NovelToon NovelToon
Janda Perawan Vs Dokter Tampan

Janda Perawan Vs Dokter Tampan

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Dokter / Janda
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: Blueby Skyfly

Dua bulan setelah menikah dengan Benni Ardiansyah, kebahagiaan Winarsih Larasati berubah menjadi penderitaan. Saat Benni bekerja sebagai TKI di Jepang, ibu mertuanya menguasai seluruh uang kiriman dan terus menyiksa hidup Winarsih.

Fitnah demi fitnah membuat Benni percaya bahwa istrinya telah berselingkuh, hingga tanpa mencari kebenaran ia memilih menceraikannya.

Kini Winarsih harus berjuang sendiri dengan bekerja mengantar roti. Di tengah perjuangannya, takdir mempertemukannya dengan seorang dokter tampan yang baru ditugaskan dari kota ke desa Sekar Sari.

Akankah pertemuan itu menjadi awal kebahagiaan baru? Ataukah luka masa lalu masih membayangi kehidupan Winarsih?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Blueby Skyfly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 28 : Pengakuan Arga

Arga yang sejak tadi tersenyum tipis langsung tersadar dari lamunannya. Ia berdeham pelan, berusaha menyembunyikan ekspresi yang sejak tadi diperhatikan kedua orang tuanya.

"Bukan begitu, Pa."

Arman dan Chintya justru saling bertukar pandang sambil tersenyum.

"Oh ya?" goda Arman. "Kalau bukan begitu, kenapa wajahmu berubah saat Mama bertanya soal wanita?"

Arga tersenyum kecil sambil menggeleng. "Arga hanya sedang mengingat seseorang."

Chintya langsung menyambar ucapan putranya. "Nah, kan! Berarti memang ada."

"Ma..."

"Siapa namanya?" tanya Chintya penuh rasa penasaran.

Arga terdiam beberapa saat. Ia tidak mungkin menceritakan semuanya sekarang. Bahkan ia sendiri belum benar-benar memahami perasaannya.

"Aku juga belum tahu harus menyebut hubungan kami seperti apa."

Jawaban itu justru membuat Chintya semakin antusias. "Berarti memang ada wanita yang sedang kamu pikirkan."

Arga menghela napas pelan. "Dia hanya wanita biasa yang pernah Arga temui selama bertugas di Desa Sekar Sari."

"Teman sesama dokter?" tanya Arman.

Arga menggeleng. "Bukan."

"Perawat?"

"Bukan juga."

"Lalu siapa?" Chintya sudah tidak sabar.

Arga tersenyum tipis. "Dia hanya warga desa."

"Warga desa?" ulang Chintya pelan.

Arman yang sejak tadi tenang mulai memperhatikan putranya lebih serius. "Apa yang membuatmu tertarik padanya?"

Arga menundukkan pandangannya sejenak. "Dia wanita yang sederhana. Kehidupannya tidak mudah. Banyak masalah yang harus dia hadapi sendirian. Tapi... dia tetap berusaha tersenyum dan tidak pernah mengeluh."

Arga berhenti sesaat. "Entah kenapa, Arga tidak bisa melihatnya dalam keadaan sulit."

Ruangan mendadak hening.

Chintya memperhatikan sorot mata putranya yang terlihat begitu tulus. Sebagai seorang ibu, ia belum pernah melihat Arga menceritakan seorang wanita dengan ekspresi seperti itu.

"Namanya siapa?" tanya Chintya lembut.

Arga tersenyum kecil. "Winarsih."

Nama itu terdengar begitu sederhana. Namun entah mengapa, cara Arga mengucapkannya membuat Chintya dan Arman saling berpandangan lagi.

"Winarsih..." gumam Chintya. "Dia berasal dari Desa Sekar Sari?"

"Iya, Ma."

"Apa dia tahu perasaanmu?"

Arga menggeleng pelan. "Perasaan apa? Arga sendiri belum yakin."

"Lho?" Chintya mengernyit.

"Arga hanya merasa nyaman saat berada di dekatnya. Dia baru saja bercerai dengan suaminya."

Ucapan itu membuat Chintya dan Arman sama-sama terkejut. "Jadi dia janda?" tanya Chintya pelan.

Arga mengangguk. "Iya Ma."

Mendengar pengakuan itu, Chintya sontak membelalakkan matanya.

"Astaga, Arga!" serunya dengan nada terkejut. "Jadi... wanita yang kamu sukai itu seorang janda?"

