NovelToon NovelToon
The Lunar Secret

The Lunar Secret

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Romansa Fantasi / Penyelamat
Popularitas:297
Nilai: 5
Nama Author: Miarosa

Selena selalu tahu bahwa dia berbeda. Sejak kecil, ia bisa merasakan sesuatu yang mengalir dalam darahnya, sesuatu yang lebih dari sekadar kekuatan seorang werewolf biasa. Namun, hidupnya berubah drastis ketika sebuah serangan brutal menghancurkan kawanan tempatnya dibesarkan.

Ditemani oleh Joan, seorang Alpha misterius yang menyimpan rahasia kelam, serta Riven, seorang pejuang yang setia tetapi penuh teka-teki, Selena harus menghadapi kenyataan pahit bahwa ada seorang pengkhianat di antara mereka. Seseorang yang menginginkannya untuk tujuan yang jauh lebih berbahaya.

Saat rahasia asal-usulnya mulai terkuak, Selena mendapati dirinya terjebak di antara dua pilihan, menerima kegelapan yang mengintainya atau bertarung demi cahaya yang hampir padam. Dengan dunia yang berada di ambang kehancuran dan hatinya yang terombang-ambing di antara kepercayaan dan pengkhianatan, Selena harus memilih.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miarosa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26

​Riven menyandarkan punggungnya pada sisa tembok sebuah kafe yang runtuh. Udara Paris yang dingin sekarang terasa pekat oleh partikel asing yang membuat tenggorokannya gatal. Di atas mereka, jet-jet siluman Unit H.A.R.T terus membelah awan, meninggalkan jejak kepulan gas keunguan yang berkilau di bawah sinar bulan merah. Kebencian umat manusia terasa begitu nyata dan qberwujud menjadi kabut racun yang perlahan turun mengancam bumi.

​Jessy merosot di sebelah Riven dan tangannya mencengkeram dadanya sendiri. Sebagai wadah dari sebagian jiwa Selena, ia adalah radar berjalan bagi penderitaan kosmik ini. Ia bisa mendengar detak jantung ketakutan dari serigala-serigala liar yang diburu dan sekaligus gema kemarahan dari pangkalan militer manusia di belahan dunia lain.

​"Ini melebihi apa pun yang pernah kubayangkan," bisik Jessy dan suaranya bergetar hebat. "Mereka tidak sekadar bertahan. Mereka membangun industri kematian."

​Riven menatap langit dengan mata keemasannya yang meredup dan memantulkan pendar misil yang meluncur jauh di angkasa. Kesedihan yang teramat dalam terpancar dari garis wajahnya yang kaku.

​"Manusia selalu memiliki bakat luar biasa untuk menghancurkan apa yang tidak mereka pahami, Jessy, tapi mereka tidak tahu bahwa senjata yang mereka rakit hari ini adalah akhir dari sebuah tragedi keluarga yang melelahkan. Akhir dari perselisihan darah antara aku dan adikku, Selena."

​Jessy menoleh cepat dan matanya terbelalak tak percaya di tengah rasa sakitnya.

"Sampai sekarang aku tidak percaya Selena adalah adikmu, bahkan aku sendiri yang merupakan bagian dari manusianya Selena tidak tahu."

​Melihat kebingungan Jessy, Riven menghela napas panjang.

​"Jangan memaksa dirimu untuk mengingatnya sebelum waktunya, Jessy," kata Riven lembut dan menghentikan tangan Jessy yang gemetar. "Ketika Selena mengamputasi sisi kemanusiaannya dan membuangmu ke bumi, dia sengaja mengunci semua memori ilahi ini. Dia melakukan manipulasi memori yang kejam. Dia tidak ingin bagian dirinya yang berada di bumi mengenalku sebagai abangnya. Dia ingin kita berdua terputus, hidup dalam kebutaan sejarah, agar aku merasakan penderitaan mutlak melihat adikku sendiri terlunta-lunta sebagai manusia fana tanpa bisa menyelamatkannya. Otak manusiamu pun terlalu rapuh, jika seluruh memori kosmik ribuan tahun itu dibuka sekaligus, jiwamu akan hancur karena kelebihan beban."

Riven tersenyum getir, sebuah tawa tanpa rasa humor yang lolos dari bibirnya yang kering.

"Ya. Sebelum dunia mengenal nama Selena atau konsep tentang dewa, kami adalah dua entitas kosmik yang lahir dari rahim penciptaan yang sama. Kami ditugaskan untuk memelihara keseimbangan di bumi. Aku adalah abangnya, pelindungnya, sekaligus penyeimbangnya. Dulu kami sangat mencintai planet ini. Namun, cara kami mencintai sangat berbeda."

Mendengar penuturan Riven, Jessy merasakan sebuah retakan besar terjadi di dalam lubuk jiwanya. Kata-kata pria itu bertindak seperti kunci kuno yang memutar paksa gembok memori yang berkarat. Perlahan tirai kabut di pikirannya menyusut dan memunculkan secercah kilasan emosi masa lalu yang begitu akrab namun asing.

Riven menjeda kalimatnya, meraba dadanya seolah bisa merasakan detak jantung dari ratusan tubuh yang pernah ia tinggali dalam siklus reinkarnasi yang tak berujung.

​"Selena melihat manusia sebagai eksperimen yang rapuh dan mahluk lemah yang harus didikte dan dibentuk sesuai kehendaknya. Sementara aku, aku melihat keindahan dalam kefanaan mereka. Aku menghabiskan waktu berjalan di antara mereka hingga akhirnya aku melakukan kesalahan terbesar yang tak dimaafkan oleh adikku, aku jatuh cinta pada seorang wanita fana."

