NovelToon NovelToon
God Killer

God Killer

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Balas Dendam
Popularitas:770
Nilai: 5
Nama Author: Franzzz

Para dewa tidak membawa kedamaian-mereka membawa penindasan.

Di bawah kekuasaan Vasilias, langit menginjak manusia tanpa ampun. Ketika Dewa Matahari sejati dijatuhkan dan seorang wanita manusia dibunuh demi menjaga "kemurnian", seorang anak lahir dari pengkhianatan.

Setengah dewa. Setengah manusia.
Dan penuh dendam.

Dengan api matahari dalam darahnya, ia bangkit untuk memburu para dewa-termasuk pewaris palsu langit, Filius.

Namun semakin dekat pada balas dendam, ia mulai menyadari:

Tidak semua dewa layak dibunuh.
Dan tidak semua manusia layak diselamatkan.

Ketika langit mulai retak, satu pertanyaan tersisa-

Apakah ia akan menghancurkan para dewa...
atau menjadi yang paling kejam di antara mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Franzzz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

(ARC 1) Chapter 34: Ras Long

Angin siang bergerak pelan di atas padang rumput.

Rumput hijau bergoyang lembut di bawah cahaya bulan, sementara sisa kabut biru dari ilusi Oriens perlahan menghilang ke udara.

Suasana akhirnya tenang.

Tidak ada lagi petir.

Tidak ada ledakan.

Tidak ada desa terbakar.

Hanya langit biru luas, suara serangga samar, dan tiga sosok yang berdiri di tengah padang rumput.

Oriens menghela napas panjang.

“Suasananya terlalu tegang.”

Ia memijat pelipisnya ringan.

“Dan aku lapar.”

Daji langsung menunjuknya.

“KAU yang membuat semua ini tegang!”

Oriens tersenyum santai.

“Dan sekarang aku ingin makan.”

Grachius hanya memandang mereka berdua tanpa komentar.

Oriens mengangkat satu tangan.

Lalu menjentikkan jarinya.

SNAP.

Lingkaran sihir biru besar terbuka di udara.

Portal.

Cahaya biru berputar perlahan seperti pusaran air langit.

Beberapa detik kemudian—

sosok-sosok mulai keluar dari dalam portal.

Grachius dan Daji sedikit menyipitkan mata.

Mereka bukan manusia.

Tubuh mereka menyerupai manusia, namun memiliki tanduk naga di kepala, ekor panjang bersisik, serta pupil mata vertikal seperti reptil.

Beberapa membawa kayu.

Yang lain membawa kain besar, alat masak, kendi air, dan keranjang penuh ikan segar.

Belasan sosok itu bergerak cepat dan sangat teratur.

Dalam hitungan menit—

kanopi kain berdiri.

Kursi kayu disusun melingkar.

Api unggun dinyalakan.

Panci digantung.

Ikan mulai dibersihkan.

Daji berkedip beberapa kali.

“…Apa aku sedang bermimpi?”

Oriens duduk santai di salah satu kursi kayu yang baru selesai dibuat.

“Tidak.”

Grachius memperhatikan para sosok bertanduk itu dengan tajam.

Mereka bergerak sangat disiplin.

Tanpa suara berlebihan.

Seperti sudah terbiasa melayani Oriens sejak lama.

Setelah semuanya selesai, salah satu dari mereka membungkuk hormat kepada Oriens.

Lalu seluruh kelompok kembali masuk ke portal biru.

Portal menutup perlahan.

Padang rumput kembali tenang.

Yang tersisa hanyalah perkemahan sederhana yang baru muncul entah dari mana.

Daji menatap Oriens.

“…Siapa mereka?”

Oriens mengambil seekor ikan dan mulai membersihkannya dengan santai.

“Ras Long.”

Suasana langsung berubah.

Daji membeku.

Grachius sedikit mengangkat alis.

“Ras Long?” ulang Daji pelan.

Oriens mengangguk.

“Bukankah mereka sudah punah?!” tanya Daji cepat.

Oriens mendengus kecil.

“Itu yang dunia luar pikirkan.”

Api unggun memantulkan cahaya jingga ke wajahnya.

“Aku memindahkan mereka sejak lama.”

“Ke wilayahku.”

“Supaya mereka aman.”

Daji masih tampak tidak percaya.

Ras Long.

Ras naga kuno yang menurut legenda pernah hidup di gunung-gunung tertinggi dunia.

Makhluk yang terkenal kuat, panjang umur, dan memiliki hubungan alami dengan elemen langit.

Namun ratusan tahun lalu, mereka menghilang tanpa jejak.

Banyak orang mengira mereka diburu sampai habis.

Ternyata—

mereka disembunyikan.

Grachius menatap Oriens.

“Kau bagian dari mereka.”

Oriens tersenyum kecil.

“Tentu saja.”

