NovelToon NovelToon
Sistem Harem Putri Mahkota Iblis

Sistem Harem Putri Mahkota Iblis

Status: sedang berlangsung
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Fantasi / Sistem
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Kend 13

Seorang pria remaja mendapatkan kekuatan dari aura ghaib Putri Mahkota Bangsa Iblis. Yang membuat perubahan seratus delapan puluh derajat dari kehidupan sebelum nya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kend 13, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hukuman di Sekolah

Setelah mengantarkan Shiva ke kampus yang berada di kota, Jay memacu sepeda motor matic nya dengan kecepatan tinggi. Namun, seberapapun cepatnya laju kendaraan itu, Jay tetap lah tidak bisa memperlambat waktu.

Niat hati ingin sarapan di kantin sekolah, jadi terkubur saat Jay baru memarkirkan motor nya, bel sekolah tiba-tiba saja sudah berbunyi, pertanda di hari senin pagi ini sudah waktunya untuk melakukan acara upacara bendera, yang memang rutin dilaksanakan setiap hari senin.

Dengan perut yang masih kosong, Jay menggantungkan ransel yang sedari tadi digendong di dadanya pada setang motor. Lalu, dengan langkah lunglai dia menuju lapangan tempat biasanya melakukan acara rutin di hari senin pagi itu.

"Eh bro! Lemes amat! Masih demam lu yah?" Sapa Tomi ketika mereka sudah bertemu di barisan tempat teman sekelasnya.

Jay hanya tersenyum pahit mendengar sapaan teman nya itu. "Laper, belum sarapan gue!" Balas nya sambil mengusap-usap perutnya.

"Sama dong, Cabut yuk!" Wajah Tomi berbinar, mengetahui akan mendapat teman untuk melakukan hal yang sama di pagi ini.

Jay ragu-ragu sejenak, saat ini dia sangat kelaparan. Di satu sisi dia juga tidak mungkin melakukan pelanggaran acara rutin di sekolah ini.

"Ayok lah! Mumpung masih sepi nih!" Desak Tomi sambil menarik tangan Jay ke arah kantin.

Mau tak mau, Jay mengikuti ajakan temannya itu. Selain ditarik secara paksa, dia benar-benar membutuhkan asupan karbohidrat pagi ini.

Pergerakan mereka berdua di perhatikan oleh beberapa pasang mata. Namun mereka tak menegurnya sama sekali, hanya menghela nafas dari jauh dan melanjutkan tujuan mereka masing-masing.

"Jay! Kok minggu kemarin lu bisa koma sih? Bu kepsek bilang lu abis pingsan di pinggiran jurang itu, Untung di tolong kak Shiva. Ngapain lu kesana emang nya?" Tomi memulai obrolan setelah menghabiskan sepiring pecel sayur, menanyakan perihal tentang yang di alami sahabat nya itu minggu lalu.

Jay hanya diam mendengar kan celotehan temannya itu, saat ini dia terlalu fokus untuk menikmati sarapan nya yang hanya tinggal tidak seberapa itu di dalam piring nya.

"BTW, bu kepsek juga bilang, kalau lu nggak sadar selama tiga hari, itu pun di jelasinnya setelah kepergok gantiin pakaian lu."

"Hah! Lu tau darimana?" Jay tersentak mendengar ucapan Tomi barusan.

"Kan gue sendiri yang pergok in!"

"Kapan?" Tanya Jay ingin memastikan waktu nya.

"Kamis, setelah pulang sekolah." Jawab Tomi setelah mengingat waktu dimana dia mengunjungi rumah Aida, tempat tinggal temannya saat ini.

"Terus?" Desak Jay ingin tahu kejadian selanjutnya. Takut, teman nya ini akan berfikir yang tidak-tidak terhadap bibi nya yang menjabat sebagai kepala sekolah di desa ini.

"Ya gitu aja. Lagian lu kan keponakan nya, wajar aja sih gantiin pakaian lu, bukan? Bahkan sampai gantiin celana dalam lu juga." Ucap Tomi berbisik mendekatkan kepalanya di telinga Jay. Seakan takut orang lain bisa mendengar ucapan yang menurut nya sedikit sakral itu. "Coba gue punya bibi kayak gitu." Lanjut nya kembali bersandar sembari menerawang kan pandangannya, berkhayal dengan pemikirannya sendiri.

"Emangnya lu mau apain?" Tanya Jay yang sedikit tertarik dengan apa yang di lamunkan temannya itu.

"Gue bisa olahraga lima jari setiap harinya." Tomi terkekeh saat menjelaskan sesuatu yang absurd itu, sambil merentang kan lima jarinya, lalu menggenggam jari telunjuk tangan nya yang lain.

"Heh! Kirain!" Jay mendengus mendengar jawaban yang tak sesuai ekspektasi nya itu.

"Hey! Emang lu nggak perhatiin pakaian bibi lu waktu dirumah?" Tomi kesal mendengar tanggapan Jay seperti itu. Mengira Jay menilainya sebagai pria mesum. Seakan mengabaikan perasaan nya saat berdekatan dengan Aida waktu itu. Dimana saat itu dia sangat tertekan melihat lekukan tubuh Aida yang benar-benar nyaris terlihat keseluruhan nya. "Lu normal kan, bro?" Lanjut nya bertanya sembari menatap wajah Jay dalam-dalam, sangat ingin mengetahui ko normalan temannya itu.

