Kanaya dan Amira dua sahabat yang tak terpisahkan sejak kecil.
Tak ada rahasia di antara mereka… hingga cinta datang dengan cara yang salah.
Kanaya dipaksa menikah dengan pria pilihan keluarga, Fatan Adrian Mahendra—pernikahan tanpa cinta yang terasa seperti hukuman.
Sementara Amira hidup dalam kebahagiaan, menikahi pria yang ia cintai sepenuh hati—Adrian.
Namun takdir menyimpan rahasia yang kejam.
Pria yang mereka cintai…
adalah orang yang sama.
Satu pria. Dua nama. Dua pernikahan.
Dan satu pengkhianatan yang menghancurkan segalanya.
Saat kebenaran terungkap,
siapa yang akan bertahan?
Dan siapa yang harus merelakan… cinta yang sejak awal tak pernah utuh?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nirna Juanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bahagia Tanpa Masa Lalu
POV Kanaya
Aku duduk di ruang tengah, memangku Nayara dengan hati-hati. Tubuhnya yang kecil terasa hangat di pelukanku, napasnya teratur, dan sesekali ia mengeluarkan suara lembut yang membuat hatiku seketika luluh.
“Nayara…” bisikku pelan sambil mengusap pipinya.
Satu bulan.
Baru 4 bulan ia hadir di hidupku, tapi rasanya… seolah ia sudah menjadi bagian dari diriku sejak lama.
Aku tersenyum tipis.
“Kalau tidak ada kamu…” gumamku lirih, “mungkin Mama sudah lama hancur.”
Aku menatap wajah mungil itu lebih lama.
Begitu tenang.
Begitu polos.
Tidak tahu apa-apa tentang dunia yang rumit.
Tidak tahu tentang luka, tentang pengkhianatan, tentang kehilangan.
Dan mungkin… itu yang membuatku bertahan.
Karena setiap kali aku merasa lelah, setiap kali bayangan masa lalu mencoba menarikku kembali
aku hanya perlu melihatnya.
Dan semuanya terasa… lebih ringan.
Langkah kaki terdengar dari arah dapur.
“Ibu,” panggilku pelan.
Ibuku mendekat, menatap kami dengan senyum hangat yang selalu berhasil menenangkan.
“Dia belum tidur?” tanyanya.
Aku menggeleng pelan.
“Baru bangun,dan minum susu” jawabku.
Ibuku duduk di sampingku, memperhatikan Nayara dengan penuh kasih.
“Anak yang kuat,” katanya pelan. “Seperti ibunya.”
Aku tersenyum kecil.
“Dia yang membuatku kuat, Bu.”
Sunyi sejenak.
Namun kehangatan itu tidak bertahan lama.
Karena aku tahu… ada sesuatu yang ingin ibu katakan.
Dan aku juga tahu… tentang siapa.
“Nak…” suara ibu terdengar hati-hati.
Aku menatapnya sekilas.
“Iya, Bu?”
Ibu terdiam sejenak, seolah menimbang kata-kata.
“Fatan sudah kembali nak” katanya perlahan.
Jantungku berdegup sedikit lebih cepat.
Namun aku tidak menunjukkan apa-apa.
Aku tetap menatap Nayara
Dan sebelum ibu melanjutkan
aku memotongnya.
“Bu,” ucapku pelan namun tegas, “tolong… aku tidak ingin membahasnya.”
Ibu terdiam.
Aku menarik napas perlahan.
“Segalanya sudah menjadi masa lalu,” lanjutku. “Aku tidak ingin mengingatnya lagi.”
Ruangan itu tiba-tiba terasa lebih sunyi.
Ibu menatapku lama.
“Tapi, Nak…” ia mencoba berbicara.
Aku menggeleng pelan.
“Bu…” suaraku lebih lembut kali ini, tapi tetap tegas, “aku sudah melewati semuanya dengan susah payah,aku sudah di titik ini,tolong jangan membahas yang sudah aku lupakan dan aku kubur dalam-dalam”
Aku menatap ibu.
Ada banyak hal yang tidak pernah benar-benar aku ceritakan.
Tentang malam-malam yang penuh air mata.
Tentang rasa sakit yang tidak pernah aku tunjukkan.
Tentang bagaimana aku harus mengumpulkan kembali diriku yang hancur.
Dan sekarang
aku tidak ingin kembali ke sana.
“Segalanya akan berjalan dengan baik,” kataku perlahan.
Aku mengusap kepala Nayara dengan lembut.
“Kehadirannya… tidak akan mengganggu kehidupan kita,” lanjutku.
Aku berhenti sejenak.
Menegaskan setiap kata.
“Kehidupanku. Kehidupan anakku. Atau keluarga ini.”
Ibu menatapku dalam.
