NovelToon NovelToon
All About Love (Love Story)

All About Love (Love Story)

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Cinta Terlarang / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: wanudya dahayu

Dari: Renata]
_Malam, Pak. Ini CV calon asisten pengganti saya. Anaknya pinter, cekatan, dan bisa langsung mulai Senin depan. Namanya Harumi Nara. Saya jamin, Bapak nggak akan kecewa.

Devan mengangkat satu alisnya, merasa tidak asing dengan nama yang disebutkan oleh Renata. Tanpa ekspektasi apa pun, ia mengklik lampiran file dan kembali memindahkan pandangannya ke layar laptop.

Detik berikutnya, napasnya tercekat.

Matanya terbelalak, menatap foto 3x4 di pojok kanan CV itu. Jantungnya yang lima tahun ini berdetak datar seperti mesin yang teratur ritmenya, tiba-tiba bergejolak hebat menghantam sampai tulang rusuknya keras-keras.

Tangannya mengepal di atas meja, buku-buku jarinya memutih. Dia mengerjap, sekali, dua kali, mencoba meyakinkan bahwa matanya tidak salah lihat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wanudya dahayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Garis edar yang tak bertemu

Namaku Arya dan dia Senja. Katanya, nama kami sudah takdir. Arya, matahari yang selalu mengejar. Senja, ufuk yang selalu pergi. Kami bertemu di perpustakaan kampus, di antara rak sastra dan debu yang beterbangan. Aku, mahasiswa astronomi yang percaya kalau semua manusia adalah bintang yang punya garis edarnya sendiri. Dia, anak sastra yang percaya kalau semua pertemuan adalah puisi yang belum selesai ditulis.

Hari itu hujan. Senja terjebak tanpa payung, bajunya basah, dan dia duduk di pojok sambil memeluk buku kumpulan puisi yang cukup tebal. Aku yang baru pulang dari lab observatorium, iseng nyodorin jaket. "Pakai dulu. Nanti puisimu masuk angin." Dia mendongak, matanya bening kayak teleskop yang baru dibersihkan. "Kamu Arya, kan? Anak bintang yang kemarin presentasi tentang black hole?" Aku mengangguk. Sejak itu, kami jadi dua benda langit yang gravitasinya saling tarik.

Tiga tahun kami jalani seperti komet yang ketemu lintasannya. Aku ngajarin dia cara baca peta bintang, dia ngajarin aku cara baca metafora dalam diam.

Aku bilang, "Senja, kamu tahu nggak? Cahaya bintang yang kita lihat malam ini sebenarnya sudah mati ribuan tahun lalu. Yang sampai ke kita cuma bekasnya." Dia jawab sambil ketawa kecil, "Berarti cinta juga gitu ya, Arya? Kadang yang kita rasain sekarang cuma sisa dari sesuatu yang sudah pergi." Aku nggak bisa bantah. Karena sejak awal, kami tahu ujungnya.

Senja anak tunggal yang merantau sendirian ke kota pelajar ini, aku tahu setelah dia merampungkan study, dia harus kembali ke kota asalnya. Sementara aku dapat beasiswa S2 ke Jerman, mimpi yang aku bangun sejak bapak meninggal dan ninggalin aku dengan teleskop tua. Malam sebelum kami berpisah, kami duduk di atap kos, menatap langit Jogja yang pelit bintang. Tidak ada tangis. Tidak ada janji palsu. Hanya ada dua orang yang tahu kalau mencintai kadang berarti melepaskan.

