Selena selalu tahu bahwa dia berbeda. Sejak kecil, ia bisa merasakan sesuatu yang mengalir dalam darahnya, sesuatu yang lebih dari sekadar kekuatan seorang werewolf biasa. Namun, hidupnya berubah drastis ketika sebuah serangan brutal menghancurkan kawanan tempatnya dibesarkan.
Ditemani oleh Joan, seorang Alpha misterius yang menyimpan rahasia kelam, serta Riven, seorang pejuang yang setia tetapi penuh teka-teki, Selena harus menghadapi kenyataan pahit bahwa ada seorang pengkhianat di antara mereka. Seseorang yang menginginkannya untuk tujuan yang jauh lebih berbahaya.
Saat rahasia asal-usulnya mulai terkuak, Selena mendapati dirinya terjebak di antara dua pilihan, menerima kegelapan yang mengintainya atau bertarung demi cahaya yang hampir padam. Dengan dunia yang berada di ambang kehancuran dan hatinya yang terombang-ambing di antara kepercayaan dan pengkhianatan, Selena harus memilih.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miarosa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9
Selena merasakan sesuatu bergemuruh dalam dirinya saat mendengar kata-kata Joan.
Darah Bulan? Kata itu terasa asing, tetapi pada saat yang sama terasa begitu akrab seolah sesuatu di dalam dirinya telah menunggu saat ini untuk bangkit.
Ia menatap gambar di buku tua itu. Makhluk dalam ilustrasi itu memiliki mata bercahaya bukan merah seperti manusia serigala, tetapi perak berkilauan mirip dengan matanya sendiri saat ia marah atau terluka.
Selena menggigit bibirnya. "Aku tidak mengerti."
Joan menutup buku itu dengan pelan, lalu duduk kembali di hadapannya.
"Darah Bulan adalah ras yang sangat langka, bahkan lebih langka dari Alpha sejati. Mereka bukan manusia serigala, tapi juga bukan manusia. Mereka ada di antara keduanya, kekuatan bulan mengalir dalam darah mereka dan memberi mereka kemampuan yang bahkan manusia serigala pun tidak bisa miliki."
Selena menelan ludah. "Seperti apa kemampuannya?"
Joan terdiam sejenak seolah ragu untuk menjawab.
"Mereka bisa mengendalikan energi bulan. Beberapa mengatakan mereka bisa menyembuhkan, dan beberapa bisa menghancurkan. Mereka bisa melihat masa lalu dan masa depan, bisa merasakan emosi orang lain, bahkan mengendalikan makhluk lain," lanjut Joan.
Selena merinding.
"Lucian tahu ini. Itulah sebabnya dia menginginkanmu," lanjut Joan lagi.
Selena menggenggam lengan bajunya sendiri dan berusaha memahami semua yang baru saja didengarnya.
"Tapi bagaimana bisa aku menjadi salah satunya? Aku tidak ingat siapa pun di keluargaku yang memiliki kemampuan ini."
Joan menggeleng. "Darah Bulan bukan diwariskan seperti manusia serigala. Mereka muncul sekali dalam beberapa generasi. Tidak ada yang tahu pasti bagaimana atau kenapa, tapi mereka selalu lahir ketika keseimbangan dunia supernatural terganggu."
Selena merasakan tenggorokannya mengering.
"Jadi, kalau aku memang Darah Bulan berarti ada sesuatu yang salah dengan dunia ini?"
Joan tidak menjawab, tapi tatapannya cukup untuk mengonfirmasi ketakutannya.
Hening mengisi ruangan. Suara api yang berderak di perapian terdengar lebih jelas di antara keheningan mereka. Akhirnya Selena mengambil napas dalam dan menatap Joan.
"Kalau aku memang sekuat itu kenapa aku tidak pernah menyadarinya?"
Joan menggeleng. "Kemampuanmu mungkin tersegel atau belum sepenuhnya bangkit."
Selena menyandarkan kepalanya di sofa dan merasa kepalanya berputar hanya beberapa hari yang lalu, hidupnya masih normal dan sekarang ia adalah sesuatu yang bahkan tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.
"Ada satu cara untuk memastikan," kata Joan tiba-tiba.
Selena menoleh padanya. "Bagaimana?"
Joan menatapnya serius. "Aku bisa membantumu membangkitkan kekuatanmu."
Jantung Selena berdegup lebih cepat.
"Apa itu berbahaya?" tanyanya pelan.
Joan kembali tidak langsung menjawab, tetapi tatapannya cukup untuk memberi tahu bahwa ini bukan hal yang mudah.
"Ya, tapi itu satu-satunya cara untuk melawan Lucian."
Selena mengepalkan tangannya. Ia bisa merasakan perasaan takut, tapi juga ada sesuatu yang lain seperti ebuah dorongan.
Jika Lucian menginginkannya karena kekuatannya, maka ia harus tahu seberapa jauh ia bisa bertarung. Ia menatap Joan dengan tekad yang mulai terbentuk dalam dirinya.
"Baiklah. Ajari aku!"
Selena duduk di tengah kabin, matanya tertutup, dan napasnya diatur seperti yang diperintahkan Joan. Di sekelilingnya lilin-lilin kecil menyala, menciptakan cahaya redup yang berkedip-kedip di dinding kayu.