Seolah mencari sesuatu.
Mungkin… kejujuran.
Atau mungkin… luka yang masih tersisa.
Dan aku tahu
luka itu masih ada.
Tapi aku tidak akan membiarkannya menguasai hidupku lagi.
Ibu menghela napas pelan.
“Kamu benar-benar sudah berubah,” katanya akhirnya.
Aku tersenyum tipis.
“Karena aku tidak punya pilihan lain, Bu.”
Sunyi kembali datang.
Namun kali ini… tidak terasa berat.
Aku kembali menatap Nayara
Tangannya yang kecil menggenggam jariku.
Refleks.
Sederhana.
Tapi cukup untuk membuat hatiku menghangat.
“Aku tidak bisa hidup untuk masa lalu lagi,” bisikku pelan.
Lebih pada diriku sendiri.
Dulu, mungkin aku terlalu lama bertahan pada sesuatu yang tidak pernah benar-benar ada.
Terlalu lama berharap.
Terlalu lama menunggu.
Dan akhirnya…
aku kehilangan diriku sendiri.
Tapi sekarang
aku tidak akan mengulanginya.
“Bu,” panggilku pelan.
“Iya, Nak?”
“sungguh,Aku tidak membenci Fatan,” kataku tiba-tiba.
Ibu sedikit terkejut.
Aku tersenyum kecil.
“Benci itu melelahkan,” lanjutku. “Dan aku sudah cukup lelah.”
Aku menarik napas panjang.
“Aku hanya… tidak ingin kembali mengingat rasa sakitku”
Itu saja.
Sederhana.
Tapi cukup.
Ibu mengangguk pelan.
“Mungkin itu yang terbaik,” katanya.
Aku tidak menjawab.
Karena aku tahu
ini bukan hanya tentang apa yang terbaik.
Ini tentang apa yang perlu.
Untukku.
Untuk Nayara
Untuk hidup yang sedang aku bangun sekarang.
Aku berdiri perlahan, masih menggendong Nayara
“Aku mau ke kamar dulu, Bu,” kataku.
Ibu mengangguk.
“Istirahatlah.”
Aku melangkah menuju kamar.
Setiap langkah terasa lebih ringan.
Bukan karena semuanya sudah selesai.
Tapi karena aku memilih untuk tidak lagi terjebak di dalamnya.
Sesampainya di kamar, aku meletakkan Nayara dengan hati-hati di tempat tidurnya.
Ia masih terjaga.
Matanya menatapku.
Aku tersenyum.
“Tenang saja…” bisikku. “Mama ada di sini.”
Aku duduk di sampingnya.
Menjaga.
Seperti janji yang tidak pernah aku ucapkan
tapi aku pegang sepenuhnya.
Aku mungkin tidak bisa mengubah masa lalu.
Tidak bisa menghapus luka yang pernah ada.
Tapi aku bisa menentukan bagaimana aku menjalani hidupku sekarang.
Dan untuk pertama kalinya…
aku merasa cukup kuat untuk melakukannya.
“Selamat malam, Nayara,kamu tidak usah cemas Nak,kita akan baik baik saja,” bisikku pelan.
Lampu kamar diredupkan.
"kenapa Fatan harus kembali"desisku
Malam terasa terlalu sunyi.
Aku berdiri di dekat jendela kamar, memeluk diri sendiri tanpa sadar. Di luar sana, lampu-lampu kota berkelip seperti biasa ,indah, tapi terasa jauh. Seperti hidupku sekarang… terlihat baik-baik saja, tapi sebenarnya masih menyimpan banyak hal yang belum selesai.
Aku menghela napas pelan.
“Kenapa harus dia…” bisikku lirih.
Bayangan itu muncul lagi.
Fatan.
Dengan seragam sopirnya.
Dengan sikap yang… berbeda.
Aku memejamkan mata sejenak, mencoba mengusirnya. Tapi tidak bisa. Semakin aku menolak, semakin jelas semuanya.
Hari ini terlalu banyak.
Terlalu mendadak.
Aku bahkan belum benar-benar siap menghadapi masa lalu… tapi masa lalu itu datang sendiri, berdiri tepat di hadapanku.
Aku membuka mata perlahan, menatap pantulan diriku di kaca jendela.
“Ini keputusan yang salah…” gumamku.
Menerimanya bekerja di sini.
Menjadikannya sopirku.
Itu sama saja dengan… membuka kembali luka yang sudah susah payah aku tutup.
Aku menunduk.
Tanganku mengepal pelan.
“Aku sudah sejauh ini…” bisikku. “Kenapa aku harus kembali lagi ke titik itu?”
Aku ingat bagaimana aku membangun semuanya dari nol.
Bagaimana aku memaksa diriku bangkit.
