NovelToon NovelToon
SANDIWARA ISTRI YANG TERBUANG

SANDIWARA ISTRI YANG TERBUANG

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam
Popularitas:4.3k
Nilai: 5
Nama Author: Wahidah88

"Sabar itu ada batasnya, Laras. Dan batasmu adalah kematianmu sendiri," bisik Dimas tepat di telingaku, saat tangannya dengan lembut mengusap kepalaku yang tertutup hijab.
Di depan semua orang, Dimas adalah suami saleh dan pengacara terpandang yang setia menjaga istrinya yang lumpuh. Namun, di balik pintu kamar, ia adalah iblis yang meracuniku setiap hari. Ia menghancurkan tubuhku demi membalas dendam masa lalu dan menguasai harta warisan orang tuaku untuk wanita lain.
Aku terjebak dalam tubuh yang tak bisa bergerak. Namun, di atas kursi roda ini, aku bersujud dalam hati. Aku berhenti meminum racun itu dan mulai berpura-pura lumpuh. Di saat Dimas merasa telah menang, ia tidak tahu bahwa aku mengawasi setiap langkah busuknya.
Aku memang istri yang kau buang, Dimas. Tapi ingatlah, doa orang yang terzalimi tidak akan pernah terhalang oleh langit.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahidah88, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Akting di Balik Kelemahan

​Cahaya matahari pagi menyelinap masuk, terasa begitu menyengat di kulitku. Biasanya, aku akan bangun dengan senyum, menyambut pagiku sebagai nyonya di rumah ini. Namun pagi ini, setiap jengkal napas yang kuhirup terasa seperti racun. Aku masih terbaring kaku di atas ranjang, memejamkan mata erat-erat saat mendengar suara pintu kamar mandi terbuka.

​Itu Dimas. Aku bisa mendengar langkah kakinya yang tenang, suara gesekan kain handuk, dan siulan kecil yang terdengar sangat santai. Bagaimana bisa pria itu bersiul setelah semalam merencanakan kehancuranku?

​"Laras? Sayang, kamu sudah bangun?"

​Suara lembut itu mendekat. Aku merasakan sisi tempat tidurku melesat turun saat ia duduk di sampingku. Aku memaksakan diri untuk membuka mata, mencoba memasang wajah selemah mungkin—yang sebenarnya tidak perlu kupalsukan karena tubuhku memang sedang hancur.

​"Mas..." suaraku tercekat. "Kakiku... kakiku terasa sangat berat. Aku tidak bisa merasakannya."

​Aku melihat kilatan di mata Dimas. Bukan kilatan ketakutan, melainkan sebuah kepuasan yang disembunyikan di balik kerutan dahi yang dibuat-buat cemas. Ia segera menyingkap selimutku dan mulai memijat kakiku.

​"Astagfirullah, kenapa bisa begini? Apa mungkin karena kamu terlalu banyak bergerak kemarin?" tanya Dimas dengan nada sangat khawatir. Ia menekan betis dan telapak kakiku. "Kamu merasakannya, Laras? Ini Mas tekan dengan keras."

​Aku menggeleng pelan, air mata mulai menggenang—kali ini air mata kemarahan yang nyata. "Tidak, Mas. Rasanya kebas. Seperti bukan kakiku sendiri."

​Dimas menghela napas panjang, lalu mengecup keningku. "Sudah aku bilang, Sayang. Sarafmu sedang lemah. Menulis dan mengurus aset orang tuamu itu benar-benar menguras energimu. Tapi jangan khawatir, aku sudah menghubungi dokter spesialis saraf langgananku. Dia akan datang ke sini sore nanti."

​Dokter langgananmu? Atau kaki tanganmu, Mas? teriakku dalam hati.

​"Mas... aku ingin ke dokter keluarga kita saja. Dokter Heru pasti tahu riwayat kesehatanku," ucapku mencoba menguji reaksinya.

​Wajah Dimas sedikit menegang, namun hanya sekejap. Ia kembali tersenyum manis. "Dokter Heru sudah tua, Laras. Alat-alatnya tidak selengkap dokter muda pilihanku. Percayalah padaku, aku hanya ingin yang terbaik untukmu. Kamu mau sembuh, kan?"

​Aku hanya bisa mengangguk pasrah. Di kondisiku yang sekarang, melawan secara terang-terangan adalah bunuh diri. Aku harus menjadi Laras yang penurut agar dia tidak curiga bahwa aku sudah mengetahui busuknya rencana mereka.

​Dimas kemudian beranjak ke meja dan mengambil segelas air hangat. Seperti ritual maut yang sudah dimulai, ia mengeluarkan pil putih itu lagi.

​"Minum ini dulu. Ini dosis yang lebih kuat agar kamu tidak merasa kesakitan," ucapnya sambil menyodorkan pil itu ke bibirku.

​Aku menatap pil di tangannya. Di kepalaku, suara Dimas semalam di telepon terngiang kembali: “Dia sudah meminum dosis keduanya malam ini... semuanya berjalan sesuai rencana.”

​Aku tahu pil ini adalah senjatanya untuk melumpuhkanku. Namun, jika aku menolak, dia akan tahu aku sudah curiga. Dengan tangan gemetar, aku menerima gelas itu. Aku memasukkan pil ke dalam mulut, namun aku menyelipkannya di bawah lidah dengan sangat hati-hati, lalu meminum airnya dengan tegukan besar seolah aku sudah menelannya.

​"Pintar. Istriku memang penurut," Dimas mengelus rambutku, lalu bangkit berdiri. "Aku harus ke kantor sebentar untuk mengurus beberapa dokumen aset yang kamu tanda tangani kemarin. Kamu di rumah saja ya, Bi Ijah akan menjagamu."

​Begitu pintu kamar tertutup dan aku mendengar suara mobilnya menjauh dari halaman rumah, aku segera meludah ke arah tempat sampah kecil di samping ranjang. Pil putih yang mulai sedikit mencair itu keluar dari bawah lidahku. Aku terengah-engah, jantungku berdegup kencang.

​Aku harus bergerak cepat. Aku menyeret tubuhku menuju meja rias dengan tangan yang gemetar hebat. Aku meraih ponselku yang tersembunyi di bawah bantal. Aku harus menghubungi seseorang, tapi siapa? Paman? Tidak, Paman terlalu memercayai Dimas.

​Tiba-tiba, ponselku bergetar. Sebuah pesan masuk dari nomor tidak dikenal.

​"Jangan telan obatnya jika kau ingin tetap hidup. Suamimu tidak sedang di kantor. Dia ada di Apartemen Mewah Cempaka, kamar 1201 bersama Maya."

​Napas seolah berhenti di tenggorokanku. Siapa orang ini? Bagaimana dia bisa tahu?

​Aku menatap kakiku yang kaku. Aku merasa seperti mayat yang masih bernapas. Jika Dimas ingin menjadikanku istri yang terbuang dan lumpuh, maka aku akan menunjukkan padanya bahwa seorang penulis bisa menciptakan plot yang jauh lebih kejam daripada yang bisa ia bayangkan.

​Aku meraih laptopku, menyalakannya dengan jari-jemari yang mulai sulit digerakkan. Aku harus mulai menulis. Bukan novel romantis yang biasa kubuat, melainkan catatan rahasia tentang setiap racun yang dia berikan padaku. Ini adalah naskah asliku, dan di akhir cerita ini, akulah yang akan menuliskan kata 'TAMAT' untuk hidup Dimas dan Maya.

1
Anonim
PADAHAL KAU BISA MENJALIN KONTRAK DENGAN IBLIS DIAVLO LARAS
kozci
PENASARAN BANGET
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!