"Kamu harus menemukan pusat kekuatanmu," kata Joan dengan suara tenang, berdiri di dekatnya dengan tangan terlipat di dada. "Bayangkan bulan di atas kepalamu. Rasakan cahayanya menyentuh kulitmu."
Selena mengerutkan kening. "Aku tidak merasakan apa-apa."
"Karena kamu masih menutupinya dengan ketakutan."
Selena mengembuskan napas. Ia tahu Joan benar. Ia takut pada sesuatu yang tidak ia pahami, takut bahwa jika ia benar-benar membangkitkan kekuatannya, dan ia akan kehilangan kendali. Namun, ia tidak punya pilihan lain dan memaksa dirinya untuk fokus.
Dalam pikirannya, ia membayangkan langit malam yang gelap. Ia melihat bulan menggantung tinggi, bersinar dengan cahaya perak yang dingin dan tiba-tiba ia merasakannya. Sebuah kehangatan yang aneh seolah ada sesuatu yang mulai bergerak dalam dirinya.
Napasnya tersenggal saat rasa itu menjalar dari dadanya ke seluruh tubuh seperti percikan api yang menyebar.
"Apa yang kamu rasakan?" tanya Joan.
Selena membuka matanya perlahan. "Aku."
Matanya melebar saat melihat cahaya redup yang menyelimuti tangannya. Aura perak yang berpendar samar, mengikuti gerakan jarinya seperti asap bercahaya.
"Apa ini?" suaranya hampir berbisik.
Joan tidak menjawab. Ia hanya menatapnya dengan ekspresi yang sulit dibaca antara kagum dan waspada. Tiba-tiba cahaya itu semakin terang.
Selena terengah, tubuhnya terasa panas dan dingin sekaligus. Jantungnya berdetak kencang. Lantai kayu di bawahnya mulai bergetar.
"Selena, tenang! Kendalikan napasmu!" kata Joan cepat.
Tetapi semakin ia mencoba mengendalikannya, semakin kuat kekuatan itu meronta dalam dirinya.
Angin tiba-tiba bertiup di dalam kabin, meniup api lilin dan menggetarkan jendela.
Joan bergerak cepat, berlutut di hadapan Selena dan menggenggam kedua bahunya.
"Selena, lihat aku!"
Matanya bertemu dengan mata Joan dan seketika segalanya menjadi hening.
Cahaya itu mulai meredup, angin berhenti, dan getaran di lantai perlahan menghilang.
Selena terengah-engah dan tubuhnya masih bergetar akibat energi yang baru saja ia lepaskan.
Joan menghela napas. "Itu hampir di luar kendali."
Selena menatap tangannya sendiri dengan mata penuh keterkejutan. "Aku tidak tahu bagaimana cara menghentikannya."
"Karena kamu belum terbiasa."
Joan melepaskan bahunya dan duduk bersandar di dinding. "Tapi ini sudah cukup membuktikan bahwa kamu memang Darah Bulan."
Selena mengangkat kepalanya dan menyadari sesuatu.
"Tunggu!" Ia menatap Joan penuh curiga. "Bagaimana kau tahu semua ini? Darah Bulan seharusnya sudah punah, kan?"
Joan terdiam sesaat, lalu mengalihkan pandangannya.
"Aku pernah bertemu dengan seseorang sepertimu sebelumnya."
Selena menahan napas. "Siapa?"
Joan menatapnya lagi, kali ini dengan ekspresi lebih serius.
"Ibuku."
Selena membeku. "Apa?"
Joan tersenyum tipis, tapi ada kepedihan di matanya. "Ibuku adalah Darah Bulan terakhir sebelum kamu. Itu sebabnya aku tahu apa yang kamu alami."
Selena masih berusaha mencerna kata-katanya ketika tiba-tiba suara keras terdengar dari luar kabin. Joan langsung berdiri dan matanya berubah tajam.
Selena bisa merasakan bulu kuduknya meremang. Ada sesuatu di luar sana.
Sesuatu yang mengintai dalam kegelapan dan mereka tidak datang untuk berteman.
Joan langsung bergerak menuju jendela, menyingkap tirai hanya sedikit untuk melihat ke luar. Hutan yang sebelumnya sunyi sekarang terasa lebih menekan. Pepohonan bergoyang pelan diterpa angin, tetapi tidak ada suara burung malam atau hewan kecil yang biasanya berkeliaran di sekitar kabin. Semuanya terlalu sunyi.
Selena menelan ludahnya dan jantungnya berdebar lebih cepat. "Apa itu mereka?" bisiknya.
Joan tidak menjawab. Tatapannya tetap terpaku ke luar, lalu tanpa peringatan ia berbalik dan menarik Selena ke sudut ruangan.
"Sembunyi di sini," katanya tegas.
"Tapi ...."
"Tidak ada tapi. Jika sesuatu terjadi, jangan keluar!"
Nada suaranya tidak memberikan ruang untuk perdebatan. Selena terpaksa menurut dan berjongkok di balik rak buku besar yang ada di sudut kabin.
Joan bergerak cepat dan meraih sebuah belati panjang dari meja dan berdiri tepat di depan pintu. Suara di luar semakin jelas, kemudian seseorang mengetuk pintu. Selena menahan napas.
Joan menggenggam belatinya lebih erat. "Siapa di sana?"