"Bangke lu! jelas gue normal lah!" Jay mendorong kepala Tomi dengan ujung jarinya setelah memadamkan puntung rokok ke dalam asbak yang ada di meja. "Yuk masuk! Kayaknya upacara nya udah selesai." Lanjut nya sambil berdiri, bersiap untuk masuk kedalam kelas nya yang berada di lantai dua gedung sekolah itu.

Tomi misuh-misuh sendiri mengikuti Jay. Setelah Jay membayar sarapan mereka pada penjaga kantin, mereka pun gegas melangkah kan kaki ke arah ruangan kelasnya berada.

Saat bel istirahat berbunyi setelah dua jam lamanya belajar, Jay dan Tomi di kejutkan dengan kehadiran guru BK yang mendekati meja mereka.

"Jay Pradana, Tomi Hendrawan, ikuti saya ke ruang BK!" Ucap guru itu dengan tegas. Setelah menatap wajah mereka masing-masing dengan tatapan tajamnya, guru itu pun berbalik, melangkah kan kaki jenjangnya keluar dari ruangan kelas tersebut.

"Seram amat tuh si To brut!" Celetuk Tomi, setelah melihat Guru BK itu sudah hilang di balik pintu kelas.

"Namanya bu Marissa, bukan to brut! Ayok! Sebelum cewek cantik itu lebih marah lagi!" Jay berdiri, melangkah kan kakinya menyusul guru BK yang menemui mereka barusan.

Sudut bibir Tomi berkedut-kedut, mencerna ucapan nyeleneh temannya. "Cewek cantik? berarti sahabat gue itu masih normal, ya?" Gumamnya setelah sadar dari lamunan sesat nya. "Eh anjir, Tungguin woi!" Teriaknya sambil berlari, setelah sadar ditinggal sendirian.

"Kalian tau, apa kesalahan kalian, bukan?" Marissa membalik-balik kertas di atas meja kerja nya. Suaranya tegas menanyakan hal yang sudah di ketahui nya setelah merasakan kehadiran Tomi dan Jay di ruangan itu.

"Ta-tau Bu." Tomi tergagap menjawabnya. Namun matanya terus memperhatikan belahan payu dara Marissa dengan sudut matanya.

Tomi dan Jay berdiri di hadapan Marissa yang masih sibuk membolak-balikan lembaran kertas di hadapan mereka. Guru BK itu mengenakan kemeja putih berlengan sepanjang sikut nya. Kemeja itu mencetak tubuh bagian atasnya dengan sempurna.

Entah memang disengaja, atau karena merasa panas. Dua kancing kemeja bagian atasnya terlepas, memperlihatkan sebagian kecil kulit payu daranya yang seputih susu.

Marissa mengetahui tatapan Tomi yang melirik ke arah tersebut, namun dia mengacuhkan nya, seakan hal itu wajar. Lalu dia menutup lembaran kertas itu, memperlihatkan sampul dari kertas itu di atas meja.

"Jika tidak mengikuti upacara, kalian tau kan hukuman nya?" Ucap Marissa dengan tegas, kedua tangannya bersedekap tepat di bawah gundukan payu daranya, sehingga gundukan yang sebesar kepala anak-anak itu semakin membusung.

"Glek! Ta-tau bu!" Tomi dengan susah payah menelan salivanya. "Bersihin semua ka-kamar mandi selama satu hari waktu pulang sekolah." Lanjut nya dengan tergagap. Berusaha menetralisir kan suaranya karena mendapatkan suguhan menarik tersebut.

Berbeda dengan pemikiran Jay, pemuda itu mengernyitkan dahinya melihat sampul buku diatas meja. Mencoba mengingat sesuatu yang berkaitan dengan bacaan guru BK nya itu.

"Kenapa kamu cuma diam, Jay? Apa kamu keberatan melaksanakan hukuman?" Tanya Marissa penuh selidik, mengira siswa nya yang satu itu tidak bisa menerima hukuman yang telah tertulis pada peraturan kedisiplinan sekolah ini.

"Tapi bu, ini kan untuk pertama kalinya saya melanggar aturan." Keluh Jay. Mengira ada sedikit kelonggaran yang akan di berikan guru BK tersebut, mengingat ini memang untuk kesalahan nya pertama kali.

"Oke!" Marissa bangkit dari duduk nya, meraih buku bacaan nya tadi. "Khusus untuk Jay Pradana, karena berusaha menawar hukuman, walaupun untuk pertama kali nya, walaupun keponakan kepala sekolah, walaupun memiliki prestasi, walaupun kamu tampan, walaupun kamu macho. durasi hukuman mu jadi tiga hari! Mengerti!" Ucap Marissa tegas, benar-benar tak membeda-bedakan status di sekolah ini.

'Tampan? macho? Sejak kapan guru to brut ini muji orang?' Fikir Tomi dalam hati, karena dia dengan jelas mendengarkan setiap kata yang keluar dari bibir mungil nan tipis yang dimiliki Marissa. Walaupun kata-kata itu bernada ejekan, tetap saja pengakuan secara terbuka itu lebih menarik perhatian nya.

"Tunggu apalagi! keluar lah sebelum saya berubah fikiran!" Bentak Marissa mengusir mereka berdua. "Gangguin waktu bacaan gue aja!" Gumamnya bersungut-sungut setelah mengetahui mereka berdua membalikkan badan mereka masing-masing.

*****

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!