Di belakangnya, bayangan naga biru samar muncul sesaat sebelum menghilang lagi.

“Itulah kenapa gunung-gunung tempat Ras Long dulu tinggal sekarang kosong.”

Daji perlahan duduk di kursi kayu.

“Jadi selama ini… kalian cuma bersembunyi?”

“Lebih tepatnya bertahan hidup.” koreksi Oriens.

Nada suaranya sedikit lebih serius.

“Dunia ini tidak selalu ramah terhadap ras yang terlalu kuat.”

Beberapa menit kemudian, aroma ikan panggang mulai memenuhi udara.

Lemak ikan menetes ke api unggun, menghasilkan suara kecil berdesis.

Untuk pertama kalinya sejak pertarungan tadi, suasana terasa… normal.

Hampir seperti perjalanan biasa.

Oriens menggigit ikan panggangnya lalu berkata santai.

“Aku akan melatih kalian.”

Grachius langsung menjawab,

“Tidak perlu.”

Oriens meliriknya.

“Purus sudah mengajariku cukup banyak.”

Oriens tertawa pendek.

“Bocah.”

Grachius sedikit menyipitkan mata.

“Ilmu itu tidak punya batas.”

Oriens menunjuk dirinya sendiri.

“Bahkan aku masih terus belajar.”

Ia bersandar santai di kursinya.

“Kalau kau benar-benar ingin membunuh para dewa, maka berhenti berpikir kekuatanmu sekarang sudah cukup.”

Grachius diam.

Daji justru langsung menunjuk Grachius.

“Aku setuju dengan dia.”

Grachius menatap Daji datar.

“Kau tadi hampir mati.”

“Dan aku sadar setelah itu.” kata Daji.

Oriens tersenyum tipis.

“Nah. Rubah kecil lebih cepat mengerti daripada kau.”

“Aku bukan rubah kecil.”

“Tinggi badanmu bahkan tidak sampai bahuku.”

“ITU BUKAN POINNYA!”

Oriens tertawa ringan.

Lalu ekspresinya perlahan menjadi lebih serius.

“Ada empat dasar penting dalam pertarungan tingkat tinggi.”

Api unggun memantulkan cahaya di mata birunya.

“Dan kalian berdua masih buruk dalam semuanya.”

Daji langsung menunjuk Grachius.

“Dia duluan.”

“Kalian berdua.” ulang Oriens santai.

Grachius tidak membantah.

Oriens mengangkat satu jari.

“Pertama. Pengamatan.”

Ia menunjuk mata Grachius.

“Gerakan kecil lawan selalu memberi informasi.”

“Cara bernapas.”

“Arah mata.”

“Posisi bahu.”

“Cara kaki menapak tanah.”

“Semua itu memberi tahu apa yang akan dilakukan lawan sebelum mereka bergerak.”

Grachius perlahan terdiam.

Oriens melanjutkan,

“Selama ini kau terlalu fokus menyerang.”

“Makanya kau mudah dipancing.”

Grachius mengingat pertarungan tadi.

Kabut.

Petir.

Jeda kecil sebelum Oriens menyerang.

Arah gerakan.

Ia baru mulai berkembang ketika berhenti menyerang membabi buta.

Oriens mengangkat jari kedua.

“Kedua. Juéqì.”

Daji langsung mengernyit.

“Apa itu?”

Oriens mengetuk kepalanya sendiri.

“Percepatan pikiran menggunakan Qi.”

Grachius memperhatikan lebih serius.

Oriens melanjutkan,

“Zhànqì mengalirkan dan memadatkan Qi untuk memperkuat tubuh.”

“Sedangkan Juéqì…”

Qi biru samar mengalir di sekitar kepalanya.

“…mengalirkan Qi ke otak dan sistem saraf untuk mempercepat pemikiran.”

Daji langsung terlihat pusing hanya mendengarnya.

“Pertarungan tingkat tinggi bukan cuma soal tubuh cepat.” kata Oriens.

“Tapi juga pikiran cepat.”

Grachius perlahan mulai memahami.

Itulah kenapa Oriens terasa sangat sulit disentuh.

Ia bukan hanya bergerak cepat.

Ia berpikir lebih cepat.

Mengambil keputusan lebih cepat.

Membaca kemungkinan lebih cepat.

Oriens menatap Grachius.

“Kau punya kecepatan tubuh yang bagus.”

“Tapi pikiranmu kadang masih telat mengejar tubuhmu.”

Daji bersandar sambil menghela napas.

“Teknik itu terdengar sangat sulit.”

“Memang.”

Oriens tersenyum.

“Makanya menarik.”

Ia mengangkat jari ketiga.

“Ketiga. Kontrol diri.”

Api unggun bergerak pelan tertiup angin siang.

“Emosi memang bisa memberi kekuatan.”

“Tapi juga membuat seseorang ceroboh.”

