Argantara, 27 tahun, supir setia keluarga Harsono yang hidupnya sederhana dibawa Pak Harsono dari panti asuhan tempat dia dibesarkan.
Kini Pak Harsono divonis kanker paru stadium tiga dan hanya punya waktu satu tahun.
Dia punya satu permintaan terakhir: "menikahlah dengan putriku Arga, jaga dia seperti kamu menjaga dirimu sendiri."
Tujuannya bukan cinta, tapi agar Arga bisa melindungi Kirana dari orang yang akan menyakiti Putrinya...
Kirana Prameswari, pewaris perusahaan HARSONO yang dingin dan perfeksionis, awalnya menolak keras. Bagi dia, Argantara hanya supir dekil yang bau garasi.
Tapi demi sang ayah, dia terpaksa menerima pernikahan itu.
Tapi dibalik setujunya Kirana Ada kontrak yg hanya Kirana dan Arga yang tau. Pernikahan berjalan penuh kebohongan didepan Pak Harsono.
Disisi lain orang dari masa lalu Kirana, Rayhan hadir membawa bencana dan petaka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mars JuPiter🪐, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 34 : LDR PERTAMA ARGA & KIRANA
Ruangan kerja Pak Harsono terasa lebih dingin dari biasanya. AC menyala penuh tapi keringat dingin Kirana tetap turun di pelipisnya.
"Besok kamu berangkat ke Surabaya, Kirana," ucap Pak Harsono sambil menyerahkan map coklat ke meja di depan Kirana. "Meeting dengan klien baru. Kontraknya besar. Ini kesempatan bagus buat kamu belajar handle proyek sendirian."
Kirana menerima map itu dengan tangan sedikit bergetar. "Tapi Pa... bukannya Arga yang biasa handle klien luar kota?"
Pak Harsono tersenyum tipis. "Justru itu. Arga memang yang mengajukan diri. Tapi aku bilang tidak."
Kirana mengangkat alis. "Kenapa Pa?"
"Karena kamu harus mulai terbiasa, Kirana," jawab Pak Harsono serius. "Kamu pewaris Harsono Group. Kamu nggak bisa terus bersembunyi di balik Arga. Kamu harus punya pengalaman. Harus bisa berdiri sendiri."
Arga yang berdiri di samping Pak Harsono hanya diam. Tatapannya lurus ke Kirana. Ada rasa khawatir di sana yang coba dia sembunyikan.
"Pa, tapi..." Kirana belum selesai bicara.
"Sudah. Ini keputusan final," potong Pak Harsono lembut tapi tegas. "Arga tetap di Jakarta. Jaga kantor. Kamu berangkat sendiri besok pagi."
Kirana menelan ludah. Dia melirik Arga. Arga mengangguk pelan seakan bilang "Aku yakin kamu bisa Kirana."
Rapat selesai. Kirana berjalan keluar ruang kerja dengan langkah berat. Map coklat di tangannya terasa berat seperti beban. Di koridor, Arga menyusul. "Kirana."
Kirana berhenti. Dia menoleh. Mata mereka bertemu.
"Kamu nggak apa-apa?" tanya Arga pelan.
"Nggak apa-apa," jawab Kirana cepat. Suaranya datar. "Cuma meeting biasa. Dua hari juga selesai."
Arga menatap Kirana dalam-dalam. "Kamu yakin?"
Kirana mengangkat dagu. "Yakin. Aku ini Kirana Prameswari Harsono, Arga. Aku nggak lembek cuma karena perjalanan dua hari."
Arga tersenyum tipis. "Iya. Aku tau."
Tapi Arga tau. Kirana lagi gengsi.
Malamnya.
Kirana berbaring di ranjang. Lampu sudah dimatikan. Tapi matanya tidak bisa terpejam.
"Dua hari tanpa Arga. Cuma dua hari. Kenapa rasanya lama banget?" pikir Kirana sambil menatap langit-langit.
Di sofa ruang tamu, Arga juga belum tidur dia tengah asik nonton siaran bola. Tapi Dia bisa dengar Kirana bolak-balik di ranjang.
"Kirana...Kamu belum tidur?" tanya Arga pelan dari luar.
"Udah," jawab Kirana ketus. Padahal dia masih melek.
Arga terkesiap " udah kok nyaut." Batin Arga yang heran dengan tingkah Kirana malam ini.
Kirana menggigit bibir. Dia ingin bilang kalau dia nggak nyaman kalau Arga nggak ada di sampingnya. Tapi gengsinya terlalu tinggi.
