NovelToon NovelToon
KUJODOHKAN MAMA DENGAN PAK GURU MUDA

KUJODOHKAN MAMA DENGAN PAK GURU MUDA

Status: sedang berlangsung
Genre:Berondong / Single Mom / Diam-Diam Cinta
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Aure Vale

Cwen Arabelle, seorang anak berusia 7 tahun lelah mendengar mama dan ayahnya bertengkar, akhirnya berusaha menjodohkan mamanya dengan seorang guru di sekolahnya yang terlihat masih sangat muda.

"Paman, paman mau tidak menjadi papa untuk Cwen?" tanya Cwen memamerkan gigi kelincinya kepada guru favoritnya di sekolahan.

"Paman tenang saja, Cwen akan segera meminta mama dan ayah berpisah agar paman bisa menikah dengan mama dan menjadi papa untuk Cwen."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aure Vale, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

KUJODOHKAN MAMA DENGAN PAK GURU MUDA : Bagian 12

Bagaimana, Cwen suka sama rotinya?" tanya Ansel melihat Cwen yang baru saja menghabiskan dua roti yang ia berikan untuknya.

Cwen mengangguk dengan semangat, "Terima kasih pak guru, padahal tidak apa-apa loh kalau pak guru tidak kasih Cwen roti, di rumah yadi Cwen sudah sarapan banyak, jadi Cwen juga tidak terlalu lapar," ucap Cwen khas dengan cengirannya yang memperlihatkan giginya yang sedikit berantakan karena masih masa pertumbuhan.

Ansel hanya tersenyum, bagaimana mungkin Cwen mengatakan jika ia tidak lapar, sedangkan saat ia beri dia roti, Cwen langsung menghabiskannya tanpa sisa.

Jika dipikirkan lagi, Cwen ini bersikap layaknya orang dewasa, ia sangat pandai menyembunyikan perasaan sedihnya, pantas saja, Ansel tidak pernah melihat Cwen memperlihatkan wajah sedihnya, rupanya gadis kecil berumur 7 tahun itu sudah pandai menyembunyikan perasaan sedihnya.

"Cwen, pak guru boleh tanya?"

Ansel memerlukan izin untuk bertanya terkait hal di kelas tadi, karena untuk pertama kalinya ia melihat Cwen menangis, Ansel sangat khawatir melihat Cwen yang berusaha keras menyembunyikan tangisannya di depan teman-teman sekelasnya, entah khawatir karena Cwen adalah muridnya, atau khawatir karena hal lain.

Cwen yang sedang meminum susunya menoleh, "pak guru mau tanya apa? Mau tanya soal mama, ya?"

Ansel tersenyum lembut, ia menggelengkan kepalanya, "bukan itu yang ingin pak guru tanyakan, Saat pak guru akan masuk kelas tadi, pak guru lihat Cwen berdiri di depan kelas sendiri? Cwen mau cerita kenapa Cwen bisa berdiri di sana?"

Ansel bahkan tidak langsung bertanya mengapa Cwen menangis saat di kelas tadi, Ansel ingin Cwen percaya padanya dan bercerita apa yang sudah menimpanya di dalam kelas tadi.

Mendengar pertanyaan itu, Cwen jadi teringat kembali teriakan gurunya saat di kelas tadi, jujur saja Cwen malu karena dimarahi di depan teman-temannya, ia juga sedikit terkejut dengan bentakan itu, Cwen tidak menyangka jika perbuatan dia kepada teman-temannya akan membuat bu guru semarah itu kepadanya, bu Sindy bahkan tidak bertanya dulu mengapa ia sampai menjambak dan memukul temannya itu, bahkan ada yang sampai Cwen pukul sampai terjatuh dan kakinya berdarah karena tergores sisi tembok yang sedikit kasar.

"Kalau Cwen tidak mau cerita tidak apa-apa, jangan di paksa, oke,"

Ansel paham, pasti Cwen masih belum bisa menceritakan kejadian di dalam kelas itu, ia juga sedikit terkejut karena selain ia yang melihat Cwen berdiri sendiri di depan kelas dengan air matanya yang berjatuhan, Ansel juga melihat kelas yang begitu berantakan oleh pendirian warna buku bahkan krayon yang entah milik siapa.

Cwen menggeleng, sebenarnya ia tidak ingin menangis lagi, tapi mengingat perlakuan temannya kepada dirinya, bahkan berakhir dengan Cwen yang di salahkan gurunya, membuat Cwen tidak bisa menahan air matanya itu. Air mata itu tumpah bersamaan dengan suara ia akan Cwen yang keluar.

Ansel terkejut mendengar Cwen yang menangis, Ansel memeluknya dan mencoba menenangkannya, tapi Cwen memberontak tidak mau di peluk, akhirnya Ansel melepaskan pelukannya dan membiarkan Cwen menangis, tapi kedua tangannya sibuk mengusap air mata yang tidak berhenti jatuh itu.

"Di kelas tadi bu Sindy marah sama Cwen, bu Sindy sangat marah kepada Cwen karena Cwen nakal sudah membuat nangis teman-teman Cwen," adunya.

