NovelToon NovelToon
BEYOND THE DOOR OF DEATH

BEYOND THE DOOR OF DEATH

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Mengubah Takdir / Mata Batin
Popularitas:198
Nilai: 5
Nama Author: elrznta

Hyeana adalah seorang gadis biasa yang tiba-tiba terlempar ke dimensi lain lalu Hyeana mencoba untuk keluar dari sana, ia mencari jalan keluar namun yang dia lalui hanya dunia yang tidak ada ujungnya. lalu tanpa sengaja ia tersandung hingga terjatuh didepan sebuah pintu yang sangat besar dan sangat indah, namun pintu itu otomatis terbuka lebar dengan disertai suara yang aneh. Hyeana ingin mencoba masuk ke sana karena ia berfikir siapa tau jalan untuk ia pulang berada dibalik pintu tersebut. Ketika ia hendak memasuki pintu tersebut, tiba-tiba muncul seorang pria dibelakangnya, lalu pria tersebut mengulurkan tangan-nya dan pria itu berkata, “Belum waktunya kamu berada di sini”.....Tak lama kemudian, Hyeana terbangun kembali di kamarnya dengan seorang pria berdiri di samping tempat tidurnya. Siapakah pria ini dan bagaimana kelanjutan dari kisah mereka? to be continue...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elrznta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

SPECIAL AFTER 300 YEARS AGO

Pagi itu kelas terasa ramai seperti biasa. Suara kipas angin bercampur obrolan murid memenuhi ruangan sementara guru belum datang sejak tadi. Hyeana duduk di kursinya sambil menopang dagu. Di sebelahnya, Ara sedang sibuk membolak-balik buku catatan dengan ekspresi stres.

“Aku lupa ngerjain tugas kimia…” ucap Ara

Hyeana langsung melirik.

“Kamu baru inget sekarang?” tanya Hyeana

“Aku tadi malam ketiduran.” jawab Ara

“Itu alasan semua umat manusia.” lanjut Hyeana

Ara langsung dramatis memegangi kepala.

“Hyeana…kalau aku dikeluarkan dari sekolah tolong ingat aku sebagai ubur-ubur yang baik.”

“Kamu lebay banget.”

Di belakang mereka, Lidia sedang membaca buku seperti biasa sementara Anne setengah menyender di meja sambil memainkan pulpen. Sedangkan di sisi lain kelas…

“OLLAAA BANGUN.” teriak Haras

“Hah…ujian?” ucap Olla yang baru bangun

“Belum.”

“Kalau gitu jangan ganggu aku.”

Haras langsung ngakak melihat Olla tidur dengan muka nempel meja.

Sementara dekat jendela, Seana duduk sendirian sambil memandang keluar kelas dengan tenang seperti biasanya.

Suasana pagi itu terasa normal dan entah kenapa…

Hyeana malah jadi kepikiran Veilstead lagi. Tangannya refleks menyentuh liontin hitam di balik seragam sekolahnya. Hangat kecil yang anehnya selalu bikin dadanya ikut tenang. Ara langsung melirik curiga.

“Kamu akhir-akhir ini sering megang kalung itu na.”

“Hah? Masa sih ra?”

“Iya na.”

Hyeana langsung salah tingkah kecil.

“Cuma kebiasaan aja ini ra.”

Padahal kenyataannya…Setiap liontin itu hangat, Hyeana selalu teringat mata merah Harvey.

*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊

Sementara itu…di kerajaan Veilstead untuk pertama kalinya dalam ratusan tahun…Istana Veilstead terasa jauh lebih tenang. Tidak ada ledakan aura hitam. Tidak ada laporan gerbang monster hancur. Tidak ada pelayan yang menangis ketakutan karena Harvey tiba-tiba mengamuk lagi dan itu justru terasa sangat aneh.

Beberapa roh kecil bahkan mulai berani beterbangan santai di taman istana karena mereka sadar satu hal penting. Pangeran Veilstead sedang dalam suasana hati yang bagus. Harvey duduk santai di balkon istana sambil membaca buku dunia manusia yang entah sejak kapan mulai memenuhi mejanya.

