Di kota yang kecil damai, sebuah pabrik mochi terkenal meluncurkan produk terbaru mereka yaitu mochi viral yang dalam sekejap menjadi sensasi di media sosial.
namun tidak ada yang tahu ,di balik manis itu tersimpan hal yang mengerikan.
shila menyaksikan sendiri bagaimana teman-teman nya yang makan mochi itu kejang-kejang dan hilang kendali. lalu berubah menjadi sesuatu yang bukan lagi manusia.
kota yang dulunya tenang berubah jadi neraka yang di penuhi oleh mereka.
terjebak di dalam sekolah dengan berapa teman nya yang selamat. shila harus mengambil keputusan :tetap sembunyi atau melarikan diri demi menemukan keluarga nya.
𝐊𝐚𝐦𝐮 𝐡𝐚𝐫𝐮𝐬 𝐭𝐞𝐫𝐮𝐬 𝐛𝐞𝐫𝐥𝐚𝐫𝐢... 𝐚𝐭𝐚𝐮 𝐣𝐚𝐝𝐢 𝐬𝐚𝐥𝐚𝐡 𝐬𝐚𝐭𝐮 𝐝𝐢 𝐚𝐧𝐭𝐚𝐫𝐚 𝐦𝐞𝐫𝐞𝐤𝐚!!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ariyanteekk09, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
chapter 9
“Shila! Akhirnya gue ketemu juga sama lo…” Aira langsung nangis di pelukan sahabatnya itu.
Tubuhnya gemetar. Semua rasa takut, kesepian, dan kehilangan yang selama ini dia tahan… akhirnya pecah begitu aja.
Shila kaget, tapi langsung balas meluk Aira erat.
“Iya… iya, gue di sini…” bisiknya pelan, berusaha nenangin.
Beberapa detik mereka cuma diam.
Cuma suara tangis Aira yang terdengar di dalam rumah yang sunyi itu.
Shila pelan-pelan melepaskan pelukan mereka, lalu menatap wajah Aira yang sudah sembab.
“Gue bersyukur lo selamat… tapi tante sama om mana, Ra?” tanyanya hati-hati.
Aira langsung terdiam.Wajahnya berubah.
Air matanya jatuh lagi.
“Mama sama papa gue… sudah jadi zombie, Shila…” suaranya lirih, hampir gak terdengar.
“Om Hendro… maksa mereka makan mochi viral itu, setelah sehari gue pulang dari sekolah…”
Shila langsung membeku.
“Astaghfirullah… kok bisa sih… kenapa om Hendro tega banget…” ucapnya, masih gak habis pikir.
Aira mengepalkan tangannya kuat-kuat.
“Dia gak percaya, Shila… waktu Dewi cerita soal mochi itu… dia nganggep itu cuma omong kosong,” suaranya mulai naik, penuh emosi.
“Terus dia datang ke sini… dan maksa orang tua gue makan itu…” napasnya mulai gak beraturan.
“Gak lama kemudian… mereka berubah…”
Suasana langsung hening.
Berat.
Sesak.
Shila gak langsung jawab. Dia cuma bisa lihat Aira dengan rasa kasihan campur shock.
“Terus… kenapa dia gak ngajak lo pergi bareng dia?” tanya Shila pelan.
Aira langsung menggeleng.
“Gue juga gak tau…” jawabnya cepat.
“Dan setelah orang tua gue berubah… dia pergi gitu aja… ninggalin gue sendirian…”
Matanya penuh kebencian sekarang.
“Gue benci dia, Shila…” suaranya bergetar.
“Gue sumpah… gue mau balas dendam.”
Di belakang mereka, Gibran yang dari tadi diam langsung menunduk. Rahangnya mengeras.Tatapannya jadi dingin.
“Ternyata… bukan bunda gue aja yang laki-laki itu bunuh…” batinnya.
“Orang tua Aira juga…”
Tangannya mengepal pelan.
Amarah yang selama ini dia tahan… mulai muncul lagi.
"memang anjing sih itu orang.. demi kepentingan nya sendiri sampai rela ngorbanin orang lain" shila ikut emosi.
"bukan anjing lagi tapi bangsat itu orang" aira mengumpat hendro dengan nama-nama binatang saking emosi nya.
Aira menatap gibran dan kenan yang lagi bermain.. Aira langsung bertanya sama shila.
"Shila, siapa cowok itu.. Ganteng banget tahu" bisik aira.
"Anjrit, dalam keadaan seperti ini lo masih kepikiran cowok ganteng?? Dia gibran, anak sahabat orang tua gue.. Bunda nya juga di bunuh sama om hendro yang kayak monyet itu" ucap shila.
"Terus mana om dan tante, kenapa kalian bisa sampai sini ".
" orang tua gue sudah tiada aira, mereka di bunuh sama atasannya dulu waktu kerja di Laboratorium " shila pun menceritakan semuanya..
"Gue ikut berduka cita ya shila.. Nasib kita sama"..