Grachius teringat dirinya sendiri di awal pertarungan tadi.

Marah.

Terburu-buru.

Mudah dipancing.

Oriens menunjuknya santai.

“Kau jadi lebih baik setelah berhenti marah.”

Grachius tidak membantah.

Oriens mengangkat jari terakhir.

“Keempat. Efisiensi Zhànqì.”

Ia menatap Enjin di pinggang Grachius.

“Cara pemakaian Zhànqì-mu masih terlalu kasar.”

Grachius sedikit mengernyit.

Oriens mengambil ranting kecil lalu melemparkannya ke api.

“Zhànqì bukan soal siapa yang punya Qi paling banyak.”

“Melainkan siapa yang paling efisien.”

Ia menunjuk kaki Grachius.

“Tadi kau akhirnya menggunakan Zhànqì di kaki dengan benar.”

“Bukan memperkuat semuanya sekaligus.”

“Melainkan memperkuat bagian yang dibutuhkan pada momen yang tepat.”

Grachius perlahan mengangguk.

Ia mulai memahami.

Selama ini ia terlalu mengandalkan ledakan kekuatan mentah.

Padahal pertarungan tingkat tinggi lebih mirip permainan presisi.

Sedikit salah.

Sedikit terlambat.

Mati.

Oriens lalu menoleh pada Daji.

“Sekarang kau.”

Daji langsung duduk tegak.

“Apa?”

“Kau bahkan belum bisa menggunakan Zhànqì.”

“…Kau tidak perlu mengatakannya sekejam itu.”

“Itu fakta.”

Daji mendecakkan lidah kecil.

Namun ia tetap mendengarkan serius.

Oriens melanjutkan,

“Latihanmu dimulai dari dasar.”

“Rasakan aliran Qi.”

“Stabilkan.”

“Padatkan.”

“Lalu pelajari Zhànqì.”

"Sepertinya selama hidupmu, kau hanya mengandalkan jiwa manusia daripada latihan."

Daji menatap api unggun beberapa detik.

Untuk pertama kalinya sejak perjalanan dimulai, ia benar-benar merasa tertinggal.

Grachius sudah menggunakan Zhànqì.

Sudah bisa terbang.

Sudah bertarung melawan dewa.

Sementara dirinya—

bahkan belum menyentuh dasar teknik itu.

Daji mengepalkan tangan kecilnya.

“Aku akan mempelajarinya.”

Oriens tersenyum tipis.

“Bagus.”

“Setidaknya semangatmu tidak buruk.”

Daji mendengus kecil.

“Aku tidak mau terus jadi yang paling lemah di sini.”

Grachius meliriknya.

“Kau tidak lemah.”

Daji sedikit terdiam.

Oriens langsung menyeringai jahil.

“Oh?”

Grachius menatapnya datar.

Oriens tertawa pelan sambil menggigit ikan panggang lagi.

Siang terus berjalan.

Api unggun berderak kecil di tengah padang rumput.

Angin siang terasa dingin namun nyaman.

Untuk sesaat—

tidak ada perang.

Tidak ada pembantaian.

Tidak ada dewa atau pemburu dewa.

Hanya tiga sosok yang duduk mengelilingi api sambil berbicara tentang kekuatan, kehidupan, dan jalan yang harus ditempuh.

Grachius memandang api unggun dalam diam.

Pantulan cahaya jingga bergerak di mata kuning kemerahannya.

Selama ini…

mungkin dirinya terlalu bergantung pada kekuatan semata.

Terlalu percaya bahwa selama ia cukup kuat, semuanya bisa dipotong dengan Enjin.

Namun pertarungan melawan Oriens membuktikan sesuatu.

Kekuatan tanpa pemahaman hanya akan membuatnya menjadi petarung brutal yang mudah dibaca.

Dan jika ia ingin mencapai langit—

jika ia benar-benar ingin membunuh para dewa—

maka ia harus berkembang lebih jauh.

Bukan hanya tubuhnya.

Namun juga pikirannya.

Oriens menyandarkan tubuh santai lalu berkata,

“Setelah selesai makan…”

Kabut biru samar mulai bergerak di sekelilingnya.

“…latihan sesungguhnya dimulai.”

Daji langsung menelan ludah.

Grachius perlahan mengangkat pandangan dari api unggun.

Langit biru membentang luas di atas mereka.

Dan di bawah cahaya bulan itu—

fase baru perjalanan mereka akhirnya dimulai.

...A Novel By Franzzz...

1
Manusia Ikan 🫪
nih, aku kasih gift iklan biar semangat😎👍
Manusia Ikan 🫪
heh
Manusia Ikan 🫪
ini baru Nama yang keren v:
Manusia Ikan 🫪
:v kalau aku sih gk masalah
Manusia Ikan 🫪
Nama yang unik🧐
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!