NovelToon NovelToon
12 Tahun Yang Terulang

12 Tahun Yang Terulang

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Mengubah Takdir / Kelahiran kembali menjadi kuat / Penyesalan Suami
Popularitas:8.6k
Nilai: 5
Nama Author: SunRise510k

Aku mencintainya selama 12 tahun.
Menikah dengannya selama 5 tahun.
Dan mati… karena cintanya.
Jika waktu bisa diulang, aku akan memilih untuk tidak pernah mengenalnya.
Tapi kenapa…
saat aku benar-benar diberi kesempatan itu—dia malah mulai mencintaiku?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SunRise510k, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18

Kaizar menghempaskan tubuhnya ke sofa kulit berwarna gelap, menyandarkan kepala sembari menatap kosong ke arah langit-langit yang tinggi.

Bunda Dila melangkah anggun, lalu mengambil tempat duduk di samping putra sulungnya. Ia tidak langsung bicara, hanya memperhatikan raut lelah yang tidak bisa disembunyikan oleh topeng dingin Kaizar.

"Kai," panggil Bunda Dila lembut. "Nanti malam, temani Zivara di rumahnya. Kasihan dia kalau harus sendirian setelah baru saja pulang dari rumah sakit. Apalagi Pak Ridwan masih jauh di sana."

Kaizar tidak langsung menjawab. Ia hanya mengangguk pelan sembari memejamkan mata, seolah sedang mengumpulkan sisa-sisa kewarasannya.

"Iya, Bunda. Aku memang berencana ke sana."

Suasana kembali hening sejenak, hanya terdengar detak jam dinding yang ritmis. Sampai akhirnya, Bunda Dila memecah keheningan dengan pertanyaan yang membuat napas Kaizar tertahan.

"Kai... apa kamu mencintai Zivara?"

Mata Kaizar seketika terbuka. Ia menoleh, menatap sang bunda dengan sorot yang sulit diartikan—campuran antara terkejut dan pasrah.

"Apa... begitu terlihat?"

Bunda Dila tersenyum lebar, jenis senyum yang hanya dimiliki seorang ibu saat menyadari putranya telah menemukan pelabuhan hati. Ia mengangguk mantap.

"Sangat jelas, Kai. Bunda melihat caramu panik saat peristiwa di gudang itu, juga caramu yang begitu telaten menjaga dan melindunginya di rumah sakit. Itu bukan sekadar rasa tanggung jawab antar tetangga," tutur Bunda Dila sembari mengusap lengan Kaizar.

Kaizar terdiam, membiarkan kalimat bundanya meresap ke dalam pikirannya. Selama ini ia terbiasa menutup rapat emosinya, mengubur segalanya di balik karisma yang dingin. Tapi di hadapan Zivara, semua tembok itu seolah runtuh tanpa sisa.

"Bunda setuju kalau kamu memang menaruh hati padanya," lanjut Bunda Dila lagi. "Zivara itu gadis yang luar biasa. Sopan, tahu cara menjaga diri, dan tidak neko-neko. Di usianya yang terbilang masih labil, dia tumbuh menjadi perempuan yang sangat dewasa meskipun tidak ada sosok ibu di sampingnya. Dia punya keteguhan yang jarang Bunda temukan pada gadis lain."

Kaizar menghela napas panjang, jemarinya memijat pelipis. "Aku sendiri tidak tahu sejak kapan perasaan ini berkembang, Bunda. Rasanya aneh. Ada dorongan kuat di dalam sini yang mengatakan kalau aku harus melakukan segalanya untuk dia. Aku merasa punya hutang perlindungan yang harus kubayar padanya."

Ia menjeda kalimatnya, menatap lurus ke depan dengan pandangan yang dalam. "Aku tidak pernah merasakan hal seperti ini kepada perempuan lain. Bahkan kepada Luna sekalipun, rasanya tidak sekuat ini. Bersama Zivara, aku merasa seperti sedang menjaga sesuatu yang berharga yang hampir saja hilang."

Kaizar tidak menceritakan tentang time rewind yang ia alami, namun perasaan menyesal dari masa depan itu tetap terbawa ke masa kini, menciptakan sebuah obsesi sehat untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama.

**

Sore di Kota Bandung dibungkus oleh langit mendung yang menggantung rendah, Kaizar baru saja melangkah keluar dari kamar mandi. Uap air hangat masih menguar dari kulitnya yang atletis, sementara selembar handuk putih melilit pinggangnya dengan asal. Sisa-sisa air menetes dari ujung rambutnya yang acak-acakan, jatuh membasahi lantai marmer, menciptakan jejak yang dingin.

Keheningan kamar itu pecah oleh dering ponsel yang tergeletak di atas meja kerja. Tanpa sempat mengeringkan tubuh, Kaizar menyambar perangkat tersebut. Nama orang kepercayaannya berkedip di layar.

"Bicaralah," suara Kaizar terdengar berat dan tajam.

