NovelToon NovelToon
SANG PENARI RANJANG BAGASKARA

SANG PENARI RANJANG BAGASKARA

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Diam-Diam Cinta / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:7.4k
Nilai: 5
Nama Author: Lemari Kertas

Di tengah gemerlap Jakarta yang kontras, Nara Indira (25) menjalani kehidupan ganda yang berbahaya. Di bawah cahaya aula megah, ia adalah penari tradisional yang agung, namun di kegelapan Club Black Rose, ia bertransformasi menjadi penari erotis demi membiayai pengobatan kanker darah ibunya. Nara adalah wanita yang dingin, efisien, dan sangat menjaga harga dirinya di tengah profesi yang dianggap nista oleh dunia.
Takdir mempertemukannya dengan Bagaskara, CEO muda dari Prawijaya Group yang baru saja melangsungkan pertunangan bisnis dengan Sinta Mahadewi. Pertemuan tak sengaja di klub malam memicu obsesi gelap dalam diri Bagaskara. Terpesona oleh misteri dan ketegasan Nara, Bagaskara menawarkan harta demi satu malam bersama, sebuah tawaran yang ditolak mentah-mentah oleh Nara meski ia sedang terhimpit kebutuhan medis yang mendesak.
Konflik memuncak saat rahasia Nara mulai terancam dan Sinta menyadari perhatian tunangannya terbagi. Di antara perbedaan status sosial yang jurang dan tekanan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lemari Kertas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Saling Membakar Api

Cahaya matahari pagi menyelinap di sela gorden blackout kamar utama, menciptakan garis emas yang membelah keheningan. Di atas ranjang berukuran king size, Bagaskara masih mendekap Nara erat. Lengan kekarnya melingkar protektif di pinggang Nara, menarik punggung mungil gadis itu hingga menempel sempurna pada dadanya yang bidang.

Nara terbangun lebih dulu.

Ia merasakan hangat yang menjalar dari raga di belakangnya dan aroma maskulin yang begitu candu, campuran antara kayu cendana dan sisa cologne mahal. Ingatan semalam berputar kembali, tarian yang ia lakukan, tatapan Bagas yang mengunci jiwanya, dan bagaimana pria itu berhenti tepat di ambang batas. Bagas memilih untuk tidak melangkah lebih jauh karena ia menangkap sekelebat keraguan di mata Nara yang sendu. Ia memilih memberikan pelukan hangat sebagai gantinya, sebuah tindakan yang jauh lebih intim daripada sekadar pergumulan fisik.

"Sudah bangun?" suara berat dan serak khas bangun tidur terdengar tepat di telinga Nara.

Nara menoleh sedikit, mendapati wajah Bagas yang hanya berjarak beberapa sentimeter. Tanpa topeng kewibawaan kantornya, Bagas terlihat begitu memikat. Tidak heran jika pria ini digilai banyak orang, pesonanya adalah perpaduan antara kekuasaan dan ketampanan yang berbahaya.

"Emm... iya," jawab Nara pendek. "Kenapa semalam kamu berhenti?"

Bagas melepaskan pelukannya sedikit agar bisa menatap mata Nara.

"Karena aku tidak ingin memilikimu saat kamu masih merasa ini adalah sebuah penebusan. Aku ingin kamu benar-benar menyerah padaku karena keinginanmu sendiri, Nara. Bukan karena rasa syukur yang dipaksakan."

Nara tertegun. Ketulusan Bagas justru membuatnya merasa semakin kecil, sekaligus semakin terpikat. Bagas bukanlah pria kaku yang membosankan, dia adalah badai yang tenang, yang tahu kapan harus menerjang dan kapan harus melindungi.

Sementara itu, di sebuah bandara di luar kota, Sinta melangkah dengan anggun menuruni eskalator. Kacamata hitam menutupi matanya yang lelah. Seharusnya, hari ini ia berada di kantor pusat perusahaan Bagaskara. Ia sudah menyiapkan ribuan pertanyaan untuk menuntut penjelasan mengapa calon tunangannya itu sulit dihubungi dan jarang pulang ke rumah belakangan ini. Namun, kontrak pemotretan mendadak ini memaksanya menunda interogasi tersebut.