"Kalau aku bilang... nanti Arga kira aku manja. Aku kan Kirana. Aku nggak boleh kelihatan lemah." pikir Kirana.
Tapi semakin dia pikir, semakin sesak dadanya.
Akhirnya Kirana bangun. Dia berjalan pelan ke ruang tamu.
Arga menoleh. "Kirana kamu...?"
Kirana berdiri di depan sofa dengan selimut di tangan. Wajahnya datar. " Ini sudah malam kenapa kamu masih nonton TV. Kamu harus istirahat."
Arga mengangkat alis.lalu sedikit tersenyum geli.
"oke oke..ayok tidur?" berjalan ke kamar lalu ke sofa.
" tidur di ranjang aja." ucap Kirana cepat. " sofa itu sempit. Besok kamu masuk angin gimana kalau sakit?" Suruh Kirana.
Arga mengernyit." dari awal nikah tidur di sofa
juga sehat sehat saja." Arga hampir tertawa mendengar ucapan Kirana. Tapi dia paham apa yang di mau Kirana. Bibirnya melengkung ke atas.
Arga duduk di sofa. "Kamu nggak bisa tidur karena aku nggak di samping kamu, kan?"
Kirana langsung menyangkal. "Nggak! Aku cuma... peduli sama kesehatan karyawan."
Arga menahan tawa. "Iya. Peduli sama karyawan."
Kirana mendengus. Dia melempar selimut ke arah Arga. "Sudah. Nggak usah banyak tanya. Cepat tidur."
Arga berdiri dan berjalan ke ranjang merebahkan badanya di kasur. Kirana langsung berbaring di sisi paling ujung membelakangi Arga Agak jauh.
Tapi sepuluh menit kemudian...
Kirana menggeser tubuhnya sedikit. Pelan. Hampir tidak terlihat.
Lalu sedikit lagi.
Sampai akhirnya punggung Kirana menempel ke dada Arga.
Arga kaku sejenak. Lalu tangannya melingkari pinggang Kirana dengan hati-hati.
"Gengsi ya?" bisik Arga di telinga Kirana.
Kirana memejamkan mata. "Nggak."
Arga tersenyum di kegelapan. "nggak usah malu."
Kirana tidak menjawab. Dia hanya memeluk tangan Arga yang memeluknya. Erat.
"Besok jangan lama-lama ya," bisik Arga pelan. Suaranya hampir tidak terdengar.
"Aku akan jemput kamu," lanjut Arga. Kirana mengangguk kecil. Dia menutup mata.
Malam itu Kirana akhirnya bisa tidur. Bukan karena ranjangnya yang empuk. Tapi karena ada Arga di sampingnya.
SURABAYA
Empat jam setelah Kirana mendarat di Bandara Juanda Surabaya. Meeting dengan klien Surabaya berjalan lancar. Proposal disetujui. Tanda tangan kontrak sudah di atas meja. Seharusnya dia lega. Seharusnya dia tersenyum. Tapi entah kenapa hatinya tak tenang.
Malamnya, Kirana memutuskan menginap disalah satu hotel di Surabaya. Pintu kamar hotel terbuka dengan suara pelan. Lampu kuning temaram menyambut Kirana. Tas kerja hitamnya dia letakkan di meja kayu, lalu dia menjatuhkan tubuhnya ke atas kasur empuk. Jam di dinding menunjukkan pukul 23.47 malam. Kirana menatap langit-langit. Matanya tidak bisa terpejam.
"Arga...apa kamu sudah tidur disana?" gumamnya pelan.
" Kenapa dari tadi sore Arga nggak ada kabar..? "
Kirana menarik napas dalam. Dia meraih bantal guling yang ada di sebelahnya. Bantal itu warnanya abu-abu polos. Warna bantalnya sama seperti yang selalu dipakai Arga di rumah.
"Arga ..Sedang apa kamu sekarang..?" pikir Kirana sambil memeluk bantal itu erat. Ingatan saat dia dan Arga tidur satu ranjang kembali menyerang pikirannya.
"Kenapa aku nggak bisa tidur.. apa karena nggak ada Arga." batin Kirana. Dia nggak nyangka, baru beberapa kali dia dan Arga tidur satu ranjang. sudah bikin dia malah nggak bisa tidur sendiri. Apa ini yang disebut Kenyamanan yang hilang.