Arga hanya terdiam.

Chintya menggeleng pelan, masih berusaha mencerna ucapan putranya. "Ya Tuhan... Mama benar-benar tidak menyangka."

"Ma..." Arga mencoba menyela.

Namun Chintya kembali melanjutkan ucapannya. "Arga, apa kamu sudah tidak waras?" tanyanya dengan nada panik. "Kamu melepaskan Clarissa, lalu sekarang malah menyukai seorang janda?"

"Ma, tolong jangan bicara seperti itu."

"Bagaimana Mama tidak kaget?" balas Chintya. "Apalagi dia berasal dari desa."

Arga menarik napas panjang. "Ma, asal seseorang tidak menentukan siapa dirinya."

"Tapi kamu seorang dokter." Chintya menatap putranya lekat. "Kamu berasal dari keluarga Pratama. Mama yakin kamu bisa mendapatkan pasangan yang pendidikannya tinggi, keluarganya baik, dan sepadan denganmu."

Arga menggeleng pelan. "Bagi Arga, seseorang tidak diukur dari asal usul atau statusnya."

Chintya menghela napas kesal. "Mama bukan merendahkan orang desa. Tapi kehidupan kalian sangat berbeda. Apa kamu sudah memikirkan semuanya?"

"Sudah, Ma. Mama dan Papa bukannya tidak pernah mengajarkan ku membedakan orang dari status sosialnya," jawab Arga tenang.

Ucapan itu membuat Chintya terdiam sejenak.

Arman yang sejak tadi mendengarkan akhirnya ikut angkat bicara. "Chintya. Kamu sendiri yang selalu mengajarkan anak-anak kita untuk menghormati semua orang tanpa melihat kaya atau miskin."

"Itu memang benar," sahut Chintya. "Tapi kalau menyangkut calon istri Arga, tentu berbeda."

Arman menggeleng pelan. "Menurutku tidak."

Chintya menoleh ke arah suaminya.

"Yang akan menjalani rumah tangga adalah Arga, bukan kita."

"Tapi..."

"Kalau wanita itu memang baik, bertanggung jawab, dan mampu membuat Arga bahagia, mengapa kita harus menolaknya hanya karena dia berasal dari desa atau pernah menikah?"

Chintya terdiam, ia tidak bisa langsung membantah perkataan suaminya.

Arman kembali menatap Arga. "Namun Papa ingin bertanya satu hal."

"Iya, Pa."

"Apakah wanita itu juga memiliki perasaan yang sama kepadamu?"

Arga tersenyum tipis, tetapi senyum itu mengandung keraguan. "Arga tidak tahu, dia bahkan tidak pernah memberikan harapan kepada Arga."

"Lalu kenapa kamu begitu memikirkannya?" tanya Chintya.

Arga menundukkan pandangannya. "Karena setiap kali melihatnya berusaha tegar menghadapi hidup, Arga selalu ingin memastikan dia baik-baik saja."

Ruangan kembali sunyi.

Chintya memperhatikan putranya beberapa saat, lalu mengembuskan napas panjang. "Mama masih sulit menerima semua ini."

Arga mengangguk pelan. "Arga mengerti."

"Tapi Mama hanya ingin kamu bahagia."

"Aku juga ingin begitu, Ma."

Arman tersenyum tipis sambil menepuk bahu putranya. "Jangan terburu-buru mengambil keputusan."

Arga mengangguk. "Arga juga belum berpikir sejauh itu, Pa."

Ia terdiam sejenak sebelum melanjutkan dengan suara pelan. "Lagipula... saat ini Winarsih masih berusaha menata kembali hidupnya. Hal terakhir yang ingin Arga lakukan adalah membuat hidupnya lebih bahagia dari sebelumnya."

Mendengar jawaban itu, Arman semakin yakin bahwa putranya benar-benar menghormati wanita tersebut.

Sementara Chintya hanya bisa menghela napas panjang. Meski masih menyimpan banyak keberatan, ia dapat melihat ketulusan di mata Arga yang belum pernah ia lihat sebelumnya saat putranya membicarakan seorang wanita.

Keheningan menyelimuti ruang keluarga beberapa saat.

Chintya menyandarkan tubuhnya ke sofa. Wajahnya masih memperlihatkan kebingungan. Ia sama sekali tidak menyangka putra sulungnya yang selama ini begitu fokus pada pendidikan dan pekerjaannya, kini diam-diam menaruh hati kepada seorang wanita desa yang baru saja bercerai.