Sebuah mobil mewah sudah menunggu di area VIP. Di balik kemudi, duduk seorang pria bernama Rama. Sinta tersenyum tipis saat masuk ke dalam mobil. Rama adalah pengusaha sukses di bidang properti, namun jika dibandingkan dengan imperium bisnis Bagaskara, Rama jelas berada jauh di bawah kelasnya. Rama hanyalah sebuah "hiburan" rahasia yang ia miliki sejak dulu saat masih kuliah.

"Lama tidak bertemu, Sinta," sapa Rama sambil meraih tangan Sinta.

Sinta menyandarkan kepalanya. "Aku butuh pelampiasan, Rama. Jakarta sedang terasa sangat menyesakkan."

Dalam hati, Sinta merasa sedikit bersalah. Hubungannya dengan Bagaskara memang baru seumur jagung, belum genap tiga tahun sejak kedua keluarga besar mereka sepakat untuk menyatukan dua perusahaan raksasa melalui pertunangan ini. Sejak awal perkenalan, Sinta adalah pihak yang pertama kali tergila-gila.

Pesona Bagaskara yang dingin namun penuh daya pikat membuatnya terobsesi. Bagas adalah pria impian semua wanita, namun sikap Bagas yang mulai menjauh akhir-akhir ini membuat Sinta merasa terancam.

"Apa si hebat Bagaskara itu masih membuatmu merasa diabaikan?" tanya Rama dengan nada sedikit mengejek.

"Jangan sebut namanya sekarang," sahut Sinta tajam. "Aku sedang ingin melupakannya sejenak. Aku akan kembali ke Jakarta lusa dan mencari tahu ke mana dia pergi setiap malam."

Sinta menggunakan Rama untuk mengisi kekosongan emosional yang ditinggalkan Bagas, meski ia tahu ia tidak akan pernah bisa melepaskan statusnya sebagai calon istri sang pewaris tunggal. Baginya, Bagaskara adalah mahkota, sementara Rama adalah rahasia gelap yang membuatnya merasa tetap hidup dan diinginkan.

Kembali ke apartemen, suasana terasa jauh lebih hangat. Aroma nasi goreng mentega memenuhi ruangan saat Nara sibuk di dapur. Bagas memperhatikannya dari meja makan, masih dengan kemeja yang tidak dikancingkan sepenuhnya.

"Bagas, ada telepon dari rumah sakit tadi saat kamu mandi," ujar Nara lembut.

"Kabar tentang ibumu?"

Nara mengangguk dengan mata yang berbinar.

"Ibu sudah sadar sepenuhnya. Dokter bilang kondisinya sangat stabil. Jika tidak ada hambatan, sekitar seminggu lagi Ibu sudah diperbolehkan pulang, meski harus tetap menjalani kemoterapi rutin."

Bagas berdiri, menghampiri Nara dan mengusap rambutnya yang tebal bergelombang.

"Itu kabar paling baik yang kudengar minggu ini. Aku akan mengatur semuanya agar pemulihannya di rumah nanti berjalan lancar."

Nara mendongak, menatap pria yang selama ini ia anggap sebagai pembeli jasanya, namun kini menjelma menjadi malaikat pelindung.

"Terima kasih, Bagas. Aku... aku tidak tahu harus membalasnya dengan apa lagi selain..."

"Ssst," Bagas meletakkan jarinya di bibir Nara. "Cukup temani aku hari ini. Aku ingin bersemangat untuk pergi ke kantor karena tahu ada alasan indah untuk pulang nanti sore."

Kecanggungan di hati Nara mulai mencair. Ia mulai terbiasa dengan sentuhan-sentuhan kecil Bagas yang kini tidak lagi terasa seperti ancaman, melainkan kenyamanan. Bagas juga tampak lebih hidup, ia tidak lagi dingin seperti es yang membeku, melainkan pria yang sedang menemukan kembali gairahnya.