Bagaimana aku belajar berdiri tanpa bergantung pada siapa pun.
Dan sekarang
hanya karena satu keputusan…
semuanya terasa goyah lagi.
Aku berjalan pelan ke arah tempat tidur, lalu duduk di tepinya.
Pikiranku terus berputar.
“Kalau aku memecatnya…” aku berhenti sejenak.
Kalimat itu terasa berat.
“Apa itu lebih baik?”
Aku menggeleng pelan.
Tidak.
Itu bukan solusi.
Aku tahu keadaannya sekarang.
Aku melihatnya sendiri.
Bukan lagi Fatan yang dulu.
Bukan pria dengan segalanya di tangan.
Tapi seseorang yang… sedang berusaha bertahan.
Dan aku tahu…
tidak akan mudah baginya mendapatkan pekerjaan.
Apalagi kepercayaan.
Aku menatap kosong ke depan.
“Dia butuh pekerjaan ini…” gumamku.
Dan itu fakta.
Aku tidak bisa memungkiri.
Meskipun… bagian dari diriku ingin menjauh.
Ingin menutup pintu itu rapat-rapat.
Ingin memastikan masa lalu itu tidak pernah masuk lagi ke dalam hidupku.
Aku menghela napas panjang.
“Kalau aku memecatnya sekarang…” bisikku, “aku tidak berbeda dari orang-orang yang meninggalkannya saat dia jatuh.”
Kalimat itu membuat dadaku terasa sesak.
Aku menutup wajahku dengan kedua tangan.
“Kenapa semuanya harus serumit ini…”
Sunyi menjawab.
Aku menurunkan tangan perlahan.
Tatapanku kembali kosong.
Aku tidak ingin kembali terluka.
Itu yang paling aku takutkan.
Aku tidak ingin mengingat semua yang sudah aku lewati.
Tidak ingin kembali ke malam-malam di mana aku merasa tidak cukup.
Tidak ingin lagi merasakan bagaimana rasanya dicintai… sendirian.
Aku menggeleng pelan.
“Tidak,” kataku pada diri sendiri. “Aku tidak akan kembali ke masa lalu itu.”
Namun di sisi lain…
aku juga tidak bisa menutup mata.
Fatan memang pernah menyakitiku.
Sangat.
Tapi sekarang…
dia bukan lagi orang yang sama.
Aku bisa melihatnya.
Cara dia bicara.
Cara dia menunduk.
Cara dia menjaga jarak.
Semuanya berubah.
Dan entah kenapa…
itu membuatku bingung.
Aku berdiri lagi, kembali ke jendela.
Angin malam berembus pelan.
“Apa aku harus memberinya kesempatan…?” bisikku.
Bukan kesempatan untuk kembali.
Tidak.
Tapi kesempatan… untuk memperbaiki hidupnya.
Aku terdiam lama.
Menimbang.
Memikirkan segala kemungkinan.
Kalau aku mempertahankannya
aku harus siap.
Siap melihatnya setiap hari.
Siap menghadapi perasaan yang mungkin belum sepenuhnya hilang.
Siap menjaga batas.
Namun kalau aku melepaskannya
aku tahu…
itu akan jauh lebih buruk untuknya.
Dan mungkin…
aku akan menyesal.
Aku tersenyum tipis, pahit.
“Kenapa aku masih memikirkan dia…” gumamku.
Aku menggeleng pelan.
Mungkin bukan tentang dia.
Mungkin ini tentang diriku sendiri.
Tentang bagaimana aku ingin menjadi seseorang yang lebih baik.
Tidak hanya kuat…
tapi juga adil.
Aku menarik napas dalam.
Lalu menghembuskannya perlahan.
“Baiklah…” kataku pelan.
Aku menatap ke luar lagi.
“Aku tidak akan memecatnya,aku juga tidak akan melibatkan perasaan,itu semua sudah aku kubur dalam dalam”
Kalimat itu akhirnya keluar.
Namun aku tahu
itu bukan keputusan yang mudah.
“Bukan karena aku masih peduli,” lanjutku dalam hati. “Tapi karena… ini yang benar.”
Aku menegakkan tubuh.
Tatapanku perlahan berubah.
Lebih tegas.
Lebih tenang.
“Tapi batas tetap batas,” bisikku.
Aku tidak akan membiarkan masa lalu menguasai hidupku lagi.
Tidak akan.
Fatan hanya sopir.
Tidak lebih.
Dan aku…
aku sudah bukan wanita yang dulu.
Aku memejamkan mata sejenak.
Lalu membukanya kembali.
“Ini hanya ujian,” kataku pelan.
Dan kali ini…
aku tidak akan kalah.
hati memang penuh misteri
aku berharap akan seru seterusnya
. tapi kenapa sepi ya?