'Cara Memahami Emosi Remaja Manusia.'

'Memahami Bahasa Gaul Modern.'

'Minuman Favorit Remaja.'

Lilyant yang baru datang langsung berhenti melangkah sambil memperhatikan tumpukan buku itu cukup lama. Lalu…

“Aku mulai takut Harvey.” ucap ibunya, Lilyant

Harvey bahkan tidak mengangkat wajah.

“Ada apa lagi sekarang bu.”tanya Harvey

“Biasanya kau membaca buku kutukan jiwa atau ritual dimensi.” ucap Lilyant mengambil salah satu buku pelan.

“Sekarang kau membaca…cara membuat bekal makan siang lucu?”

Harvey akhirnya mengangkat mata pelan.

“Itu penting.”

Lilyant langsung menahan tawanya.

“Harvey.”

“Hmm?”

“Apa Hyeana sudah meracuni otakmu?”

“Ibu terlalu dramatis.”

“HAHAHA, Tidak juga.” Lilyant tertawa lalu duduk santai di kursi seberang.

“Ini pertama kalinya dalam 300 tahun kau tidak menghancurkan apa pun selama berbulan-bulan.”

Harvey hanya diam, Lilyant menyender kecil sambil menyeruput tehnya.

“Wilayah monster utara bahkan sudah mulai pulih.”

“Baguslah kalau begitu.”

“Aula kerajaan juga belum retak lagi.”

Harvey mulai merasa ibunya sengaja mengejeknya sekarang.

“Ibu mau mengatakan apa sebenarnya.”

Lilyant tersenyum kecil penuh arti.

“Aku hanya senang.”

“Akhirnya ada seseorang yang bisa membuat putraku berhenti mencoba menghancurkan seluruh dunia.”

Sunyi sebentar, angin hitam Veilstead berhembus pelan melewati balkon. Harvey perlahan menundukkan pandangannya lagi ke buku di tangan.

Namun untuk pertama kalinya…Tatapan merah itu tidak lagi kosong sepenuhnya dan Lilyant menyadari itu. Harvey benar-benar berubah sejak bertemu Hyeana. Tapi baru saja kedamaian itu terasa, tiba-tiba…

CREAANGG~

Liontin hitam milik Harvey yang berada di meja mendadak menyala redup. Senyum Lilyant langsung hilang. Mata merah Harvey juga berubah tajam dalam sekejap.

“Ibu.”

Lilyant langsung berdiri.

“Aku merasakannya juga.”

Aura Veilstead mendadak berubah dingin karena liontin itu hanya bereaksi jika Hyeana berada dekat roh berbahaya.

*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊

“Hyeana?”

Ara langsung mengernyit.

“Kamu gapapa?”

Tangan kiri Hyeana mendadak terasa panas. bukan hangat lagi, tapi benar-benar panas, sangat panas sampai Hyeana refleks mencengkeram lengannya sendiri.

“Arghhhh...nghhh”

Ara langsung panik.

“HYEANA?!”

Anne dan Lidia langsung berdiri dari kursinya sementara Haras otomatis berhenti bercanda. Olla yang tadi tidur sampai langsung bangun kaget.

“Hah?! Gempa?!”

Namun Hyeana tidak bisa menjawab karena tanda hitam samar di tangan kirinya mulai terasa terbakar.

Nafas Hyeana mulai memburu dan untuk pertama kalinya sejak kembali dari Veilstead…Ia merasakan sesuatu. Seseorang sedang memperhatikannya, bukan manusia, tatapan itu terasa dingin dan penuh kebencian. Seana yang duduk dekat jendela perlahan menoleh ke arah luar sekolah. Matanya menyipit kecil.

“Ada roh disana.”

Deg.

Seana perlahan berdiri dari kursinya. Kalimat itu langsung membuat suasana kelas berubah aneh. Angin dingin tiba-tiba berhembus pelan dari jendela walau cuaca di luar masih cerah. Tirai kelas bergerak sendiri. Hyeana masih memegangi tangan kirinya sambil menahan napas gemetar. Tanda itu membuat tangan hyeana terasa seperti dibakar hidup-hidup.

