Ghazali Atharrazka adalah perwujudan dari presisi dan kedinginan yang sempurna. Sebagai Kapten termuda dengan rekam jejak tanpa celah, hidupnya diatur oleh jam dinding dan hukum militer yang kaku. Baginya, kesalahan adalah aib dan kecerobohan adalah gangguan yang harus dimusnahkan. Dia adalah pria dengan tatapan sedingin es yang mampu membungkam satu batalion hanya dengan satu kata.
Lalu hadir seorang bernama Keyra Azzahra
Seorang mahasiswi tingkat akhir yang hidupnya adalah definisi dari kata chaos, Sebuah insiden memaksa mereka tinggal di bawah atap yang sama di lingkungan barak. Di antara derap sepatu laras dan aroma mesiu, mampukah si mahasiswi perusuh mencairkan hati sang Kapten yang membeku? Ataukah markas ini akan meledak karena ulah Keyra yang selalu di luar kendali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dunia Seleb, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SATU ATAP DI BENTENG MERAPI
Pintu baja unit 01-Alpha berdentum tertutup, mengunci suara deru angin dari lorong beton Benteng Merapi. Di dalam ruangan yang hanya berukuran 3x4 meter itu, kesunyian mendadak terasa lebih mencekam daripada suara tembakan di laut tadi. Bau dinding lembap bercampur dengan aroma antiseptik yang tajam.
Ghazali menyandarkan punggungnya ke dinding beton yang dingin, napasnya berat dan tidak beraturan. Ia menatap sekeliling ruangan yang hanya berisi satu ranjang militer sempit, satu meja kayu, dan satu lemari besi.
---
"Hanya ada satu ranjang, Ghaz," bisik Keyra, suaranya bergema pelan di ruangan tanpa jendela itu. Ia meletakkan tas medisnya yang kotor di atas meja. "Dan kamu sedang demam tinggi. Kamu tidak bisa tidur di lantai."
Ghazali mencoba menarik napas dalam, namun rasa nyeri di bahunya membuatnya meringis. "Ini unit komandan, Key. Paling aman di seluruh sektor. Jika aku menempatkanmu di barak wanita, Aditama akan mengirim penyusup dalam hitungan jam. Kita... harus berbagi ruang."
Keyra mendekat, mengabaikan kecanggungannya. Ia menempelkan punggung tangannya ke dahi Ghazali. "Panas sekali. Ghaz, lepas jaketmu. Aku harus membersihkan luka itu sebelum infeksi ini merusak sarafmu."
Dengan gerakan kaku, Ghazali mencoba membuka ritsleting jaket taktisnya yang basah kuyup. Namun, tangannya yang gemetar membuatnya kesulitan. Keyra segera mengambil alih. Jemari dokter itu bergerak cekatan, namun saat kulitnya bersentuhan dengan dada tegap Ghazali yang panas, Keyra merasakan desiran aneh yang sulit ia jelaskan.
Di bawah lampu neon yang pucat, Keyra melihat luka bakar akibat kauterisasi darurat di perahu tadi. Merah, meradang, dan sangat menyakitkan untuk dilihat.
"Kenapa kamu melakukan ini?" bisik Ghazali, matanya menatap lekat ke arah Keyra yang sedang sibuk menyiapkan cairan pembersih luka.
"Melakukan apa?"
"Mempertaruhkan nyawamu untuk chip itu... dan untukku. Kamu bisa saja menyerah pada Clarissa dan hidup tenang sebagai dokter di rumah sakit mewah."
Keyra berhenti sejenak, tangannya yang memegang kapas bergetar tipis. Ia menatap cincin kabel tembaga di jari manisnya sendiri yang kini terlihat kusam karena lumpur.
"Karena aku sudah berjanji, Kapten. Dan seorang dokter tidak pernah meninggalkan pasiennya di tengah badai," jawab Keyra tegas, meski matanya menghindari tatapan Ghazali.
Ghazali terkekeh pelan, sebuah tawa getir yang berakhir dengan batukan kecil. "Hanya pasien? Begitukah?"
Keyra tidak menjawab. Ia fokus membalut luka Ghazali dengan perban baru yang ia temukan di lemari persediaan barak. Saat ia selesai, ia mendapati Ghazali sudah sangat lemas. Pria itu nyaris ambruk jika Keyra tidak segera menahannya.
"Tidur, Ghaz. Di ranjang ini," perintah Keyra.
"Lalu kamu?"
"Aku akan duduk di kursi ini. Aku harus memantau suhu tubuhmu setiap jam."
Ghazali menggeleng lemah. Ia meraih tangan Keyra, menariknya pelan hingga Keyra terpaksa duduk di tepi ranjang yang sempit itu. "Ranjang ini cukup untuk kita berdua jika kita... tidak banyak bergerak. Suhu di Benteng Merapi bisa turun sampai 15°C saat malam. Kamu akan membeku jika tidur di kursi."
Keyra menelan ludah. Tidur satu atap, di satu ranjang sempit, dengan pria yang baru saja melamarnya dengan kabel tembaga?
Tepat saat suasana semakin intim, pintu baja diketuk dengan pola tertentu—tiga ketukan pendek, satu ketukan panjang. Kode rahasia Divisi Bayangan.
"Kapten! Izin melapor! Ini Letnan Sarah. Saya membawa kiriman mendesak dari kediaman Atharrazka yang dicegat di gerbang depan. Nona Clarissa mengirimkan perlengkapan untuk Dokter Keyra."
Keyra menegang. Nama Clarissa selalu membawa badai. Dan suara wanita di balik pintu itu Letnan Sarah terdengar begitu tegas, seolah ia memiliki otoritas lebih besar atas ruangan ini daripada Keyra.
---
keyra...
Bastian...
yudha....
kamu dimana....