Ansel paham permasalahannya, perlahan ia menyentuh pundak Cwen dan menatap mata Cwen yang merah, "pak guru tahu, Cwen bukan anak yang nakal, pasti teman-teman duluan kan yang iseng sama Cwen? Kali ini apa yang teman-teman Cwen lakukan kepada Cwen?" tanya Ansel lembut.

Mendengar itu kedua mata Cwen yang sudah berhenti menangis kembali berkaca-kaca, ia menatap Ansel dengan tatapan seolah sedang mengadu kepada sang papa.

"M-mereka merobek-robek buku Cwen, lalu membuangnya ke dalam tempat sampah, mereka juga mematahkan pensil warna Cwen, padahal Cwen tidak punya lagi, Cwen harus benar-benar memakainya sampai habis, setelah itu akan mama belikan yang baru,"

Ansel langsung paham, tidak aneh lagi jika teman-teman Cwen itu sangat suka mengusili Cwen, Cwen memang pernah bercerita jika dirinya selalu menjadi sasaran empuk kejahilan teman-temannya, bukan karena Cwen berasal dari keluarga sederhana, tapi karena rambut dan wajah Cwen yang sangat berbeda dengan teman-temannya yang lain, kulitnya yang sangat putih, rambut pirangnya dan juga wajah baratnya tampak begitu menonjol diantara teman-temannya yang lain.

"Mereka bahkan memutuskan gelang yang pernah mama buatkan untuk Cwen, Cwen kesal, Cwen juga marah, makanya Cwen membalas mereka, Cwen bahkan memukul dan menjambak teman Cwen karena mereka membuat Cwen terjatuh sampai membuat Cwen malu karena di tertawakan teman-teman,"

"Jadi Cwen bertengkar dengan teman Cwen saat sedang belajar matematika dengan bu Sindy?" tanya Ansel hati-hati, ia harus pandai memilah kata-kata yang tidak akan menyinggung perasaan Cwen.

Cwen menggeleng, "Cwen melakukannya saat belum ada bu Sindy, begitu bu Sindy masuk, mereka langsung menangis dan tidak mau berhenti, sampai akhirnya Cwen di panggil dan kena marah bu Sindy," Cwen mengakhiri ceritanya, ia menarik napas dalam-dalam agar tangisannya berhenti.

"Cwen harus bilang apa sama mama jika bu guru memanggil mama ke sekolah?" lirih Cwen memainkan roknya dengan jari.

***

"Maaf, Cwen salah mama, Cwen yang memulai duluan," lirih Cwen begitu sang guru sampai meninggikan suaranya karena benar-benar pusing dengan tingkah Cwen yang selalu mencari keributan dengan teman-temannya sekelasnya.

Bukan sekali dua kali, Cwen membuat keributan, setiap kali bu Sindy masuk ke dalam kelas, ia selalu di hadapkan oleh teman Cwen yang sedang menangis histeris atau bahkan berterima meminta pulang karena katanya Cwen yang nakal kepada dirinya.

"Saya tidak bisa mentolerir lagi sikap Cwen di kelas jika sekali lagi terjadi keributan saat saya masuk kelas untuk mengajar, saya sudah beberapa kali menasihati Cwen tapi tidak pernah di dengar, anak itu suka sekali mencari masalah dan berbuat keributan di dalam kelas," ucap bu Sindy selalu guru matematika.

Memang semua guru di sekolahan itu memiliki hak untuk memanggil wali muridnya ke sekolah dengan catatan harus mendapatkan izin dari kepala sekolah dan juga guru BK.

Jenia menghela napas dan mengusap lembut pundak putrinya yang bergetar, sepertinya Cwen menangis, tapi berusaha keras untuk tidak bersuara.

"Saya selaku mama dari Cwen meminta maaf jika anak saya telah membuat ibu kewalahan menghadapinya, tapi saya percaya jika Cwen bukan anak yang lebih dulu jahil kepada temannya, saya mamanya dan saya yang lebih tahu dan paham sikap Cwen," ucap Jenia mengatakannya dengan tegas jika anaknya bukanlah anak yang suka mencari keributan.

"Tapi ini jelas-jel-,"

"Kalau ibu tidak percaya, silakan tanya kepada teman-temannya sekelasnya, siapa yang lebih dulu jahil! Anak saya atau anak-anak di dalam kelas?"

"Sepertinya pertemuan ini sudah cukup, saya permisi."

Jenia langsung membawa putrinya keluar dari dalam ruangan bu Sindy. Tidak memperdulikan teriakan bu Sindy yang mencaci maki dirinya karena dinilai tidak sopan langsung keluar ruangan. Kurang sopan darimana ya, Jenia sudah mengucapkan permisi sebelum keluar, dasar guru gadungan, hanya bisa melihat sikap murid dari satu sisi saja

1
Lailatul Maulida
lanjut kak thor
Lailatul Maulida
lanjut kak thor💪
Ilham
lanjut BG cerita Pertaman nya aku suka cwen ceria sekali bg
Lailatul Maulida
bagus ceritanya ringan pokoknya suka lah 😁
Lailatul Maulida
lanjut kak autor
seru ceritanya
Lailatul Maulida
pecat bu sindy nya thor guru kok Rasis sama bully muridnya
Lailatul Maulida
kasihan cwen di bully di sekolahnya 🥲
Lailatul Maulida
semangat kak thor
Lailatul Maulida
bapak gedeng sukanya nuntut doang
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!