NovelToon NovelToon
Legenda Naga Pemakan Langit 2

Legenda Naga Pemakan Langit 2

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Epik Petualangan / Fantasi Timur / Balas Dendam
Popularitas:4.8k
Nilai: 5
Nama Author: Baldy

(SEASON 2) Di benua baru ini, Alam Inti Emas hanyalah debu di bawah sepatu para bangsawan. Raja Fana menjadi prajurit biasa, dan monster-monster Alam Penyatuan Langit berjalan membelah gunung dan membelokkan bintang. Tidak ada sekte lemah di sini; yang ada hanyalah Kekaisaran Kuno dan Klan Dewa yang dihormati layaknya pencipta.

Membawa garis keturunan Dewa Naga Primordial yang diburu oleh surga, Chu Chen menolak untuk merunduk. Di tanah di mana naga hanya dianggap sebagai mitos yang telah punah, ia akan membangkitkan kembali era dominasi mutlak. Jika surga menghalanginya, ia akan menelan surga itu sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Baldy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Menembus Gerbang

Kematian Leluhur Klan Shen, Shen Wuya, menyebar ke seluruh Kota Kuno Bintang Jatuh bagaikan badai yang melumpuhkan akal sehat.

Ketika Chu Chen, Meng Fan, dan Bai berjalan santai melintasi jalanan utama menuju pusat kota, tidak ada hiruk-pikuk pedagang yang menyambut mereka. Sepanjang jalan yang mereka lewati menjadi sunyi senyap. Ribuan pasang mata menatap dari balik jendela yang tertutup rapat.

Bahkan, para penjaga dari Klan Lu dan Klan Zhao—dua klan penguasa yang tersisa—yang biasanya berpatroli dengan angkuh, kini membeku di tempat mereka. Begitu melihat jubah abu-abu Chu Chen dari kejauhan, mereka serempak menjatuhkan senjata dan berlutut di sisi jalan, takut bahwa satu tatapan mata saja akan membuat klan mereka bernasib sama dengan Klan Shen.

Di tengah-tengah kota, pilar cahaya biru raksasa dari Gerbang Pemindah Ruang menjulang menembus awan.

Di depan gerbang tersebut, tidak ada satu pun penjaga yang berani menghalangi. Chu Chen melangkah maju ke altar giok yang menjadi pusat pilar cahaya itu. Ia mengeluarkan Plakat Bintang Surgawi dari Cincin Penyimpanannya dan menempelkannya pada lekukan di tengah altar.

WUUUSH!

Plakat itu melebur menjadi debu cahaya, dan pilar biru raksasa itu mendadak berputar hebat. Energi ruang yang luar biasa padat meledak, menciptakan sebuah lorong gelap yang dihiasi kilatan bintang di tengah-tengah altar.

"Masuk," perintah Chu Chen tanpa menoleh.

Meng Fan menelan ludah, mengeratkan pegangannya pada labu araknya, lalu melompat masuk. Bai mengikuti di belakangnya dengan langkah anggun namun dipenuhi kewaspadaan. Chu Chen menjadi yang terakhir melangkah masuk ke dalam tirai cahaya tersebut.

Sensasi pemindahan ruang kali ini jauh lebih halus daripada saat masuk ke Wilayah Terbengkalai, namun tekanan yang dirasakan oleh tubuh fisik puluhan kali lipat lebih berat. Ruang di dalam lorong ini seolah mencoba memampatkan tulang-tulang mereka menjadi debu.

"Ukh!" Meng Fan memuntahkan setetes darah, tubuhnya hampir hancur oleh tekanan ruang.

Namun, sebelum tekanan itu meremukkan Meng Fan dan Bai, Chu Chen melepaskan sedikit aura dari Zirah Tulang Naga Hitamnya. Sebuah perisai cahaya gelap terbentuk di sekitar mereka bertiga, dengan mudah menolak hukum penindasan ruang fana tersebut.

Satu batang dupa kemudian, sebuah cahaya putih menyilaukan merobek ujung kegelapan.

TRANG!

Ketiganya melangkah keluar dari pusaran cahaya, dan pijakan mereka langsung menghantam lantai yang terbuat dari logam spiritual berwarna perak murni.

Begitu indra Chu Chen menyesuaikan diri dengan lingkungan baru, hal pertama yang menghantamnya bukanlah pemandangan, melainkan udaranya.