Sementara itu, Arman justru memandang Arga dengan tatapan penuh arti. "Papa senang mendengar ucapan mu."

Arga mengangkat wajah. "Maksud Papa?"

"Kamu tidak mencintainya karena kecantikannya, bukan karena latar belakangnya, apalagi karena statusnya."

Arga tersenyum kecil.

"Kamu menyukainya karena hatinya."

Arga mengangguk pelan. "Mungkin begitu, Pa."

Arman tersenyum tipis. "Itu jauh lebih penting."

Chintya masih tampak belum puas. "Mas, kok malah mendukung?"

Arman menoleh kepada istrinya. "Aku bukan mendukung atau menolak. Aku hanya melihat ketulusan Arga."

"Tapi..."

"Chintya, kita bahkan belum pernah bertemu dengan wanita itu."

Chintya terdiam.

"Jangan menilai seseorang hanya dari statusnya."

Wanita itu mengembuskan napas panjang. "Mama hanya takut Arga kecewa."

Arga tersenyum lembut. "Kalau memang akhirnya tidak berjodoh, Arga juga tidak akan memaksakan."

"Kamu serius?"

"Iya, Ma."

"Bukankah kamu bilang menyukainya?"

"Perasaan bisa tumbuh dengan sendirinya. Tapi memiliki seseorang bukan berarti harus memaksanya."

Jawaban Arga membuat Arman tersenyum bangga. "Itu baru anak Papa."

Arga hanya tersenyum kecil. "Tugas Arga sekarang bukan memikirkan perasaan sendiri."

"Lalu apa?" tanya Chintya.

"Membantu Winarsih menyelesaikan masalahnya."

"Maksudmu?"

Arga berusaha menjelaskan. "Teman Arga di Jepang sedang mencari keberadaan Benni."

Chintya terlihat bingung. "Benni siapa lagi?"

"Benni adalah mantan suami Winarsih."

Ibu Chintya terkejut. "Setelah Benni ditemukan, lalu kamu mau apa?"

"Kalau memang Winarsih masih ingin kembali bersama mantan suaminya, Arga akan membantu mereka."

Ucapan itu membuat Chintya dan Arman sama-sama terdiam.

"Kamu sanggup melakukan itu?" tanya Arman.

Arga tersenyum pahit. "Kalau itu yang membuatnya bahagia, kenapa tidak?"

Chintya menatap putranya dengan mata yang mulai berkaca-kaca. "Arga... Kamu terlalu baik."

Arga menggeleng pelan. "Aku hanya tidak ingin memanfaatkan keadaan saat seseorang sedang terluka."

Arman menganggukkan kepala dengan bangga. "Itulah alasan Papa selalu percaya padamu."

Tak lama kemudian, seorang pelayan datang menghampiri. "Tuan, makan siang sudah siap."

Arman tersenyum. "Kalau begitu, kita lanjutkan pembicaraan nanti. Sudah lama kita tidak makan bersama."

Chintya mengangguk pelan. "Iya."

Ia kemudian menggenggam tangan Arga dengan lembut.

"Meskipun Mama masih belum bisa menerima semuanya sekarang, Mama janji akan mencoba mengenal wanita itu terlebih dahulu."

Arga tersenyum hangat. "Itu sudah lebih dari cukup, Ma."

Chintya mengusap pelan pipi putranya. "Asal satu syarat."

"Apa itu?"

"Jangan sampai kamu patah hati."

Arga tertawa kecil. "Doakan saja semuanya berjalan sesuai takdir yang sudah Allah tetapkan."

1
Amoera
kasihan winarsih/Sob/
Amoera
wihh, Dokter keren😍
Amoera
suka banget ka sama ceritanya, novel ter-the best🥰
Arditya
Ayo dokter arga pepet terua winarsih🤣
It's me Sky: iya kaka🤣
total 1 replies
Arditya
kagak beres deh ini ada preman, aduh winarsih.
Arditya
kacau ni nenek lampir, ko kesel ya thoor
Arditya
Ko kesel ya, sama si benni😄
Arditya
Gila mertua jahat tuh si Sulastri, ini sih cerita menyayat hati kaum wanita. Apalagi yang punya mertua seperti Sulastri, pingin di rujak bibirnya🤭
Arditya
Karyamu luar biasa sekali thoor, aku suka banget sama ceritanya. Semangat thoor😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!