Di Jakarta,
Arga duduk di kursi kayu warung kopi 24 jam pinggir rel kereta. Hujan deras turun sejak satu jam lalu. Lampu neon warung berkedip-kedip. Bau gorengan dan kopi hitam mengisi udara.
Di depannya duduk seorang pria paruh baya dengan jaket kulit lusuh. Wajahnya penuh bekas luka. Tangannya gemetar saat memegang gelas kopi.
"Jadi kamu mau cari orang bertato naga itu, Arga?" tanya pria itu dengan suara serak.
Arga mengangguk. Tatapannya tajam. "Iya, Pak Udin. Orang itu sepertinya yang udah bunuh salah satu karyawan dikantorku."
Pak Udin menghela napas. "Naga Hitam. Itu nama gengnya. Mereka sewaan. Biasa dipake buat beresin orang yang ganggu bos besar."
Arga menggenggam cangkir kopinya sampai kuku jarinya memutih. "Siapa bosnya?"
Pak Udin menoleh kiri kanan. Suaranya diturunkan. "Aku nggak tau namanya. Tapi yang pasti orangnya punya duit banyak. Bayarannya cash. Dan kalau ada yang bocor... orangnya bakal mati kayak Budi yang kamu bilang itu."
Nama Budi membuat rahang Arga mengeras.
"Bapak yakin?" tanya Arga pelan.
Pak Udin mengangguk. "Karyawan kamu yang mati minggu lalu di tahanan itu namanya Budi kan? Aku kenal dia. Dia pernah kerja sama kita di panti dulu. Anak baik. Nggak mungkin bunuh diri."
Arga terdiam. Di luar, suara kereta melintas membuat kaca jendela bergetar.
"Aku sudah janji, Pak. Aku akan tangkap dalang sebenarnya," ucap Arga dengan suara rendah.
Pak Udin menepuk bahu Arga. "Hati-hati, Arga. Orang itu nggak main-main. Dan kamu... kamu sekarang punya istri yang harus kamu jaga." Arga hanya mengangguk. Dia berdiri dan meninggalkan uang lima puluh ribu di atas meja.
Hujan semakin deras saat Arga keluar warung. Dia menarik kerah jas hitamnya. Matanya menyapu jalanan sepi. Dari sudut gang, dia melihat bayangan hitam bergerak.
"Siapa di sana," gumam Arga pelan.
Dia mengikuti bayangan itu tanpa suara. Jalanan basah membuat langkahnya licin. Bayangan itu berhenti di gang sempit antara dua ruko tua.
"Hey!" teriak Arga.
Bayangan itu menoleh. Wajahnya tertutup topi hoodie. Di lehernya tampak ada luka bakar. Dilenganya tampak sedikit tato naga. Arga ingat ciri ciri itu. Budi pernah memberitahunya.
Orang itu langsung lari. Arga berusaha mengejarnya.
Hujan membuat jalanan menjadi sangat kecil. Sepatu Arga basah kuyup. Napasnya berat tapi tidak berhenti.
"Berhenti!" teriak Arga lagi.
Orang itu berbalik dan mengeluarkan pisau dari balik jaketnya. Arga berhenti dua meter di depannya. "Siapa yang suruh kamu ancam Budi?"
Orang itu tersenyum. Senyum yang dingin. "Kamu nggak perlu tau, Tuan."
Sebelum Arga bisa bergerak, orang itu sudah lebih dulu bergerak menusukkan pisau ke arah perut Arga. Arga menangkis dengan tangan kiri. Pisau itu melukai telapak tangannya. Darah langsung mengalir.
Arga tidak mundur. Dengan satu gerakan cepat dia memutar tangan orang itu dan membuat pisau itu jatuh ke genangan air.
"Katakan..Siapa yang nyuruh kamu!" bentak Arga sambil menahan tangan orang itu ke tembok. Orang itu hanya tertawa. Tawanya bercampur dengan suara hujan.
"Hahaha..selamanya... kamu nggak akan tau," katanya pelan. Tiba-tiba tubuh orang itu mengejang. Mulutnya berbusa. Matanya mendelik ke atas.
"Racun," gumam Arga sambil melepaskan cengkeramannya.
Tubuh orang itu ambruk ke tanah. Hujan langsung membasahi darah yang mengalir dari sudut bibirnya. Arga berdiri terpaku. Tangannya yang terluka masih meneteskan darah.
"Dia mati lagi," pikir Arga sambil mengepalkan tangan. "Mereka selalu mati sebelum ngomong."