"Tekanan Qi macam apa ini..." Meng Fan langsung jatuh berlutut, napasnya tersengal-sengal, seolah-olah ada gunung batu tak kasat mata yang menekan dadanya.

Udara di tempat ini tidak hanya sekadar bisa dihirup. Qi Langit dan Bumi di sini begitu padat hingga membentuk embun spiritual yang melayang seperti gerimis tipis. Jika seorang fana dari Benua Biru Langit dilempar ke sini, tubuhnya akan meledak dalam tiga tarikan napas karena tidak mampu menahan kepadatan energi alam ini. Tarikan bumi di tempat ini lima kali lipat lebih berat daripada di kota pinggiran.

Chu Chen berdiri tegak. Zirah Tulang Naganya berderit pelan menyesuaikan diri dengan tarikan bumi tersebut, sementara Lautan Qi Tahap Akhir di Dantiannya mendidih, menyerap embun spiritual itu dengan rakus melalui pori-pori kulitnya.

Ia membuka matanya, menatap dunia baru di depannya.

Mereka berdiri di sebuah pelataran raksasa yang tampaknya mengapung di udara, ditopang oleh pilar-pilar batu yang menembus lautan awan emas di bawahnya.

Di depan mereka, terbentang sebuah kota yang ukurannya membuat Kota Kuno Bintang Jatuh terlihat seperti desa nelayan kumuh. Tembok kotanya terbuat dari baja bintang yang memancarkan pendaran susunan pelindung berwarna ungu, menjulang setinggi ratusan tombak. Bangunan-bangunannya tidak hanya menempel pada tanah, banyak istana mewah yang melayang di angkasa, ditarik oleh rantai raksasa yang diikatkan pada punggung binatang-binatang buas yang ukurannya sebesar gunung.

Di langit, terlihat kilatan-kilatan cahaya dari pedang terbang, namun yang melayang di atas sana bukanlah ahli Lautan Qi biasa. Beberapa kereta kencana ditarik oleh Naga Banjir bersisik emas, dan sosok-sosok yang mengendalikannya memancarkan aura mengerikan yang bisa menutupi langit.

"Selamat datang di Wilayah Pusat," suara Bai terdengar dari samping, nadanya dipenuhi oleh rasa segan yang mendalam, sekaligus kepahitan.

Wanita berkerudung salju itu memandang hamparan kemegahan di depannya. "Ini adalah Kota Perbatasan Kekaisaran Matahari Suci. Salah satu dari Tiga Kekaisaran Kuno yang menguasai daratan ini. Di bawah mereka, terdapat puluhan kekuatan tingkat tinggi, dan di atas mereka... adalah Sembilan Klan Dewa Primordial yang sesungguhnya."

Chu Chen tidak menyahut, namun matanya memindai dengan Niat Spiritual naganya.

"Di Benua Biru Langit, Alam Inti Emas bisa mendirikan sekte dan menjadi dewa," lanjut Bai, suaranya sedikit bergetar. "Tapi di sini... buka matamu, Chu Chen."

Bai menunjuk ke arah barisan penjaga berbaju zirah perak yang berbaris rapi di depan gerbang kota. Ada sekitar seratus orang di sana.

Mata Meng Fan yang baru saja berhasil berdiri terbelalak hingga nyaris keluar dari rongganya. "T-Tidak mungkin! Penjaga gerbang itu... setiap prajuritnya memancarkan aura Alam Inti Emas! Dan pemimpin mereka... pemimpin penjaga gerbang kota itu berada di Alam Istana Jiwa?!"

"Benar," ucap Bai dingin. "Di Kekaisaran Matahari Suci, Alam Inti Emas hanyalah syarat terendah untuk mendaftar menjadi prajurit garda depan rendahan. Alam Istana Jiwa menjadi pemimpin regu. Dan Alam Raja Fana..."

Bai menatap sesosok pria gagah berjubah emas yang sedang melayang santai di atas sebuah menara pengawas, mengawasi ribuan pelancong yang masuk melalui gerbang ruang.

"...Alam Raja Fana hanyalah seorang pemimpin penjaga kawasan," sambung Bai, nadanya penuh dengan rasa putus asa.

