaha agar dirinya bisa berkoneksi dengan Gilang.
Gilang tersenyum menanggapi tawaran Helen. "Untuk sementara ini saya rasa modal yang ada sekarang sudah cukup, Bu. Kami memproduksi sesuai pesanan saja." Gilang tak ingin menambah modal dan memproduksi terlalu banyak barang yang belum pasti penjualannya. Itu hanya akan menjadi beban perusahaan karena harus membayar deviden bagi para pemegang saham.
Helen lalu mengambil sesuatu dari tasnya dan menyodorkannya pada Gilang.
"Ini kartu nama saya, jika Pak Gilang berubah pikiran, Pak Gilang bisa menghubungi saya," ujarnya kemudian.
Gilang dan Bella sama-sama memperhatikan kartu nama di tangan Helen. Merasa tak enak menolak, Gilang lalu menerima kartu nama itu dengan terpaksa.
"Biar kartunya saya saja yang pegang, Pak." Belum satu menit kartu itu di tangan Gilang, Bella sudah meminta Gilang menyerahkan kartu nama Helen padanya. "Kalau Bapak perlu, bisa tanyakan ke saya." Bella tidak ingin memberi kesempatan Gilang berinteraksi dengan Helen.
Gilang dan Helen sama-sama menoleh pada Bella. Helen tampak kesal sementara Gilang tersenyum mengiakan dan menyerahkan kartu nama Helen pada Bella.
Helen memaksakan tersenyum meskipun hatinya jengkel pada Bella.
"Ngomong-ngomong, Pak Gilang ini masih single atau sudah menikah?" Tiba-tiba Helen menanyakan hal di luar urusan bisnis.
Sudut mata Bella mengarah pada Gilang, menanti jawaban pria itu. "Apa dia akan mengaku masih single supaya punya kesempatan dengan wanita genit ini?" Bella menebak-nebak.
"Saya akan bertunangan, Bu."
Jawaban Gilang membuat Bella bernafas lega hingga sudut bibirnya melengkung. Gilang tak mengaku single. Mengaku akan bertunangan seakan menegaskan jika pria itu sudah ada yang akan memiliki.
"Kalau saya kebetulan baru berpisah dengan suami." Helen memberitahu statusnya saat ini pada Gilang.
"Oh, begitu, ya?" Gilang tersenyum menyeringai, merasa tak penting Helen memberitahu statusnya.
"Dih, siapa juga yang tanya? Kegatelan banget dia!" Bella makin yakin jika tujuan Helen sesungguhnya cuma ingin mendekati dan mencari perhatian Gilang.
"Saya harap kita bisa melanjutkan komunikasi, tidak hanya berakhir di sini, meskipun Pak Gilang belum berminat dengan tawaran saya tadi," ujar Helen kemudian.
"Dasar wanita nggak tahu malu!" Bella geram melihat Helen masih saja berharap bisa terus berinteraksi dengan Gilang.
Bella lalu mengambil ponsel di saku blazer-nya. Dengan cepat dia mengetik pesan dan mengirim pada papanya.
"Pih, telepon calon mantu Papih, bilang Papih mau ke kantornya sekarang juga! URGENT!!"
Tanpa menunggu balasan dari papanya, Bella menaruh kembali ponselnya. Dia tak perduli apa yang harus dilakukan sang papa di kantor Gilang nanti, yang penting ia harus segera menyelamatkan Gilang dari janda muda yang genit itu.
Ddrrtt ddrrtt
Dua menit berselang, ponsel Gilang berbunyi, senyum pun mengembang di bibir Bella, sebab ia yakin itu nada dering di ponsel Gilang adalah panggilan telepon dari papanya.
Gilang merogoh saku bagian dalam blazer-nya. Setelah ia membaca nama Pak Satria yang menghubungi, dia pun meminta izin pada Helen untuk menerima panggilan telepon masuk.
"Maaf, Bu. Saya angkat telepon dulu." Gilang mengangkat panggilan masuk dari Pak Satria tanpa menunggu persetujuan Helen.
"Selamat siang, Pak Satria. Bagaimana, Pak?" tanya Gilang ketika sambungan telepon terhubung.
"Siang, Nak Gilang. Apa Nak Gilang ada di kantor? Saya akan ke kantor Nak Gilang sekarang." Seperti permintaan putrinya, Pak Satria langsung melaksanakan apa yang diperintah Bella.
"Bapak ingin ke kantor saya? Kebetulan saya di luar, sebentar lagi akan kembali ke kantor, Pak." Gilang tak menyangka akan kedatangan Pak Satria di kantornya. Ini sangat mendadak dan dia harus segera kembali ke kantor karena tidak mempunyai persiapan apa-apa.
"Saya akan berangkat ke sana sekarang," ucap Pak Satria.
"Baik, Pak. Saya tunggu kedatangan Bapak." Setelah menjawab, mereka pun mengakhiri percakapan.
"Mohon maaf, Bu Helen, saya tidak bisa lama-lama, ada hal penting sehingga saya harus kembali ke kantor." Gilang lalu bangkit dan berpamitan pada Helen. Dia tak bisa mengabaikan kedatangan Pak Satria di kantornya. Dia ingin sampai lebih dulu di kantor sebelum Pak Satria tiba.
"Lho, kok buru-buru, Pak? Belum sempat dimakan hidangannya." Helen kecewa karena Gilang sudah ingin pergi meninggalkannya.
"Maaf, Bu. Ini mendadak sekali. Permisi." Setelah bersalaman Gilang melangkah keluar diikuti Bella di belakangnya.
Bella sempat menoleh ke arah Helen memperhatikan ekspresi geram Helen ditinggal oleh Gilang. Dengan berpakaian seperti itu, ia yakin Helen berniat menggoda Gilang, untuk saja dirinya cepat bertindak.
Bella lalu mengambil kartu nama Helen yang ia selipkan di tote bag nya. Tangannya merobek kartu nama itu dan membuangnya di tempat sampah yang ada di depan pintu private room tadi dengan senyum penuh kemenangan.
❤️❤️❤️
Bersambung ...
bakal makin gencar gak nih Bella menggoda Gilang setelah dengar cerita Jimmy😁
.