​Air muka Riven menggelap saat kenangan kuno itu menyeruak kembali dari sudut ingatannya yang paling kelam.

​"Saat itu, sebuah bencana melanda peradaban manusia. Selena ingin membiarkan mereka punah untuk memulai garis keturunan yang baru. Aku menolak. Demi menyelamatkan wanita yang kucintai dan kaumnya, aku melanggar hukum kosmik kami. Aku membelah sebagian kecil dari esensi keilahian di dalam darahku dan menyuntikkannya ke dalam tubuh mereka, berharap itu memberi mereka kekuatan dewa untuk bertahan hidup."

​"Tapi esensi itu bermutasi," tebak Jessy dengan suara berbisik. Kali ini, bisikan Jessy bukan sekadar tebakan biasa, melainkan sebuah pengakuan bawah sadar dari memori Selena yang perlahan merayap naik ke permukaan kesadarannya.

"Benar," Riven mengangguk perlahan, setitik air mata kemarahan tertahan di sudut matanya. "Tubuh fana manusia tidak dirancang untuk menampung percikan zat suci langit tanpa penyelarasan roh yang matang. Darahku merusak genetik mereka, memicu mutasi instan yang melahirkan ras lycanthrope pertama, mahluk setengah manusia dan setengah serigala yang kehilangan kewarasan dan membantai satu sama lain dalam kegilaan darah. Aku bermaksud memberi mereka keselamatan, tapi aku justru menciptakan monster."

​Riven mengepalkan tinjunya hingga kuku-kukunya melukai telapak tangannya sendiri.

"Selena merasa dikhianati. Adiknya sendiri menyaksikan kelancanganku sebagai penghinaan terhadap tatanan yang kami buat. Dia tidak membunuhku, Jessy. Kematian adalah belas kasihan yang terlalu mewah untuk seorang abang yang membangkang."

​"Dia mengutukku dengan reinkarnasi abadi. Jiwaku dirantai di bumi, dipaksa untuk terus dilahirkan kembali di dalam tubuh ras monster yang secara tak sengaja kuciptakan sendiri. Selama ribuan tahun, aku dipaksa hidup sebagai kaum lycanthrope, mati berulang kali hanya untuk dilahirkan kembali dengan ingatan yang utuh. Selena ingin aku menyaksikan, merasakan, dan meratapi setiap penderitaan, perburuan, dan pemusnahan yang dialami oleh anak-cucuku sendiri akibat kesalahanku di masa lalu. Kutukan ini adalah cara adikku menghukum keangkuhan kakaknya."

​Jessy menatap Riven dengan rasa simpati yang mendalam. Beban yang dipikul pria itu bukan sekadar tugas sebagai penjaga, melainkan rasa bersalah seorang kakak yang menyaksikan adiknya menjelma menjadi tiran akibat kesalahannya sendiri.

​"Dan sekarang," Riven mendongak lagi, menatap partikel Ag-V yang mulai bergesekan dengan atmosfer, "Manusia yang ingin kulindungi dulu sekarang menggunakan teknologi mereka untuk memusnahkan kita semua. Siklus jahanam ini harus dihentikan malam ini atau tidak akan ada lagi yang tersisa."

***

​Selena menatap Joan, lalu mengalihkan pandangannya ke arah bumi. Di bawah sana, jaringan partikel Ag-V yang dilepaskan oleh misil-misil Unit H.A.R.T telah membentuk jaring laba-laba raksasa berwarna perak keunguan yang menutupi benua Eropa dan terus meluas. Partikel nano itu mulai merusak sirkulasi energi magis global yang menyokong kekuatannya.

​Manusia yang selama ini ia anggap sebagai semut-semut fana yang bisa diinjak kapan saja, sekarang telah membangun taring baja yang mampu merobek jubah keilahiannya.

Namun di balik kemarahan itu, bayangan ingatan tentang Riven, kakaknya yang selalu menentangnya demi manusia kembali terlintas. Apakah ini akhir yang diinginkan kakaknya? Manusia menghancurkan penciptanya sendiri?

​"Mereka bertindak karena ketakutan yang kamu tanam, Selena!" Joan memanfaatkan celah keraguan sang dewi.

Dengan satu sentakan instan, ia menerjang maju dan mencengkeram kedua pundak Selena.

​Kabut kimiawi Ag-V mulai menyelimuti mereka berdua. Kulit bersisik Joan mulai mengeluarkan asap, melepuh dan mengkristal menjadi perak kaku, dan menimbulkan rasa sakit yang tak terperikan. Namun, ia tidak melepaskan cengkeramannya.

Ia menatap langsung ke dalam mata perak Selena, menyalurkan seluruh sisa kemanusiaan dan cinta yang ia miliki untuk Jessy, bagian dari jiwa Selena yang tertinggal di bumi.

​"Jika kamu tidak turun dan menghentikan perang ini sebagai manusia, manusia akan menghapus ingatan tentangmu dengan cara mengubah seluruh duniamu menjadi kuburan logam!" teriakan Joan mengguncang ruang hampa, saat misil-misil H.A.R.T berikutnya meledak lebih dekat dan membutakan pandangan mereka dalam badai perak yang mematikan.

1
Astiana 💕
aku dah kirim bunga kak, semangat ya💪
Miarosa: terima kasih 😊
total 1 replies
Astiana 💕
aku mampir ya kak, baru awal baca seperti nya menarik, semangat 💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!