Arga berjongkok dan meraba nadi orang itu. Tidak ada denyut. Dia berdiri dan melihat sekeliling. Tidak ada siapa-siapa. Hanya hujan dan mayat di depannya.
Arga mengambil sapu tangan dari saku jasnya dan membalut tangan kirinya yang terluka. Darah sudah merembes ke kain putih itu.
Jam menunjukkan pukul 00.43 .
"Kirana pasti sudah tidur," pikir Arga sambil berjalan keluar gang. Tapi dia salah.
Di Surabaya, Kirana masih duduk di pinggir kasur hotel. Layar HP-nya menyala. Nomor Arga ada di sana. Jari Kirana sudah dua kali menekan tombol call tapi selalu direject.
"Kenapa aku jadi takut?" pikir Kirana sambil memeluk bantal guling.
Tiba-tiba HP Kirana bergetar. Nama Arga muncul di layar. Kirana langsung mengangkatnya. "Halo?"
Suara Arga terdengar pelan di ujung telepon. " iya Kirana, kamu belum tidur"
Kirana bisa mendengar suara hujan dari seberang. "Kamu... kamu di mana? Kok ada suara hujan?"
Arga terdiam sejenak. "Aku... aku masih di kantor. Lembur sedikit ini mau pulang."
Kirana mengernyit. "Jam segini lembur?"
"Iya. Ada dokumen yang harus aku beresin," jawab Arga cepat. Suaranya sedikit tertahan. Kirana tidak percaya. Tapi dia tidak bertanya lebih lanjut.
"Arga," panggil Kirana pelan.
"Hmm?"
"Aku ..aku kangen."
Kalimat itu keluar begitu saja dari mulut Kirana. Tanpa dia sadari. Di seberang, Arga terdiam. Suara hujan seakan berhenti sejenak.
"Aku juga," jawab Arga akhirnya. Suaranya serak.
Kirana tersenyum kecil. Senyum yang tidak terlihat oleh siapa pun. "Aku takut, Arga."
"Takut kenapa?"
"Aku gak tau kenapa." ucapa kirana.
"Arga...kamu nggak papa kan disana." ucapnya lirih.
Arga menarik napas dalam. Dia melihat tangannya yang dibalut sapu tangan. Darah sudah mengering di ujung kain.
"Jangan takut, Kirana," ucap Arga pelan. "Selama aku masih hidup, nggak ada yang bisa nyentuh kamu." Kalimat itu membuat mata Kirana panas.
"Janji?" tanya Kirana.
"Janji."
Kirana menutup mata. Air mata turun pelan di pipinya. "Aku percaya kamu, Arga." Arga tidak menjawab. Dia hanya mendengar suara napas Kirana yang pelan di seberang telepon.
"Kirana, kamu tidur ya. Besok kamu masih ada meeting kan..?," ucap Arga akhirnya.
"Arga..."
"Hmm?"
"Jangan sembunyiin apa-apa dariku lagi. Aku mau jadi bagian dari perjuanganmu." Ucap Kirana. Arga menggenggam HP-nya lebih erat. "Aku... aku akan coba."
Kirana tersenyum. "Makasih, Arga."
"Tidur ya."
"Iya. Kamu juga."
Telepon ditutup.
Kirana meletakkan HP di meja dan kembali memeluk bantal guling . Membenamkan Kepalanya di bantal. "Aku percaya kamu, Arga," bisik Kirana sebelum akhirnya tertidur.
Di Jakarta, Arga menatap layar HP yang sudah gelap karena kehabisan daya. Dia berdiri di depan jendela kamar. Hujan masih turun.
Di laci meja samping tempat tidur, ada pisau lipat kecil yang selalu dia bawa sejak dulu. Arga membuka laci itu dan mengambil pisau tersebut. Dia memutarnya di antara jari-jarinya.
"Kirana... aku akan lindungimu. Aku janji Kirana, bahkan kalau harus dengan nyawaku sendiri" gumam Arga pelan.
Dia menutup laci itu dan berjalan ke kamar mandi. Darah di tangan kirinya harus dibersihkan sebelum Kirana pulang besok.
Di Surabaya, Kirana bermimpi. Dia bermimpi Arga berdiri di tengah hujan dengan jas basah kuyup dan tangan terluka. Arga tersenyum ke arahnya dan berkata " Kirana jangan takut Aku ada disini."
[BERSAMBUNG.. ]
jadi orang kaya gak perlu sombong.
rumah tangga macam ini paling gampang di bikin huru" orang ketiga kalian berdua sama" suka diem"