“Hyeana?” Ara langsung memegang bahunya panik.

Namun sebelum siapa pun sempat bicara lagi…

CRAAACKKK.

Suara retakan terdengar memenuhi seluruh kelas.

“Hah…?”

Lantai, Dinding, Langit-langit, Semuanya mulai retak hitam seperti kaca pecah. Mata Seana langsung membesar.

“SEMUA MUNDUR—”

BRAAAKKKK.

Dalam sepersekian detik…seluruh ruangan langsung ditelan kegelapan. Saat Hyeana dan teman-teman nya membuka mata lagi…kelas mereka sudah menghilang.

“A…apa ini…”

Tanah hitam luas membentang tanpa ujung. Langitnya merah gelap dipenuhi kabut hitam bergerak seperti hidup. Itu dimensi roh.

“Ara?!”

“Hyeana!”

Ara masih ada tidak jauh darinya. Haras, Olla, Anne, Lidia, dan Seana juga terlihat panik di sekitar mereka.

“INI TEMPAT APA?!” Olla langsung teriak sambil panik.

Haras refleks berdiri di depan teman-temannya.

“Jangan jauh-jauh!”

Seana menatap langit dimensi itu dengan wajah pucat.

“Ini bukan roh biasa.”

Aura mengerikan langsung memenuhi udara.

Lalu…Suara tawa pelan terdengar.

“Haha…”

“Hahahaha…”

Kabut hitam perlahan berkumpul di depan mereka membentuk sosok tinggi kurus dengan mata putih kosong dan mulut tersenyum terlalu lebar. Tubuh Hyeana langsung membeku karena begitu roh itu menatapnya…Tatapannya penuh kebencian.

“Akhirnya aku menemukanmu lagi…Putri Moonhaven.”

Deg.

Kepala Hyeana langsung terasa sakit luar biasa.

“Arghh!”

“HYEANA!” Ara panik.

Roh itu tertawa pelan lagi.

“Aku mengenal jiwa ditubuhmu itu…”

“Tiga ratus tahun lalu aku melihatmu mati…”

Kabut hitam mulai bergerak liar.

“Dan sekarang kau kembali hidup lagi didunia manusia.”

BRAKKK.

Monster roh langsung bermunculan dari tanah hitam di sekitar mereka.

“LARI!” Haras langsung menarik Olla.

Seana mencoba membuat penghalang cahaya kecil dengan tangannya namun....

DUAKKK.

Penghalangnya langsung hancur. Mata Seana membesar.

“Kuat banget—”

Monster-monster roh langsung menyerang bersamaan.

“AAAAAA!”

Ara terpental menghantam batu hitam keras.

DUK.

Tubuh Anne jatuh pingsan beberapa meter dari sana.

Lidia mencoba bangkit namun monster lain langsung menghantamnya sampai kesadarannya hilang.

“LIDIA!”

Haras mencoba melawan dengan belati yang selalu ia bawa dibelakang punggungnya.

BRAKK.

Haras mencoba melawan namun tubuhnya ikut terpental keras.

“Haras!!”

Olla sekarang benar-benar panik.

“TOLONG BERHENTI—”

DUKKK.

Tubuh Olla langsung jatuh lemas. Satu per satu…Mereka tumbang. Seana masih mencoba berdiri walau darah mulai keluar dari sudut bibirnya. Namun roh itu hanya mengangkat tangannya pelan.

BRAKK.

Tubuh Seana langsung terlempar dan akhirnya…hanya tersisa Hyeana sendirian. Nafasnya memburu saat melihat teman-temannya tergeletak tidak bergerak.

“Kenapa…”

Air matanya mulai jatuh.

“Kenapa kalian semua melakukan ini…”

Roh itu perlahan mendekat karena targetnya memang hanya satu, Hyeana.

“Hyeana?…apakah itu namamu sekarang? apakah kau lupa kalau namamu itu....”

Kabut hitam mulai melilit tubuh Hyeana.

“Ileana.”

DEG.

Kepala Hyeana langsung terasa seperti dihantam ribuan jarum sekaligus.

“AAAAAHHH!”

Potongan ingatan asing mulai masuk paksa ke kepalanya.