Ia menoleh ke arah Chu Chen, ingin melihat reaksi ketakutan di wajah pemuda yang selama ini selalu bersikap sombong tersebut. Di benua bawah, Chu Chen mungkin tidak tertandingi. Namun di sini, pemuda itu hanyalah seekor ikan kecil yang baru saja melompat ke lautan hiu raksasa. Kultivasi Chu Chen saat ini adalah Alam Inti Emas Tahap Akhir. Di kota ini, itu hanyalah tingkat seorang prajurit rendahan.

Namun, harapan Bai hancur seketika.

Bukannya memucat atau gemetar, sudut bibir Chu Chen justru melengkung ke atas. Sebuah senyuman pemangsa yang begitu lebar dan buas hingga memperlihatkan taringnya yang memutih. Mata gelapnya tidak memancarkan keputusasaan, melainkan keserakahan yang meluap-luap, seolah ia baru saja disuguhi meja perjamuan makan malam yang tiada habisnya.

"Raja Fana sebagai pemimpin penjaga?" Chu Chen menjilat bibirnya pelan, menghembuskan uap panas yang membakar embun spiritual di sekitarnya. "Kau benar-benar tidak berbohong, Bai. Tempat ini..."

Tiba-tiba, suara langkah kaki berat dari sepatu besi membuyarkan lamunan mereka.

Sekelompok penjaga berzirah perak, dipimpin oleh seorang pria muda dengan aura Istana Jiwa Tahap Menengah, melangkah menghampiri altar ruang tempat Chu Chen berdiri. Pria muda itu memegang sebuah cambuk berduri, menatap pakaian abu-abu Chu Chen dan Meng Fan dengan rasa jijik yang telanjang.

"Keluar dari altar, Pengungsi Bawah!" bentak sang pemimpin Istana Jiwa, mengayunkan cambuknya ke lantai hingga memercikkan bunga api. "Kalian yang datang dari gerbang ruang sekte pinggiran harus mendaftar di jalur pekerja kasar! Serahkan plakat pengenal kalian, dan bayar pajak masuk sepuluh Batu Roh Tingkat Atas per kepala! Jika tidak punya, kalian akan dikirim ke Tambang Api Kekaisaran selama seratus tahun!"

Meng Fan beringsut mundur di belakang Chu Chen. Di benua asalnya, Istana Jiwa adalah leluhur yang disembah. Di sini, Istana Jiwa membentaknya seperti anjing.

Bai memejamkan mata. Ia tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Pemuda di sebelahnya ini adalah bencana alam yang tidak mengenal kedudukan atau tatanan fana.

Benar saja. Chu Chen tidak mengambil Batu Roh dari cincinnya. Ia juga tidak berjalan menuju jalur pekerja kasar.

Pemuda berjubah abu-abu itu justru melangkah perlahan menuruni undakan altar, mendekati pemimpin Istana Jiwa tersebut. Tubuhnya hanya memancarkan aura Inti Emas Tahap Akhir, membuat sang pemimpin tertawa meremehkan.

"Kau mau melawanku, Pengungsi? Keberanian dari katak dalam tempuru—"

BAM!

Suara ledakan tumpul terdengar. Bahkan sebelum mata sang pemimpin bisa berkedip, Chu Chen telah berada tepat di depan wajahnya.

Bukan tamparan, bukan tebasan pedang. Tangan kanan Chu Chen menembus udara, mengabaikan cambuk yang diayunkan sang pemimpin, dan langsung mencengkeram tenggorokan pria itu dengan jepitan mutlak.

Tubuh pemimpin Istana Jiwa itu diangkat ke udara dengan satu tangan.

"A-Apa?!" Para penjaga Inti Emas di sekitarnya membeku. Atasan mereka, seorang ahli Istana Jiwa, dicengkeram lehernya oleh seorang Inti Emas dari benua bawah dalam satu kedipan mata?!

"Pajak masuk?" Chu Chen menatap pria yang meronta-ronta di tangannya dengan sepasang mata emas vertikal yang menyala dingin. "Aku adalah naga yang datang untuk memakan kaisar kalian. Dan kalian berani meminta pajak dari rahang pemangsanya?"

Di pelataran perbatasan Kekaisaran Matahari Suci, di bawah tatapan ribuan prajurit pilihan dan para bangsawan yang melayang di udara, Sang Naga Pemakan Langit baru saja menendang gerbang pusat peradaban dengan maklumat perang berdarah di hari pertamanya.

1
Nur Aini
Thor, yg kaisar abadi penentang surga 2 kok blm update juga
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!