"Aku nggak mau _LDR_," kata Senja pelan, suaranya hampir hilang ditelan angin malam. "Bukan karena nggak cinta. Tapi karena aku nggak mau kamu nahan mimpi cuma buat nungguin aku yang nggak pasti." Aku genggam tangannya, dingin. "Aku juga nggak mau kamu ninggalin orang tuamu cuma demi ikut aku ke negeri yang bahkan nggak ada bau tanah basah sehabis hujan." Kami diam. Di atas kami, rasi Orion menggantung, tapi rasanya seperti sedang retak. Senja lalu mengeluarkan buku catatannya, menulis sesuatu, dan menyobek satu lembar untukku. Isinya hanya satu baris:

_lalu mengapa kemudian aroma itu pergi meninggalkan sang purnama di saat bintang-bintang mengukur kembali rasinya yang berserakan._

"Aroma itu kita," bisiknya. "Purnama itu aku yang kamu tinggalin utuh. Dan bintang-bintang itu... ya kita, yang sekarang harus ngitung lagi jarak masing-masing biar nggak tabrakan." Aku lipat kertas itu, masukin ke dompet, tepat di belakang fotoku dan dia di bawah pohon beringin alun-alun.

Tujuh tahun berlalu. Aku jadi peneliti di Observatorium Max Planck. Namaku ada di beberapa jurnal tentang eksoplanet. Hidupku rapi, terukur, seperti orbit planet. Senja jadi guru SD di kota asalnya. Sesekali aku lihat fotonya di Facebook teman, dia sedang ngajar anak-anak menulis puisi di saung tengah sawah. Rambutnya sudah panjang, senyumnya masih sama, tapi di matanya ada tenang yang dulu tidak ku temukan. Kami tidak pernah chat. Tidak pernah telepon. Karena kami tahu, sekali menyapa, gravitasi itu akan narik kami lagi, dan salah satu dari kami harus jatuh.

Kemarin, email masuk dari panitia konferensi astronomi di Jakarta. Keynote speaker batal hadir, dan mereka memintaku menggantikan. Tanggalnya? Tiga hari lagi. Jantungku aneh. Selama tujuh tahun aku menghindari Indonesia. Tapi kali ini, seperti ada yang narik dari pusat galaksi.

Aku datang. Selesai presentasi tentang "Dualitas Cahaya dan Kehilangan", aku berdiri di lobi hotel, menatap hujan Jakarta yang bau aspal dan kenangan. Dan di sana, di antara kerumunan orang-orang berdasi, ada Senja. Dia memegang undangan, pakai baju batik, dan sedang menggendong anak perempuan kecil sekitar lima tahun yang tertidur di bahunya. Di sampingnya, seorang laki-laki berkacamata merangkul pundaknya, berbisik sesuatu yang membuat Senja ketawa. Ketawa yang sama seperti tujuh tahun lalu.

Dunia berhenti berputar. Tapi anehnya, tidak sakit. Hanya tenang. Seperti akhirnya menemukan jawaban dari persamaan yang selama ini tidak ketemu. Aku tidak mendekat. Dia juga tidak melihatku. Kami berada di satu ruang yang sama, tapi garis edar kami memang sudah diatur untuk tidak bersinggungan. Aku hanya meraba dompet, menyentuh kertas yang sudah lusuh itu.

Aku pulang ke Jerman minggu depannya. Di pesawat, di atas awan, aku buka lagi kertas dari Senja.

_lalu mengapa kemudian aroma itu pergi meninggalkan sang purnama di saat bintang-bintang mengukur kembali rasinya yang berserakan._

Sekarang aku paham. Aroma itu pergi bukan karena habis. Tapi karena purnama harus tetap utuh untuk menerangi malam orang lain. Dan bintang-bintang memang harus berserakan, agar langit tidak kosong. Kami memilih untuk berserakan, agar kami masing-masing bisa jadi utuh di langit orang lain.

Senja punya semesta kecilnya: suami yang baik, anak yang matanya mirip dia, dan murid-murid yang dia ajari mencintai puisi. Aku punya semestaku: teleskop raksasa, galaksi yang belum bernama, dan damai karena tahu Senja bahagia. Cinta kami tidak mati. Ia hanya berubah wujud, dari komet yang membara menjadi cahaya latar yang menghangatkan dari jauh.

Malam ini, dari balkon apartemenku di Munich, aku melihat Orion lagi. Utuh. Tidak retak. Dan untuk pertama kalinya setelah tujuh tahun, aku tidak merasa kehilangan. Karena beberapa cinta memang tidak ditakdirkan untuk bersama. Tapi ditakdirkan untuk menjaga, dari garis edar yang berbeda.

END

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!