‘Istana putih Moonhaven, suara Harvey, genangan darah, peperangan, pedang menembus dada, teriakan bahkan tangisan.’

“BERHENTI…!”

Hyeana jatuh berlutut sambil memegangi kepalanya.

Roh itu tertawa puas.

“Apakah kau sudah ingat semuanya.”

“Kembalilah menjadi Ileana yang telah mati 300 tahun lalu.”

“AAAAHHH—!”

Darah mulai keluar dari sudut bibir Hyeana, tubuhnya gemetar hebat, Ia merasa kepalanya akan hancur. Namun di tengah rasa sakit itu…Hyeana masih mencoba bertahan karena ia takut kalau dirinya akan mati tanpa menolong teman-teman nya yang sudah tak sadarkan diri itu.

“Har…vey…” Suara itu kecil sekali.

Namun liontin hitam di lehernya langsung menyala terang dan di saat yang sama…Mata merah Harvey langsung membesar di Veilstead.

BRAAAAKKKKK.

Aura hitam raksasa meledak menghancurkan balkon istana.

“HARVEY—” Lilyant langsung berdiri kaget.

Namun Harvey sudah menghilang.

*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊

Dimensi roh itu mulai retak, roh jahat tadi langsung menyadarinya.

“Apa? Kenapa bisa retak?”

Lalu…

BRAAAAAAAAAKKKKK.

Seluruh langit dimensi hancur dalam satu ledakan aura hitam mengerikan. Mata roh itu langsung membelalak penuh horor.

“Ti-Tidak mungkin…”

Ruang dimensi miliknya dirobek paksa dan di tengah badai aura hitam itu…Harvey muncul. Mata merahnya menyala mengerikan, aura pembunuhnya bahkan jauh lebih mengerikan dibanding 300 tahun lalu. Saat melihat Hyeana berlutut sambil muntah darah…Ekspresi Harvey langsung hancur.

“HYEANA.”

Dalam satu langkah…Harvey langsung menangkap tubuh Hyeana sebelum jatuh sepenuhnya. Tubuh Hyeana gemetar hebat dalam pelukannya.

“Har…vey…” Suara itu lemah sekali.

Suara itu justru membuat tangan Harvey ikut gemetar, lagi dan lagi…Ia hampir kehilangan gadis itu. Roh jahat tadi mencoba kabur panik namun mata merah Harvey perlahan menoleh ke arahnya.

“Berani sekali kau menyentuhnya.”

Seketika...

BRAKKKKKK.

Tubuh roh itu langsung dihancurkan aura hitam sampai lenyap total tanpa sisa bahkan tanpa sempat menjerit. Dimensi roh mulai runtuh perlahan namun Harvey bahkan tidak peduli. Fokusnya hanya Hyeana.

“Hyeana…lihat aku.”

Hyeana masih sadar namun air mata terus jatuh dari matanya karena rasa sakit di kepalanya terlalu parah.

“Sakit…Harvey....”

Deg.

Harvey langsung memeluknya lebih erat.

“Aku tahu.”

Tangannya perlahan menyentuh kepala Hyeana, aura hitam lembut mulai menyelimuti tubuh gadis itu perlahan. Harvey menggunakan kekuatan penekan ingatan. Harvey mati-matian menahan semua memori Ileana agar tidak memaksa keluar sekarang. Karena tubuh manusia Hyeana belum siap.

“Tidak apa-apa…” Suara Harvey terdengar pecah kecil.

“Aku di sini.”

“Aku tidak akan membiarkan siapa pun menyakitimu lagi.”

Perlahan…Rasa sakit di kepala Hyeana mulai melemah. Nafasnya masih gemetar namun tubuhnya tidak lagi kesakitan. Harvey menunduk sedikit sampai dahinya menyentuh kepala Hyeana pelan, matanya tertutup rapat karena ketakutan itu kembali lagi. Ketakutan kehilangan dirinya dan Harvey sadar satu hal yang paling mengerikan, kalau Hyeana benar-benar mati di pelukannya lagi…mungkin kali ini dirinya benar-benar akan hancur sepenuhnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!