"Kami sudah mendapatkan pengakuan dari orang suruhan di gudang DKV itu, Tuan," suara di seberang sana terdengar stabil namun penuh tekanan. "Semua bukti digital, termasuk mutasi rekening dan rekaman suara saat instruksi diberikan, sudah saya kirimkan ke email Anda."

Tangan Kaizar yang bebas mengepal kuat hingga buku-bukunya memutih. "Siapa?"

"Luna, Tuan. Luna yang memberikan perintah untuk mengunci Nona Zivara."

Rahang Kaizar mengeras. Seolah dunia baru saja bergeser dari porosnya. Luna? Wanita yang selama ini ia kenal sebagai sosok yang lembut dan penuh kasih, ternyata mampu merencanakan hal sekeji itu? Kenangan masa lalu tentang Luna yang manis seketika hancur berkeping-keping, digantikan oleh kenyataan pahit yang menusuk ulu hati.

"Ada satu hal lagi, Tuan," lanjut asistennya. "Seseorang telah mengawasi pergerakan Luna lebih dulu. Adrian Marcelino. Dia tahu sejak awal bahwa Nona Zivara dikunci di dalam sana."

Napas Kaizar tercekat. "Adrian tahu... dan dia membiarkannya?"

"Bukan sekadar membiarkan, Tuan. Adrian sengaja menunggu peristiwa itu terjadi agar ia bisa menggunakan bukti tersebut untuk menekan Luna. Dia menjadikan penderitaan Nona Zivara sebagai alat negosiasi."

Amarah yang sedari tadi tertahan kini meledak di dalam dada Kaizar. Sorot matanya yang biasanya sedingin es kini menyala seperti api yang siap menghanguskan apa pun di depannya. Ia tidak menyangka Luna bisa sejahat itu kepada Zivara—gadis yang tidak pernah menyakitinya. Tapi yang jauh lebih memuakkan adalah Adrian; pria itu melihat Zivara hampir kehilangan nyawa karena sesak napas, tapi justru memilih diam di balik bayang-bayang demi sebuah keuntungan busuk.

"Kirimkan semua bukti itu ke ponsel pribadiku sekarang juga," desis Kaizar, suaranya terdengar seperti ancaman maut. "Pastikan tidak ada satu detail pun yang terlewat."

Ia memutus sambungan telepon dan melemparkan ponselnya ke atas kasur. Kaizar mencengkeram pinggiran meja, menatap pantulan dirinya di cermin besar dengan tatapan penuh kebencian. Penyesalan dari masa depan yang terbawa ke masa kini membuatnya merasa gagal lagi. Di kehidupan ini pun, ia hampir saja terlambat menyelamatkan Zivara karena masih sempat meragukan kebusukan orang-orang di sekitarnya.

Zivara hampir mati, dan itu terjadi karena kecemburuan buta serta ambisi kotor.

**

Gemuruh di dada Kaizar belum juga reda sejak informasi tentang pengkhianatan Luna dan Adrian sampai ke telinganya. Pria itu bergerak cepat, menyambar kemeja hitam yang tersampir di kursi dan memakainya tanpa sempat mengancingkannya dengan benar. Rambutnya yang masih setengah basah dibiarkan acak-acakan, menambah kesan urgensi pada penampilannya sore itu.

Ia menuruni anak tangga rumahnya dengan langkah lebar, hampir melompat di setiap pijakan. Pikirannya hanya tertuju pada satu nama: Zivara. Namun, tepat di anak tangga terakhir, langkahnya terhenti secara paksa.

"Kai! Mau ke mana buru-buru begitu?" Bunda Dila menghalangi jalannya dengan senyum yang tak kunjung luntur. Di tangannya, sebuah rantang makanan tiga susun sudah siap berpindah tangan. "Bawa ini ke rumah Zivara. Kasihan dia belum makan dengan benar sejak pulang."

Biasanya, Kaizar akan melayangkan protes atau setidaknya memberikan tatapan datar atas campur tangan ibunya. Tapi kali ini, ia hanya menerima rantang itu tanpa kata.

"Iya, Bunda. Kai berangkat sekarang," jawabnya singkat sebelum kembali berlari keluar rumah.

Langkah kakinya membawa Kaizar menyusuri trotoar pendek yang memisahkan kediaman Ravindra dan kediaman Arthea di kawasan elit Kota Bandung tersebut. Jarak yang hanya beberapa meter itu terasa sangat jauh bagi Kaizar yang kini dihantui rasa takut akan keselamatan Zivara.

Sesampainya di depan pintu kayu jati yang megah, Bi Sumi sudah menyambutnya. Asisten rumah tangga kepercayaan keluarga Zivara itu tersenyum melihat kedatangan Kaizar yang tampak sedikit terengah-engah.

"Eh, Den Kaizar. Silakan masuk, Den," sambut Bi Sumi hangat.

Kaizar menyerahkan rantang di tangannya dengan gerakan kaku. "Ini dari Bunda, Bi. Tolong pindahkan ke piring. Vara di mana?"