"Ra, kami boleh tinggal di sini untuk sementara waktu kan".
"Boleh dong, kalian mau tinggal selama nya di sini pun tidak masalah.. Justru gue senang ada teman di sini" jawab aira senang.
*******
BRAK!
Suara pintu dibanting keras menggema di ruangan itu.
“Kenapa kamu kecolongan, Tiara?! Bukannya Papa sudah bilang kamu harus jaga mereka bertiga!” bentak Prof Teguh, emosinya benar-benar meledak.
Tiara langsung menunduk. Tubuhnya sedikit gemetar, tangannya saling menggenggam.
“Maaf, Pah… aku tidak tahu kapan Shila pulang ambil Kenan, karena aku ketiduran…”
suaranya pelan, penuh rasa bersalah.
“Saat bangun… Kenan sudah tidak ada…”
Suasana langsung terasa makin tegang.
Prof Teguh menatap Tiara tajam, jelas menahan amarah yang semakin memuncak.
“Benar itu, bos… kami juga sudah mencari anak kecil itu ke mana-mana, tapi tidak ketemu juga,” ucap salah satu anak buah Prof Teguh, mencoba menjelaskan situasi.
Namun bukannya mereda, wajah Prof Teguh justru semakin gelap.
Ia berjalan mendekat ke arah Tiara.
Langkahnya pelan… tapi terasa menekan.
“Kamu tahu apa akibatnya kalau mereka lepas dari pengawasan kita?” ucapnya dingin.
Tiara terdiam. Ia bahkan tidak berani mengangkat kepala.
Ruangan itu mendadak sunyi.
Hanya suara napas yang terdengar.
Prof Teguh menghela napas kasar, lalu membalikkan badan.
Kini dia benar-benar kehilangan jejak Shila… Kenan… dan Gibran.
Tangannya mengepal kuat.
“Cari mereka,” perintahnya tegas.
“Apa pun caranya… gue gak mau dengar alasan.”
Anak buahnya langsung mengangguk.
“Baik, bos.”
Mereka segera keluar dari ruangan.
Tinggal Tiara yang masih berdiri di tempatnya.
“Maaf, Pah…” ucapnya lirih sekali, nyaris tidak terdengar.
Namun Prof Teguh tidak menjawab.
Tatapannya lurus ke depan.Dingin.
Dan penuh perhitungan.
Kini semuanya semakin rumit.
Dan kesalahan kecil… bisa berakibat besar.
Hendro berdiri kaku di depan meja. Dia gak berani banyak gerak, cuma sesekali menelan ludah. Keringat dingin mulai terasa ditengkuknya .
Di depannya—
Prof Teguh diam… tapi justru itu yang bikin makin ngeri.
Tiba-tiba—
BRAK!
Tangannya menghantam meja keras.
“Sampai sekarang kamu belum juga nemuin mereka, Hendro?!” suaranya meledak.
"maaf prof. aku sudah kerahkan anak buah dan aku juga ikut turun tangan tapi anak-anak itu tidak bisa di temukan".
" alah kamu aja yang bodoh, cari anak kecil aja kamu tidak becus hendro.. saya tidak mau tahu pokoknya kamu harus temukan mereka.. jangan sampai mereka membongkar semuanya ".
prof. teguh sangat yakin kalau shila dan gibran sudah tahu tentang asal usul mochi yang bikin manusia berubah jadi zombie .
Gibran kita tidak boleh diam aja, hampir seluruh kota ini sudah di penuhi zombie, jangan sampai kita juga seperti mereka" ujar shila.
"Kita mulai besok lagi menyelidiki semuanya.. Biar aira yang nemenin kenan di rumah" kata gibran.
Shila setuju.. Kali ini dia yakin aira pasti bisa menjaga kenan dengan baik. Karena aira bukan orang jahat.
Karena sudah malam mereka memutuskan untuk istirahat saja, gibran akan tidur dengan kenan. Mereka bisa mendengar geraman para zombie tersebut.
Aira dan shila tidak bisa tidur, kedua gadis itu duduk di balkon kamar aira sambil melihat para zombie dari atas.
"Seandainya kita jadi zombie juga, kira-kira gimana rupa kita ya shila".
"Gue ogah jadi zombie lo aja sana. Sebisa mungkin gue akan pergi menyelamatkan diri".
" itu cuma seandainya shila.. Gue juga tidak mau kali jadi zombie.. Lihat deh apa mereka tidak capek jalan seperti itu " tunjuk aira.
"Mulai dehh, bisa gak oon nya jangan di pelihara" kata shila dengan bercanda.
"Ya deh, si paling pinter" mereka kembali tertawa bersama menyadari kekonyolan yang mereka buat..
shila dari atas melihat orang lagi mengawasi rumah aira, dia yakin itu anak buah hendro dan prof. teguh.. kali ini dia tidak akan kabur lagi dan akan menghadapi mereka semua.