Sore harinya, Bagas terpaksa harus lembur karena tumpukan dokumen yang terbengkalai. Namun, pikirannya terus melayang pada Nara di apartemen. Ia mengirimkan sopir untuk menjenguk ibu Nara, memastikan gadis itu mendapatkan apa yang ia butuhkan.

Di kantornya yang megah, Bagas menatap foto Sinta yang sengaja dipajang ibunya di atas meja kerjanya. Hubungan mereka memang lebih banyak tentang bisnis dan kasta, meski ia tahu Sinta sangat memujanya.

Namun, setiap kali ia bersama Nara, Bagas merasakan sesuatu yang tidak pernah ia dapatkan dari Sinta, rasa dibutuhkan secara murni, bukan karena status atau harta. Juga karena dia suka Nara karena dia yang mengejar perempuan itu bukan sebaliknya.

Malam itu, saat Bagas kembali ke apartemen, ia mendapati Nara sedang duduk di balkon, menatap lampu kota.

"Kamu pulang terlambat," sapa Nara lembut.

Bagas menghampirinya, lalu memeluknya dari belakang, menumpukan dagunya di bahu Nara yang halus.

"Banyak yang harus kuselesaikan agar aku bisa punya waktu lebih banyak bersamamu minggu depan."

Nara memutar tubuhnya dalam pelukan Bagas.

"Sinta tidak mencarimu?"

Bagas terdiam sejenak.

"Dia sedang di luar kota. Tapi itu tidak penting sekarang. Yang penting adalah kita, di sini."

Bagas merapatkan tubuh mereka, menghirup wangi hair mist dari rambut Nara yang tergerai. Ia tahu badai besar akan datang saat Sinta kembali dan saat dunia luar mulai mengendus hubungan mereka. Namun, malam itu, Bagaskara memilih untuk menutup mata dari segala kerumitan kasta dan perusahaan.

Di atas ranjang tempat mereka kembali terlelap nanti, ia hanya ingin menjadi pria biasa yang mendekap erat wanita yang telah mencuri perhatiannya dengan sebuah tarian di bawah cahaya temaram.

"Tetaplah di sini, Nara," bisik Bagas sebelum mengecup keningnya.

"Aku tidak punya tempat lain untuk pergi, Bagas," jawab Nara tulus, menyadari bahwa ia telah sepenuhnya jatuh ke dalam pelukan sang badai yang memikat itu.

1
deeRa
Bacanya aku berkaca-kaca ini, Tegar ya Nara 🥺
susilawatiAce
baca novel. ini tegang
deeRa
This story is very sufficient to describe the simplicity of love, Gak sengaja baca Seruni akhirnya baca yang lain juga karya Kak Lemari kertas ini.
Cerita nya gak terlalu ngawang, khas Dan gak mudah ditebak next chapter nya. meskipun genre sama tapi aku selalu menemukan yg berbeda Dan itu bikin aku selalu nunggu Update nya.
semangattt, aku selalu nunggu...
Jatuh hati sama Nara, stay strong and be yourself♥️😊
deeRa
Lagi boleh gak? 👀👉👈
Lemari Kertas: maleman ya 😄
total 1 replies
susilawatiAce
ceritanya menarik
deeRa
Setelah ini sepertinya aku juga jatuh suka sama Nara setelah Seruni😍😍
Lilla Ummaya
Lanjutt
Mira Hastati
bagus
stnk
bagus ceritanya...dari awal udah bikin emosi...
Afternoon Honey
semakin seru jalan ceritanya
Sri Astuti
seru
Putri dewi Mulya Syania
lanjut Thor seru bangett
Afternoon Honey
makin tegang dan seru jalan ceritanya
susilawatiAce
bakalan rumit nih kisah vinya bagas dan nara
Afternoon Honey
tetap menyimak cerita bersambung ini
susilawatiAce
sebentat Nara akan jadi milik mi bagas
Lemari Kertas
udah up ya guys masih nunggu review
susilawatiAce
Hasrat mengalahkan logika
Meiny Gunawan
up yg bnyk atuh thor..😍
Meiny Gunawan
💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!