"Non Vara ada di kamarnya di lantai atas, Den. Sepertinya sedang istirahat," jawab Bi Sumi sembari menerima rantang tersebut.

"Saya ke atas dulu ya, Bi. Mau memastikan dia makan," ujar Kaizar tanpa menunggu jawaban lebih lanjut. Ia langsung melesat menuju lantai dua, tempat di mana kamar Zivara berada.

Koridor lantai dua terasa sepi, hanya ada suara detak jam dinding yang mengisi kehampaan. Kaizar tiba di depan pintu putih dengan gantungan nama "Zivara Arthea". Ia hendak mengetuk, namun tangannya tertahan di udara saat mendengar suara dari dalam.

Pintu itu tidak tertutup rapat, menyisakan celah kecil yang memungkinkan suara dari dalam mengalir keluar. Kaizar bisa mendengar suara Zivara yang sedang berbicara di telepon, nada suaranya terdengar jauh lebih tenang dan bertekad daripada biasanya.

"Ayah... Vara sudah memikirkannya baik-baik," suara Zivara terdengar lembut namun tegas di seberang sana, kemungkinan besar sedang berbicara dengan Ayah Ridwan. "Vara rasa, pindah kuliah ke luar negeri adalah keputusan terbaik sekarang. Vara ingin memulai segalanya dari awal, menjauh dari semua kekacauan di sini."

Jantung Kaizar seolah berhenti berdetak saat itu juga. Dunianya yang baru saja ia susun kembali setelah time rewind terasa runtuh hanya dalam satu kalimat. Pergi? Zivara ingin meninggalkannya lagi, persis seperti di kehidupan yang lalu?

"Vara tidak ingin terikat lagi dengan siapa pun di Bandung, Ayah," lanjut Zivara lagi.

Amarah, ketakutan, dan rasa kehilangan yang mendalam bercampur aduk di dalam dada Kaizar. Penyesalannya dari masa lalu berteriak nyaring di kepalanya. Ia tidak akan membiarkan sejarah berulang. Jika ia harus menjadi "pria gila" untuk menahan gadis itu, maka biarlah ia melakukanya sekarang juga.

Kaizar mendorong pintu itu dengan kasar, membuat Zivara tersentak dan hampir menjatuhkan ponselnya.

Zivara menatap Kaizar dengan mata membelalak, syok melihat kehadiran pria itu yang tiba-tiba dengan raut wajah yang mengerikan.

"Kak Kai? Apa yang—"

Sebelum Zivara sempat menyelesaikan kalimatnya, Kaizar sudah berada di depannya, merebut ponsel itu dan mematikan sambungannya secara paksa. Ia mencengkeram kedua bahu Zivara, tatapannya mengunci mata gadis itu dengan intensitas yang menyesakkan.

"Kamu tidak akan pergi ke mana pun, Zivara. Tidak hari ini, tidak besok, tidak selamanya," desis Kaizar dengan suara rendah yang mengancam. "Jika aku harus mengunci pintu kamar ini dan membuang kuncinya agar kamu tetap di sini, aku akan melakukannya."

Zivara mencoba melepaskan diri, tapi genggaman Kaizar justru mengencang.

"Lepas, Kak! Kamu gila?"

"Ya, aku gila karena hampir kehilanganmu dua kali!" teriak Kaizar parau.

***

1
Zhang Wuyang (张五阳)
tak bisa berkata kata sih gw 🗿
nur
,jngn jd lemah vara
nur
hemm,, smkin menarik
Lusy Purnaningtyas
yg judul satunya gmn thor?
Lusy Purnaningtyas
penulisannya bagus. aku suka..
Lusy Purnaningtyas
semangat💪💪
MamDeyh
Blm up lagi nih kak/CoolGuy/
Dian Fitriana
update
YuWie
ternyata dari dulu si luna maya mmg jahara
YuWie
Luar biasa
YuWie
apakah luna sdh diperawani sama adrian
YuWie
lho lho kan cmn mimpi..tapi kenapa spt ikut mengalami kehidupan ke 2 dirimu kai.. dan pak dosen juga ya..kenapa kenal si kai..masih bingung meraba2 aku sbg pembaca
YuWie
malah rumit Zi..mimpi Kai malah membawanya terus mendekat ke kamu tuh..
YuWie
kok memujamu spt dulu..kau buka kartu kehiidupanmi tu Zi
YuWie
lha kok malah kai yg obses kie
YuWie
kehidupan 17th ke depan malah jadi mimpi buruk mu ya kai..kasiham2
YuWie
mau menjaih malah bikin penasaran kamu ziv
YuWie
mulai baca..semoga sampai yamat ya kak thor
Lusy Purnaningtyas
sama-sama genre reinkarnasi kayak zian yaa
aku
jd.....mereka bakal balik lg kah? 🙄🙄 kok gk adil buat ziva rasanya klo balik ma kai 😔😔
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!